TORNADO

1173 Kata
Sepertinya, Kyteler sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku. *** Tiba-tiba, “Tuan?” Duncan berseru. Pengawal itu membuat lamunan sang majikan terpecah. Kemudian, Duncan mengarahkan pandang. Menatap beberapa pengawal yang sibuk membopong seorang pengawal lain. Benar saja, pengawal yang membelot itu sedang dalam keadaan terkapar lemah. Bahkan, nadi miliknya mulai melemah. Tak mungkin, itu semua terjadi karena satu buah bogem dariku, bukan? Leonardo bergumam heran. Lalu, mengikuti gerak langkah para pengawal. Mereka berbondong-bondong menuju sebuah pohon besar. Pohon rindang itu menjadi tempat singgah seorang pengawal yang tak sadar. Sontak, pengawal lain berlari kencang. Memanggil seorang tabib terkenal. ****** Tak lama kemudian. Sang tabib telah tiba di pelataran rumah. Ia mulai memeriksa seorang anak manusia yang sedang pingsan. Usai menyuguhkan beberapa bebauan, sang tabib berhasil membuat pasien tersebut terbangun. Mulai mengerjap mata dan terbatuk. Uhuk! Sang tabib sontak bergerak menyodorkan obat penawar. Melihat pengawal tersebut sedang mendapat perawatan, Leonardo teringat pada kondisi tubuh sebelum ia kembali pulang; keadaan yang juga memprihatinkan. Hanya saja, entahlah. Keajaiban apa yang sedang didapati oleh Leonardo? Sehingga, ia bisa kembali pulih seperti sedia kala; dengan cepat dan bahkan tanpa bantuan seorang tabib di desa. ****** Sepeninggal sang tabib terkenal. “Tuan?” Lagi-lagi suara Duncan merasuk ke dalam gendang telinga. “Ada apa, Duncan?” “Setelah kejadian yang menimpa pengawal itu, apa sebaiknya kita menyudahi aktivitas pembelajaran ilmu bela diri ini, Tuan? Lagi pula, bukankah Tuan harus beristirahat usai melakukan perjalanan pada pagi hari tadi?” Duncan menyarankan. Menatap banyak pengawal tersisa. Mereka tak berani beranjak, jika sang tuan tidak mengijinkan. Usai menimang, Leonardo memutuskan. “Kau benar, Duncan. Sebaiknya, kita akhiri sampai di sini saja. Lagi pula, aku hendak melakukan hal lain setelah ini.” “Baiklah, Tuan.” Duncan segera membubarkan barisan para pengawal. Menyampaikan mandat dari sang majikan. Kemudian, “Duncan, sebelum aku pergi, aku ingin bertanya perihal suatu hal kepadamu?” “Perihal apa itu, Tuan?” “Perihal pemukiman yang sempat kita kunjungi waktu itu.” “Mengenai hunian si kakek tua itu ya, Tuan? Kebetulan sekali, saya memang berniat melaporkan perihal tersebut pada Tuan Muda.” “Lantas?” Leonardo menyipitkan mata. Bersiap mendengar ucapan yang hendak Duncan lontarkan. “Jadi begini, Tuan. Desa itu merupakan desa yang sama seperti halnya desa lain. Tak ada yang aneh. Begitu pula dengan sebuah pemukiman yang kita kunjungi waktu itu,” Duncan menginformasi. Mendengar hal tersebut, Leonardo tak serta merta percaya. Mengingat, desa sang kakek tersebut terlihat sedikit tak lazim. “Baiklah, Duncan. Kalau begitu, aku pergi dulu. Kali ini, aku akan pergi sendiri lagi. Kau berjaga saja di sini. Jangan lupa, jika prioritas bekerjamu adalah untuk menjaga Priscilla,” Leonardo berpamitan, sekaligus memberi perintah. Duncan membungkukkan badan. Menunduk patuh. Kemudian, tak lagi mendapati sosok sang tuan yang semula berdiri tepat di hadapan. Meski, sejatinya Duncan tak henti merasa heran pada sosok sang majikan. Leonardo bak seorang pemuda yang tak pernah mengenal lelah. Meski, ia baru pulang usai melakukan perjalanan, mengajarkan ilmu bela diri pada pengawal, namun ia masih terus berkeliaran. Berpetualang meski tanpa didampingi seorang pengawal. Tanpa menunggu lama, suara ringikan dan tapakan khas milik Moe Gayo terdengar. Leonardo benar-benar melajukan seekor kuda dengan cepat. ****** Di dalam perjalanan. Hiakh akh! Moe Gayo bersuara. Sesaat usai seorang wanita mencegat pergerakan langkahnya. Leonardo tercekat. Berani sekali wanita itu? Bagaimana tidak, mencegah pergerakan seekor kuda yang sedang berlari kencang, itu pertanda jika sang wanita sedang mengerahkan seluruh keberanian. Seandainya, Leonardo dan Moe Gayo tak dapat memberhentikan diri dengan kompak, bisa saja Moe Gayo akan menubruk badan wanita yang sedang berdiri di tengah jalan. Kemudian, “Tuan? Tuan? Bantu kami, Tuan,” Wanita itu berujar. Masih dengan gerak melambaikan kedua tangan ke arah atas; sebagai tanda meminta pertolongan. Sontak, Leonardo tak tinggal diam. Pria itu menuruni punggung si hewan. Berjalan beberapa langkah. Menghampiri sang wanita. “Ada apa? Apa ada yang sedang kau butuhkan?” Leonardo bertanya. Menatap raut wajah seorang wanita yang sedang terlihat gusar. “Sepertinya, akan ada angin beliung yang menerpa desa kami, Tuan,” Wanita itu berujar. Leonardo spontan mengalihkan pandang. Dan, benar saja. Saat itu, langit yang semula cerah berubah menjadi mengelap memekat. Seraya, awan cumulonimbus baru saja hadir di wilayah mereka. Leonardo memelototkan mata. Sejatinya, ia juga baru menjumpai hal tersebut di masa lalu. Mengingat, di masa depan; ia belum pernah menyaksikan salah satu fenomena bencana hidrometeorologis tersebut. Beruntung, Leonardo adalah seorang pemuda yang genius. Sehingga, sedikit banyak ia juga mengetahui perihal yang harus dilakukan saat angin beliung hendak menerpa. “Sebaiknya, kalian segera masuk ke dalam rumah. Aku akan membantumu untuk menghimbau para warga. Tutup jendela dan pintu dengan rapat. Lalu, matikan semua aliran listrik; untuk menghindari dampak buruk jikalau petir tiba-tiba menyambar. Bergegaslah,” Leonardo berujar. Menginstruksi dengan penuh keyakinan. Wanita itu mengangguk mengiyakan. Leonardo segera berlari memasuki desa yang ia tuju. Menghimbau para warga, yang masih berada di luar rumah dengan seruan lantang. Hiruk pikuk tak henti meriuh bersama gerakan ranting pohon dan daun yang bergoyang. Tak lupa disertai dengan angin kencang yang hadir di sana. Usai memastikan seluruh warga desa masuk ke dalam rumah, Leonardo berusaha menyelamatkan diri. Meski, sewaktu berlari; ia serasa tak mampu melangkah. Kemudian, tanpa sengaja lengan kanan Leonardo menengadah. Bergerak sebagai refleks untuk menghalau desir pasir yang hendak merasuk ke dalam mata. Hanya saja, tengadah tangan itu kembali membeku. Memberi hawa dingin yang menusuk ke dalam kulit. Yah! Lagi-lagi, tangan kanan Leonardo serasa bergerak dengan sendirinya. Mulai mengarah pada pusaran angin beliung yang sedang bersiap untuk menerjang. Tiba-tiba, sebuah kabut putih mulai beterbangan. Menjadi kepulan samar pada kepalan tangan kanan. Bergerak perlahan menjadi sebuah gumpalan. Mengudara dengan perlahan. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Mengapa aku merasakan hal ini lagi? Bukankah— Belum usai Leonardo bergumam, sontak kepalan tangan yang ia tengadahkan; menyebabkan pusaran angin beliung mulai menjinak. Bergerak memelan dari ritme semula. Lalu, berangsur-angsur menghilang; bersamaan dengan langit yang kembali berubah warna menjadi cerah. Kemudian, Blush! Kabut putih pada kepalan tangan kanan Leonardo, melenyap begitu saja. Seraya, baru saja tertelan oleh pusaran angin dari kejauhan. Meski, Leonardo merasa heran akan kejadian yang ia saksikan. Namun, itu bukan waktu yang tepat untuk memikirkan perasaan yang terngiang di dalam benak. Bagaimana pun, ada hal lain yang harus Leonardo pastikan. Yakni, keselamatan para penduduk desa. Spontan, manik mata Leonardo mengedar. Mencari sebuah benda khas yang selalu disiapkan di setiap pemukiman. Usai menjumpai barang yang ia cari, Leonardo segera berlari. Meraih kentongan yang terbuat dari bahan dasar batang bambu. Tong! Tong! Tong! Kentongan itu berhasil membuat para warga memunculkan diri. Membuka ambang pintu dengan setengah. Beberapa jendela juga tak lupa terbuka. Setelah itu, Leonardo mulai berseru. “Mohon perhatian Bapak-bapak, Ibu-ibu,” Leonardo berujar lantang. “Desa kalian sudah kembali aman,” Leonardo melanjutkan ucapan. Menatap lekat beberapa warga, yang sedang berada dalam jarak pandang terdekat. “BENARKAH?” Salah seorang warga berteriak dari kejauhan. Mengkonfirmasi ucapan seorang pemuda berparas tampan. “Tentu saja. Jika kalian tak percaya, kalian bisa melihatnya sendiri pada gambaran langit yang kembali berubah menjadi cerah.” Seluruh penduduk desa spontan mendongakkan kepala. Menatap langit-langit yang berwarna biru muda. Lalu, menghela napas lega bersama-sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN