SCOURGE

1107 Kata
“Bawalah batang emas itu. Anggap saja sebagai hadiah karena kau telah membawakan pemuda ini tepat waktu.” *** Usai berkata, Kyteler tak lagi menampakkan diri. Bahkan, tak ada lagi bayangan seorang sandera, yang semula berada di samping sang penyihir wanita. Kyteler benar-benar meninggalkan Leonardo seorang diri; hanya berteman tumpukan batang emas di sana. Hhh! Leonardo menghembus napas panjang. Menggertak gigi sebagai tanda kebingungan. Haruskah aku menerima batang emas itu lagi dari Kyteler? Mendapati tawaran yang Kyteler beri, tentu Leonardo harus berpikir dua kali. Bagaimana tidak, usai bersepakat dengan seorang penyihir jahat, itu artinya Leonardo akan selamanya terikat. Dan, Leonardo takkan pernah tahu; perihal resiko apa yang akan ia dapati akibat kesepakatan tersebut. Satu menit Dua menit Lima menit kemudian, Setelah berpikir perihal banyak hal, Leonardo memutuskan untuk meninggalkan batangan emas itu. Sejatinya, ia tak ingin terlalu terikat dengan seorang penyihir seperti Kyteler. Bagaimana pun, alasan Leonardo masih berkunjung ke dunia magis; hanya untuk menyerahkan para begundal di desa. Mengingat, ia masih belum bisa memenjarakan mereka di pedesaan. Jadi, hanya itu satu-satunya cara yang Leonardo miliki; untuk memberi hukuman pada para perusuh di pemukiman warga. ****** Kini, Leonardo baru saja melangkah keluar dari dalam dunia magis. Seperti biasa, ia menembus sela terbuka dengan amat mudah. Bedanya, hari itu ia mendapati keajaiban lain dalam dirinya. Yakni, Leonardo tak lagi merasakan sensasi nyeri dan perih pada bekas luka yang ia punya. Leonardo kembali berjalan tegap dan bergerak lincah. Hal tersebut membuat Leonardo menjadi penasaran. Ia memutuskan untuk bercermin pada genangan air jernih di pemandian air panas. Dan, benar saja. Luka lebam serta percikan darah di wajah, tak lagi ada. Begitu pula, luka-luka yang semula tersemat di dalam tubuh kekarnya. Leonardo benar-benar kembali ke keadaan seperti sedia kala. Sebenarnya, apa yang terjadi padaku? Mengapa luka-luka ini tiba-tiba pulih? Leonardo bertanya-tanya. Namun, bukan hal tersebut yang terpenting saat itu. Bagaimana pun, ia harus bergegas kembali ke kediaman megah. Menuntaskan agenda yang ia punya. Salah satunya, untuk berlatih ilmu bela diri bersama para pengawal. Mengingat, Leonardo takkan tinggal diam. Ia takkan membiarkan Jack Rumondor dan anak buahnya terus berkeliaran. Leonardo bertekad untuk meningkatkan kemampuan bela diri. Ia harus segera menangkap begundal itu, dengan tangan kanannya sendiri. Leonardo bertekad, jika ia tak boleh kalah untuk kedua kali. ****** Sementara, Leonardo telah pergi, Kyteler sedang bersiap memasukkan seorang pemuda ke dalam penjara bawah tanah. Pemuda itu masih dalam keadaan terikat. Bedanya, Kyteler menambahkan sebuah penutup kepala berwarna gelap. Berniat agar anak manusia itu, tak dapat melihat arah Kyteler membawa ia pergi. Lorong demi lorong terus terlewati. Sepercik bau tanah dan comberan bercampur menjadi satu. Hawa dingin dan suasana mencekam tersuguh. Tak lupa dengan suara kelelawar yang tak henti berseru. “HEI! Wanita aneh, kau sedang membawaku ke mana?” Pemuda itu bertanya. Masih bertanya dengan tak peka, jika sosok perempuan yang membawa dirinya adalah seorang penyihir wanita. Haha! Kyteler merekahkan tawa. Tanpa memberi jawaban sepatah kata, Kyteler terus membuat pemuda itu melangkah. Hingga pada akhirnya, mereka telah sampai pada sebuah bangunan kokoh dan menyeramkan. Tak menunggu lama, Kyteler membuka pintu besi penjara bawah tanah menggunakan beberapa kali gerak tengadah tangan kanan. Usai menggunakan sihir yang ia punya, Kyteler tak lupa menekan beberapa angka yang tersemat di dalam lapis baja yang menjadi penyerta. Kriet! Pintu baja itu terbuka setengah. Kyteler beralih menarik penutup kepala sang sandera. Lalu, menghempas kasar tubuh seorang pemuda. Membuat badan pemuda itu terpaksa menubruk pintu baja. Bruk! Pemuda itu terhempas. Tersungkur di atas dataran berwarna hitam memekat. A-aku berada di mana? Pemuda itu bergumam gusar. Memandang area sekitar yang terlihat amat mengerikan. Beralih berlulut. Berusaha untuk bangkit dari posisi berjongkok dengan kedua lutut. Kemudian, sebuah kabut putih mengudara. Mendekat ke arah sang pemuda. Kali itu, kabut yang Kyteler munculkan; membuat ikatan tali tampar menjadi terlepas. Sang pemuda dapat bergerak bebas. Bahkan, ia telah berhasil beranjak dari posisi simpuhan lutut. Bergegas berlari menuju pembatas jeruji besi. Hanya saja, Brak! Pintu baja tertutup cepat. Membiarkan seorang pemuda terjebak tanpa teman. “HEI! Keluarkan aku dari sini!” Pemuda tersebut berteriak. Meronta. Mengguncang jeruji besi berukuran beberapa centi pada pintu baja. Namun, Kyteler tak berniat berucap apa-apa. Ia hanya terus berjalan menjauh. Meninggalkan pemuda itu. Tak lupa menyertai kepergian dengan tawa membahana yang amat bahagia. “HEI! Siapa pun kalian di luar sana, tolong keluarkan aku dari sini!” Meski telah berusaha berteriak sekuat tenaga, penjara bawah tanah itu takkan membuat lengkingan sang pemuda merasuki indera telinga para manusia. Benar! Penjara bawah tanah itu, sungguh dibangun pada dasar wilayah dunia magis. Sehingga, gelombang suara yang ada, tak mungkin dapat didengar oleh siapa pun dengan mudah. ****** Setelah berhasil menjebloskan seorang pemuda, Kyteler kembali ke tempat semula. Sontak, manik pada mata seorang penyihir wanita, melebar melebihi ukuran normal. Apa yang baru saja dilakukan oleh Leonardo? Bisa-bisanya, dia bersikap sombong kepadaku? Dia kira, dari mana asal kekayaan yang selama ini ia rasakan? Kyteler mengeram. Tidak terima. Memandang penuh kesal pada setumpuk batang emas yang Leonardo tinggalkan. Melihat hal itu, Kyteler tak tinggal diam. Ia menghampiri sebuah cermin berukuran besar. Seperti biasa, hanya dengan sebuah gerakan tangan, Kyteler mampu membuat cermin itu menampakkan gambaran yang ia inginkan. Dan, Ouch! Kyteler berdecak cemas. Bahkan, ia hingga menyentuh puncak kepala. Menahan rasa amarah, yang hinggap di dalam benak secara tiba-tiba. Bagaimana tidak, sebuah gambaran; terlihat jelas menampakkan luka lebam Leonardo yang segera pulih usai menembus sela terbuka. Benar saja, itu adalah hal magis yang tak dapat dilakukan oleh sembarang penyihir di dunia magis. Bahkan, penyihir baik sekali pun, juga tak dapat memulihkan dirinya sendiri. Lantas, Leonardo? Ah! Pemuda berparas tampan itu baru saja menunjukkan tanda-tanda, jika ia adalah salah satu titisan para penyihir yang nyata. Seorang penyihir dengan level sihir yang cukup berbeda. Sialan! Jadi, firasatku selama ini benar. Kyteler bergumam. Mengumpat berulang kali dengan dalam-dalam. Bagaimana ini? Bagaimana jika suatu hari nanti, Leonardo benar-benar menjadi boomerang untukku? Kyteler tak sanggup membayangkan hal itu. Tidak! Tidak. Pemuda itu tak boleh tahu apa pun. Kyteler meneguhkan kesimpulan. Beralih menghilangkan gambaran di dalam sebuah cermin berukuran besar. Menghempas cermin itu hingga kembali ke tempat semula. Lalu, merebahkan tubuh dengan kasar pada sebuah dudukan megah di sana. Bergerak memijat kening yang terasa pening. Bagaimana tidak, hal itu sudah sering menghantui pikiran Kyteler. Yah! Benar saja, karena sedari awal; Kyteler merasa ada yang berbeda dengan sosok Leonardo. Bagaimana pun, sela terbuka itu hanya bisa ditembus oleh sosok tertentu saja. Sedangkan, Leonardo? Sejak awal, pemuda tersebut mudah sekali masuk dan keluar dari dunia non magis menuju magis. Hal itu, membuat Kyteler merasa diuntungkan sekaligus merasa terancam. Mengingat, seorang anak manusia yang diberkahi kemampuan sihir; akan menjadi momok, baik bagi para manusia yang tinggal di pedesaan, mau pun bagi penyihir-penyihir yang berada di dunia magis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN