Sore hari yang cerah nan meneduhkan, berganti dengan malam yang dingin serta mencekam. Suara petir bersahut-sahutan. Bergemuruh tiada henti; dibarengi dengan rintikan air hujan.
Leonardo baru saja memastikan Priscilla tertidur pulas di atas ranjang. Ia beralih keluar kamar. Menuju sebuah ruang penyimpanan.
Ceklek!
Pemuda berparas tampan membuka pintu penyimpanan. Mengambil sebuah kitab sihir dari dalam ruang berbentuk persegi. Leonardo harus segera mempelajari mantra demi mantra di sana. Bagaimana pun, ia harus memastikan agar Priscilla selalu baik-baik saja; saat ia sedang menjelajah kembali ke masa depan.
Apakah tak ada sebuah mantra yang bisa kugunakan untuk menciptakan lapisan pelindung di rumah ini? Leonardo bergumam. Setidaknya, jikalau ada, maka Leonardo dapat sedikit tenang. Mengingat, siapa pun dapat menerobos dengan mudah ke dalam hunian. Yah! Leonardo tak serta merta percaya pada para pengawal. Apa lagi, usai mendapati seorang dari mereka; berani membelot di bawah kepemimpinan.
Hhh!
Helaan napas terdengar berat. Kemudian, sang pemuda bergerak menutup lembaran kitab yang semula ia baca. Pemuda tersebut beralih menggerakkan tengadah tangan. Mengucap sebuah mantra sebagai bahan percobaan. Beberapa kabut samar bergerombol menjadi sebuah lingkaran. Leonardo terus berusaha membuat lingkaran itu semakin membesar. Kemudian, ia mulai mengarahkan lingkaran pelindung tersebut; membuatnya melapisi beberapa dinding di rumah.
Namun,
Wussh!
Kabut-kabut itu melenyap. Ternyata, tak ada mantra untuk menciptakan lapisan pelindung; sesuai yang Leonardo inginkan.
Tiba-tiba,
Angin yang bertiup kencang, berhasil menembus daun jendela yang tertutup. Menyebabkan jendela tersebut terbuka lebar. Mengayun dengan suara gemericik air hujan yang berisik.
Leonardo spontan berjalan menuju daun jendela. Berusaha menutup kembali jendela tersebut; agar tak menyebabkan air hujan semakin terhempas masuk ke dalam kamar.
Hanya saja, di saat Leonardo hendak menutup daun jendela, netra sang pemuda mendapati dua orang pemuda sedang beradu mulut. Mereka terlihat basah kuyup. Sesekali, salah seorang pemuda melayangkan pukulan.
Leonardo menyipitkan mata. Membidik lekat. Memastikan rupa salah seorang pemuda.
“Duncan?” Leonardo memekikkan suara.
Pemuda berparas tampan itu segera keluar dari dalam kamar. Tak lupa, memasukkan kitab sihir ke dalam ruang penyimpanan.
Kini, Leonardo telah berada di sisi samping hunian. Yakni, lokasi yang sama saat ia melihat Duncan sedang bertikai dengan seseorang.
“HEI!” Spontan, Leonardo melengkingkan suara. Berteriak untuk menghentikan adu hantam yang sedang terjadi di bawah deras air hujan.
“Ada apa ini?” Leonardo bertanya.
Seorang pemuda lain, menoleh.
Lalu,
“KAU? Kau kan, pemuda yang tadi sore menguntitku dan Priscilla?” Leonardo menyergah. Sungguh, ia yakin dengan memori yang terpatri di dalam ingatan.
“Benar, Tuan. Sepertinya, pemuda ini memang sedang berniat buruk. Saya tak sengaja memergoki dia hendak melompat dinding di samping rumah Tuan Muda,” Duncan menginfokan.
Leonardo menggeleng tak percaya. Tanpa banyak bicara, Duncan menyeret pemuda itu untuk menuju pelataran rumah. Beberapa pengawal yang tak lagi berjaga, membuat Leonardo terpaksa membuka dan menutup pintu gerbang seorang diri. Mempersilahkan Duncan; berjalan masuk sembari mencekal lengan seorang penguntit di sana.
“Tuan, maafkan kami. Hujan malam ini benar-benar deras. Angin berayun dahsyat. Sehingga, kami hanya berjaga di pos saja,” Seorang pengawal lain berujar. Berjalan bersama beberapa orang pengawal, yang sedang menggunakan mantel tebal.
“Baiklah, tak apa. Aku dapat mengerti. Sekarang, kalian bantu saja Duncan. Bantu dia mengikat pemuda ini di bawah pohon itu,” Leonardo memerintah. Menunjuk sebuah arah.
Pengawal-pengawal tersebut bergerak sesuai perintah sang majikan muda.
Akibat berlari tanpa pikir panjang, Leonardo turut basah kuyup. Bergerak bersindekap sebagai pelampiasan menahan hawa dingin yang merasuk. Entahlah, semenjak memiliki ilmu sihir di dalam tubuh, suhu pada badan Leonardo terkesan menjadi lebih dingin. Ditambah lagi, ketika hujan turun. Ia bahkan tak merasakan kehangatan pada lapisan kulit terluar tubuh sama sekali.
Satu menit
Dua menit kemudian,
Hembusan angin menerpa dengan kencang. Berbarengan dengan gerak air hujan yang mengucur deras. Membuat tubuh Leonardo semakin menggigil tak karuan.
“Duncan?” Leonardo berseru.
Seorang pengawal bergegas menghampiri posisi sang tuan pada ambang pintu utama.
“Kau, uruslah pemuda itu. Maafkan aku. Aku memerintah di luar sif jagamu. Dan, terima kasih sudah memergoki pria tadi. Aku rasa, aku harus kembali masuk ke dalam rumah,” Leonardo berujar. Berpamitan. Kali itu, dengan gerak bibir yang bergemetar kedinginan.
“Baiklah, Tuan. Sama-sama. Tapi, apa Tuan Muda baik-baik saja? Sepertinya, Tuan sedang kurang enak badan?” Duncan menerka. Bertanya memastikan.
“Sepertinya, kau benar, Duncan. Maka dari itu, aku akan beristirahat dulu.”
“Baik, Tuan. Semoga lekas sembuh.”
Leonardo mengangguk. Menutup daun pintu yang terbuat dari bahan dasar kayu.
******
Kini, Leonardo sedang terduduk di kursi ruang tamu. Ia masih dengan gerak kaki yang bergetar. Tak lupa, dibarengi dengan gemeretak gigi yang tak henti.
Apa yang terjadi padaku? Ini adalah kali pertama aku merasa tak enak badan seperti ini. Mungkinkah, karena aku kelelahan dengan aktivitas belakangan hari? Ataukah—
Leonardo menghentikan gumaman. Tak berharap, jika terkaan di dalam benak itu menunjuk pada kebenaran. Bagaimana tidak, Gerson telah berkata jika penjelajahan waktu; mengakibatkan beberapa dampak terjadi pada kondisi tubuh si penjelajah. Mungkinkah, apa yang sedang Leonardo rasakan malam itu; termasuk dari salah satu efek yang ditimbulkan oleh mesin waktu?
Tidak! Tidak. Sepertinya, ini lebih logis jika kuhubungkan dengan ilmu sihir yang kupunya. Mengingat, aku merupakan seorang anak manusia, yang mendapati ilmu sihir milik para penghuni dunia magis. Dan, hal itu merupakan suatu hal yang cukup mengesankan.
Usai bersimpul untuk kali kedua, Leonardo beralih menuju ke dalam kamar; kamar yang berbeda dengan yang sedang dihuni oleh Priscilla. Leonardo merebahkan tubuh di atas ranjang. Bergerak menutup diri dengan selimut berukuran tebal. Membalut tubuh yang dingin hingga tak menyisahkan ruang terbuka.
Tak lama setelahnya, Leonardo memejamkan mata. Berpindah ke alam bawah sadar. Yakni, menuju ke dalam mimpi yang panjang.
******
Tak terasa, mentari mulai menampakkan sinar. Menggantikan suasana malam yang mencekam dengan secercah cahaya terang.
“Leonardo?” Suara seorang wanita berbisik lirih. Membangunkan seorang pria yang terbaring pulas di atas ranjang seorang diri.
“Leonardo?” Kali itu, Priscilla mengguncang singkat tubuh si pemuda.
Dan,
Astaga! Mengapa tubuhnya panas sekali? Priscilla bergumam cemas. Sesaat usai mendapati suhu tinggi saat menyentuh permukaan kulit Leonardo.
“Pelayan? Pelayan?” Priscilla berseru. Menuju daun pintu kamar.
Pergerakan sang wanita yang gusar dan sedikit berisik, membuat mata Leonardo mengerjap. Mulai terbuka perlahan. Menatap langit-langit kamar dengan tangkapan retina sedikit samar. Leonardo spontan menyentuh dahi. Memastikan jika ia dalam keadaan baik-baik saja. Namun, sama halnya yang Priscilla rasakan. Sensasi sensoris pada jemari tangan, mendapati suhu tinggi pada sisi dahi sang pria.
Lalu,
“Leonardo?” Priscilla memekikkan suara. Kembali masuk bersama seorang pelayan wanita, yang sedang membawa baskom dan sebuah handuk kecil di atas nampan.
“Apa kau baik-baik saja?” Priscilla bertanya. Masih dengan nada khawatir tak terhingga.
Leonardo menggeleng, “Entahlah, Prisc. Kurasa aku sedang demam.”
Issh!
“Ini semua pasti karena kau terlalu lelah. Maka dari itu, kau berhentilah melakukan perjalanan setiap hari. Setangguh apa pun kau. Sekuat apa pun tubuhmu. Kau itu hanya seorang anak manusia yang bisa kelelahan. Lihatlah, sekarang kau menjadi sakit seperti ini,” Wanita tersebut mengoceh.
Hanya saja,
Saat ini, aku bukan sekedar anak manusia biasa, Prisc. Aku telah diberkahi dengan kemampuan sihir. Aku merupakan salah satu titisan dari para penyihir. Leonardo membatin. Beralih memijat kening yang terasa pening.