“KAMI MENGERTI, TUAN.”
***
Barisan yang semula tersusun rapi, kini telah dibubarkan. Berganti dengan pemandangan seorang pemuda, yang baru saja ditangkap dengan mudah oleh sang tuan.
“Duncan, sekarang ikat pemuda itu pada pohon besar di sana,” Leonardo memerintah. Mengarahkan pandang pada sebuah pohon besar, yang semula menjadi tempat singgah seorang sandera.
Benar saja, Leonardo baru kembali usai berhasil membekuk seorang tersangka. Yakni, pemuda yang semula bebas berkeliaran untuk mencuri hewan ternak pada warga. Pemuda itu tak sekekar begundal lain. Bahkan, ia cenderung kurus nan ceking. Namun, setiap bandit akan tetap disebut bandit. Lagi pula, setiap perbuatan buruk pasti mendapati konsekuensi.
Di sela Duncan membawa pemuda tersebut menuju sebuah pohon, salah seorang pengawal melihat tali tampar yang terkikis menjadi beberapa bagian. Tak lupa dengan sebuah barang bukti sebilah benda tajam.
Sontak,
“Hei, Pengawal! Apa yang sedang kau pegang?” Leonardo beseru dari kejauhan. Beralih mendekat ke arah para pengawal. Memastikan jika ia tak salah melihat.
“I-ini, Tuan. Saya menemukan sebuah pisau tajam. Dan—” Pengawal itu tak berani melanjutkan ucapan.
Tanpa berpikir panjang, Leonardo dapat menarik kesimpulan. Jika, kepergian seorang tawanan; adalah ulah dari salah seorang pengawal. Siapa lagi jika bukan mereka? Tak mungkin, pelayan di dalam rumah berani ikut campur dengan urusan sang majikan.
Melihat kecurangan itu, Leonardo segera menyadari bau-bau pengkhiatan. Dan, seorang pengkhianat tak bisa dimaafkan begitu saja.
Sementara Duncan dan beberapa pengawal lain bersibuk mengikat seorang pemuda, Leonardo beralih berjalan ke depan gerbang. Ia terus melangkah. Menyisir setiap bagian rumah, yang dijaga ketat oleh pengawal-pengawal tersisa. Dengan tatapan menelisik, Leonardo terus membidik mereka satu per satu.
Hhh!
Hembusan napas terdengar. Tampaknya, Leonardo mulai mendapati seseorang yang terlihat mencurigakan. Hanya, Leonardo masih ingin melihat gerak-gerik para pengawal. Sebelum pada akhirnya, ia memastikan sendiri perihal sosok pembelot di sana.
“Tuan, ada yang bisa kami bantu?” Salah seorang pengawal bertanya; tak lain adalah pengawal yang membantu Jack kabur dari kediaman sang tuan muda.
“Tidak, tidak ada. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja,” Leonardo berkilah. Menyembunyikan raut curiga.
******
Tak terasa hari bergulir menjadi malam. Bulan dan bintang sedang berinteraksi bersama langit yang sedikit berawan.
“Priscilla, apa kau baik-baik saja?” Leonardo bertanya. Menatap lekat manik mata seorang wanita muda.
Saat itu, dua muda-mudi tersebut sedang duduk bersama. Sesekali, berpaku pada piring makan di atas meja.
“Tentu, aku dalam keadaan tak baik,” Priscilla menyahut singkat. Jujur apa adanya.
Benar saja. Lagi pula, siapa yang akan baik-baik saja usai mendapati alasan dari kepergian orang yang mereka cinta, karena unsur disengaja?
Leonardo memanggutkan kepala. Amat memahami perasaan sang wanita. Meski, Leonardo tak menyangka. Jika, Priscilla akan bertindak satu langkah lebih cepat dari dirinya. Yakni, berangkat pagi untuk menghampiri rumah kepala desa. Mengobrak-abrik isi rumah sang pemimpin; dibantu oleh seorang pengawal. Hanya untuk mendapati bukti dari secarik kertas, yang menyatakan alasan sesungguhnya atas kepergian mendiang orang tua Priscilla.
“Kau tenang saja. Aku akan berusaha untuk memberi hukuman yang pantas untuk begundal itu. Dan, kupastikan takkan ada lagi komplotan bandit yang menjara penduduk di perbatasan.”
Alih-alih menyahut, Priscilla hanya terdiam. Menerawangkan pikiran. Seandainya, ia tak bertemu Leonardo, mungkin bertahun-tahun ke depan, ia takkan pernah tahu perihal alasan kedua orang tuanya tiada.
******
Usai menuntaskan aktivitas makan malam sembari berbincang, Leonardo kembali berpamitan.
“Kau hendak pergi ke mana? Bukankah, seharian tadi kau sudah terlalu sibuk?” Priscilla bertanya.
Leonardo menepuk pundak sang lawan bicara. Lalu berkata, “Semenjak para warga mempercayaiku, waktu dan tenagaku akan kuhabiskan untuk membantu mereka. Jadi, kuharap kau bisa memaklumi kesibukanku.”
Priscilla menarik sedikit sudut bibir. Sejatinya, ia amat kagum pada sosok pemuda dihadapannya tersebut. Selain tampan, pemberani, kuat dan tangguh. Leonardo juga seorang pemuda yang berhati baik. Ia berniat menolong para penduduk tanpa pandang bulu.
“Baiklah, kalau begitu aku akan membantumu,” Priscilla berujar. Mengikuti pergerakan sang pria yang baru saja beranjak dari duduk.
Kini, muda-mudi tersebut sedang berada di ruang tengah. Mereka membaca dengan lekat keluhan perihal kekeringan pada sawah dan ladang. Nahasnya, hampir seluruh desa memiliki keluhan yang sama. Sungguh, itu adalah salah satu takdir dari Tuhan. Sehingga, satu-satunya jalan yang dapat Leonardo lakukan, adalah membantu mereka dengan memasok bahan makanan dan sejumlah uang; untuk menunjang kehidupan.
Leonardo segera bangkit dari duduk. Ia menuju kamar. Memastikan sisa batangan emas yang ia miliki, sesaat usai ia gunakan untuk membeli rumah megah beserta isinya.
Batang-batang emas ini semakin menipis. Aku harus mencari cara agar tetap mempertahankan harta yang kumiliki. Tak mungkin, jika aku hanya menghabiskannya saja. Tanpa menggandakan emas-emas ini menjadi lembaran uang yang berlebih. Leonardo bersimpul. Berpikir dalam-dalam perihal rencana yang hendak ia lakukan.
Kemudian,
Leonardo keluar dengan membawa beberapa batang emas. Ia meminta para pengawal untuk mengantar ia menuju penadah emas di desa.
******
Sesampainya di penadah emas.
Beberapa tumpuk uang tunai baru saja berpindah pada sebuah tas berwarna hitam. Leonardo membawa tas itu dengan hati-hati. Lalu, meminta Duncan untuk beralih pergi. Menuju ke penjual bahan makanan.
“Tuan, apa Tuan yakin ingin membeli bahan makanan dengan seluruh uang tunai itu?” Duncan bertanya.
“Tentu saja. Bukankah, kau tahu sendiri, jika banyak sekali warga yang sedang membutuhkan bantuan?”
“Be-benar, Tuan. Saya hanya merasa kagum pada Tuan. Tuan Muda benar-benar berhati baik. Sebelum Tuan ada, para penduduk desa selalu kelaparan setiap kekeringan. Saudagar-saudagar kaya tak berniat membantu warga yang kesusahan sama sekali. Tapi, Tuan Muda benar-benar berbeda.”
Lagi-lagi, pujian dilontarkan oleh seorang pengawal. Meski begitu, Leonardo sama sekali tak tinggi hati. Mengingat, ia bukanlah siapa-siapa di masa depan. Ia hanya seorang remaja yang juga amat membutuhkan bantuan. Sehingga, mendapati berkah perubahan drastis seperti itu; membuat Leonardo selalu teringat pada orang-orang yang membutuhkan bala bantuan.
Satu jam
Dua jam kemudian,
Leonardo dan beberapa pengawal telah kembali dari aktivitas menukar uang dan berbelanja. Kini, kereta pembawa bekal yang mereka sertakan sewaktu perjalanan; telah terisi penuh dengan bahan makanan.
“Duncan, esok pagi bergegaslah mengumpulkan para warga yang sedang kesusahan; yang ada di dalam daftar. Minta mereka berbaris untuk mendapatkan bahan makanan yang dibagikan. Kau jangan lupa mengatur beberapa pengawal baru untuk membantumu,” Leonardo menginstruksi.
“Baik, Tuan. Saya mengerti,” Duncan mengangguk paham.
Sementara Duncan masih bersibuk dengan seabrek pekerjaan, Leonardo beralih masuk ke dalam rumah. Berniat untuk mengistirahatkan badan.
Seperti biasa, setiap Leonardo kembali ke rumah, Priscilla sudah dalam keadaan tertidur pulas di atas ranjang. Sembari menatap sang pujaan, Leonardo bergumam. Berjanji akan suatu hal. Kau tenang saja, Prisc. Aku akan kembali menangkap begundal yang melarikan diri itu.