Baru saja, Leonardo dan sang pemilik lahan bersepakat. Mereka menyepakati harga jual tanah seluas beberapa hektar. Meski, Leonardo hanya membawa lima belas batang emas. Namun, penjual tanah tersebut merasa tak masalah. Mengingat, Leonardo telah berjanji akan melunasi jumlah yang kurang; dalam kurun waktu secepatnya.
Tak lama setelah itu,
Leonardo mengajak Priscilla untuk kembali pulang ke rumah. Selain, agar sang wanita dapat mengistirahatkan badan, Leonardo juga memiliki banyak agenda yang harus ia kerjakan. Tentu, aktivitas itu harus ia lakukan seorang diri. Tanpa ada orang lain yang mengetahui tujuan ia pergi.
******
Beberapa jam kemudian.
Kini, kereta kencana yang dikemudikan oleh seorang penarik kereta, baru saja tiba di dalam pelataran rumah. Leonardo segera meminta Priscilla untuk masuk ke dalam hunian megah.
Sementara itu, ia sedang menatap lekat seorang pengawal yang babak belur. Sungguh, pengawal itu amat berani sekali. Membelot pada seorang majikan? Lalu, merampok mantan majikan tanpa rasa malu? Bisa-bisanya, pemuda tersebut seberani itu?
“Duncan, setelah ini aku akan membawa pergi pemuda itu. Sedangkan, kau sebaiknya berjaga saja di sini seperti biasa. Aku mempercayakan Priscilla kepadamu. Apa kau mengerti?” Leonardo berujar. Sesaat usai mendapati seorang pengawal menghampiri posisi ia berdiri.
“Baik, Tuan.”
Tak menunggu lama, Leonardo kembali bersiap untuk melakukan perjalanan. Seperti biasa, ditemani dengan seekor hewan bernama Moe Gayo.
“Tuan? Tuan? Kau hendak membawaku ke mana?” Pengawal pembelot itu bertanya. Meronta tak ingin dibawa pergi oleh Leonardo.
Issh!
Jika begini saja, dia memangil Tuan Muda dengan sebutan yang benar. Apa dia lupa? Jika di desa seberang, dia berani memanggil Tuan Muda hanya dengan sebutan nama. Duncan membatin geram. Masih dengan gerak mencekal lengan pembelot yang sedang terikat.
“Sudahlah, kau diam saja,” Leonardo menyahut. Mengisyaratkan pandangan agar Duncan membantu pengawal itu untuk naik ke atas tunggangan.
Kini, Leonardo dan seorang pembelot baru saja pergi meninggalkan pelataran. Pintu gerbang yang tinggi nan menjulang, baru saja tertutup rapat. Pertanda, jika para pengawal yang tersisa harus kembali berjaga dengan ketat.
Pada saat bersamaan, Priscilla menampakkan diri pada ambang pintu utama. Memanggil nama seorang pengawal pria.
“Duncan?”
Pengawal itu menoleh. Bergegas menghampiri sumber suara. Lalu bertanya, “Ada apa, Nona? Apa ada yang sedang Nona butuhkan?”
“Tidak,” Priscilla menggeleng singkat. Menampakkan raut penasaran.
“Aku hanya ingin bertanya. Baru saja, Leonardo berpamitan pergi ke mana?”
Duncan mengarahkan pandang pada sebuah pohon berukuran besar; batang kokoh yang semula menjadi tempat seorang pemuda terikat dengan tali tampar.
“Tuan Muda berkata jika hendak membawa pemuda itu pergi, Nona.”
“Aku tahu, Duncan. Aku melihat sendiri, jika Leonardo membawa serta pengawal itu. Tapi, yang kumaksud adalah ke mana arah Leonardo pergi?” Priscilla menyergah. Sungguh, tak sabar menahan rasa penasaran.
“Pe-perihal itu, saya tidak tahu, Nona. Lagi pula, itu bukan wewenang saya untuk bertanya kepada Tuan Muda,” Duncan menyahut jujur. Sejatinya, ia juga tak pernah tahu perihal tujuan Leonardo membawa tawanan-tawanan itu.
Hhh!
Helaan napas terdengar berat. Priscilla memanggutkan kepala. Kemudian, kembali masuk ke dalam rumah.
*******
Sementara itu, di dalam perjalanan.
“Tuan, sebenarnya kau hendak membawaku pergi ke mana? A-aku minta maaf padamu, Tuan. Aku takkan berkhianat lagi padamu. Pukulan-pukulanmu benar-benar membuatku sadar,” Pengawal itu berseru ketakutan.
Bagaimana tidak, semenjak Leonardo menangkap pemuda-pemuda pembuat onar di desa, Leonardo selalu membawa pemuda itu pergi seorang diri. Dan, semenjak itu tak ada kabar perihal keberadaan mereka. Meski, tak ada penduduk yang peduli; mengingat pemuda-pemuda itu adalah orang-orang yang meresahkan masyarakat. Namun, tetap saja. Para pengawal pasti terlampau hafal. Jika, sang majikan selalu membawa tawanan itu pergi ke suatu tempat. Sehingga, ia menjadi takut jikalau Leonardo akan melakukan hal yang sama kepadanya.
“Tuan? Tuan?” Pemuda itu tak henti berseru. Masih dengan nada ketakutan.
Hanya saja, Leonardo tak berniat memberi sahutan. Sungguh, ia ingin sekali membuat seorang tawanan itu menjadi jera. Yah! Yakni, dengan segera memenjarakan pemuda itu.
“Tuan? Tuan?”
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Semakin pemuda tersebut mengeluarkan suara, Leonardo semakin melajukan Moe Gayo dengan gerak langkah yang cepat.
******
Tak terasa, Leonardo telah memberhentikan Moe Gayo pada suatu tempat. Tak lain, pada sebuah area pemandian air panas.
Leonardo bergegas mengarahkan mantan pengawal itu menuju sela terbuka. Sungguh, pemuda tersebut tak tahu arah Leonardo membawa ia pergi. Yang ia tahu, Leonardo mengajaknya berjalan menuruni anak tangga. Anak tangga yang seharusnya membawa mereka menuju kolam berisi air jernih.
Hanya saja, alih-alih tercebur ke dalam air bersuhu tinggi, Leonardo dan mantan pengawal itu justru menembus sela terbuka. Seketika, berpindah tempat menuju dunia yang berbeda.
“Tu-tuan? Tempat apa ini?” Nada bicara pemuda itu bergetar. Tak jauh berbeda dengan nada bicara dua pria sebelumnya.
Tak menunggu lama, Kyteler segera menyambut kedatangan mereka. Namun, kali itu Kyteler tak banyak bersuara. Ia bahkan muncul dengan raut yang datar.
“Kyteler, aku membawakanmu seorang pemuda lagi. Aku harap pemuda ini dapat kau penjarakan hingga menjadi jera.”
GLEK!
Mantan pengawal itu menelan ludah. Bahkan, jakun yang terletak di bagian tenggorokan terlihat menelan dengan susah.
“Tuan? Aku mohon maafkan aku. Aku tak ingin berada di sini,” Pemuda itu berseru. Mengedarkan pandangan pada sebuah tempat yang terlihat menyeramkan.
Benar, sejatinya dunia magis selalu terlihat berubah-ubah. Terkadang, terlihat indah. Hanya, juga bisa terlihat menakutkan bagi siapa saja yang berkunjung untuk kali pertama.
Tanpa memberi sahutan, Leonardo segera menyerahkan pemuda itu pada Kyteler. Sang penyihir menerima pemuda itu dengan perasaan bercampur aduk. Di satu sisi, ia senang karena Leonardo selalu membawa muda mudi di desa dengan tepat waktu. Tapi, di sisi lain Kyteler juga merasa terancam dengan ilmu sihir yang saat ini dipunyai oleh Leonardo.
“Baiklah, kalau begitu kau tunggu apa lagi?” Kyteler berujar. Melirik sekilas ke arah Leonardo. Seakan, tak berani menatap lekat paras tampan seorang pria yang sedang berdiri tepat di hadapan.
“Aku takkan pergi. Masih ada hal yang ingin kubicarakan denganmu,” Leonardo menyahut.
Kyteler tak mampu berkata apa-apa. Ia hanya bisa menggerakkan tengadah tangan kanan. Mengikat, membungkam dan menutup indera pendengar seorang pria lain di sana.
Kemudian,
“Apa yang hendak kau bicarakan denganku?” Kyteler bertanya. Berpura-pura tidak tahu.
Leonardo bersindekap. Sesekali, ia berjalan mondar-mandir sembari mengusap dagu.
“Apa kau juga tahu perihal kemampuan sihir yang kupunya ini?” Leonardo bertanya. Tak ada niat berbasa-basi.
Kyteler mengepalkan tangan. Ingin rasanya, ia memberi perlawanan. Hanya saja, Kyteler tak ingin bertindak gegabah; seperti para manusia yang mudah sekali tersulut amarah.
“Kyteler, mengapa kau diam saja?” Leonardo kembali mengeluarkan suara. Kali itu, ia menghentikan langkah kaki yang sedari tadi berjalan ke sana ke mari.
“Sebenarnya, aku sudah tahu perihal kemampuan berbeda yang kau miliki itu,” Kyteler menyahut. Sedikit berat hati.
“APA?” Leonardo memekikkan suara.
“Lantas, mengapa kau diam saja? Mengapa kau tak memberi tahuku sedari awal? Jika, kita sama-sama memiliki kemampuan sihir yang sama. Dan, waktu itu kau jelas-jelas berkata padaku; jika kita ini berbeda. Kau seorang penyihir, sedangkan aku hanyalah seorang anak manusia biasa. Apa kau sedang mengelabuhiku, Kyteler?”
“Hentikan omong kosongmu itu, Leonardo. Setelah apa yang kuperbuat padamu, apa pantas kau menuduhku sembarangan seperti itu?” Kyteler mulai meninggikan suara. Hampir terbawa suasana.
“Kalau begitu, segera jelaskan padaku mengenai kemampuan sihir yang kumiliki itu.”
Issh!
Kyteler berdesis. Lirih. Tak ingin Leonardo menyadari desisan kesal tersebut.
“Seharusnya, kau juga menyadari hal itu sedari awal. Bukankah aneh, jika seorang anak manusia dapat menembus sela terbuka; penghubung antara dunia non magis dan magis dengan semudah itu? Lihatlah, kau sudah berapa kali berkunjung ke mari?”
Mendengar jawaban Kyteler, Leonardo baru menyadari hal janggal yang selama itu ia lupakan.
Lalu,
“Lagi pula, aku tak menyangka jika kau benar-benar memiliki kemampuan sihir. Maka dari itu, aku tak berniat berkata apa pun padamu; sebelum aku memastikan hal itu sendiri. Hanya saja, ternyata kau lebih cepat dalam menyadari kemampuan unikmu itu,” Kyteler melanjutkan ucapan.
Leonardo hanya bisa terdiam.
Sebelum pada akhirnya, ia mulai mengajukan pertanyaan.
“Benarkah? Kau berkata demikian tak untuk menyembunyikan sesuatu dariku, bukan?”