Leonardo baru saja menampakkan diri pada pelataran sebuah rumah megah. Pemuda tersebut menuruni punggung Moe Gayo dengan segenap pemikiran tak menentu. Bagaimana tidak, kejadian luka lebam yang memulih dengan sendirinya, masih terngiang di dalam kepala.
Tak mungkin Kyteler yang melakukan hal itu padaku, bukan? Leonardo mempertimbangkan hasil terkaan.
Kemudian,
“Tuan?” Duncan menyapa. Membuyarkan pemikiran singkat sang majikan muda.
“Iya, Duncan?” Leonardo berujar. Mengedarkan pandangan.
Saat itu, aktivitas membagikan bahan makanan telah usai. Duncan dan para pengawal yang bertugas, telah menuntaskan pekerjaan.
“Perihal berlatih ilmu bela diri, kapan kami bisa memulainya, Tuan?” Duncan bertanya antusias. Sejatinya, sedari awal Duncan sudah bersemangat; saat mendapati kabar jika sang majikan akan memberi pembekalan itu secara cuma-cuma.
Setelah melihat keadaan sekitar yang cukup lenggang, Leonardo memutuskan.
“Baiklah, kita bisa memulainya sekarang saja.”
“Ta-tapi, Tuan? Saya hanya bertanya. Tuan tak harus memulai pembelajaran itu pada detik ini juga. Tuan kan baru saja pulang dari perjalanan,” Duncan menyahut sungkan.
Leonardo menggeleng pelan. Lalu, memerintahkan agar Duncan mengumpulkan para pengawal. Berbaris rapi di pelataran rumah yang lebar.
“Ba-baiklah, Tuan. Kalau begitu saja akan bergegas. Dan, terima kasih atas kelapangan hati, Tuan,” Duncan berujar. Sedikit membungkukkan badan; sebagai tanda penghormatan.
Alih-alih menjawab, Leonardo justru menepuk pundak seorang pengawal. Melempar senyum teduh nan menenangkan.
******
Beberapa saat kemudian.
Para pengawal telah berkumpul. Mereka berbaris rapi seperti biasa. Sementara itu, Leonardo segera memimpin agenda berlatih ilmu bela diri.
Seluruh pria di pelataran rumah segera memasang sikap kuda-kuda. Leonardo memulai pergerakan bela diri dengan bersiap dengan sikap pasang. Diawali dengan posisi badan tegak, kedua tangan bersiap disamping dengan kedua kaki di buka selebar bahu.
Kyaa!
Lalu, berpindah ke sikap pasang kedua. Tak lupa dengan memperhatikan arah. Bagaimana pun, penguasaan tentang arah; amat penting saat petanding sedang dalam keadaan posisi menyerang atau pun bertahan.
Wussh!
Dengan beragam pola langkah, Leonardo tak henti bergerak lihai. Menggerakkan tungkai mulai dari pola lurus, zig-zag, segitiga bahkan segiempat.
Kemudian,
BUG!
Pukulan dan tendangan menjadi adegan baku hantam tanpa ampun.
Usai memeragakan gerak bela diri dengan amat lihai, barulah Leonardo meminta para pengawal untuk menirukan gerakan itu bersama-sama.
Di sela para pengawal bergerak sesuai instruksi, Leonardo sedang berjalan berkeliling. Memperhatikan dengan seksama para bawahan yang sedang ia latih untuk lebih kuat dan tak tertandingi.
Suara hempasan dari pukulan dan tendangan terus mengudara. Hingga pada akhirnya, Leonardo mulai memfokuskan bayangan retina pada seorang pemuda. Tak lain, adalah pemuda yang sempat ia curigai; sewaktu seorang Jack Rumondor melarikan diri.
Leonardo tak henti memperhatikan gerak pemuda tersebut. Sungguh, diantara banyak pengawal, pemuda itu terlihat paling malas dalam berlatih. Ia seolah tak ingin menghabiskan waktu untuk hal yang sudah ia kuasai.
Tanpa banyak bicara, Leonardo mengarahkan pemuda itu untuk keluar dari barisan. Berjalan menjauh dari sisi para pengawal. Dengan segenap keyakinan, Leonardo memberanikan diri untuk bertanya.
“Apakah kau ikut berjaga sewaktu aku menahan Jack Rumondor?” Leonardo membidik tajam. Tak ingin kehilangan pusat pandangan. Bagaimana pun, sorot mata takkan menyiratkan kepalsuan.
“Tidak, Tuan. Waktu itu, saya sedang libur,” Pemuda itu berkilah.
Hanya saja, Leonardo tak selengah itu perihal ingatan. Meski, ia tak sedang berada di masa depan, namun kemampuan mengingat banyak hal, sudah terpatri di dalam memori. Dan, yah! Leonardo benar-benar mengingat betul; saat ia pergi bersama Duncan dan pengawal baru, pemuda itu merupakan salah satu pengawal yang sedang berjaga di kediaman miliknya.
Mendengar kalimat berisi dusta, Leonardo sontak menarik sudut bibir dengan sirat penuh makna.
Tanpa basa-basi,
“Aku tahu, kau sedang berbohong padaku. Dan, aku juga tahu, jika kau adalah seorang pengawal yang berani memberi bilah tajam pada seorang tawanan. Yah! Aku rasa, kau adalah salah satu pengawal yang kusuruh berjaga di dekat Jack Rumondor waktu itu.”
GLEK!
Pengawal bertubuh kekar itu menelan ludah. Manik pada mata mulai melebar. Terkejut tiada tara. Ia kira, ia bisa membohongi sang majikan. Ternyata, Leonardo Mandela Lombogia adalah seorang pria yang amat cepat tanggap. Sang majikan muda begitu pandai membaca sesuatu dalam waktu yang singkat.
“Aku tak tahu, apa alasanmu bertindak seperti itu? Yang pasti, kau sudah jelas berkhianat kepadaku,” Leonardo kembali mengeluarkan suara.
Namun,
Alih-alih menjawab teguran yang Leonardo lontarkan, sang lawan bicara justru melayangkan bogem. Ia seraya lupa, jika seorang lawan yang hendak ia ajak bertikai, adalah sang majikan di tempat ia bekerja.
Wussh!
Leonardo berhasil menghindar. Menangkis beberapa pukulan yang terus dilayangkan oleh seorang pengawal. Bunyi kepalan yang membenam tubuh seseorang, menjadi pemandangan para pengawal. Mereka spontan menghentikan pergerakan. Memperhatikan sang tuan sedang beradu hantam dengan seorang pengawal.
Usai terus menghindar dan menangkis, Leonardo beralih menghujam salah satu bagian tubuh sang lawan.
BUG!
Hanya saja, kali itu satu pukulan tersebut mampu meruntuhkan pertahanan. Sang pengawal segera tergelepar. Bahkan, tak henti terbatuk hingga mengeluarkan banyak darah dari sebuah indera.
Leonardo merasa heran. Ia tak pernah merasakan kekuatan sekuat saat itu. Bukannya melemas usai dihajar oleh anak buah Jack Rumondor, Leonardo justru menjadi semakin tangguh.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi padaku? Leonardo bergumam ragu. Menatap kepalan tangan kanan yang kokoh. Lalu, penampakan urat-urat nadi pada lengan sontak melebar. Lengan yang semula sudah kekar, berubah menjadi lebih besar dan berotot dari sedia kala.
Kretek! Kretek! Kretek!
Leonardo merasakan tulang-tulang ditubuh sontak bergerak kompak. Menjadi sebuah kerangka yang jauh lebih solid. Seraya, mempersiapkan otot-otot yang menempel; untuk segera menggerakkan tulang belulang.
Tiba-tiba, hawa dingin mulai menusuk kulit. Merasuk ke dalam setiap bagian tubuh. Hanya saja, Leonardo dapat mempertahankan diri terhadap perubahan drastis yang ia alami.
Dan,
Sebuah kabut putih mulai beterbangan. Menjadi kepulan samar pada kepalan tangan kanan.
A-apa yang terjadi padaku? Leonardo bertanya-tanya.
Kemudian,
Kepalan tangan itu menengadah. Mengarah pada sebuah batang pohon berukuran besar. Sontak, batang kokoh itu roboh dan tumbang.
Bruk!
Leonardo baru saja menyaksikan keajaiban dari sebuah kekuatan sihir.
Hanya saja,
Kyteler menampakkan diri pada saat bersamaan. Membuat Leonardo menyudahi aktivitas terkagum pada hal yang ia lihat baru saja.
Kyteler? Sedang apa dia ke mari? Leonardo menyipitkan mata. Bergumam curiga.
Lalu,
“Kau jangan terlalu percaya diri, Leonardo. Kemampuan sihir yang baru saja kau lihat, adalah sihir yang kugunakan. Aku sengaja membantumu mengalahkan pemuda pembelot itu. Dan, pohon tumbang itu juga ulahku," Suara bisikan dari seorang penyihir wanita mulai terdengar.
Leonardo merasa tak percaya. Hanya saja, saat itu bukan waktu yang tepat; untuk mengkonfirmasi kebenaran perihal kalimat yang Kyteler lontarkan.
Usai berkata, penyihir wanita itu menghilang. Melesat cepat bersama kabut putih yang selalu menyertai.
Ini aneh sekali. Aku benar-benar merasakan hawa dingin itu di dalam tubuhku. Dan, perihal batang pohon yang tumbang tersebut, aku benar-benar merasa jika tangan kananku inilah, yang mampu menguncang kokohnya akar tumbuhan menahun itu. Leonardo berusaha mengingat-ingat kejadian sepersekian detik tersebut.
Tak lama setelahnya, Leonardo menarik sebuah kesimpulan. Sepertinya, Kyteler sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dariku.