EVIL WITCH

1172 Kata
“Benarkah? Kau berkata demikian tak untuk menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?” *** GLEK! Kali itu, seorang penyihir terlihat menelan ludah. Spontan, memasang raut masam di wajah. Hanya, ia tak mungkin mengakui terkaan yang Leonardo lontarkan. “Apa yang sedang kau bicarakan, Leonardo? Apa yang kusembunyikan darimu? Tentu, aku tak berniat menyembunyikan apa-apa. Bukankah, aku sudah berkata padamu. Jika, aku hanya ingin memastikan kebenaran itu dulu. Setelah itu, barulah—” “Sudahlah, Kyteler. Aku rasa, sampai di sini aku dapat menyimpulkan sendiri; setiap ucapan-ucapanmu itu. Kalau begitu, aku akan pergi dahulu dari dunia magis ini. Dan, sampai jumpa kembali wahai sesama penyihir,” Leonardo berujar. Sedikit menyengir. Cengiran itu membuat Kyteler merasa geram tak terhingga. Lihat saja, Leonardo. Aku akan berusaha penuh untuk mencabut ilmu sihir yang kau punya. Argh! Tapi, bagaimana caranya? Kyteler mengeram kesal. Memijat kedua pelipis sebagai tanda frustasi. ****** Baru saja, Leonardo menembus sela terbuka. Ia segera menengadahkan tangan kanan pada beberapa arah. Mencoba menggunakan ilmu sihir yang ia punya. Dedaunan yang semula berayun teduh, menjadi berguguran indah. Air jernih di dalam pemandian air panas, yang tenang; sontak mulai menunjukkan gambaran gelombang kecil yang menawan. Yah! Leonardo benar-benar bisa menggerakkan itu semua hanya dengan satu kali putar tengadah tangan. Kini, senyum sumringah tak henti menyumbul di wajah. Leonardo ingin segera kembali ke rumah. Menuju sebuah ruang. Membuka pintu penyimpanan yang dibuat secara rahasia. Dan, memulai aktivitas mempelajari kitab para penyihir. Benar, Leonardo ingin sekali meningkatkan kemampuan sihir yang ia punya. “Moe Gayo, kali ini kau harus melangkah dengan lebih cepat. Apa kau mengerti, huh?” Leonardo berujar. Melempar senyum. Tak lupa mengusap sisi samping kepala seekor kuda. Hiakh! akh! ****** Di dalam perjalanan. Leonardo seolah sedang dibuntuti oleh beberapa orang. Sudah pasti, jika bukan para warga yang berniat buruk padanya. Maka, gerombolan itu adalah anak buah dari Jack Rumondor; seorang pemuda yang berhasil melarikan diri dari tempat sanderaan. Perlahan, Leonardo mulai memelankan laju tunggangan seekor kuda. Dan, benar saja. Tak lama setelah itu, beberapa pria muncul dengan menyemburkan hawa dingin yang aneh. Leonardo spontan menelengkan kepala. Sungguh, pria-pria itu terlihat tak biasa. Dengan segenap keberanian, Leonardo mulai menepikan tapakan kaki Moe Gayo. Menghentikan aktivitas menunggang kuda. Kemudian, Beberapa pria yang semula berwujud, berubah menjadi sebuah kabut. Hanya saja, kabut itu terus beterbangan dengan warna yang menghitam pekat. Sial! Mereka bukan manusia. Mereka adalah para penyihir jahat yang sedang menjelma. Leonardo menyimpulkan. Menuruni punggung Moe Gayo. Apa yang harus kulakukan? Leonardo berpikir dalam-dalam. Bagaimana tidak, ia bahkan belum menguasai ilmu sihir di dalam tubuh. Lantas, bagaimana bisa ia melawan para penyihir jahat yang datang tanpa diundang. Wussh! Wussh! Kabut berwarna hitam memekat terus mengudara. Memenuhi zona pandang seorang pemuda. Leonardo berusaha menegadahkan tangan. Membaca beberapa mantra dengan sembarangan. Dan, benar. Mantra itu tak berfungsi. Penyihir jahat terus berkeliling tanpa henti. Sesekali, bayangan samar itu mengeluarkan nada tawa yang menakutkan. Tiba-tiba, Bayangan kabut lain, mulai muncul. Sebuah kabut yang dikenal oleh Leonardo. Siapa lagi? Jika bukan, sosok Kyteler yang baru saja ia jumpai di dunia magis. Tanpa banyak bicara, Kyteler melawan para penyihir jahat itu. Bayangan kabut yang beradu terus melesat bersamaan. Jika digambarkan dengan pertikaian para manusia; mereka seolah sedang beradu hantam. Tak lama kemudian, kabut hitam itu mulai menghilang. Tak lagi menampakkan gambaran di dalam netra. “Kyteler, apa yang mereka inginkan dariku? Mengapa mereka menggangguku dengan tiba-tiba?” Leonardo bertanya. Kyteler menarik sedikit sudut bibir. Lalu berkata, “Kemampuan sihirmu telah diketahui oleh para penyihir lain. Tak terkecuali mereka. Sehingga, tak lama lagi kau akan diburu oleh para penyihir jahat itu. Leonardo melongo. “Apakah setiap penyihir juga memburu penyihir lain?” Pemuda itu bertanya. Penuh dengan gurat kepolosan di wajah. Haha! Tawa terdengar renyah dari bibir seorang penyihir wanita. “Ternyata, kau masih naif, Leonardo. Tentu saja, di dunia magis, kami juga saling berburu; untuk meningkatkan kemampuan kami.” Lagi pula, aku juga berniat memburumu. Kyteler menambahkan kalimat. Namun, ucapan itu hanya ia gumamkan di dalam hati saja. Kemudian, “Sudahlah, aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk berhati-hati. Seharusnya, kau tak menerima berkah sihir itu. Karena, kini kau tak hanya berurusan dengan bandit-bandit di desa. Tapi, kau juga akan berurusan dengan kami. Yah! Kaum para penyihir,” Kyteler melanjutkan ucapan. APA? Kami? Bukankah, itu berarti Kyteler juga akan menjadi salah satu lawan bagiku? Leonardo menyadari ucapan Kyteler yang terlontar tanpa sadar. Tak lama usai berujar, penyihir wanita tersebut melesat. Menghilang. Sementara itu, Leonardo masih terheran. Ia berusaha menarik benang merah dibalik situasi magis yang ia lalui. ****** Perjalanan panjang baru saja tertempuh. Kini, Leonardo telah kembali ke pelataran rumah. “Priscilla, mengapa kau berada di luar rumah?” Leonardo bertanya. Menatap seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan sang pria. “Kau dari mana saja, Leonardo? Mengapa kau selalu pergi seorang diri seperti tadi? Ah! Maksudku, kau selalu membawa pria-pria berulah itu pergi. Dan, lihatlah. Sekarang kau kembali tanpa mereka,” Priscilla mengoceh. Menatap Leonardo yang berdiri seorang diri di depan ambang pintu utama. “A-aku—” Leonardo tergagap. Ia tak menyangka, jika Priscilla akan sekritis itu kepadanya. Sungguh, Leonardo belum siap menceritakan hal-hal yang ia alami di belakang sang wanita. “Sebenarnya, kau membawa mereka ke mana, Leonardo? Apa yang kau lakukan pada mereka semua?” Priscilla bertanya. Membidik tajam ke arah seorang pemuda. Tanpa sahutan, Leonardo mengarahkan Priscilla untuk masuk ke dalam rumah. Lebih tepatnya, membawa wanita itu ke dalam sebuah ruang pribadi. Yah! Ruang yang sama; letak pintu penyimpanan berada. Di dalam ruang itu, Leonardo tak henti berjalan mondar-mandir. Sungguh, ia tak terlihat seperti seorang pemuda yang biasanya. Pemuda dengan pembawaan tenang dan berwibawa. “Leonardo, cepat jelaskan. Mengapa kau hanya terus bergerak gusar seperti itu?” Priscilla memekikkan suara. Bertanya dengan nada bicara tak sabar. Leonardo mulai menjejalkan p****t pada sebuah kursi. Lalu, “Baiklah, aku akan menjelaskan semua hal itu kepadamu. Tapi, kau berjanjilah padaku. Mengertilah dan jangan halangi keputusan yang sudah kubuat itu.” Priscilla melebarkan bola mata, “Keputusan apa itu?” “Aku membawa mereka ke dunia magis.” “APA?” Lagi-lagi suara Priscilla melengking. “Apa kau sudah tidak waras, Leonardo? Mengapa kau berani sekali membawa mereka ke sana? Lantas, apa yang kau lakukan sesudah membawa mereka ke dalam dunia magis?” Hhm! Leonardo berdehem. “LEONARDO!” “A-aku, menyerahkan mereka pada Kyteler.” “APA? Kyteler?” Priscilla berdecak tak percaya. “Benar, Prisc. Kyteler berkata, jika ia memiliki sebuah penjara di dunia magis. Dan, kurasa itu adalah tempat terbaik untuk memenjarakan mereka agar menjadi jera; tak lagi berulah. Kau tahu sendiri bukan, jika seluruh Kepala Desa di sini adalah pemimpin yang korup. Mereka takkan memenjarakan para bandit dan perusuh. Selain karena mereka tak peduli pada warga. Mereka juga mendapat beberapa persen dari hasil jarahan perampok-perampok itu. Mereka takkan menegakkan keadilan untuk para warga di desa. Jadi—” “Cukup, Leonardo! Saat ini, aku sedang tak bisa berpikir jernih. Apa lagi, usai mendengar jawabanmu itu. Biarkan aku keluar dari ruangan ini. Aku rasa, aku sedang membutuhkan udara segar,” Priscilla memotong ucapan sang pria. Beralih keluar dari dalam ruang berukuran besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN