Sebuah adegan berpelukan menjadi akhir dari perbincangan. Sebelum pada akhirnya, Leonardo kembali berpamitan.
“Prisc, sebaiknya kau masuk ke dalam rumah. Setelah ini, aku akan pergi keluar. Aku harus melunasi sisa uang yang sudah kita janjikan pada si penjual tanah,” Leonardo berujar. Berpamitan.
“Baiklah, kau berhati-hatilah di jalan,” Priscilla mengingatkan.
Leonardo meraih puncak kepala Priscilla. Berucap, “Tidak. Seharusnya, aku yang mengatakan hal itu padamu. Kau berhati-hatilah, meski berada di dalam rumah.”
Sontak, Priscilla menyipitkan mata.
“Memang, akan ada hal buruk apa? Toh, takkan ada lagi yang berani menggangguku, bukan?”
GLEK!
Leonardo menelan ludah. Sungguh, ia bodoh sekali. Bisa-bisanya, kelepasan berbicara seperti itu. Mengingat, Priscilla tak tahu menahu perihal Jack Rumondor yang berhasil kabur pada waktu itu.
“Tidak. Tentu saja. Tak akan ada hal buruk yang menimpamu. Aku hanya berpesan, agar kau selalu bermawas diri saja,” Leonardo menyahut. Berkilah. Sedikit menyembunyikan kekhawatiran di wajah.
“Ah! Jadi begitu. Baiklah, aku akan selalu berhati-hati; sesuai dengan nasihatmu itu,” Priscilla menyahut. Melempar senyum sebagai tanda mengerti.
Leonardo memanggutkan kepala. Kemudian, meninggalkan Priscilla seorang diri di sana.
******
Kini, Leonardo sedang berada di dalam ruang. Ruang yang beberapa hari terakhir, menjadi lebih sering ia kunjungi. Bagaimana tidak, selain banyak hal yang harus ia lakukan dengan harta kekayaan yang tersimpan, Leonardo juga harus mempelajari kitab sihir di dalam ruang penyimpanan.
Tak menunggu lama, Leonardo bergegas mencari mantra-mantra yang bisa ia gunakan sebagai acuan untuk melawan para penyihir jahat. Nahas, tak banyak dari mantra itu berasal dari para penyihir baik. Yah! Buku setebal beberapa ratus milimeter tersebut, lebih didominasi dengan mantra-mantra hitam. Leonardo sontak menyugar puncak kepala dengan kasar.
Namun, hal tersebut takkan membuat Leonardo menyerah. Di dalam pemikiran sang pemuda; pasti ada satu dua mantra, yang dapat ia gunakan sebagai pedoman untuk melawan sihir hitam.
Usai mempelajari dengan seksama isi kitab tersebut, Leonardo berusaha menggabungkan beberapa mantra-mantra sesuai dengan keyakinan yang ia punya. Menghafal mantra itu. Tentu, tak lupa dengan niat dan tujuan baik sewaktu menggunakannya nanti.
Sebuah tas berwarna hitam menjadi penyerta. Seperti biasa, ia membawa beberapa batang emas yang ia masukkan ke dalam tas. Dengan langkah cepat, Leonardo menuju ambang pintu utama. Menuruni beberapa anak tangga. Dan, segera menjumpai seekor kuda.
Moe Gayo baru saja ditunggang oleh sang majikan muda. Kuda kekar itu segera melangkah dengan laju yang pesat. Sebuah gerbang tinggi nan menjulang terbuka. Beberapa pengawal tak lupa menunduk hormat pada kepergian sang tuan.
Hiaa!
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Tapakan kaki kuda terus terdengar. Moe Gayo takkan lelah dalam membawa pergi seorang penunggang hebat.
Hingga pada akhirnya, Leonardo kembali memberhentikan Moe Gayo di depan pelataran rumah sederhana. Bergegas mencari seorang penjual tanah.
Tok-tok!
Daun pintu terketuk. Hanya saja, tak ada seorang pun yang berniat membukakan pintu.
Tiba-tiba,
“Kau sedang mencari siapa, anak muda?” Seorang nenek-nenek beruban bertanya. Membuat Leonardo sontak membalikkan badan. Menatap ke arah sumber suara.
“Ini, Nek. Aku sedang mencari pemilik rumah ini. Ada hal yang harus kuselesaikan dengannya.”
Nenek tersebut terdiam. Menunduk sepersekian detik. Hingga, jari telunjuk menjadi sebuah jawaban atas kalimat yang Leonardo lontarkan.
Pemuda berparas tampan, segera mengalihkan pandang. Mengedarkan netra pada sebuah arah.
Dan,
Oh, s**t! Leonardo mengumpat.
Benar saja, saat itu si penjual tanah sedang berada di dalam keadaan tak baik. Beberapa pemuda bertubuh gempal sedang menghajar ia habis-habisan.
Tanpa basa-basi, Leonardo segera berlari. Ketika jarak ia berada semakin mendekat, Leonardo spontan melompat. Membuat gerakan mengudara sembari bersiap untuk menendang dengan salah satu tungkai yang jenjang.
BUG!
Seorang pria berhasil menjadi bidik sasaran. Membuat pria lain di sana, mengalihkan fokus mereka semula; tak lagi menghujam tubuh si penjual tanah.
Huk!
Penjual tanah itu terbatuk. Sesaat usai melonggarkan jalan napas yang sedari tadi terasa sesak.
Kini, Leonardo tak bisa menuntaskan urusan dengan seorang pemilik lahan. Mengingat, ada hal yang harus ia lakukan. Yakni, memberi pelajaran pada para begundal yang berani bermain keroyokan.
“Jika, kalian berani. Maka majulah satu per satu. Lawan saja aku. Jangan lawan pria setengah baya itu,” Leonardo berujar.
Namun, alih-alih melawan, para begundal itu justru membalikkan badan. Berlari terbirit-b***t karena tak mau menjadi bahan sasar bogeman.
Haish!
Mereka beraninya melawan kaum yang lemah. Leonardo bergumam. Menghentak kaki sebagai pelampiasan rasa kesal. Kemudian, beralih membantu seorang pria yang sedang duduk bersandar pada sebuah batang pohon berukuran besar.
“Apa yang terjadi? Mengapa mereka memukulimu?” Leonardo bertanya. Sesaat usai berjalan berdampingan dengan seorang pria.
Pria dewasa itu menggeleng pelan.
“Mereka adalah suruhan Pak Kepala Desa. Sepertinya, Pak Kepala Desa ingin membalas rasa kesal atas perjanjian jual beli tanah yang telah kita sepakati kemarin,” Pria itu menerka. Memberi penjelasan logis atas alasan ia dipukuli habis-habisan.
Mendengar hal itu, Leonardo spontan mengepalkan tangan. Benar-benar tak dapat menahan rasa kesal.
Namun, saat itu bukan waktu yang tepat untuk melawan sang kepala desa. Mengingat, pembangunan sekolah harus ia tuntaskan lebih dulu. Jika tidak, maka rencana pendirian lembaga pendidikan itu akan terjeda. Dan, Leonardo tak ingin program yang sudah ia rancang menjadi berlarut-larut. Mengingat, ia juga harus kembali ke masa depan.
“Baiklah, setelah ini kau bisa beristirahat. Aku ke mari hanya untuk memberi jumlah sisa dari emas batang yang telah kujanjikan,” Leonardo mengutarakan maksud dan tujuan. Membuka penutup pada tas selempang yang sedari tadi ia gunakan. Mengeluarkan benda mengkilat dari dalam wadah barang bawaan.
Setelah itu, Leonardo bergegas berpamitan. Beranjak dari posisi duduk bersebelahan dengan seorang pria yang sedang kesakitan.
Hanya saja, pergerakan tangan Leonardo tercekal. Pria itu seraya ingin mengatakan suatu hal.
“Ada apa?”
“Tuan, sebaiknya setelah ini kau lebih berhati-hati. Kepala Desa takkan membiarkanmu menjalankan rencana pembangunan itu dengan lancar,” Pria setengah baya tersebut memperingatkan.
Leonardo mengangguk paham. Meski beresiko, namun Leonardo tetap bersih kukuh pada pendirian. Yah! Seusai ia membuat keputusan, maka Loenardo akan bertanggung jawab penuh pada apa yang sudah ia ucapkan. Sejatinya, Leonardo bukan seorang pemuda yang plin-plan.
“Baiklah,” Leonardo menyahut singkat. Melempar senyum. Kemudian, benar-benar beralih pergi dari kediaman seorang pemilik lahan.
******
Hiakh! akh!
Leonardo menghentikan laju Moe Gayo dengan tiba-tiba. Bukan karena kembali dihadang oleh para begundal. Melainkan, karena ia tak sengaja melihat seekor kuda lain yang ia kenal; kuda yang biasa ditunggangi oleh Duncan.
Sontak, Leonardo berniat memantau pergerakan seorang pengawal dari kejauhan. Bagaimana pun, Leonardo ingin membuktikan sendiri, jika Duncan dapat ia percayai. Terlebih lagi, sebuah batang emas yang Leonardo beri; bernilai setara dengan berlembar-lembar uang tunai. Yah! Leonardo ingin melihat kesungguhan Duncan. Akankah, Duncan benar-benar menggunakan uang itu sesuai perintah? Atau, untuk kepentingan pribadi?
Dan,
Tak berapa lama usai Leonardo memantau, seorang pengawal terlihat keluar dari dalam rumah bersama wanita paruh baya; ibu-ibu yang sebelumnya menangis tersedu-sedu.
Leonardo memang tak mendengar percakapan antar dua orang tersebut dari kejauhan. Namun, setidaknya gambaran Duncan memberi sebuah amplop berukuran tebal, menjadi titik fokus pandangan.
Usai memastikan sang ibu menerima amplop yang Duncan sodorkan. Barulah, Leonardo kembali melanjutkan perjalanan. Sengaja mengambil rute perjalanan berputar arah.
Ternyata, pengawal bernama Duncan itu benar-benar dapat kupercaya. Leonardo membatin sumringah.