SECRET ROOM

1148 Kata
Leonardo baru saja tiba di pelataran rumah. Ia segera menghentikan laju pergerakan Moe Gayo. Beralih masuk ke dalam hunian berukuran besar. Beruntung, Leonardo kembali pulang saat hari telah larut malam. Sehingga, takkan ada banyak pasang mata; menyaksikan ia membawa sebuah buku tebal usai melakukan perjalanan. Kini, Leonardo memasuki sebuah kamar. Kamar yang sengaja didirikan oleh pemilik rumah sebelumnya; untuk menyimpan barang-barang berharga saja. Yah! Seperti rumah-rumah mewah di masa depan, yang selalu memiliki ruang khusus penyimpanan. Leonardo bergegas membuka pintu tersembunyi dari balik pigura berukuran sedang. Pintu itu terbuka. Sang pemuda bergegas meletakkan buku sihir ke dalam ruang berbentuk persegi di sana. Tiba-tiba, Suara seorang wanita muda berseru. Memanggil sang pelayan di rumah. Tak lain, suara itu berasal dari pita suara milik Priscilla. Leonardo sontak bergerak refleks menutup pintu penyimpanan. Berjalan keluar dari dalam kamar. Sesaat usai memastikan gerak langkah Priscilla menjauh dari sisi depan bagian kamar. Leonardo beralih menuju ruang tengah. Ia mendudukkan diri di sana. Selain, ia tak bisa tidur karena jiwa yang meronta; ingin kembali mencoba kemampuan sihir yang ia punya. Leonardo juga sedang menunggu kedatangan Priscilla. Benar saja, tak berselang lama Priscilla menampakkan diri. Menghentikan langkah kaki usai melihat Leonardo sedang terduduk di ruang tengah. “Seharian ini kau dari mana saja? Aku hampir tak melihatmu di dalam rumah,” Priscilla menyapa. Menjejalkan p****t pada sebuah dudukan di sana. Berhadap tepat dengan sosok seorang pemuda. Meski, Leonardo tak kembali ke masa depan. Namun, tetap saja. Priscilla jarang sekali menjumpai seorang pria yang ia idam-idamkan. “Bukankah, kau sudah tahu sendiri, Prisc? Jika, aku akan menjadi lebih sibuk dari biasanya?” Leonardo menyahut. Tak berniat menceritakan perihal kejadian magis yang sempat ia alami. Priscilla mengangguk mengerti. Kemudian, meminta Leonardo untuk beranjak mengistirahatkan diri. Hanya saja, Leonardo segera menyanggah. Sungguh, ia tak berniat merebahkan badan. “Lebih baik, kau tidur lebih dulu saja, Prisc. Aku masih harus mengecek lembar demi lembar terkait keluhan warga,” Leonardo berujar. Priscilla mengangkat salah satu sudut alis di wajah. Pertanda, ia sedang heran dengan keuletan sang pria. Gelengan kepala menjadi penyerta. Sebelum pada akhirnya, Priscilla memberi pengertian untuk kali kedua. “Baiklah, kalau begitu biarkan aku membuatkanmu minuman hangat sebagai teman bermalam,” Priscilla berucap. Berniat membuat secangkir teh beraroma khas melati. Leonardo melempar senyum. Mengiyakan tawaran yang Priscilla layangkan. Sementara Priscilla sedang beranjak ke dapur; menemui seorang pelayan, Leonardo sedang membolak-balik lembar keluhan yang telah terisi penuh dengan tulisan tangan para warga. Kali itu, ia menjumpai permasalahan perihal tingkat pendidikan yang rendah pada sebuah desa. Leonardo sontak merasa miris saat membaca keluhan tersebut. Bagaimana tidak, para muda-mudi yang masih produktif, tentu akan menjadi bibit-bibit dalam meneruskan bangsa. Maka dari itu, mereka tak boleh ketinggalan dalam hal pendidikan. Melihat masalah tersebut, Leonardo berinisiatif untuk membangun sebuah lembaga pendidikan. Ia berharap dengan adanya organisasi yang ia dirikan, Leonardo dapat membantu mengembangkan pengetahuan, keterampilan serta potensi yang dimiliki individu demi pemenuhan kebutuhan hidup. Lalu, “Kau serius sekali? Apa yang sedang kau pikirkan?” Priscilla memecah rekaan yang sedang berkeliling di benak seorang pemuda tampan. Bergerak meletakkan nampan berisi secangkir minuman. “Oh, ini. Aku sedang berniat membangun lembaga pendidikan untuk para muda-mudi di desa seberang,” Leonardo mengutarakan niat. Spontan, senyum terukir dari bibir manis seorang wanita cantik. Sungguh, Priscilla tak dapat berkata apa-apa. Ia benar-benar kagum pada sosok Leonardo Mandela Lombogia. “Kau—” “Kau itu benar-benar baik sekali, Leonardo. Aku hingga kehabisan kata-kata dalam memberi pujian untukmu,” Priscilla berujar. Manik pada mata melebar. Menampakkan gambaran bahagia yang tak terhingga. Kemudian, alih-alih beristirahat, Priscilla justru membantu Leonardo. Turut serta dalam membuat perencanaan perihal lembaga yang hendak Leonardo dirikan. ****** Tak terasa, hari berganti menjadi pagi. Entahlah, sepertinya kehidupan di masa lalu, terus bergulir dengan cepat. Bahkan, Leonardo hingga tak mengingat perihal lama waktu ia berada di masa itu. Pertanda, jika ia benar-benar menikmati kehidupan yang sedang ia jalani. Kemudian, “Leonardo, apa kau tak berniat untuk bangun? Membersihkan dirimu sebelum beraktivitas hari ini,” Priscilla mengguncang singkat tubuh seorang pemuda. Saat itu, sang pria sedang dalam keadaan tertidur dengan posisi duduk bersandar. Yah! Masih di tempat yang sama. Yakni, di ruang tengah. Leonardo mengerjap mata. Melempar senyum pada Priscilla. Kemudian, bergegas membersihkan diri. Memulai hari yang tak pernah sepi dari aktivitas. ****** Beberapa saat sebelum bersiap. Leonardo menuju ruang penyimpanan. Bukan untuk mengambil kitab sihir berukuran tebal. Melainkan, untuk mengambil batangan emas yang ia simpan. Kini, netra Leonardo sedang membidik batang emas yang tersisa. Melihat jumlah yang semakin menipis, membuat Leonardo ingin mencoba kemampuan sihir miliknya. Tanpa banyak berpikir, Leonardo mulai menggerakkan tengadah tangan kanan. Mengarahkan pada batangan emas di sana. Berusaha mengucap beberapa kalimat berisi mantra. Sungguh, kalimat itu adalah kalimat yang Leonardo ciptakan sendiri. Entahlah, dengan segenap kepercayaan diri, Leonardo berharap ia tak salah berucap. Dan, benar saja. Bongkahan emas mulai terlihat. Bergerak bersamaan menjadi bentukan padat. Menyerupai batangan emas yang sama. Leonardo terperangah. Kemudian, bergegas menyudahi aktivitas magis yang baru ia lakukan di dalam sebuah ruang. Beralih membuka lembaran buku berukuran tebal. Menujukan jemari tangan pada lembar terakhir yang terisi tinta berwarna hitam. Tentu, beberapa mantra telah tertulis di sana. Tak lain, merupakan mantra-mantra yang baru saja Leonardo ucapkan. Salah satunya, perihal penggandaan batang emas. Leonardo tersenyum riang. Kini, ia benar-benar dapat hidup kaya raya hanya dengan mengucap beberapa kalimat saja. Leonardo menyudahi aktivitas. Beralih meletakkan batang-batang emas ke dalam tas jinjing berwarna hitam. Menutup pintu tersembunyi itu. Bergegas menjumpai para pengawal. Ceklek! Daun pintu kamar baru saja tertutup. Leonardo beranjak menuju halaman depan. Ternyata, seorang wanita cantik nan jelita telah bersiap. Berniat untuk turut serta melakukan perjalanan. “Baiklah, kali ini kau boleh ikut,” Leonardo mengiyakan. Mengisyaratkan pandang pada Duncan. Meminta seorang pengawal mempersiapkan kereta kencana sebagai tumpangan mereka berdua. ****** Tak menunggu lama, Duncan baru saja tiba. Tentu, bersama seekor kuda yang bersiap membawa serta sang tuan muda di atas kereta kencana. Leonardo membuka pintu kereta. Mempersilahkan Priscilla untuk duduk di sana. Setelah itu, barulah ia masuk ke dalam kereta. Gemerincing kereta kencana mulai terdengar nyaring. Bersamaan dengan tapakan kaki kuda, yang mengawal sang tuan dari sisi belakang. “Leonardo, tapi aku tak yakin jika Kepala Desa akan memberi ijin pada rencana kita,” Priscilla berujar. Memecah keheningan selagi mereka berada di dalam perjalanan. “Kau jangan terlalu pesimis, Priscilla. Setidaknya, kita harus mencoba untuk membicarakan hal ini dengan mereka. Perihal mereka mengijinkan atau tidak, itu urusan belakangan. Lagi pula, aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Jadi, kau tenang saja.” “Benarkah?” “Tentu saja.” “Tapi, kau tak berniat memberi mereka beberapa batang emas milikmu; hanya untuk mendapat persetujuan dari mereka, bukan?” Priscilla memastikan. Melirik sekilas pada sebuah tas yang sedang Leonardo pegang. Leonardo mengikuti gerak pandang sang wanita. Lalu menyahut, “Tentu saja, aku takkan bertindak sependek itu. Aku sama sekali tak berniat untuk menyuap mereka.” Priscilla mengerutkan dahi. Menyipitkan kedua bola mata. “Lantas, rencana cadangan seperti apa yang kau maksudkan tadi, Leonardo?”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN