JUST TAKE HIM

1553 Kata
Kepergian Tabib Qin dari kediaman megah, membuat pemikiran Leonardo perihal ilmu yang ia punya, sedikit terbuka. Bagaimana pun, Leonardo memang membutuhkan seseorang yang dapat memberi ia pencerahan mengenai kemampuan berlebih yang ia dapati. Dan, yah! Sepeninggal Tabib Qin, Leonardo bergegas mencari seorang pengawal. Berniat untuk memberi amanah; berkaitan dengan kemampuan sihir miliknya. “Duncan? Duncan?” Leonardo berseru lantang. Masih dengan wajah yang sedikit memucat. Lalu, Seorang pengawal lain kembali menginfokan perihal alasan ketidak hadiran Duncan hari itu. Leonardo dapat mengerti. Sehingga, jalan satu-satunya adalah ia harus menunggu Duncan kembali masuk bekerja; sebelum mulai memberi perintah. “Ada apa, Leonardo?” Priscilla mengeluarkan suara. Cukup memberi rasa kejut pada sang pria. “Jangan bilang, kau sedang mencari Duncan karena hendak mengajak dia untuk melakukan perjalanan?” Priscilla bertanya dengan gurat tak suka. Sungguh, wanita tersebut tak ingin melihat Leonardo berkeliaran dalam keadaan tak cukup sehat. “Tidak, Prisc. Tidak. Aku tak berniat untuk berpetualang hari ini. Aku hanya sedang ingin mengamanahkan sesuatu pada Duncan. Tapi, ia tak masuk bekerja. Jadi—” “Jadi, kau kembalilah masuk ke dalam kamar. Beristirahatlah. Jangan berniat untuk menjumpai Duncan di rumahnya,” Priscilla menyergah ucapan sang lawan bicara. Memotong kalimat Leonardo dengan nada sedikit mengancam. Alih-alih menyahut. Leonardo justru menyunggingkan senyum. “Apa kau sedang menertawakanku, Leonardo?” Priscilla menyahut. Masih bersungut. “Habisnya, kau itu ketika marah terlihat lucu. Menggemaskan.” Issh! Priscilla berdesis. “Sudahlah, kau masuklah saja ke dalam kamar. Berhentilah menggodaku. Aku akan pergi ke dapur. Aku akan membuatkanmu bubur abalone dan ramuan madu hangat. Jadi, jangan berani-beraninya kau kabur dari dalam rumah ini,” Lagi-lagi Priscilla berkata dengan nada menyeramkan. Hehe! Ringisan tawa terdengar. Leonardo menggeleng pelan. Sebelum pada akhirnya, menurut pada perintah yang Priscilla tujukan. Sementara Priscilla sedang berjalan menuju sebuah dapur, Leonardo kembali melangkah ke dalam kamar. Ia membuka pintu berwarna cokelat di sana. Menutup kembali pintu itu dengan rapat. Bersandar pada daun pintu yang ia belakangi dengan punggung. Alih-alih merebahkan diri di atas ranjang, Leonardo justru meraih sebuah benda runcing. Benda itu tak lain adalah sebuah hiasan di dinding yang berbentuk anak panah. Tanpa pikir panjang, Leonardo bergerak menggoreskan sisi lancip tersebut pada bagian dalam lengan kiri. Darah spontan mengucur deras pada lengan yang ia jadikan titik sasaran. Klotak! Hiasan dinding itu terjatuh. Sengaja dilepas oleh sang pemuda. Kemudian, Leonardo beralih menyentuh lengan kiri dengan posisi tengadah tangan kanan, yang semula menggenggam benda lancip di tangan. Tak lama kemudian, hawa dingin merasuk pada titik lokasi yang Leonardo tuju. Kabut putih menyumbul keluar dari sisi dalam telapak tangan kanan. Tak menunggu lama, Blush! Darah yang semula bercucuran telah memampat. Bekas goresan dari benda lancip, tak lagi terlihat. Leonardo benar-benar membuktikan kemampuan penyembuh yang ia punya. Yah! Pemuda berparas tampan itu dapat memulihkan kondisi tubuhnya sendiri. Ya Tuhan, kau benar-benar baik. Terima kasih atas kemampuan berlebih yang kau beri. Leonardo berseru. Masih dengan posisi kepala bersandar pada daun pintu. Tiba-tiba, Klek! Ceklek! Seseorang terlihat sedang berusaha membuka daun pintu kamar. Bunyi ganggang pintu tak henti terdengar. Leonardo spontan membalikkan badan. Membukakan pintu untuk seseorang yang sedang menunggu dari balik ruang. “Apa yang sedang kau lakukan, Leonardo? Mengapa kau mengunci pintu kamar ini?” Priscilla bertanya. Penasaran. Bercelingukan. Seakan, ingin memastikan jika tak ada hal di luar dugaan; yang sedang dikerjakan oleh Leonardo secara diam-diam. “Apa yang kau pertanyakan, Priscilla? Kau seperti seorang jaksa yang sedang menanyai terdakwa saja. Apa kau masih menaruh curiga padaku, huh?” Leonardo berujar santai. Memundurkan langkah. Priscilla berjalan menuju arah jendela. Memastikan, jika Leonardo tak berniat melompat keluar melalui bingkai yang terbuka; kabur dari dalam rumah. Issh! “Kau ini, masih saja tak percaya padaku. Aku sudah berkata padamu. Untuk hari ini, aku akan beristirahat saja di rumah,” Leonardo menimpali. Berujar peka akan perilaku Priscilla yang dipenuhi gurat curiga. “Baiklah.” Kemudian, dua muda mudi tersebut beralih ke aktivitas semula. Yakni, Leonardo merebahkan diri di atas ranjang. Sedangkan, Priscilla sedang bersibuk menyuapkan sendok demi sendok berisi bubur abalone pada sang pria. ****** Usai merasa kenyang, Leonardo tertidur pulas di atas ranjang. Priscilla merapikan selimut. Membalut tubuh seorang pria yang ia cinta dengan kain tebal berwarna putih. Lalu, beranjak dari dalam kamar. Mengijinkan Leonardo untuk berisitirahat dengan tenang. Sementara itu, Priscilla sedang menjejalkan p****t pada ruang tengah. Seolah, ia sedang menunggu seorang pelayan tiba menghampiri dirinya. Lalu, “Bagaimana, Pelayan? Apa kau sudah menyiapkan semua bahan yang kuminta?” Priscilla bertanya. Menatap seorang pelayan wanita, yang sedang membawa sebuah keranjang berwarna merah muda. “Tentu, Nona,” Pelayan itu menyahut. Membungkukkan sedikit badan. Menyodorkan keranjang yang telah ia penuhi dengan beragam bahan rajutan. Benar saja, usai menjumpai tubuh Leonardo yang demam, Priscilla berinisiatif untuk membuat pakaian hangat. Ia bahkan berniat merajut sebuah pakaian dengan tangannya sendiri. Kini, beragam bahan rajut merajut, menjadi bidik sasaran seorang wanita berparas cantik. Priscilla segera memegang jarum yang berisi simpul hidup menggunakan tangan kanan. Beralih menggantungkan benang kerja. Yakni, benang yang tersambung pada bola benang; terletak di belakang tangan kiri, lalu melewati telapak tangan. Dengan lihai Priscilla mulai menyingkirkan benang ekor. Tak lain, adalah ujung pendek benang yang tak tersambung pada bagian mana pun. Meletakkan jarum pada bagian bawah benang melewati telapak tangan. Dan, Beberapa saat kemudian, Priscilla berhasil merajut dengan mudah. Jemari tangan lentik itu seolah telah menghafal langkah demi langkah. Bibir dan gurat sumringah tak henti memenuhi garis di wajah. Sungguh, Priscilla merajut dengan hati yang suka cinta. Tak lupa dipenuhi dengan rasa cinta. Namun, tiba-tiba. Beberapa orang terdengar sedang menggedor-gedor pintu. Seorang pelayan bergegas menuju ambang pintu utama. “Ada apa?” Pelayan wanita itu bertanya. Mengedarkan pandangan pada beberapa pria yang berjalan menuju ke arah rumah. Sontak, pelayan tersebut bergerak menutup bibir; menunjukkan ekspresi gusar dan tak percaya. Berlari secepat kilat. Menyampaikan perihal yang baru saja ia lihat. “Nona? Nona?” Pelayan wanita berseru lantang. Menuju ke ruang tengah. “Ada apa, Pelayan? Mengapa wajahmu cemas seperti itu?” Priscilla bertanya. Menghentikan aktivitas semula. Tak terasa, suara tapakan kaki terdengar berat dan bersahut-sahutan. Pria-pria bertubuh kekar baru saja memasuki ambang pintu utama; melewati dua orang pengawal yang semula mengetuk daun pintu. “A-apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Priscilla terbata. Beranjak dari posisi duduk. Menjatuhkan jarum, benang dan rajutan yang semula ia pegang. “Apa kau sedang seorang diri di dalam rumah, Priscilla?” Salah seorang pria bertanya. Menyebut nama Priscilla Sally Mattea yang dikenal oleh seluruh penduduk di penjuru desa. Priscilla terdiam. Sungguh, ia bingung. Tak dapat memberi jawaban. Mengingat, ia tak ingin membahayakan diri Leonardo. Bagaimana pun, pemuda tersebut masih dalam keadaan kurang sehat. “Benar, aku hanya seorang diri di dalam rumah. Sudahlah, katakan saja apa yang kalian inginkan?” Priscilla menyahut. Memutuskan untuk berkilah. Menutupi keadaan seorang pria muda, yang sudah pasti dicari oleh mereka. “Baiklah, kalau begitu akan menjadi lebih mudah bagi kami untuk membawamu,” Pria bertubuh kekar itu menimpali. Bergegas meraih lengan Priscilla. Mencekal bersama beberapa orang pria berwajah sangar di sana. “Lepaskan! Lepaskan aku,” Priscilla berteriak. Meronta. Pada saat bersamaan, Leonardo menampakkan diri dari balik ruang. Sungguh, kegaduhan yang ditimbulkan para begundal itu membuat Leonardo terbangun dari tidur panjang. Kretek! Kretek! Kretek! Leonardo menggeretak leher. Melemaskan kekakuan pada otot sekitar tengkuk. Seakan, bersikap siap untuk memberi perlawanan; menyelamatkan seorang wanita pujaan. Plok! Plok! Plok! Alih-alih memulai adu hantam, seorang pria yang sedang mencekal lengan Priscilla, justru bertepuk tangan. Tak lagi bergerak mencengkram tangan seorang wanita. “Jadi, Priscilla sedang berusaha melindungi Leonardo?” Cih! Pria itu berdecik usai menyimpulkan. Sontak, hembusan kasar mencuat dari balik indera Leonardo. Sungguh, pemuda itu tak dapat menahan diri untuk melawan. Hanya saja, ia teringat pada ucapan Tabib Qin. Sehingga, Leonardo tak bisa bergerak dengan gegabah. “Aku takkan memukulmu, wahai pria berotot. Jadi, katakan saja apa yang kau mau? Dan, lepaskan Priscilla. Kutahu pasti, ini semua adalah hal terkait diantara kita. Tak ada sangkut pautnya dengan Priscilla,” Leonardo berujar. Memberi penawaran. “Enak saja kau, Leonardo. Mudah sekali kau berkata begitu setelah membuat bos besar kami menjadi malu dan marah.” Bos besar? Leonardo bergumam. Mengerutkan dahi. “Yah! Tuan Jack Rumondor takkan tinggal diam. Kau kira, beberapa hari belakangan dia hanya bersemedi? Haha! Tidak. Dia sengaja kabur untuk mempersiapkan diri. Melawanmu,” Pria itu kembali berujar. Priscilla sontak memelotot tajam, “Apa yang dia katakan, Leonardo?” “Ah! Jadi, kekasihmu ini belum tahu; jika bos besar kami berhasil kabur? Dan, sedang bersiap untuk membalas dendam padamu?” Lagi-lagi pria tersebut mengoceh. Membuat Priscilla terkesiap. Jadi, Leonardo sempat kehilangan Jack pada waktu itu? Sang wanita membatin tak percaya. Ia kira, kini Jack Rumondor telah berada di dalam penjara milik Kyteler. Namun, ternyata tidak. Jack Rumondor masih bebas berkeliaran di area pedesaan. “Sudahlah, kau jangan terlalu banyak mengoceh. Lepaskan saja, Priscilla. Bukankah, yang kalian inginkan adalah diriku? Maka bawalah saja aku,” Leonardo berucap. Menatap lekat dengan penuh kesungguhan. Ck! “Benar-benar sebuah drama percintaan yang romantis. Tapi, sudahlah,” Pria tersebut meminta pemuda lain; untuk melepaskan Priscilla. Beralih menangkap Leonardo Mandela Lombogia. Tubuh sang wanita baru saja terhempas. Hampir tersungkur ke atas dataran ubin yang dingin. Issh! Leonardo berdesis. Pertanda, jika ia tak terima dengan perlakuan seorang begundal di sana. “Sudahlah, mari kita bawa pemuda ini,” Pria suruhan Jack Rumondor, memutuskan. Beralih keluar rumah sembari memperhatikan beberapa rekan sejawat; sedang sibuk menyeret sosok tuan muda pemilik kediaman megah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN