“HEI! Hei, kalian para paruh baya? Mengapa kalian menyerah begitu saja?”
***
Melihat Jack ditinggalkan oleh dua orang Kepala Desa, Leonardo spontan tersenyum bahagia.
“Lihatlah, Jack. Itu pertanda, jika kau harus bermalam di sini. Beralaskan tanah kecokelatan sembari melihat keindahan bintang yang bertaburan nanti malam,” Leonardo berujar. Beralih meninggalkan Jack yang tak henti meronta; meminta untuk dilepaskan.
Kini, Leonardo telah berada di ambang pintu gerbang depan. Sontak, para penduduk bertepuk tangan. Bagaimana tidak, Leonardo baru saja menangkap salah seorang warga yang meresahkan. Paling tidak, biang dari kegaduhan di desa; tak bisa berkutik usai terikat tali pada sebuah pohon besar.
“Tuan, kau memang hebat sekali. Kau berhasil membuat dua orang Kepala Desa, pulang dengan tangan hampa,” Salah seorang penduduk memuji.
Sejatinya, Leonardo belum melakukan apa-apa terhadap para pemimpin mereka. Bahkan, Leonardo hanya sekedar memberi gertakan saja. Namun, ternyata hal kecil itu mampu mengalahkan para pemimpin korup tersebut. Yah! Setidaknya, meski mereka kehilangan Jack Rumondor, mereka masih bisa bernapas di kemudian hari; menyambut datangnya pundi-pundi dari sosok bandit-bandit lain. Tentu, itulah yang Kepala Desa pertimbangkan, sebelum beranjak meninggalkan sosok Jack seorang diri.
“Baiklah, kalau begitu biarkan kami mulai bekerja. Kalian bisa kembali pulang ke rumah masing-masing. Dan, aku akan memastikan jika masalah kalian dapat teratasi dengan baik,” Leonardo berujar. Melempar senyum pada kerumunan para warga.
Usai penduduk desa beralih pergi, Leonardo mendapati beberapa tumpuk lembar kertas. Keluhan demi keluhan telah terkumpul di dalam pokok masalah yang sama.
Spontan, Leonardo memijat pelipis. Kemudian berujar, “Apa benar keluhan para warga sebanyak ini, Duncan?”
“Te-tentu, Tuan,” Duncan menyahut sungkan. Bagaimana pun, para pengawal sudah memberi peringatan pada sang majikan. Hanya saja, Leonardo tetap bersih keras untuk membantu para warga.
“Baiklah, kalau gitu mari kita tuntaskan masalah satu per satu,” Leonardo menginstruksi. Mulai memilah perihal pokok masalah yang ada.
******
Beberapa saat kemudian,
“Duncan, mari kita menuju desa yang baru saja dirampok ini. Kasus pencurian hewan ternak tak bisa disepelekan. Bagaimana pun, hewan-hewan itu bertugas untuk menunjang kehidupan para warga di desa,” Leonardo mengarahkan.
Duncan dan beberapa pengawal bergegas mengikuti gerak langkah sang majikan. Kini, pemuda-pemuda tersebut sedang menghampiri tunggangan mereka masing-masing.
Hiaa!
Moe Gayo baru saja meringkik. Sesaat usai Leonardo menapaki pijakan kaki.
Dan,
“Hei, Jack! Kau beristirahatlah saja di sana. Aku akan pergi melaksanakan tugasku,” Leonardo berujar. Sedikit berlaga sok-sokan.
Jack terdiam. Ia tak berniat membalas ucapan.
Lalu,
Leonardo menjentikkan jemari tangan. Mengisyaratkan jika beberapa pengawal bertubuh kekar, harus berpindah posisi. Yakni, berada di dekat sang tawanan.
“Aku dan beberapa pengawal baru akan kembali melakukan perjalanan. Sedangkan kalian, aku tugaskan untuk menjaga bandit menyebalkan ini. Jangan biarkan ia terbebas dari ikatan. Jika, dia melawan, beri saja dia pelajaran sesuka hati kalian. Tapi, ada satu hal yang harus kalian ingat; kalian tak boleh membunuh pemuda itu. Pastikan ia tetap bernapas hingga aku kembali pulang,” Leonardo memberi amanah.
Para pengawal segera menunduk patuh pada sang majikan muda.
Tak lama setelah itu, Leonardo dan pengawal baru tak lagi menampakkan batang hidung di pelataran rumah. Mereka baru saja melewati ambang pintu gerbang yang menjulang.
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Hanya suara tapakan kaki kuda yang terdengar. Semakin melirih. Pertanda, gerombolan pemuda tersebut telah beranjak pergi.
Di saat sang majikan tak lagi menampakkan diri, salah seorang pengawal bertubuh kekar terlihat mendekat ke arah Jack. Ia membisikkan suatu hal.
“Hei, Jack. Apa kau kesal dengan sikap Tuanku tadi?” Pengawal itu bertanya. Menampakkan gurat berbeda.
Jack melongo, “Apa yang sedang kau tanyakan padaku, hah? Bukankah, kau bisa melihat sendiri perilaku Tuanmu kepadaku? Sudah jelas, aku kesal sekali pada dia,” Jack menyahut. Melebarkan bola mata. Memandang tajam sang lawan bicara.
“Jika begitu, apa kau masih ingin membalas dendam padanya?”
Cih!
Jack berdecik. Sebenarnya, apa yang sedang diinginkan pengawal ini? Apa ia ingin bersekutu denganku?
“Sudahlah, katakan saja langsung perihal yang kau inginkan? Kau jangan berbasa-basi denganku. Aku terlampau hafal dengan gelagat orang-orang yang sedang berniat mengkhianati majikannya,” Jack berujar. Memberi pertanyaan telak pada sang pengawal.
Sontak, pengawal itu menyengir. Sejatinya, kalimat yang dikatakan oleh Jack benar-benar tepat. Yakni, pengawal tersebut berniat berkomplot dengan Jack. Tentu, untuk membalas dendam pada sang majikan, yang pernah memukul ia tanpa alasan.
“Tapi, apa kau yakin akan mengkhianati majikanmu?” Jack mengkonfirmasi.
Sang pengawal mengiyakan, “Tentu saja. Aku kesal sekali padanya. Sejak pertama ia berada di sini, ia terlalu bertindak seenaknya. Ia menghujamku dengan pukulan hanya untuk mengancam para pengawal. Bukankah, satu pukulan harus dibalas dengan pukulan. Dan, kulihat tadi; kau begitu hebat. Kau merupakan lawan yang sebanding dengan Tuanku itu.”
“Ck! Jadi, ini semua karena rasa sakit hatimu usai dia memukulmu tanpa alasan?” Jack menyeringai.
Tak menunggu lama, sang pengawal menyelipkan sebilah benda tajam; cukup untuk menggores tali tampar dengan perlahan. Dengan begitu, Jack akan terbebas; tanpa ada yang tahu jika seorang pengawal baru saja membantu Jack untuk membebaskan diri dari ikatan.
Cih!
Rupanya, tak hanya perampok yang cocok disebut dengan bandit. Melainkan, seorang pengawal yang dikenal setia, juga bisa menjadi bandit seperti dia. Jack bergumam. Menelisik salah seorang pengawal, yang baru saja berlaga berjaga di sana.
******
Tak terasa hari mulai beranjak sore.
Para pengawal bergantian berjaga. Sedangkan, Jack sedang mencari waktu paling tepat untuk melarikan diri. Benar saja, sudah lima menit lamanya, Jack memperhatikan area sekitar; terutama saat ikatan tali tampar mulai terlepas.
Usai memastikan situasi dan kondisi tak terlalu mencekam, Jack benar-benar melepaskan diri dari ikatan tali. Menjauhkan posisi tubuh dari sebuah batang pohon.
Dan,
“HEI! Kau?” Salah seorang pengawal berseru lantang, sesaat usai memergoki seorang tawanan berniat kabur.
Teriakan itu menggugah setiap pandangan para pengawal. Spontan, pengawal-pengawal itu berlari cepat. Mendekat ke arah sang tawanan. Hanya saja, Jack sungguh pemberani. Ia memulai baku hantam. Tak henti menghujam tubuh para pengawal dengan bertubi. Tak jarang, pengawal-pengawal itu tergelepar. Meringis kesakitan. Meski, beberapa dari mereka kembali bangkit. Tetap saja, Jack mampu mengalahkan mereka semua.
Pada akhirnya,
“Selamat merasakan bogem mentahku ini, wahai para pengawal bodoh!” Jack berujar. Mengumpat dengan seringai penuh kemenangan. Bergegas pergi dari rumah seorang Leonardo Mandela Lombogia.
******
Sepeninggal Jack Rumondor dari kediaman sang majikan, para pengawal berkumpul. Bercakap dengan gusar.
“Bagaimana ini? Tak mungkin Tuan Muda akan memaafkan kita kali ini.”
“Kau benar. Tapi, tak ada gunanya mengejar begundal itu. Dia terlalu kuat,” Salah seorang pengawal menyahut minder.
Padahal, sudah bertahun-tahun mereka bekerja di sana. Namun, tetap saja. Mereka tak pernah mendapati seorang pemuda sekuat Jack.
Maka dari itu, dengan berat hati, para pengawal harus mempersiapkan diri. Sudah jelas, mereka akan mendapatkan hukuman nanti; sepulang Leonardo melakukan perjalanan hari itu.
Benar saja, tak lama setelah mereka membuyarkan agenda berkeluh, suara tapakan kaki kuda terdengar bersahut-sahutan.
Sontak, Moe Gayo mendecitkan langkah. Meringkik; usai Leonardo menghentikan laju pergerakan si hewan dengan tiba-tiba.
Ke mana pemuda itu? Ck, apa para pengawal itu bekerja dengan tak becus lagi? Leonardo bergumam kesal. Kembali melajukan Moe Gayo pada sebuah pohon besar.
Duncan yang peka terhadap situasi sore itu, segera mengumpulkan segenap para pengawal. Membentuk barisan rapi. Meski, kini seluruh pengawal yang tersisa sedang dalam kondisi babak belur.
Lalu,
“Apa kalian baru saja kehilangan seorang Jack Rumondor?” Leonardo bertanya. Menatap satu per satu pada barisan pria bertubuh kekar di sana.
“Ma-maafkan kami, Tuan,” Salah seorang menyahut terbata. Sejatinya, ia benar-benar takut jika sang majikan akan menghabisi mereka; karena tak lagi becus dalam bekerja.
Namun,
Alih-alih marah, Leonardo justru terdiam. Sungguh, ia mengetahui sosok Jack yang sebenarnya. Yakni, seorang pemuda yang memiliki keberanian cukup tinggi. Tak lupa disertai dengan kemampuan ilmu bela diri berlebih. Jika saja, Leonardo tak mendapati kemampuan itu dengan cuma-cuma, maka ia sudah pasti menjadi salah satu dari para pengawal; yang berakhir dengan luka lebam.
“Baiklah, kali ini aku takkan marah pada kalian. Tapi—” Leonardo menjeda ucapan.
Pria-pria yang sedang berbaris itu, spontan menelan ludah. Tak siap dengan kalimat yang hendak dilanjutkan oleh sang majikan.
Usai berpikir sejenak, Leonardo kembali menuntaskan perkataan.
“Tapi, setelah ini kalian harus bersiap untuk berlatih ilmu bela diri dengan tekun. Kalian harus berlatih langsung denganku; sebagai lawan kalian nanti. APA KALIAN MENGERTI?” Leonardo berujar dengan nada meninggi.
Para pengawal sontak gelagapan. Namun, mereka tak memiliki pilihan; selain menyanggupi perintah sang majikan.
“KAMI MENGERTI, TUAN,” Pengawal-pengawal itu menyahut bersamaan.