“Tentu saja. Jika kalian tak percaya, kalian bisa melihatnya sendiri pada gambaran langit yang kembali berubah menjadi cerah.”
***
“Tuan, terima kasih. Kau benar, angin beliung tak jadi menerpa desa kami,” Seorang wanita berujar. Tak lain, adalah perempuan yang semula meminta pertolongan pada sang tuan.
Leonardo tersenyum. Kemudian, berpamitan pergi. Melanjutkan perjalanan yang sempat terjeda.
Hiaa!
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
******
Di dalam perjalanan, Leonardo tak henti memikirkan perihal yang dua kali terjadi pada tangan kanan miliknya.
Sepertinya, aku harus menguji ulang gerakan dari tangan kananku. Aku harus memastikan, jika aku kembali diberkahi dengan kemampuan unik lain. Yakni, sebuah kemampuan sihir. Ah! Tapi, sihir? Benarkah? Apa aku terlalu berlebihan dalam menyimpulkan? Leonardo menelengkan kepala. Tak henti menerka-nerka.
******
Setibanya pada sebuah desa.
Leonardo bergegas meninggalkan Moe Gayo di bawah pohon besar. Sedangkan, ia berjalan cepat menuju arah barat daya. Langkah demi langkah, menyisir jalan setapak untuk kali kedua. Berharap dapat segera tiba pada sebuah gubuk tua.
Tak terasa jarak satu kilometer berhasil ditempuh oleh sang pemuda dengan cepat. Lagi-lagi, Leonardo tak menemukan pemukiman yang ia tuju. Kemudian, dengan keinginan mencoba-coba; pemuda tampan itu mulai menggerakkan tangan kanan. Menengadah pada salah satu arah. Dan, yah! Kepulan samar mulai terlihat. Untuk kali ke tiga, kabut putih mulai beterbangan. Menjadi kepulan samar pada kepalan tangan kanan. Bergerak perlahan menjadi sebuah gumpalan. Mengudara dengan perlahan.
Ini benar-benar berkah dari Tuhan. Ternyata, hal yang sedang disembunyikan oleh Kyteler, adalah perihal kemampuan sihir yang kumiliki. Yah! Aku juga memiliki ilmu sihir seperti dia. Leonardo menyimpulkan. Kali itu, dengan segenap keyakinan.
Dan,
Blush!
Kabut putih mulai melesat. Mengudara pada sebuah arah. Tak lama setelahnya, kabut tersebut mulai menghilang perlahan. Digantikan dengan wujud sebuah pemukiman warga yang sederhana. Benar saja, itu adalah pemukiman rumah si kakek tua.
“Wahai anak muda, mengapa kau ke mari lagi?” Seorang paruh baya bertanya.
Leonardo terperangah. Lagi-lagi, si kakek tua muncul secara tiba-tiba. Kali itu, ia muncul dengan sumbulan senyum di wajah.
“Kakek?” Leonardo menyapa. Bernapas lega.
“Akhirnya kau menemukan apa yang selama ini kau cari,” Kakek itu berujar ambigu.
Memang, apa yang selama ini kucari? Leonardo mengerutkan dahi.
“Sudahlah, mari kita ke rumah. Kakek akan membuatkanmu obat penawar.”
Obat penawar? Memang, aku sedang sakit apa? Leonardo kembali bertanya-tanya.
Hanya saja, gerak langkah kaki lebih bergerak dengan cepat, dari pada dua garis di bibir yang seharusnya menyahut ucapan sang kakek. Yah! Leonardo lebih memilih untuk mengikuti pijakan tungkai si kakek.
Kini, dua pria berbeda usia tersebut telah berpindah untuk duduk bersama. Sementara si kakek sedang sibuk meramu obat, Leonardo sedang mengedarkan pandangan. Meski, ia telah menemukan pemukiman warga yang ia cari. Namun, sosok penduduk desa tak tertampak di sana. Seraya, si kakek tua hanya tinggal bersama beberapa penghuni di dalam rumah saja.
“Kau tak perlu bingung anak muda. Ini adalah hal yang sudah biasa terjadi di sini. Semenjak pandemi melanda, para warga memang tak berani memunculkan batang hidung mereka. Dan, sungguh aku berterima kasih atas bantuan yang telah kau beri. Berkat pasokan bahan makanan yang kau bawa, kini istri dan dua anak perempuanku tak lagi kelaparan,” Sang kakek berujar. Mendahului pembicaraan. Tak lupa masih dengan gerak tangan mengaduk bahan-bahan ramuan.
“Tapi, Kek. Tak hanya itu saja yang ingin kutanyakan. Melainkan—” Leonardo menghentikan kalimat. Seraya, ia bingung harus memulai obrolan dari mana. Mengingat, kepergiannya ke dunia magis tak boleh diketahui oleh khalayak umum di pedesaan. Jadi, pemuda tersebut memutuskan untuk mengurungkan niat. Tak lagi melanjutkan ucapan dengan kalimat tanya.
“Ini minumlah,” Kali itu, si kakek menyodorkan sebuah mangkuk putih. Mangkuk itu berisi obat penawar yang sudah dibuat dengan bahan dasar tumbuhan.
Tanpa banyak bicara. Tanpa banyak tanya, Leonardo segera percaya. Meraih mangkuk berukuran kecil tersebut. Meneguk obat penawar yang sudah diracik dengan sedemikian rupa oleh si kakek tua.
Teguk demi tegukan menggelincir di dalam lidah. Merasuk ke dalam kerongkongan.
Kemudian,
“Kek, mengapa kau memberiku obat penawar ini? Memang, aku sedang sakit apa? Aku merasa tubuhku baik-baik saja,” Leonardo bertanya. Mengungkap sedikit rasa penasaran.
Sang kakek menghela napas. Sejatinya, kabar telah tersiar. Tak lain perihal Jack Rumondor; putra si kakek beserta para anak buah, yang baru saja menghabisi Leonardo dengan cara keroyokan. Sehingga, hanya obat penawar itu yang dapat si kakek berikan sebagai kompensasi atas perbuatan sang putra.
“Jadi, Kakek tahu perihal baku hantam yang sering kami berdua lakukan?”
“Tentu saja. Setiap Kakek berkeliling pedesaan, papan pengumuman tak henti menyiarkan berita. Meski, para warga di sini kebanyakan takut keluar rumah, setidaknya masih ada satu dua muda-mudi yang terus mengupdate informasi,” Sang kakek berujar.
Leonardo mengangguk paham. Lalu, mulai beralih menguap perlahan. Entahlah, sepertinya efek dari obat penawar itu, cukup memberi dampak mengantuk. Sehingga, Leonardo terpaksa meminta ijin untuk merebahkan badan.
Di sela Leonardo sedang tertidur, istri dan dua anak perempuan sang kakek justru sibuk membuat makanan. Berniat menyajikan menu santapan sebagai jamuan makan malam.
Dan, benar saja. Usai menuntaskan makan malam bersama, Leonardo dan si kakek beralih untuk duduk berdua di depan gubuk tua.
“Wahai anak muda, kau benar-benar pemuda baik hati. Kau sangat suka menolong warga. Aku berharap, hal baik akan segera menjumpaimu.”
Belum selesai si kakek berkata, tiba-tiba sebuah bayangan mengkilap merasuk ke dalam netra. Tertuju pada sebuah arah. Yakni, tepat di samping gubuk tua yang dihuni oleh si kakek. Tanpa basa-basi, Leonardo beranjak dari duduk. Seperti biasa, ia tak sabar untuk menahan rasa penasaran yang ada.
Dan,
Mengapa aku seolah melihat benda mengkilap pada sisi dalam dataran tanah ini? Apa hanya aku saja yang bisa melihatnya? Leonardo bergumam. Menerka untuk kesekian.
Lalu,
“Anak muda, apa yang sedang kau lakukan di situ?” Sang kakek bertanya. Mengarahkan pandang pada titik fokus yang Leonardo tuju. Menyiratkan gambaran polos di wajah. Seolah, ia tak melihat apa-apa; tak sama halnya dengan Leonardo yang sedang terperangah.
Jadi, Kakek tak bisa melihat apa yang kulihat? Leonardo menyimpulkan. Kemudian, mengajak si kakek untuk kembali ke tempat semula. Sementara itu, ia tak henti menoleh ke arah belakang. Sungguh, retina pada kedua bola mata; tak salah menangkap gambaran. Yakni, sebuah benda mengkilap yang terkubur di dalam tanah.
“Kek, karena sudah larut. Sebaiknya, aku kembali pulang. Jika ada waktu, aku akan sering-sering berkunjung ke mari,” Leonardo berpamitan.
Sang kakek mengiyakan. Mengambil sebuah obor yang ia letakkan pada sisi depan halaman rumah. Menyodorkan obor sederhana yang baru saja ia nyalakan dengan pemantik api.
“Bawalah ini, anak muda.”
Leonardo mengangguk patuh. Berjalan menjauh dari teras sebuah gubuk tua. Usai memastikan si kakek masuk ke dalam rumah, menutup pintu dan jendela dengan rapat, Leonardo berputar arah. Yakni, menuju dataran tanah yang sempat mengalihkan pandangannya.
Kini, Leonardo sedang berusaha mencari sebuah benda. Sebuah alat yang dapat ia gunakan untuk menggali tanah.
Leonardo terus mengarahkan pegangan obor untuk membidik satu per satu arah. Tak lama setelahnya, sebuah cangkul berhasil ia temukan. Tak menunggu lama, sang pemuda bergerak cepat. Mengambil cangkul itu. Menggali dataran tanah berwarna kecokelatan. Memusatkan titik pandangan pada bayangan benda yang mengkilap.
******
Beberapa menit kemudian.
Leonardo berhasil menggali tanah sedalam beberapa meter. Dan, yah! Sebuah peti berwarna cokelat tua menjadi bidik sasaran. Sontak, Leonardo segera melebarkan kedua bola mata.
Akhirnya, aku menemukan harta karun yang diceritakan oleh si kakek tua.