Akhirnya, aku menemukan harta karun yang diceritakan oleh si kakek tua.
***
Leonardo menghapus bulir keringat di dahi. Kemudian, melompat turun ke dalam tanah yang sudah ia gali. Menggapai sebuah peti. Meletakkan peti harta karun tersebut ke atas dataran tanah. Lalu, beranjak keluar dari dalam lubang yang sudah ia buat.
Sungguh, ucapan si kakek tua perihal harta karun itu adalah benar. Sang kakek tak sedang mengada-ada. Hanya saja, peti harta karun itu tak dibuat dengan mudah. Melainkan, cukup rumit bagi siapa saja yang menemukan peti itu. Mengingat, tak hanya kunci manual yang harus mereka miliki. Tapi, juga kemampuan kegeniusan yang tinggi.
Tanpa basa-basi, Leonardo memberanikan diri untuk memasukkan batang kunci pemberian si kakek.
Ceklek!
Kunci manual pada peti berhasil dibuka oleh seorang pemuda.
Hanya saja, Leonardo menghentikan pergerakan. Beralih memfokuskan pandangan. Memusatkan netra pada beberapa aksara di atas peti berwarna cokelat tua. Tulisan demi tulisan yang berada di balik penutup manual pertama.
Lantas, setelah ini aku harus menekan aksara pada bagian yang mana? Leonardo bergumam. Masih menatap lekat bentuk tulisan yang tak pernah ia kenal. Yakni, sebuah aksara yang segera menyumbul keluar usai penutup manual pertama terbuka.
Aksara itu benar-benar kental dengan wujud peradaban jaman dahulu. Leonardo merasa ragu. Ia takut takkan bisa memecahkan sandi pada hasil tulisan aksara tersebut. Meski begitu, jati diri seorang Leonardo yang tak mudah menyerah, membuat pria muda itu mengerahkan kemampuan genius di dalam otak.
Kemudian, Leonardo memutuskan untuk memejamkan mata. Memfokuskan pikiran. Mencoba mengingat suatu hal yang mungkin ia lupakan.
Satu menit
Dua menit kemudian,
Benar saja, bayangan perihal gambaran aksara yang tertulis pada setiap gapura desa, mulai menjadi putaran memori. Leonardo berusaha mengingat aksara demi aksara terpisah yang pernah ia baca.
Lalu,
Otak genius Leonardo mulai bekerja. Seolah banyak rumus rumit sedang berputar di dalam kepala. Membuat Leonardo tak henti berusaha memahami satu per satu makna dari aksara. Menggabungkan aksara itu menjadi beberapa kalimat dalam bahasa yang sang pemuda mengerti. Kemudian, Leonardo mulai mencocokkan aksara itu dengan aksara yang tertulis tepat di atas peti. Dengan segenap harapan dan keyakinan di dalam diri, Leonardo mulai menekan tiga buah aksara yang sudah ia pilih.
Klek!
Satu balok aksara berhasil tertekan sempurna. Terdorong ke bagian bawah. Menyisahkan dua aksara lain yang harus Leonardo pilih.
Klek!
Kali itu, aksara kedua baru saja menjadi pilihan setelahnya. Beruntung, balok kedua itu berhasil tertekan seperti balok pertama.
Dan,
Untuk yang kali ketiga, Leonardo memilih memejamkan mata. Beralih berpikir dalam-dalam. Berusaha menemukan satu aksara yang tak boleh ia tekan dengan salah.
Klek!
Ceklek!
Spontan, peti yang semula tertutup rapat, mulai terbuka. Setidaknya, bagian penutup peti mulai menyumbul ke arah atas. Beberapa bayangan kabut mulai muncul dari balik sela yang sedikit terbuka. Leonardo terperangah.
Jangan-jangan—
Leonardo melebarkan bola mata. Menatap kembali tiga aksara yang tertekan ke arah bawah. Dan, benar saja. Jika, diartikan aksara itu memiliki makna ‘harta karun penyihir’.
Ternyata, peti ini berisi harta karun para penyihir?
Selain aku mampu melihat dan menggunakan ilmu sihir, aku juga bisa menemukan serta membuka peti ini dengan mudah. Yah! Setidaknya, ini tak terlalu rumit. Sama halnya dengan yang kulakukan pada mesin waktu milik Gerson. Tapi, mengapa aku bisa melakukannya? Apa mungkin aku merupakan salah satu dari mereka? Ya Tuhan, jadi inilah alasan aku terus melihat hal-hal yang tak dilihat oleh orang awam?
Lagi-lagi, Leonardo tak henti keheranan. Sungguh, ia harus menanggalkan ucapan perihal dewi fortuna yang tak berpihak kepadanya. Bagaimana pun, ia kembali diberkahi dengan kemampuan unik. Meski, saat itu ia hanya sedang menjelajah waktu dan berpetualang di masa lalu.
Oh, Tuhan. Terima kasih atas berkah darimu ini. Leonardo berseru.
Kemudian, ia bergegas membuka penutup peti itu dengan lebar. Alih-alih menemukan sebongkah emas dan berlian, Leonardo justru mendapati sebuah buku dengan lembaran yang cukup tebal. Buku itu setara dengan salah satu buku tertebal di dunia. Mungkin sekitar beberapa ratus milimeter jika dihitung dengan kuantitas bilangan.
Seorang pemuda tampan mulai membuka lembar demi lembar buku. Pada halaman pertama, gambaran seorang penyihir hitam tertampak di sana. Tak lupa dengan beragam mantra yang tertulis pada sisi bagian bawah. Leonardo semakin yakin, jika harta karun itu adalah harta karun milik para penyihir.
Lalu, Leonardo beralih menengadahkan telapak tangan kanan.
Tengadah tangan kanan itu mulai mengarah pada buku sihir. Buku berukuran tebal spontan terbuka dengan sendirinya; menuju halaman terakhir di sana. Menunjukkan sebuah lembar kosong. Hanya saja, di saat Leonardo hendak kembali menggerakkan tengadah tangan, lembaran itu mulai terisi oleh beberapa kata, menjadi satuan kalimat. Hingga, tercipta sebuah paragraf. Leonardo segera paham. Jikalau, tulisan itu berasal dari salah seorang penyihir yang sedang menggunakan mantra. Leonardo tak henti membidik satuan kata itu. Membaca perlahan mantra yang tertulis.
Dan,
Sepertinya, penyihir itu sedang berniat buruk pada seseorang. Leonardo menyimpulkan. Sesaat usai ia menuntaskan bacaan.
Lalu, dengan segenap benak yang tak henti penasaran, Leonardo mulai membaca sebuah mantra. Ajaibnya, tulisan demi tulisan yang semula tertera, mulai terhapus begitu saja. Meski perlahan, namun setidaknya hal itu menjadi sebuah kepastian. Seolah, Leonardo berhasil menghapus mantra jahat yang baru saja dibaca oleh seorang penyihir hitam.
Sontak, Leonardo memundurkan diri. Beranjak menjauh dari sebuah kitab para penyihir. Bukan karena takut. Melainkan, karena ia merasa takjub dengan kemampuan yang ia miliki. Kini, dewi fortuna benar-benar berpihak kepada seorang pemuda, yang dahulu kerap merasakan hidup nestapa.
A-aku harus segera kembali. Aku harus memastikan jika hal-hal yang kualami pada hari ini, bukanlah sebuah mimpi. Leonardo memutuskan. Kembali mendekat ke arah sebuah buku tebal. Buku itu spontan tertutup. Menyisahkan bebauan buku yang khas. Yah! Bau-bau buku yang telah lama tersimpan di rak perpustakaan.
Leonardo menggenggam buku itu dengan erat. Tak lupa, tangan pada sisi sebelah; ia gunakan untuk membawa sebuah obor sederhana. Lalu, Leonardo bergegas pergi meninggalkan area galian tanah. Kembali menyisir jalanan setapak yang becek di sana.
******
Sesampainya di tempat pemberhentian pertama.
Leonardo mendapati seekor hewan berwarna cokelat sedang beristirahat. Moe Gayo senantiasa menunggu kedatangan sang tuan.
Sementara itu, Leonardo bergegas menaiki tubuh Moe Gayo. Bergerak cepat untuk melajukan seekor kuda pejantan.
Hiaa!
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
******
Di dalam perjalanan.
Leonardo sesekali menggerakkan telapak tangan kanan. Tak jarang beberapa ranting pohon menjadi tumbang. Yah! Ulah siapa lagi? Jika bukan perbuatan si pemuda tampan, yang sedang bermain-main dengan ilmu sihir yang ia punya. Hanya saja, tak selamanya Leonardo dapat mempermainkan ilmu sihir tersebut. Bagaimana pun, Leonardo harus tetap mengarahkan mantra demi mantra yang ia baca. Tak lain untuk terus menggunakan kemampuan magis itu, dengan maksud dan tujuan baik saja.