HIS ADVICE

1094 Kata
Akibat mengambil rute perjalanan yang berputar arah, Leonardo menjadi sedikit terlambat untuk tiba di rumah. Benar saja, tepat seusai tapakan kaki Moe Gayo melangkah pada pelataran, Duncan telah bersiap lebih dahulu; menunggu kedatangan sang tuan. “Hei, Duncan. Apa kau sudah menuntaskan apa yang kuperintahkan tadi?” Leonardo menyapa. Bertanya. Bergerak menuruni tunggangan kuda. Berpura-pura tak melihat seorang pengawal secara kebetulan; sewaktu berada di perjalanan. “Tentu saja, Tuan. Saya sudah melaksanakan sesuai dengan yang Tuan Muda perintahkan,” Duncan menyahut sopan. Berpindah mengarahkan Moe Gayo pada sebuah pohon berukuran besar. “Setelah ini, ada hal yang harus kubicarakan denganmu, Duncan. Apa kau memiliki waktu luang?” Leonardo berujar. Menatap lekat manik mata sang lawan bicara. Mengingat, saat itu adalah waktu yang menunjuk pergantian sif jaga. Duncan mengiyakan. Tak merasa keberatan dengan ajakan berbincang sang majikan. “Baiklah, kalau begitu kau tunggulah di taman yang ada di samping rumah. Ada hal yang harus kukerjakan di dalam sebentar,” Leonardo memerintah. Berucap berpamitan untuk sejenak. ****** Tak berapa lama kemudian. Leonardo menampakkan diri dengan gagah. Ia berjalan mendekat ke arah Duncan. Menjejalkan p****t pada sebuah dudukan di sana. “Ada apa, Tuan?” Duncan bertanya dengan sigap. Leonardo memulai pembicaraan. “Kudengar ibumu sedang sakit?” Duncan tergagap, “Be-benar, Tuan.” Tapi, bagaimana bisa Tuan Muda mengetahui perihal itu? Duncan bertanya-tanya. “Baiklah, maka gunakan batang emas ini untuk keperluan berobat ibumu. Sisanya, kau gunakan saja sebagai tabungan. Atau, kau boleh menggunakan untuk kehidupan sehari-harimu,” Leonardo berujar. Menyodorkan sebuah batang emas. Spontan, Duncan menggeleng cepat. Berkata, “Tidak, Tuan. Tidak! Saya tidak berhak mendapat batang emas milik Tuan. Sungguh, gaji yang Tuan beri selama satu bulan bekerja sudah lebih dari cukup,” Pengawal tersebut menolak sopan. Leonardo mendecap bibir. Hhh! Menghembus napas panjang kemudian. “Baiklah, kalau begitu. Jika, ada suatu hal yang sedang kau butuhkan, kau jangan sungkan berkata padaku,” Leonardo memutuskan. Menghargai penolakan yang Duncan berikan. Bagaimana pun, Leonardo tak bisa memaksakan kehendak. Lagi pula, hal tersebut juga cukup beresiko untuk Duncan. Jikalau, semisal ada seorang pekerja lain yang menyaksikan; tak menjamin orang tersebut dapat memahami keadaan yang sedang terjadi diantara Leonardo dan Duncan. Sehingga, Leonardo amat paham perihal alasan Duncan menolak pemberian batang emas; setara dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang tunai tersebut. “Oh iya, Duncan. Selain aku ingin memberimu batang emas ini. Sebenarnya, ada hal lain yang juga ingin kubicarakan denganmu.” “Perihal apa itu, Tuan?” “Selama pembangunan lembaga pendidikan belum tuntas, kurasa akan ada banyak rintangan yang menghadang. Aku tak mengkhawatirkan diriku. Melainkan, aku khawatir dengan keselamatan Priscilla. Jadi, kuharap kau selalu mampu untuk kuandalkan. Jikalau, suatu waktu aku tak ada di sini, aku harap kau tetap menjaga Priscilla untukku,” Leonardo berujar ambigu. “Maafkan saya, Tuan. Jika, saya boleh tahu, memang Tuan Muda hendak berencana pergi ke mana?” Leonardo terdiam. Beralih menautkan jemari tangan menjadi sebuah kepalan; pertanda ia sedang menyembunyikan rasa gusar. Bagaimana tidak, sudah berhari-hari bahkan berminggu-minggu, ia berada di masa lalu. Tak mungkin, jika Leonardo tak kembali pulang ke masa depan. Ia tak ingin membuat Gerson dan Grace merasa khawatir. Lagi pula, kehidupan Leonardo yang padat di masa lalu, hampir membuat pemuda tersebut tak sempat memperhatikan keberadaan mesin waktu. Akankah, mesin waktu itu masih berada di tempat semula? Sungguh, Leonardo juga cemas perihal itu. Pemikiran panjang sang tuan, membuat Duncan tak berani kembali berujar. Pemuda yang bekerja sebagai seorang pengawal itu, juga tak berani beranjak dari tempat semula. Sedari beberapa menit yang lalu, ia masih berdiri di hadapan sang majikan. Menunggu jawaban. Menunggu mandat, yang mungkin akan segera ia dapat. “Maafkan aku, Duncan. Aku tak berniat mengabaikan pertanyaanmu. Hanya saja, aku sedang banyak pikiran. Dan, perihal ucapanku tadi. Aku hanya sekedar berbicara saja. Kau tahu sendiri, bukan? Jika, aku ini suka sekali melakukan perjalanan. Kau juga tahu, jika di dalam perjalananku, ada banyak hal yang kulalui. Aku hanya takut, tak dapat kembali menjumpai Priscilla. Jadi, sewaktu-waktu jikalau aku—” “Tuan?” Duncan memekikkan suara. Memotong ucapan sang tuan muda. Memelotot sebagai ekspresi tak percaya. “Ada apa, Duncan?” “Maafkan saya. Saya tak bermaksud memotong perkataan, Tuan. Hanya saja, saya rasa Tuan Muda terlalu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Menurut saya, Tuan Muda akan selalu baik-baik saja. Tuan adalah seorang pemuda yang pemberani dan tangguh. Jadi, tak mungkin ada hal buruk yang akan terjadi pada Tuan Muda,” Duncan berujar. Menyampaikan isi di dalam pikiran. Leonardo paham betul akan duduk perkara yang Duncan bicarakan. Hanya saja, perkara itu cukup berbeda dengan yang Leonardo lamunkan. Yah! Bagaimana pun, yang Leonardo maksudkan adalah mengenai kepulangan dirinya ke masa depan. Semoga, aku tetap bisa menggunakan mesin waktu itu. Aku ingin tetap menjelajah ke masa lalu. Leonardo berharap. Memanggutkan kepala. Kemudian, beranjak dari duduk. Menepuk pundak seorang pengawal yang setia. Menyudahi agenda mengobrol yang mereka lakukan. Mengarahkan pengawal itu untuk bergegas pulang. “Baik, Tuan. Saya pamit dahulu.” Kini, bayangan Duncan menghilang. Perlahan mengecil dari tangkapan retina seorang pemuda. Digantikan dengan sosok Priscilla yang sedang berjalan menuju ke arahnya. “Hai, sedang apa kau ke mari?” Leonardo bertanya. Menatap manik mata Priscilla selagi ia bisa. Issh! “Kau ini, memang kau tak melihat jika aku sedang membawa pupuk dan alat penanam tanaman,” Priscilla menyahut. Menunjukkan dua benda berbeda yang ia pegang. Leonardo sontak menggaruk tengkuk yang tak gatal. “Maafkan aku, Prisc. Aku tak sadar dengan benda yang kau bawa. Mataku ini lebih suka memperhatikan wajah cantikmu,” Leonardo berujar. Menggombal. Priscilla sontak menggeleng. Berusaha menyamarkan semu malu di wajah. “Kau ini ada-ada saja, Leonardo. Sebaiknya, kau bantu aku. Aku akan mengajarimu cara menanam tumbuhan,” Priscilla menyahut. Mengalihkan fokus pembicaraan. Sore itu, Priscilla dan Leonardo sedang bergerak kompak. Mereka bak pasangan muda yang selalu dipenuhi dengan keceriaan di wajah. Saling bahu-membahu; menanam tanaman. Tertawa riang bersama. Hanya saja, suara benda terjatuh tiba-tiba terdengar. Seolah, ada seseorang yang sedang memperhatikan dua insan berbeda jenis kelamin tersebut dari kejauhan. Sontak, Leonardo menghampiri sumber suara. Memastikan perihal si penguntit yang sedang mengintip. Dan, benar saja. Seorang pemuda terlihat berlari terbirit-b***t. Leonardo berusaha mengenali pemuda tersebut dari kejauhan. Namun, nihil. Sang tuan tak dapat mengenali sosok pemuda itu. “Dia siapa, Leonardo?” Priscilla bertanya. “Entahlah, Prisc. Aku akan memerintahkan pengawal untuk mencari tahu. Dan, seperti yang sudah kuperingatkan padamu. Kau selalu berhati-hatilah.” “Tentu, Leonardo. Aku selalu mendengar nasihatmu. Tapi, belakangan hari ini, mengapa kau sering berkata seperti itu? Apa kau akan—” Priscilla menghentikan ucapan. Berusaha menyangkal terkaan di dalam benak. “Kau benar, Prisc. Aku berniat untuk kembali ke tempat asalku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN