RHUBARB

1544 Kata
Dia kan pemuda itu. *** “HEI! Kau? Berhenti di situ!” Leonardo berseru. Menggelegarkan suara. Berlari cepat menghampiri seorang pemuda, yang sudah membalikkan badan; berusaha keluar dari dalam kerumunan. “HEI! Tunggu!” “Permisi,” Di sela Leonardo berteriak, ia juga tak lupa meminta para warga untuk memberi jalan. “HEI! Pemuda sialan!” Kali itu, teriakan Leonardo berhasil menggugah perasaan jengkel seorang pemuda yang sedang berlari. Kemudian, “Ah! Akhirnya, kau memanggilku dengan benar,” Pemuda itu berkata. Menyengir dengan tampang tak bersalah. Merasa tak keberatan atas julukan yang Leonardo tujukan. “Kau? Kau itu benar-benar sialan! Mengapa kau berani sekali menampakkan dirimu di sini?” Leonardo mengeram. Hampir melayangkan sebuah bogeman. Cih! “Rupanya, rumor yang beredar itu benar. Kau benar-benar tampan. Tapi, entahlah. Apa kau sekuat yang anak buahku bicarakan?” Pemuda itu berujar. Alih-alih menyahut pertanyaan dari Leonardo, ia justru memprovokasi sang lawan bicara. Tak Leonardo sangka, ternyata pemuda yang sedang ia incar. Ia cari keberadaannya. Justru, berbaik hati menampakkan diri. Bahkan, tanpa undangan beserta kalimat permisi. Lalu, “Perkenalkan namaku Jack. Jack Rumondor,” Pemuda itu menyebut sebuah nama. Melayangkan tangan kanan. Berniat mengajak bersalaman. Namun, “Sudahlah, kau tak perlu berbasa-basi. Katakan saja perihal tujuanmu ke mari?” “Ck! Rupanya, pemuda yang sedang berlaga baik hati pada para penduduk di sini, adalah seorang pemuda yang tak sabar sepertimu. Aku salah menilaimu,” Jack kembali mengutarakan kalimat menyindir. Tak hanya kalimat itu saja, melainkan ia mulai bergerak. Mengambil kesempatan. Melayangkan sebuah bogem, di saat ia merasa sang lawan mulai lengah. Wussh! Hanya saja, Leonardo berhasil menghindar dari sebuah pukulan yang dilayangkan oleh Jack. Keberhasilan Leonardo tersebut, membuat Jack semakin merasa tertantang. “Ternyata, kau memang mahir dalam menghindar. Cih! Tapi, jangan harap kau bisa terus menghindariku,” Jack berujar. Menyeringai licik di wajah. Tiba-tiba, Wussh! BUG! BUG! Kyaa! BUG! Kini, dua pemuda tersebut sedang beradu otot. Mereka menyebabkan kerumunan warga berteriak histeris akan pemandangan yang tersuguh pagi itu. Sembari terus beradu hantam, Jack mengatakan perihal maksud dan tujuan ia mendatangi kediaman sang lawan. “Aku rasa, kau masih ingat betul pada anak buahku yang kau hajar hingga babak belur. Dan, aku ke mari untuk memberi perhitungan padamu,” Jack berujar. Wussh! Mengudarakan pukulan. BUG! Tanpa basa-basi lagi, beragam pukulan dan tendangan tak henti mereka berdua layangkan. Hanya saja, kali itu Leonardo harus mengerahkan segenap kekuatan untuk melawan sang lawan. Bagaimana tidak, pagi itu ia bertemu dengan seorang lawan yang sebanding. Mereka sama-sama kuat. Berotot. Memiliki banyak jurus bela diri. Dan, yang pasti mereka sama-sama tak terkalahkan. Dengan kemampuan itulah, Jack Rumondor bisa percaya diri; saat menegaskan, jika ia adalah pemimpin dari bandit-bandit di perbatasan. Cih! Leonardo membalas dengan berdecik, “Memberiku perhitungan? Kau jangan terlalu percaya diri, Jack. Karena aku akan membuatmu tak lagi bisa berhitung. Jadi, bermimpilah saja jika ingin membuat perhitungan denganku.” Kemudian, WUSSH! Sebuah bogem melesat. Melayang dengan sekuat tenaga. Dan, Bruk! Bukan Leonardo yang terjatuh. Melainkan, Jack baru saja tersungkur. Berhasil dikalahkan dengan satu buah bogem yang Leonardo daratkan. Haha! Cuih! Jack menyengir. Membuang ludah. Lalu, bergegas bangkit dari posisi tersungkur saat itu. Mengarahkan tangan kiri untuk berkacak pinggang. Sementara, tangan lain ia gunakan untuk menyentuh rahang. Berusaha meminimalisir rasa nyeri pada sudut bibir, yang berhasil dihujam oleh pukulan. Di sela kedua pria tersebut hendak kembali melanjutkan adegan pertikaian, suara gemerincing dari kereta kencana terdengar. Tak lupa dengan suara cemeti dan tapakan kaki kuda pada sisi depan kereta. Baik Leonardo dan Jack spontan mengalihkan pandang. Menyorot pada seorang wanita yang baru saja keluar dari balik pintu kereta. Jack meregangkan kepala. Menggeretak tengkuk yang terasa pegal. Kemudian, menyeringai menggoda pada seorang wanita cantik nan jelita. “Hai, cantik? Akhirnya, aku bisa berjumpa denganmu juga,” Jack berujar. Sesaat usai Priscilla berjalan tepat di hadapan Jack. Sontak, Leonardo tak tinggal diam. Sungguh, ia enggan melihat tatapan seorang pemuda yang sedang berusaha merayu sang kekasih waktu itu. “Hei, Jack. Tak tahukah kau, jika Priscilla itu milikku?” Leonardo berujar percaya diri. Jack melongo, “Apa kau bilang? Milikmu? Asal kau tahu, Priscilla ini adalah milik para pria di seluruh penjuru desa.” PLAK! Tanpa banyak bicara, Priscilla melayangkan tamparan keras. Tamparan itu berhasil mendarat pada sisi yang sama; sisi saat Jack baru saja mendapat bogem dari Leonardo. Nahas, Jack terpaksa merasakan sakit untuk kali kedua. “Hentikan omong kosongmu itu, wahai pemuda tak tahu sopan santun,” Priscilla berucap penuh rasa kesal. Sungguh, ia geram pada para pemuda tak tahu diri seperti itu. Terlebih lagi, pada seorang pemuda yang hendak melampiaskan niat buas kepadanya pada beberapa waktu silam. “Sudahlah, Prisc. Sebaiknya kau masuk saja, biar aku yang mengurus pemuda bernama Jack Rumondor ini.” Sontak, “Apa yang baru saja kau katakan, Leonardo? Jack Rumondor?” Priscilla memekikkan suara. Teringat pada suatu kabar yang baru saja didapatinya. “Benar, apa kau mengenal pria ini?” Leonardo bertanya heran. Menatap Priscilla dan Duncan bergantian. Saat itu, sang pengawal hanya bisa mengisyaratkan mata. Jika, Priscilla baru saja mengetahui kebenaran yang ada. “Kau? Kau itu benar-benar bandit tak tahu diri! Bisa-bisanya, kau membunuh sepasang suami istri yang hendak melintas perbatasan. Memang, apa salah mereka, hah?” Priscilla menghampiri Jack. Menghujam bahu pemuda itu dengan kasar. Meski begitu, kepalan tangan Priscilla takkan berarti apa-apa; tak memberi rasa sakit meski sedikit saja. Amarah bercampur rasa kecewa dan sedih membuncah menjadi satu. Priscilla tak lagi dapat menahan rasa pilu. Kemudian, “Prisc, sebaiknya kita masuk saja ke dalam. Aku akan meminta para pengawal untuk membereskan pemuda itu,” Leonardo mengarahkan. Duncan dan para pengawal yang sedang berjaga di depan pagar depan, sontak bergerak cepat. Bergerombol. Membekuk sang pemuda. Menjadikan pemuda yang tak tahu rasa bersalah itu, sebagai seorang tawanan di rumah sang majikan. “Lepaskan saja aku. Sehingga, kalian tak perlu membuang-buang tenaga seperti itu. Aku akan berjalan sendiri,” Jack berujar. Menatap beberapa pengawal dengan seringai menyebalkan. Namun, tetap saja. Seorang tawanan harus diperlakukan dengan cara dan sikap yang kasar. Issh! Sepertinya, si Leonardo itu mempekerjakan para pengawal yang tak dapat mendengar. Jack bergumam. Sesaat usai menyaksikan para pengawal tak berniat melepas cekalan tangan. Tak menunggu lama, kini Jack sudah berada di bawah sebuah pohon besar. Pohon itu berdiri tepat di samping Moe Gayo sedang beristirahat. Tak lupa dengan sebuah tali tampar berukuran besar nan panjang, yang melingkar. Melilit tubuh si pemuda menyebalkan. Issh! “Apa perlu mengikatku seperti ini?” Jack bertanya. Menatap singkat pada beberapa pengawal yang bersibuk melingkarkan ikatan tali tampar. “Seharusnya, kau tak bermain-main dengan Tuan Muda kami,” Salah seorang pengawal menyahut. Menggeleng heran pada sosok pemuda yang dikenal di seluruh penjuru desa. Sementara itu, Leonardo kembali menampakkan diri dari balik ambang pintu utama. Menatap lekat seorang pemuda yang tak henti menyeringai licik kepadanya. Cuih! Jack kembali membuang ludah. “Seharusnya, kau tak bermain keroyokan seperti ini.” “Apa kau bilang? Keroyokan? Bukankah, anak buahmu yang terlalu suka mengeroyok warga di perbatasan? Salah satunya, mendiang orang tua Priscilla,” Leonardo menyahut. Tak lupa sembari mengarahkan sebuah bogem mentah pada sisi perut seorang tawanan. BUG! Huk! Jack terbatuk. Sesaat usai mendapati pukulan yang mendarat pada area perut. Lalu, “Lantas, apa yang hendak kau lakukan usai menahanku seperti ini? Apa kau tidak tahu, jika sebentar lagi—” Belum tuntas Jack berbicara, dua orang Kepala Desa baru saja menerobos masuk ke dalam hunian termegah di desa. Haha! “Lihatlah. Kau takkan bisa menahanku. Bukankah, tindakanmu ini akan merugikan dirimu sendiri?” Jack berujar percaya diri. Tak takut sama sekali. Sesaat usai melihat dua orang paruh baya, yang tak asing di dalam netra. Kemudian, “HEI! Kau? Anak muda? Siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu di sini? Kau berasal dari desa mana?” Seorang Kepala Desa bertanya. Berkacak pinggang. Menunjukkan raut sangar. Sedangkan, seorang Kepala Desa; yang memimpin pemukiman asal Jack Rumondor, masih bersibuk dengan sebuah cerutu berwarna cokelat tua. “Pak Kepala, perihal siapa namaku dan dari mana asalku, itu bukan hal terpenting saat ini. Bukankah, kalian ke mari untuk mengambil pundi-pundi penghasilan yang sedang kuikat ini? Jadi, bawa saja dia. Tapi, jangan harap kalian bertiga akan keluar dari rumahku dengan keadaan selamat,” Leonardo menyahut. Sontak, dahi dua orang Kepala Desa itu berkerut. Leonardo menyengir. Menjelaskan perihal isi kalimat yang baru saja ia lontarkan. “Sederhana saja. Jika, kalian berdua membawa pemuda ini sekarang, itu tandanya kalian akan melewati kerumunan warga. Dan, mereka takkan tinggal diam. Aku pun juga. Lagi pula, ini adalah hal mudah untukku. Aku hanya tinggal berseru; meminta para warga untuk menghakimi kalian. Dengan begitu, kalian takkan keluar dengan selamat.” “Ck! Kau percaya diri sekali, anak muda. Para penduduk desa takkan seberani itu menghajar pemimpin di sini.” Sh! “Mereka memang takkan berani jika melawan kalian seorang diri. Tapi, lihatlah. Kini, mereka sedang bergerombol di depan rumahku. Mereka mempercayaiku. Jadi, bukankah kalian sudah dapat menyimpulkan perihal yang hendak terjadi? Jika, kalian bisa berakhir dengan babak belur nanti?” Mendengar ancaman yang Leonardo lontarkan, sontak kedua Kepala Desa tersebut memilih pergi. Tak melanjutkan niat semula; untuk menyelamatkan seorang pemuda yang sedang ditawan di sana. “HEI! Hei, kalian para paruh baya? Mengapa kalian menyerah begitu saja?” Jack berteriak. Meronta-meronta. Berusaha melepaskan diri dari ikatan tali yang melilit tubuhnya saat itu. Menatap tak percaya pada dua orang Kepala Desa, yang meninggalkan ia begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN