Keesokan harinya.
Para warga sudah berkumpul di depan pintu gerbang kediaman Leonardo. Sementara mereka sibuk berbaris, sang tuan muda baru saja meninggalkan pelataran rumah. Tak lupa dengan menunggang seekor kuda. Hanya saja, pagi itu pemandangan tersuguh dengan tak terduga. Yakni, seorang pemuda yang sedang terikat; berada di sisi belakang si penunggang kuda.
“Itu kan pemuda yang mencuri hewan ternak di desa sebelah,” Salah seorang warga berseru.
Meski, pria muda itu hanya menjara hewan ternak milik desa tetangga. Namun, tak dapat mereka pungkiri, jika kabar yang beredar segera tersiar hingga ke seluruh penjuru desa. Sehingga tak sulit bagi para warga untuk menjumpai wajah seorang bandit. Sudah jelas, warga-warga yang merasa diresahkan, akan menampilkan sketsa wajah bandit tersebut pada papan pengumuman.
Sontak, sorak sorai kembali menggema. Berseru bahagia karena Leonardo kembali berhasil membekuk seorang pencuri di desa.
“Tuan, aku benar-benar mengagumimu,” Warga lain berteriak. Diikuti serempak. Saling bersahut-sahutan dalam memberi pujian.
Kemudian, aktivitas membagikan bahan makanan kembali dilanjutkan. Sementara itu, seorang pemuda tangguh tak lagi menampakkan diri di hunian megah tersebut.
Benar saja, kini Leonardo sedang berada di dalam perjalanan. Beragenda untuk menyerahkan seorang sandera pada penyihir wanita.
“Tuan, kau akan membawaku ke mana? Aku mohon ampuni aku. Aku berjanji takkan mencuri hewan-hewan ternak mereka lagi,” Pemuda itu berseru. Ketakutan. Bahkan, nada bicaranya tak henti bergemetar.
Leonardo terdiam. Ia tak berniat memberi jawaban. Hanya terus berfokus dengan laju Moe Gayo yang semakin melesat cepat.
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
******
Usai menempuh setengah perjalanan.
Lagi-lagi, Leonardo dihadang oleh gerombolan para bandit. Setelah berhasil membuat Moe Gayo menghentikan langkah, Leonardo bergegas turun dari tunggangan kuda. Tak lupa diikuti oleh seorang tawanan, yang sedang terikat pada bagian kedua pergelangan tangan.
“Kalian masih berani mendatangiku lagi? Apa kali ini, kalian yakin dapat mengalahkan aku?” Leonardo berujar.
Tak banyak berbicara, para bandit itu segera melayangkan pukulan. Menghujam tubuh seorang pria bergantian. Bertubi tiada henti. Namun, ada yang salah pada hari itu. Selain para bandit terlihat lebih banyak, mereka juga terasa lebih kuat dari sebelumnya. Sepertinya, niat hati untuk membalas dendam; membuat mereka bersih keras dalam menghujam tubuh sang lawan.
Sesekali Leonardo mendapati luka bekas tonjokan. Hanya saja, sang pemuda masih dapat bergerak lihai. Menghalau para bandit tersebut. Tapi, pertikaian yang terjadi dalam kurun waktu beberapa menit itu, cukup membuat Leonardo kelelahan. Bagaimana tidak, bandit-bandit itu tak hanya berjumlah puluhan. Namun, ratusan.
Dan,
BUG!
Sebuah pukulan baru saja mendarat tepat di sisi perut Leonardo. Pukulan itu berasal dari seorang pemimpin bandit, sesaat usai begundal-begundal itu melebarkan kerumunan. Yah! Benar saja, saat itu Jack Rumondor muncul dari balik tubuh kekar para perampok. Ia berhasil mendaratkan sebuah pukulan balasan. Sama halnya, yang pernah Leonardo hujam pada tubuh milik Jack, sewaktu ia sedang ditawan.
Tanpa banyak basa-basi, beberapa bandit memegangi lengan Leonardo pada sisi kanan dan kiri. Saat itu, Leonardo tak dapat berkutik. Selain perasaan lelah, tubuh yang mulai mendapati banyak luka; membuat ia tak mampu berdiri tegak seperti semula. Keadaan itu membuat Jack Rumondor semakin mudah dalam melampiaskan kekesalan di dalam hati.
BUG!
Huk!
Leonardo terbatuk. Mengeluarkan sepercik darah dari sebuah indera. Kepala Leonardo mulai menunduk lemah. Ia bahkan tak kuat menengadahkan kepala.
Lalu,
“HEI! Tatap mataku, pemuda sok jagoan,” Jack berujar. Melengkingkan nada. Mencengkram dagu seorang pemuda berusia dua puluh tujuh tahunan; seusia seorang Jack Rumondor. Benar-benar lawan yang sebanding dengan dirinya.
“Mengapa kau tak dapat bergerak? Ah! Maafkan aku. Apa ini karena kami bermain keroyokan? Seharusnya, kau ingat jika tak boleh membuat hati para bandit menjadi kesal. Karena kami takkan diam saja. Sudah pasti, kami akan merencanakan hari balasan. Dan, yah! Inilah hari yang tepat untuk membuatmu tergelepar,” Jack berujar panjang lebar. Dipenuhi kalimat berisi sindiran.
Kemudian,
BUG!
BUG!
Kyaa!
BUG!
Bruk!
Leonardo terjatuh. Benar-benar bertatap dengan tanah kecokelatan. Para bandit tak berniat mengangkat kembali tubuh sang lawan.
Namun,
“HEI! Bangunlah,” Jack berujar. Menepuk salah satu pipi Leonardo. Saat itu, ia sedang berjongkok. Menatap lekat wajah Leonardo yang dipenuhi oleh luka lebam. Tak lupa disertai dengan percikan darah yang mengucur keluar.
Leonardo mengerjap sedikit mata.
Uhuk!
Sesekali, ia terbatuk lemah. Kembali membuka mata. Membidik tak berdaya pada wajah tampan seorang Jack Rumondor.
“Aku pastikan akan menangkapmu dengan tanganku sendiri, Jack,” Leonardo menyahut lirih. Berjanji akan suatu hal, yang sempat ia ucap pada Priscilla.
Alih-alih menyahut. Jack justru menghujam wajah Leonardo. Tepat, pada sebuah sisi yang dipenuhi darah mengalir.
BUG!
Dan,
Cuih!
Jack membuang ludah.
“Kau cobalah saja menangkapku. Maka, aku akan membunuhmu,” Jack menyahut. Mengancam. Sembari menghempas wajah Leonardo yang semula ia cengkram.
Usai bangkit dari posisi berjongkok, Jack bergegas mengarahkan anak buah untuk meninggalkan tempat kejadian perkara.
Hanya saja,
“Jack? Jack?” Suara seorang pria terdengar memanggil dari kejauhan. Benar, pemuda itu adalah pemuda yang masih terikat dengan sebuah tali tampar pada sisi belakang.
Jack menyeringai, “Ada apa?” Lalu bertanya. Menghampiri seorang pemuda bertubuh tak kekar.
“Tolong bantu lepaskan aku. Dan, ijinkan aku menjadi salah satu anak buahmu.”
Ck!
Jack berdecik. Sementara itu, gerombolan para bandit sedang terbahak bersamaan.
“Apa kau bermimpi? Lihatlah tubuhmu. Kau tak sebanding dengan kami,” Salah seorang begundal menjawab. Mewakili kalimat yang hendak Jack lontarkan.
Kemudian, tanpa sepatah kata, Jack dan begundal-begundal itu beralih pergi. Benar-benar tak menyisahkan bayangan lagi.
Tak lama setelah itu, Leonardo berusaha bangkit dari posisi tersungkur. Ia mulai menegakkan kedua tungkai. Lalu, berjalan menuju posisi seorang pemuda yang ia sandera.
“Tuan, apa kau akan tetap membawaku pergi dari sini? Lihatlah kondisimu. Sebaiknya, kita pulang saja. Tolong kau lepaskan ikatan tali ini. Dan, aku akan menunggangkan kuda untukmu,” Pemuda itu berujar.
Dengan posisi berdiri yang sedikit terhuyung, Leonardo menyengir. Sungguh, Leonardo tak bisa mempercayai ucapan bandit tersebut.
Tak menunggu lama, kini Leonardo telah berada di sisi Moe Gayo. Kembali menaiki kuda itu, bergantian dengan seorang pemuda yang ia bawa pada bagian belakang.
Hiaa!
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Meski sedang dalam keadaan tak cukup baik, Leonardo terus berusaha melajukan seekor hewan kekar. Bagaimana pun, ia takkan berbalik arah usai menempuh setengah perjalanan menuju pemandian air panas.
Benar saja, beberapa saat setelah itu, suasana mencekam kembali merasuk ke dalam netra pemuda yang berbeda; sama halnya tangkapan retina pada pemuda saat kali pertama.
“Tuan? Kau hendak membawaku ke mana? Mengapa jalanan ini semakin menyeramkan?” Pemuda itu bertanya gusar.
Leonardo tetap terdiam. Hingga pada akhirnya, mereka sampai pada titik tujuan. Air jernih berwarna putih bening; menyuguhkan pemandangan angker bagi sang tawanan.
“Tuan? Tuan? Jangan bunuh saya,” Pemuda itu berseru ketakutan. Seakan, membayangkan jika Leonardo akan menenggelamkan ia di dalam pemandian air panas.
Hhh!
Leonardo menghela napas dengan sedikit berat. Bagaimana tidak, rasa nyeri yang menjalar pada beberapa bagian tubuh, membuat Leonardo tak sebugar hari biasa.
Tanpa basa-basi, Leonardo segera menuju ke sela terbuka. Menyeret paksa seorang pemuda.
Blush!
Sela terbuka itu baru saja tertembus. Dua orang pria berusia tak berbeda, baru saja melintasi area batas.
Sang tawanan sedang merasa heran. Bagaimana bisa ia berpindah lokasi hanya dengan mengikuti langkah sang tuan?
“Tuan? Sebenarnya, tempat apa ini?” Pemuda itu kembali mengeluarkan suara.
Tiba-tiba,
Haha!
Kyteler merekahkan tawa. Kali itu, ia tak muncul dengan suasana menyeramkan seperti kali pertama berjumpa seorang sandera.
Lalu,
“Apakah dia pemuda yang kali ini kau bawakan untukku?” Kyteler bertanya. Menatap Leonardo dan pemuda itu bergantian.
“Tentu saja. Kau kira, aku memiliki tujuan lain selain menyerahkan dia?”
GLEK!
Pemuda yang terikat tali itu sontak menelan ludah. Air ludah itu menggelincir melalui kerongkongan dengan sedikit susah.
“Aku kira, kau akan membawakanku seorang Jack Rumondor,” Kyteler menerka.
Leonardo menyipitkan mata. Jadi, Kyteler mengenal Jack Rumondor? Ah! Tentu saja, itu adalah hal mudah untuk diketahui oleh seorang penyihir seperti dia.
“Sudahlah, aku takkan basa-basi. Bawa saja pemuda ini,” Leonardo menyerahkan seorang sandera.
Sontak, pemuda tersebut berlutut. Memohon belas kasih pada Leonardo. Namun, semua nasi telah menjadi bubur. Dan, itulah konsekuensi yang harus bandit itu dapati.
Sesaat usai Kyteler mendapat apa yang ia mau, Leonardo bergegas pergi. Kembali melewati sela terbuka, yang hanya dilintasi oleh orang-orang tertentu saja.
“Tapi, tunggu dulu! Bukankah, kau sedang membutuhkan bantuanku?” Kyteler berujar. Sengaja membuat sang lawan bicara menghentikan langkah.
“Apa maksudmu, Kyteler?” Leonardo menoleh. Mengurungkan niat untuk melangkah keluar dari dunia magis.
“Aku tahu, jika batang emasmu telah menipis. Sedangkan, kau sedang membutuhkan banyak suntikan dana untuk membantu warga di desa.”
“Sebaiknya, kau jangan berbasa-basi, Kyteler,” Leonardo menyergah. Tak berniat mendengar ucapan seorang penyihir terlalu lama.
Dan, benar saja. Sesaat usai Kyteler menggerakkan tangan kanan; tumpukan batang emas menjadi bidik pandangan. Sungguh, seorang pemuda di sana juga turut terperangah.
“Bawalah batang emas itu. Anggap saja sebagai hadiah karena kau telah membawakan pemuda ini tepat waktu,” Kyteler menyarankan.
Leonardo terdiam. Sejatinya, ia memang sedang membutuhkan bantuan.