TURNCOAT

1258 Kata
“Kau itu ada-ada saja, Prisc. Mana mungkin, aku bisa berbicara dengan hewan?” *** “Sudahlah, sebaiknya kita segera masuk ke dalam kereta,” Leonardo mengarahkan. Priscilla menurut tanpa memberi sanggahan. Hiaa! Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! Suara tapakan kaki kuda kembali terdengar. Kuda-kuda itu tak lagi merasa ketakutan. Kembali melanjutkan perjalanan dengan segenap gerak langkah yang cepat. ****** Setibanya di sebuah lahan. Lahan itu adalah tanah bekas pemukiman warga. Yah! Hunian illegal yang sengaja dibangun oleh para warga tanpa persetujuan. Maka dari itu, pemilik lahan berniat menjual tanah seluas beberapa hektar tersebut dengan cepat. Beruntung, ia bertemu dengan seorang pembeli yang kaya raya seperti Leonardo Mandela Lombogia. “Selamat siang, Tuan,” Penjual tanah menyambut kedatangan Leonardo dan Priscilla. Duncan mengisyaratkan pandang, jika pria tersebut adalah sang pemilik lahan. “Selamat siang,” Leonardo menyahut singkat. Menatap hamparan luas di sana. “Jadi, Tuan berniat membeli tanahku yang luas ini?” Seorang pria bertanya tanpa basa-basi. “Tentu saja,” Leonardo menyahut. Kemudian, sang penjual tanah menyebut sejumlah nominal uang yang ia tawarkan. Mungkin, jika digambarkan dengan emas batangan, jumlah uang tunai tersebut setara dengan tiga puluh buah emas batang bernilai seribu gram. Mendengar jumlah yang ditawarkan, sontak Priscilla dan Duncan menelan ludah dengan susah. Namun, lain halnya dengan Leonardo. Pria tampan tersebut seakan merasa tak masalah dengan nilai uang yang diminta oleh sang penjual. “Baiklah—” Leonardo menyahut. Hanya saja, belum sempat ia bersepakat, Priscilla segera mencekal pergerakan tangan sang pria. “Apa kau serius akan membeli lahan itu? Lihatlah, pria di hadapanmu benar-benar menjual tanah dengan harga yang amat mahal,” Priscilla menyergah. Berbisik kemudian. Leonardo mengisyaratkan kata ‘tak apa’ melalui sorot mata yang teduh. Priscilla sontak tercengung. Sungguh, Leonardo adalah seorang pria yang baik hati. Tak pernah perhitungan dalam membantu warga di desa. Bahkan, Leonardo rela merogoh jumlah uang yang besar; untuk membangun sebuah lembaga pendidikan. “Jadi, bagaimana? Aku datang ke mari untuk mengurus jual beli tanah denganmu, Tuan. Bukan untuk melihat perselisihan rumah tangga kalian,” Penjual tanah tersebut berujar. Sedikit tak sopan. Seakan, menyindir perdebatan singkat yang Leonardo dan Priscilla lakukan. “Baiklah, aku akan membeli lahanmu itu,” Leonardo melanjutkan ucapan yang sempat terjeda. Sementara itu, Duncan yang masih mengawal sang tuan, tak henti menampakkan ekspresi terngaga. Tuan Muda benar-benar kaya raya. Duncan membatin tak percaya. Kemudian, “Baiklah, kalau begitu ke marikan tas milikmu itu,” Pria tersebut berujar. Memerintah. Sesaat usai melirik sebuah tas berwarna hitam yang dibawa oleh Leonardo. Tak lama setelahnya, beberapa pria mendatangi mereka. Berkerumun hingga menyebabkan suasana mencekam di sana. Para pengawal spontan menghalau mereka. Berusaha mengusir pria-pria berwajah menyeramkan. Sungguh, pria-pria itu terlihat seperti para bandit di perbatasan. Tiba-tiba, Seorang pengawal lain muncul dari balik gerombolan tersebut. Yah! Pengawal itu adalah pria yang sempat membelot pada kepemimpinan Leonardo. “Kau? Sedang apa kau ke mari?” Leonardo berujar. Ia amat mengingat wajah-wajah para pengawal yang sedari tadi turut melakukan perjalanan. Dan, tak ada wajah pria tersebut sama sekali. “Tuan, kau jangan kaget. Ah! Aku salah. Maksudku, Leonardo kau jangan terkejut seperti itu. Kini, aku bukan lagi salah satu pengawalmu. Aku sudah keluar dari hunian megahmu itu. Aku tak berniat untuk bekerja di bawah kepemimpinanmu. Aku muak sekali denganmu,” Pengawal itu berujar. Leonardo dan Duncan terheran-heran. Sejak kapan dia keluar dari pekerjaan? Mengingat, semenjak kejadian kali terakhir; Leonardo hanya memberi skors pada pria itu. Sekalian, memberi ijin cuti beristirahat; akibat ulah satu buah bogem yang melemahkan seorang pengawal. “Sudahlah, kau tak perlu tersentak. Kini, aku sudah berganti pekerjaan. Aku lebih memilih untuk—” Sret! Tiba-tiba, sebuah tas berwarna hitam berpindah tangan. Benar saja, pria itu dengan cepat merampas barang bawaan sang mantan majikan. “HEI! Kau itu—” Duncan memekikkan suara. Namun, Leonardo mencegah Duncan. Beralih untuk menandingi pria itu dengan tangan kanannya sendiri. Tanpa basa-basi, Baku hantam kembali terjadi. Pertikaian sengit menjadi pemandangan pada siang hari yang terasa terik. Bulir keringat terus berjatuhan. Rasa nyeri dan kesakitan tak henti merasuk ke dalam diri. Bagaimana tidak, semenjak Leonardo menguasai ilmu sihir di dalam tubuh; pria itu seolah bergerak lincah dengan segenap kekuatan yang menyumbul tanpa ragu. Benar-benar tak tertandingi sama sekali. Bahkan, hanya dengan satu kali pukulan, Leonardo mampu meruntuhkan dinding pertahanan para petanding yang berani melawan. BUG! BUG! Beragam pukulan dan tendangan mengudara bergantian. Tak terasa, Leonardo berhasil membuat beberapa pria tersungkur di atas lahan. Sementara itu, seorang penjual tanah, terlihat ketakutan. Namun, tak hanya seorang pria itu saja. Melainkan, sosok kepala desa berusia setengah baya sedang kelabakan. Yah! Benar, sedari tadi Pak Kepala Desa mengikuti gerak langkah Leonardo. Ia sengaja membuntuti seorang pemuda di dalam kereta kencana. Berniat menggagalkan transaksi jual beli tanah. Sialan! Tak ada gunanya menyuruh pria-pria bertubuh kekar seperti mereka. Merampok saja, mereka tak becus. Si Kepala Desa bergumam. Memundurkan langkah. Berjalan menjauh dari posisi semula. Sedangkan, seorang pengawal yang sedang tergelepar, kini sedang berada di dalam cekalan tangan para pengawal lain. “Duncan, kau dan pengawal-pengawal itu kembalilah pulang. Bawa pemuda tersebut ke rumah. Dan, jangan lupa ikat dia. Bagaimana pun caranya, kau harus memastikan dia tak terlepas,” Leonardo memberi amanah. Memerintah dengan segenap rasa penuh amarah. Duncan menunduk patuh pada perintah. Lalu, “Cepat! Kau berjalanlah,” Duncan mengarahkan. Sedikit bernada kasar. Tak dapat menahan kesal pada seorang teman sejawat, yang dahulu juga bekerja di kediaman sang majikan muda. “Kau itu bodoh sekali! Mengapa kau berani membelot dan merampok Tuan Muda seperti itu,” Duncan mengoceh. Memaksa seorang pria untuk turut serta bersama rombongan pengawal. Tak lupa mengikat lengan sang pemuda dengan tali tampar. Memerintah agar ia segera menaiki seekor kuda. Tanpa perlawanan, pembelot itu baru saja naik pada tunggangan. Duncan sengaja menunggang kuda untuknya. Mengingat, Leonardo telah memberi amanat penuh kepadanya. Jadi, Duncan harus menjaga amanat itu dengan penuh rasa tanggung jawab. Hiakh! akh! Ringikan kuda berseru bersamaan. Kini, mereka hanya menyisahkan bayangan di dalam netra Leonardo dan Priscilla. Kemudian, “Jadi, kau sengaja bersekongkol dengan bandit-bandit itu?” Leonardo bertanya. Menatap lekat seorang pria; si penjual tanah. Pria tersebut memundurkan langkah. Tak berani bergerak mendekat, usai melihat betapa kuat seorang pemuda berparas tampan. “Ti-tidak, Tuan. A-aku hanya—” “Hanya apa? Sudahlah, Leonardo. Sebaiknya, kita batalkan saja perjanjian jual beli tanah ini. Bapak ini, hanya ingin memerasmu sedari awal,” Priscilla berujar. Memberi saran. Sesaat usai menarik kesimpulan. “Tapi, kita membutuhkan lahan miliknya, Prisc,” Leonardo menyahut lirih. Menatap lekat manik mata sang wanita. “Tapi—” “Tuan?” Tiba-tiba pria si penjual tanah tersebut, menyergah. Memanggil seorang tuan muda. “Ada apa?” Leonardo menyahut. “Aku mengaku. Jika, aku sengaja disuruh oleh Pak Kepala Desa. Dia memerintahkan agar aku menjual tanah kepadamu dengan harga yang mahal. Dan, aku juga mengenal bandit-bandit itu. Jadi, ucapan Tuan mengenai aku bersekongkol dengan para perampok itu, adalah benar. Ma-maka dari itu, ma-maafkan aku, Tuan. Sekarang, aku akan menjual tanah ini dengan harga yang wajar.” Mendengar pengakuan si penjual tanah, Leonardo bernapas lega. Setidaknya, ia tak perlu kembali ke rumah; untuk menggandakan batangan emas itu menjadi tiga puluh batang. Mengingat, saat itu Leonardo hanya membawa separuh dari nominal yang diminta oleh sang pemilik lahan. “Baiklah, kalau begitu mari kita bicarakan perihal jual beli tanah ini dengan benar,” Leonardo berujar. Mengisyaratkan, jika ia mengampuni persekongkolan pria tersebut dengan si Kepala Desa. “Te-terima kasih, Tuan. Kalau begitu, aku akan mengantar Tuan dan Nona menuju ke rumah. Sebaiknya, kita membicarakan hal ini dengan hati dan kepala dingin saja,” Pemilik lahan itu berucap. Leonardo dan Priscilla segera mengikuti langkah kaki seorang pria.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN