MEET THE WOLF

1262 Kata
“Lantas, rencana cadangan seperti apa yang kau maksudkan tadi, Leonardo?” *** Kini, kereta kencana yang ditumpangi oleh Leonardo dan Priscilla baru saja tiba di depan halaman sebuah rumah. Rumah berukuran jauh lebih besar dari hunian tetangga lain di desa. Benar saja, rumah siapa lagi? Jika bukan, rumah seorang kepala desa. Leonardo dan Priscilla melangkah menuju teras. Mengetuk pintu yang terbuat dari kayu. Tak lama setelahnya, seorang wanita setengah baya muncul di balik daun pintu. “Ada apa?” Wanita itu bertanya. Nada bicara pemilik rumah tersebut terdengar tak ramah. Yah! Begitulah perilaku Kepala Desa beserta istri dan anak-anak mereka; selalu semena-mena. Selain bersikap sombong, mereka juga kerap merendahkan sosok warga yang datang ke rumah. Bagaimana tidak, mayoritas warga di desa; berstatus tak kaya. Sehingga, mudah sekali bagi pemimpin di sana; untuk menyepelekan kedatangan penduduk di rumah mereka. “Ada hal yang hendak kami bicarakan, Bu Kades,” Priscilla menyahut sopan. Hanya saja, sahutan itu dibalas dengan cibiran ketus di bibir. Issh! “Apa yang hendak kau bicarakan, wahai wanita tak benar?” Mendengar sahutan itu, Priscilla meringis. Sejatinya, ia sudah tahu perihal kalimat yang akan diucapkan oleh Bu Kades saat berjumpa dengan dia. Namun, lain halnya dengan Leonardo. Pria tersebut spontan merasa geram. Bagaimana bisa seorang pemuka di desa berkata serampangan pada para warga? Jika bisa, Leonardo ingin melengserkan mereka dari jabatan. Namun, lagi-lagi bukan itu tujuan utama Leonardo datang ke sana. “Benar, Bu Kades. Kami ingin berbincang dengan Pak Kepala Desa,” Leonardo menimpali. Masih dengan gurat tak suka. Bahkan, jika diperhatikan; salah satu tangan Leonardo masih mengepal karena rasa kesal. Tiba-tiba, Langkah seorang pria terdengar menuju ambang pintu yang terbuka. Benar, siapa lagi? Jika bukan, sosok sang pemimpin di sana. Melihat kedatangan seorang pemuda tangguh, kepala desa itu sontak merasa ragu. Ia masih teringat pada ancaman yang Leonardo beri waktu itu; sewaktu ia hendak membebaskan Jack Rumondor dari sanderaan Leonardo. “Se-sedang apa kau ke mari?” Pak Kepala Desa berujar gelagapan. Sementara itu, sosok istri si kepala desa merasa terheran-heran.  Mengapa Bapak terlihat takut seperti itu? Memang, pemuda itu siapa? Tanpa banyak bicara, Leonardo mengisyaratkan agar kepala desa tersebut menjejalkan p****t di bangku yang ada. Kini, keempat orang dewasa tersebut sedang duduk bersama. Benar, Bu Kades sama sekali tak berniat masuk ke dalam rumah. Bergerak untuk menjamu tamu yang berkunjung hari itu. Selain sombong, wanita setengah baya tersebut memang terkenal pelit dan kikir. “Ja-jadi apa yang hendak kau bicarakan dengan kami?” Pak Kepala Desa memulai perbincangan. Leonardo menjelaskan dengan rinci perihal rencana yang sudah ia buat bersama Priscilla. Sesekali, Pak Kepala Desa memanggutkan kepala. Bukan karena serta merta setuju. Melainkan, karena ia merasa takut dengan sosok sang lawan bicara. Di sela obrolan berlangsung, Bu Kades tak henti menurunkan sudut bibir. Ia merasa tak suka dengan rencana yang dilontarkan oleh kedua muda mudi di hadapannya. Lalu, “Ba-baiklah, kau boleh mendirikan lembaga itu,” Pak Kepala desa menyetujui. Sontak, sang istri memelotot tajam pada sosok seorang suami. “Sudah, Bu. Biar saja. Lagi pula, rencana mereka takkan berjalan dengan lancar. Aku akan memerintahkan antek-antek kita untuk menggagalkan rencana itu,” Pak Kepala Desa berbisik lirih. Ternyata, persetujuan yang ia beri; hanya karena terpaksa mengiyakan saja. Kemudian, “Baiklah, kalau begitu kami pamit undur diri,” Leonardo berujar. Beranjak dari duduk. Berpamitan bersama Priscilla. Benar saja, Leonardo memang tak bisa mendirikan lembaga pendidikan di desa seberang. Mengingat, saat itu ia tak sedang menghuni di pemukiman tersebut. Jadi, satu-satunya cara, adalah Leonardo harus mendirikan lembaga pada desa yang sedang ia tinggali bersama Priscilla. Kemudian, barulah lembaga tersebut ia jadikan tempat umum. Sehingga, dapat dikunjungi oleh seluruh muda mudi di penjuru desa. ****** “Duncan, apa kau sudah menemukan lahan untuk kita jadikan sekolahan?” Leonardo bertanya. Menatap seorang pengawal sesaat sebelum masuk ke dalam kereta kencana. “Tentu, Tuan. Setelah ini, kami akan mengantar Tuan dan Nona Muda untuk meninjau lahan yang sedang dijual oleh pemiliknya tersebut,” Duncan menyahut. Mempersilahkan kedua majikan muda untuk memasuki kereta kencana. Hiakh akh! Seekor kuda penarik kereta baru saja berseru. Pertanda, ia siap melakukan perjalanan menuju tempat yang hendak dituju. Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! Semilir angin bersama dedaunan yang bergerak, menjadi pemandangan sejuk di area yang sedang mereka lintasi. Leonardo berharap takkan ada gerombolan perampok yang sedang menunggu di perbatasan. Mengingat, Jack Rumondor beserta anak buahnya masih berkeliaran dengan bebas. “Apa ada yang sedang kau pikirkan, Leonardo? Sepertinya, kau sedang mencemaskan suatu hal?” Priscilla bertanya. Sungguh, Leonardo tak cemas akan dirinya. Ia lebih mengkhawatirkan Priscilla. Yah! Bagaimana pun, kenyataan perihal kematian orang tua Priscilla, tak mungkin dapat dilupakan oleh wanita itu begitu saja. Sehingga, menjumpai para perampok di perbatasan; mungkin akan membuat psikologis Priscilla menjadi terguncang. Dan, Leonardo tak menginginkan hal itu terjadi pada sang wanita. “A-aku hanya merasa gugup. Ini adalah kali pertama aku memiliki rencana sebesar ini dalam hidup,” Leonardo menyahut. Sedikit berkilah. Priscilla memanggutkan kepala. Mengusap bahu sisi kanan seorang pemuda. Berusaha menghilangkan rasa gugup yang sedang melanda sosok Leonardo Mandela Lombogia. Tiba-tiba, Hiakh! akh! Para kuda-kuda kekar itu berseru bersamaan. Menghentikan perjalanan sembari meronta ketakutan. Bagaimana tidak, kali itu gerombolan serigala hutan yang buas sedang berbaris bersamaan. Menghadang kuda-kuda kekar yang hendak melintas di sana. Sontak, Duncan dan para pengawal turun dari tunggangan. Mereka berusaha menghalau datangnya hewan berjenis karnivora tersebut. Namun, alih-alih pergi, hewan mamalia itu justru menyerang salah seorang pengawal. Leonardo sontak tak tinggal diam. “Prisc, kau tunggulah di sini sebentar. Aku akan berusaha menghalau serigala-serigala itu.” “Tapi?” Priscilla berseru lirih. Enggan ditinggalkan. Selain itu, ia juga tak mau Leonardo menjadi korban dari hewan buas, yang kerap dianggap haus darah tersebut. “Sudahlah, Prisc. Kau tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja,” Leonardo meyakinkan. Bersih keras untuk turun dari dalam kereta. ****** Sesaat usai Leonardo memijakkan tungkai di tanah. Auu! Longlongan serigala terdengar kompak. Hanya saja, longlongan yang kerap menandakan jika mereka sedang memanggil gerombolan serigala lain, kali itu terdengar berbeda. Bagaimana tidak, sewaktu Leonardo turun dari dalam kereta, ia segera menengadahkan telapak tangan. Ia membaca sedikit mantra untuk menjinakkan serigala-serigala itu. Namun, Hewan yang kerap berada di dalam kelompok dan berburu bersama tersebut, tak sedang bersuara sebagai tanda menjinak. Melainkan, mereka melonglong untuk memberi tahu kelompok serigala lain. Yakni, perihal adanya peringatan atas bahaya yang sedang mengancam. Mengingat, dalam satu kali tebas; Leonardo dapat menghempas seluruh hewan pemangsa tersebut. Sehingga, dengan segenap pertimbangan, serigala-serigala itu mulai berjalan menjauh. Mereka tak lagi berniat memangsa para manusia yang melintas di sana. Mendapati hal itu, Priscilla dan para pengawal spontan bernapas lega. Kemudian, “Leonardo, apa yang telah kau lakukan pada mereka?” Priscilla bertanya. Sesaat usai keluar dari dalam kereta. “Priscilla?” Leonardo memekikkan suara. “Mengapa kau turun? Bukankah, aku sudah memintamu untuk menunggu saja di dalam kereta?” Leonardo mengoceh. Priscilla menyipitkan mata. Issh! “Kau ini berlebihan sekali. Lagi pula, lihatlah sekarang serigala-serigala itu sudah beranjak pergi. Jadi, tak ada hal yang perlu kau takutkan. Tapi—” Priscilla menghentikan ucapan. Spontan, bola mata Leonardo melebar. Ia takut, jika Priscilla menyadari hal magis yang sempat ia lakukan. “Ta-tapi apa, Prisc?” Pria muda itu bertanya gelagapan. Merasa penasaran dengan ucapan Priscilla yang terjeda. “Tapi, apa yang kau lakukan pada serigala-serigala itu? Mengapa semenjak kau turun, mereka seolah takut melihatmu? Usai turun, kau tak sedang berbicara dengan mereka, bukan? Kau tak bisa berbicara dengan binatang-binatang itu, kan?” Mendengar pertanyaan Priscilla, Leonardo terkekeh renyah. “Kau itu ada-ada saja, Prisc. Mana mungkin, aku bisa berbicara dengan hewan?” Leonardo menyahut. Sebuah sahutan yang diiringi dengan gelengan kepala; sebagai tanda heran tak terhingga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN