Menyaksikan Priscilla melangkah keluar ruang dengan hati yang dipenuhi amarah, Leonardo spontan tertegun. Meski, Priscilla memiliki riwayat buruk dengan seorang Kyteler. Namun, setidaknya hal yang diputuskan oleh Leonardo, juga memiliki dampak positif untuk wanita tersebut. Mengingat, semenjak Leonardo bersepakat dengan Kyteler, Priscilla tak pernah lagi diganggu oleh jelmaan dari penyihir wanita itu.
Haish!
Leonardo menyugar puncak kepala dengan kasar. Sejatinya, beberapa kaum hawa; baik di masa depan atau pun di masa lalu, terlampau sulit untuk dimengerti. Leonardo hingga merasa frustasi.
Sudahlah, biar saja. Toh! Tak ada hal buruk yang terjadi semenjak aku memenjarakan begundal-begundal itu di dunia magis. Leonardo bersimpul. Tak ingin ambil pusing atas perdebatan singkat yang ia lakukan bersama Priscilla.
Di sela Leonardo merebahkan punggung pada dudukan bersandar, suara seseorang terdengar mengetuk pintu dari balik ruang.
Tok-tok!
Leonardo menyahut. Mempersilahkan.
“Ada apa, Duncan?” Leonardo bertanya. Sesaat usai mendapati seorang pengawal masuk ke dalam ruang.
“Tuan, di depan rumah ada seorang warga yang ingin berjumpa dengan Tuan Muda,” Duncan menginfokan.
“Benarkah?” Leonardo menegakkan tubuh.
“Ada apa? Apa dia berkata perihal yang hendak ia sampaikan kepadaku melaluimu, Duncan?”
“Ti-tidak, Tuan. Hanya saja, warga tersebut terlihat gusar.”
Leonardo memanggutkan kepala. Kemudian, beranjak dari posisi semula. Berjalan bersama Duncan untuk menuju ambang pintu utama.
Lalu,
“Lihatlah, Tuan. Ibu-ibu itu sedari tadi menangis tiada henti.”
Leonardo spontan menuruni beberapa anak tangga. Berjalan mendekat ke arah seorang wanita paruh baya, yang ditunjuk oleh Duncan.
“Ada apa ini?”
“I-ini, Tuan. Ibu ini terus memaksa untuk bertemu dengan Tuan Muda,” Seorang pengawal lain menyahut.
Leonardo mengarahkan pengawal itu untuk membawa sang ibu menuju teras rumah. Beralih untuk duduk bersama pada dua buah kursi berhadapan.
“Pelayan?” Leonardo berseru lantang.
Tak dapat Priscilla pungkiri, seruan sang pria juga terdengar hingga ke dalam gendang telinga.
“Ada apa, Pelayan? Mengapa Tuan Muda memanggilmu?” Priscilla berbisik lirih. Menghalangi langkah seorang pelayan wanita.
“Sa-saya, tidak tahu, Nona.”
Kemudian, Priscilla memberikan ijin agar pelayan itu kembali melanjutkan pergerakan.
******
Tak berapa lama setelahnya, pelayan wanita tersebut menampakkan diri di dalam netra Priscilla. Memberi tahu perihal perintah yang baru ditujukan kepadanya.
“I-itu, Nona. Di depan ada seorang ibu-ibu. Tuan Muda meminta saya untuk membuatkan minuman hangat,” Sang pelayan melapor.
Priscilla memanggutkan kepala. Beranjak mendekat pada sisi bagian depan rumah. Hanya saja, ia tak berniat untuk duduk bersama di depan teras. Yah! Priscilla lebih memilih untuk mengintip dari balik sela jendela yang sedikit terbuka.
“Tuan? Bantu kami. Anak saya sudah lama sakit parah. Tapi, kali ini dia tak henti berteriak kesakitan. Kami berasal dari keluarga yang miskin. Bahkan, untuk makan sehari-hari saja, kami amat kekurangan. Maka dari itu, saya menginginkan bantuan dari Tuan Muda,” Sang ibu menuturkan maksud dan tujuan ia mengunjungi hunian termegah di desa.
Tanpa banyak bicara, Leonardo beranjak dari duduk. Menghampiri posisi Duncan yang sedari tadi tak henti mengawal.
“Duncan, kau segeralah mencari tabib yang waktu itu menyembuhkan salah seorang pengawal di sini. Mintalah tabib itu untuk mengobati anak si ibu tersebut,” Leonardo memerintah.
Dan,
“Tunggu dulu, Duncan. Kau sekalian bawalah sebatang emas milikku. Tukarkan batang emas itu ke penadah. Gunakan uang tunai tersebut untuk membayar jasa si tabib. Lalu, sisanya kau berikan saja pada keluarga si ibu itu.”
Usai memberi mandat, Leonardo bergegas masuk ke dalam rumah. Berniat mengambil sebuah batang emas yang ia simpan.
Hanya saja,
“Apa yang sedang kau lakukan, Priscilla? Apa kau sedang menguping pembicaraan kami?” Leonardo memergoki seorang wanita sedang bersembunyi di balik ambang pintu utama. Sedikit memposisikan tubuh pada bagian sela jendela yang terbuka.
Priscilla terperanjat.
“Ma-maafkan aku, Leonardo. Aku hanya ingin tahu perihal yang kau bicarakan dengan ibu itu,” Priscilla menyahut. Menunduk malu.
Alih-alih menjawab, Leonardo hanya membalas dengan gelengan kepala; tanda tak menyangka. Kemudian, kembali melanjutkan langkah pada sebuah ruang yang terletak di dalam rumah. Berpapasan dengan seorang pelayan yang sedang membawa nampan.
******
Setibanya di dalam ruang tersebut.
Leonardo memastikan keberadaan daun pintu yang tertutup. Lalu, barulah ia membuka sebuah pintu penyimpanan di balik pigura berukuran sedang. Menengadahkan tangan. Bergerak untuk menggandakan emas batang, yang tersisa satu-satunya di dalam ruang penyimpanan.
Lagi-lagi, bongkahan emas mulai terlihat. Bergerak bersamaan menjadi bentukan padat. Menyerupai batangan emas yang sama. Kali itu, Leonardo benar-benar menggandakan batangan emas dengan jumlah yang banyak. Bahkan, hingga memenuhi ruang yang ada di balik pintu penyimpanan.
Ceklek!
Leonardo menutup pintu penyimpanan. Tak lupa membawa serta sebuah batang emas, yang hendak ia amanahkan pada Duncan.
Baru saja, Leonardo melewati ambang pintu utama. Priscilla tak henti membidik seorang pria yang sedang menggenggam sebatang emas.
“Duncan, bawalah batang emas ini. Dan, lakukan sesuai yang sudah kuperintahkan tadi,” Leonardo berujar. Menatap bergantian ke arah seorang pengawal dan ibu-ibu yang masih menangis tersedu.
“Bu, sekarang kau ikutlah bersama pengawalku. Dia akan mengurus masalah yang sedang menimpamu. Maafkan aku. Kali ini, aku tak bisa secara langsung menolongmu. Semoga sang tabib dapat menyembuhkan putra ibu.”
“Te-terima kasih, Tuan. Kau benar-benar berhati baik. Tapi, anakku yang sedang sakit itu adalah seorang putri, bukan seorang putra seperti yang kau sebut tadi.”
Leonardo mendecap bibir. Sungguh, ia lupa bertanya perihal jenis kelamin mau pun nama dari seorang anak yang sedang dikeluhkan oleh si ibu.
“Ba-baiklah, Bu. Semoga putri ibu dapat segera sembuh setelah ini,” Leonardo meralat ucapan yang sebelumnya kurang benar.
Tak lama setelah itu,
Duncan mengarahkan ibu tersebut untuk beranjak dari posisi semula. Leonardo mengisyaratkan pandang, agar Duncan segera menuntaskan mandat yang ia perintahkan.
Duncan mengangguk patuh. Tak lagi menampakkan bayangan di dalam retina sang tuan.
Usai menuntaskan sebuah masalah baru, Leonardo kembali masuk ke dalam rumah. Hanya saja, Priscilla terlihat berdiri; berhenti pada ambang pintu. Ia mencegah pergerakan seorang pemuda.
“Ada apa?” Leonardo bertanya.
Tanpa menyahut, Priscilla menggandeng lengan Leonardo. Mengajak pria berparas tampan itu menuju area taman pada sisi samping hunian.
“Apa kau ingin mengajakku berjalan-jalan?” Leonardo mengeluarkan suara. Berusaha memecah keheningan.
Wanita itu menganggukkan kepala. Memberi isyarat ‘iya’, sembari tak henti berjalan menuju area yang telah ia bidik dari kejauhan.
******
Sesampainya di area taman.
Bunga-bunga bertumbuh mekar dan subur. Tak lupa dengan angin yang menerpa dedaunan serta ranting pohon yang rindang. Semua itu menjadi pemandangan sejuk pada sore hari yang indah.
“Apa kau tahu, mengapa aku terlihat tak suka saat kau berkata menyerahkan pemuda-pemuda itu kepada Kyteler?” Priscilla mengajukan pertanyaan. Tak berniat menatap sang lawan bicara. Melainkan, ia mengalihkan netra pada bebungaan yang berwarna-warni di sana.
“Te-tentu, aku tahu. Kau pasti masih merasa trauma dengan apa yang diperbuat oleh Kyteler kepadamu,” Leonardo menyahut. Penuh keyakinan. Hanya saja, ia berusaha berujar dengan kalimat yang tak terdengar mengintimidasi sang wanita.
Hening sesaat.
Priscilla masih memilih untuk bungkam. Seraya, sedang menyiapkan kalimat yang hendak ia lontarkan.
Kemudian,
“Bukan itu alasanku tak setuju dengan keputusanmu.”
“Lantas?”
“Aku hanya merasa khawatir padamu, Leonardo. Apa kau tahu, jika seorang anak manusia seperti kita, tak boleh sembarangan bersepakat dengan para penyihir? Bagaimana pun, kita tak pernah tahu perihal resiko dibalik kesepakatan yang sudah kita setujui itu.”
Leonardo spontan terdiam. Ia terperangah. Tak pernah mengira, jika di masa lalu; ada seorang wanita yang bersungguh-sungguh dalam mencintai ia dengan tulus. Seorang wanita berparas cantik, yang selalu mengkhawatirkan keselamatan dirinya.
Prisc, kau itu benar-benar wanita yang baik. Aku berjanji akan selalu mencintai, menjaga dan melindungimu. Aku takkan menyia-nyiakanmu. Leonardo membatin. Benar-benar bertekad dengan teguh.