Priscilla masih bersibuk merawat Leonardo. Meski begitu, suhu tinggi pada tubuh sang pria tak kunjung menurun. Membuat Priscilla memerintahkan seorang pengawal untuk menjemput sang tabib terkenal.
“Duncan?” Priscilla berseru. Memanggil nama seorang pengawal dari kejauhan.
“Maaf, Nona. Hari ini, Duncan sedang ijin tak bisa masuk bekerja. Ibunya sedang sakit dan Duncan tak bisa meninggalkan sang ibunda,” Seorang pengawal lain menyahut. Sesaat usai menggantikan sosok pengawal yang dipanggil oleh Priscilla.
“Benarkah?”
“Benar, Nona.”
Priscilla mendecap bibir. Kemudian, “Baiklah, kalau begitu kau saja yang pergi. Kau carilah tabib terkenal itu. Minta ia untuk datang ke mari. Tuan Muda sedang demam. Suhu panas pada tubuhnya tak kunjung menurun. Jadi, kau bergegaslah,” Priscilla meminta. Memerintah dengan anggukan kepala. Menyiratkan agar sang pengawal segera patuh pada pemberian amanah.
Tundukan kepala menjadi akhir dari perbicangan singkat mereka. Priscilla bergegas masuk ke dalam rumah. Meminta para pelayan membuat sup hangat. Tak lupa dengan secangkir minuman madu yang dicampur dengan bahan-bahan dasar tumbuhan; bersifat sebagai obat herbal.
******
Sang tabib baru saja tiba. Pengawal mengarahkan tabib tersebut untuk masuk ke dalam rumah. Pelayan wanita bergegas menyambut kedatangan seseorang yang sudah ditunggu oleh sang majikan muda.
“Kudengar Tuan Muda di sini sedang sakit?” Tabib tersebut bertanya pada sang pelayan.
Anggukan kepala menjadi jawaban. Pelayan itu segera menunjukkan jalan menuju sebuah kamar.
Di sana, Priscilla sedang terduduk di samping ranjang. Kemudian, menoleh pada sumber suara yang baru saja terdengar menapakkan kaki pada ambang pintu ruang.
“Tabib, mohon bantu kami. Sedari kemarin malam, Leonardo terus saja demam. Suhu tubuhnya tak kunjung turun hingga pagi ini,” Priscilla berujar.
Tabib yang kerap dikenal dengan panggilan Tabib Qin itu, terlihat sedang membidik seorang pemuda dari ambang pintu. Kemudian, melangkah perlahan; mendekat ke arah sebuah ranjang berukuran besar.
“Jadi, namamu Leonardo?” Tabib Qin menyapa.
Leonardo menoleh pada sumber suara. Dia kan, tabib terkenal yang waktu itu.
“Benar, namaku Leonardo Mandela Lombogia,” Sang pemuda menyahut. Memperkenalkan diri dengan formal.
“Kalau begitu, panggil saja aku Tabib Qin.”
Lalu,
Tanpa banyak bicara, Tabib Qin meminta Priscilla dan seorang pelayan untuk keluar dari dalam kamar. Leonardo mengangguk. Memberi isyarat jika ia baik-baik saja; berada berdua bersama sang tabib pria.
Ceklek!
Daun pintu berukuran besar baru saja tertutup. Tak menampakkan bayangan dua orang wanita di dalam ruang.
Sang tabib beralih duduk pada sebuah kursi di samping ranjang. Menatap secangkir obat herbal yang telah terteguk habis.
“Apakah tubuhmu merasa lebih baik usai meminum obat herbal buatan wanita itu?” Tabib Qin bertanya.
“Maksud Tabib; Priscilla?”
“Iya.”
Leonardo menggeleng pelan. Sejatinya, secangkir minuman yang Priscilla beri, belum menimbulkan dampak sama sekali.
“Memang ada apa? Apakah Priscilla sedikit kurang benar dalam membuat campuran herbal itu?” Leonardo bertanya.
Alih-alih menjawab, sang tabib meraih segelas minuman. Mencoba mencium aroma yang tersisa dari dalam gelas. Lalu, menggeleng pelan.
“Tidak. Sungguh, dia adalah wanita yang cerdas. Dia telah mempelajari banyak tumbuhan alami dan mampu membuat komposisi obat herbal dengan baik.”
“Lantas, mengapa aku merasa tubuhku masih belum membaik?” Leonardo bertanya untuk kesekian.
Tabib Qin mendecap bibir, “Benarkah? Apa kau tak menyadari suatu hal?”
Dahi Leonardo berkerut, “Apa yang sedang kau bicarakan, wahai Tabib Qin? Hal apa yang kau maksud?”
Tabib Qin beranjak dari duduk. Menghampiri jendela terbuka pada sisi kanan seorang pemuda yang sedang berbaring.
“Demammu; suhu tinggi pada tubuhmu. Semua itu adalah efek yang ditimbulkan dari kemampuan sihir yang kau punya,” Tabib Qin menyahut. Menatap hamparan indah yang tergambar di luar jendela.
GLEK!
Leonardo spontan menelan ludah. Jadi, Tabib ini mengetahui perihal kemampuan magis yang kumiliki?
“Kau tak perlu terkejut seperti itu, wahai anak muda. Bahkan, aku telah mengetahui hal itu sejak kali pertama berjumpa denganmu,” Sang tabib berujar. Seolah, ia tahu perihal yang sedang Leonardo pikirkan.
Apa yang dia maksud, adalah saat aku menghujam tubuh seorang pengawal dengan amat keras? Leonardo menerka. Mengingat-ingat perjumpaan mereka pada kali pertama.
Lagi-lagi,
“Kau benar. Waktu itu, aku segera menyadari perihal rasa sakit yang diderita oleh pengawalmu. Dia tak sekedar kesakitan karena dihujam pukulan oleh seorang anak manusia biasa. Melainkan, sudah jelas akibat dipukul oleh seseorang yang memiliki kemampuan berlebih. Sehingga, aku segera menyadari betapa berbeda dirimu, sejak pertama kali,” Tabib Qin menjelaskan.
Leonardo tak henti tercengang.
“Ta-tabib Qin? Bolehkah, aku meminta satu permohonan padamu?”
Tabib Qin menoleh. Menarik salah satu sudut pada alis. Berkata, “Permohonan apa itu?”
“Aku mohon rahasiakan hal ini. Jangan sampai ada yang mengetahui perihal kemampuan sihir yang kumiliki. Sekali pun, orang itu adalah Priscilla,” Leonardo meminta.
Hhh!
Hembusan napas menjadi penyerta sang tabib sebelum memberi jawaban.
“Kau tenang saja, wahai anak muda. Aku takkan berkata perihal ini pada siapa pun. Karena—”
“Karena apa?”
Tabib Qin terdiam. Masih memilih untuk bungkam. Beralih, mengusap dagu sebagai ekspresi menimang-nimang.
“Karena apa, Tabib? Kau jangan membuatku penasaran,” Leonardo sedikit menaikkan nada bicara.
“Karena kemampuan sihir yang kau punya, bisa membahayakan kami sebagai manusia biasa.”
“APA?” Leonardo memekik. Kali itu, tak percaya akan ucapan seorang pria berjanggut putih yang sedang menjadi lawan bicara.
“Asal kau tahu, kemampuan sihir yang kau punya adalah kemampuan sihir pada level delapan. Kau benar-benar diberkahi dengan kemampuan berlebih yang amat fantastis oleh Tuhan. Jadi, kuharap kau selalu menggunakan kemampuan sihirmu dengan baik. Kau jangan menyalah gunakan berkah itu. Jika tidak, hal tersebut akan berdampak buruk bagi kami.”
“Sebentar-sebentar. Aku tak mengerti pada ucapanmu, Tabib Qin. Bisakah, kau menjelaskan perkara itu secara detail kepadaku?” Leonardo menyergah. Masih dengan raut tak mengerti sama sekali.
******
Lima belas menit kemudian.
Leonardo tercengung. Ia tak menyangka dengan kemampuan yang ia punya. Bagaimana tidak, Tabib Qin baru menuntaskan penjelasan panjang; perihal ilmu sihir yang ia miliki. Sebuah kemampuan yang bahkan tak dapat ditandingi oleh beberapa penyihir di dunia magis.
“Jadi, aku bahkan bisa menyembuhkan diriku sendiri?”
“Benar, anak muda. Kemampuan level delapan merupakan tingkatan level yang cukup tinggi. Salah satu kemampuan unik pada level itu, yakni kau dapat menyembuhkan dirimu sendiri. Dan, perihal demammu ini, merupakan hal wajar. Tubuhmu sedang beradaptasi dengan level sihir yang kau punya. Sehingga, kau tenang saja. Kau pasti sembuh. Demammu akan segera mereda.”
Jadi, itulah alasan dari luka lebam, rasa nyeri beserta rasa sakit; seusai Jack Rumondor mengeroyokku, dapat pulih begitu saja? Itu terjadi, karena level sihirku sendiri yang menyembuhkannya? Leonardo bersimpul. Sesaat usai memutar memori pada kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.
“Kau memang dapat menyembuhkan dirimu sendiri. Tapi, kau tak bisa menyembuhkan orang lain. Maka dari itu, aku berpesan padamu. Jangan sampai kau menyakiti seorang manusia biasa seperti kami, wahai anak muda. Jika hal itu terjadi, maka dampak yang ditimbulkan berkat ulahmu; akan menjadi cukup fatal bagi kami. Bisa-bisa, kami akan meregang nyawa karena perbuatanmu itu,” Sang tabib menambahkan.
Barulah, Leonardo menjadi paham. Itulah alasan seorang pengawal segera tergelepar. Meski, Leonardo hanya menghujam pria tersebut dengan satu kali pukulan.