OLD WOUNDS

1411 Kata
“Baiklah para Ibu-ibu dan Bapak-bapak, aku akan mengerahkan segenap kemampuan untuk membantu kalian.” *** Spontan, suara sorak sorai kembali membahana. Bedanya, kali itu para warga berseru dengan penuh suka cita. Usai mendengar kesanggupan yang Leonardo beri, penduduk desa mulai meninggalkan tempat kerumunan. Mereka berbalik arah menuju rumah masing-masing; kembali melanjutkan istirahat malam. “Tuan, apa Tuan yakin ingin membantu mereka semua?” Duncan bertanya. Menatap heran pada sang tuan muda. “Tentu saja. Apa pertanyaanmu itu menandakan jika kau ragu dengan kesungguhanku?” “Bu-bukan itu, Tuan. Melainkan, saya mengkhawatirkan keselamatan Tuan Muda,” Duncan menyahut. Sedikit gelagapan. “Memang, apa yang kelak akan terjadi padaku? Hingga, kau cemas seperti itu? Lagi pula, bukankah menolong sesama adalah kewajiban kita? Dan, hal itu merupakan hal baik yang sudah seharusnya dilakukan.” “Me-memang benar demikian, Tuan. Tapi, jika Tuan membantu membasmi para bandit itu, tandanya Tuan juga harus berurusan dengan setiap Kepala Desa di sini,” Duncan menjelaskan. Leonardo memanggutkan kepala. Duncan benar juga. Perjalananku dalam membantu warga, mungkin akan terjal dan berliku. Mengingat, para pemimpin yang korup di seluruh penjuru desa takkan membiarkanku begitu saja. Hhh! Pada akhirnya, helaan napas menjadi penyerta. Alih-alih kembali menanggapi rasa cemas seorang pengawal, Leonardo justru memilih mengakhiri pembicaraan. “Sebaiknya, kita bicarakan hal ini lagi pada esok hari,” Leonardo memutuskan. Duncan menunduk patuh. Beralih meninggalkan sang tuan. Di saat Leonardo beranjak masuk ke dalam rumah, Priscilla menampakkan diri dari balik ambang pintu utama. “Priscilla? Mengapa kau terbangun?” Leonardo bertanya. Menatap lekat seorang wanita cantik nan jelita. “Aku mendengar suara berisik di luar rumah. Lagi pula, saat aku membuka mata, aku tak juga menjumpaimu. Aku kira—” Sstt! Leonardo berdesis, “Aku tak mungkin meninggalkanmu. Bukankah, aku sudah mengatakan jika akan bermalam lebih lama di sini?” Leonardo menyergah kalimat Priscilla. Seakan, ia tahu perihal arah pembicaraan sang wanita. “Baiklah,” Priscilla mengiyakan. Menaruh rasa percaya. Kini, dua orang muda-mudi berkisar usia pertengahan dua puluhan itu sedang berjalan bersama. Menuju sebuah ruang makan. Mengingat, seharian Leonardo bersibuk melakukan perjalanan. Sehingga, pria tersebut hanya sempat menikmati makan pagi saja. “Kau tunggulah dulu. Aku akan memanaskan lauk untukmu,” Priscilla berujar. Sang wanita bergerak aktif di depan penggorengan. Sembari menunggu Priscilla menyelesaikan aktivitas, Leonardo tak henti menatap lekat seorang wanita dari kejauhan. Kemudian, “Priscilla, bolehkah aku bertanya suatu hal?” Priscilla spontan membalikkan badan. Saat itu, ia telah menuntaskan aktivitas menggoreng lauk pada sebuah sudut ruang. “Tentu saja.” “Apakah benar orang tuamu meninggal karena hal tak terduga?” Leonardo bertanya ambigu. “Apa maksud dari pertanyaanmu itu, Leonardo? Hal tak terduga? Contohnya, seperti apa?” Priscilla kembali melempar tanda tanya. Gurat di wajah menunjukkan kepolosan. “Seperti terbunuh karena tindak kejahatan, misalnya?” Leonardo memberanikan diri untuk berucap. “APA?” Priscilla mengerutkan dahi. Menatap tak percaya. “I-iya,” Leonardo tergagap seketika. Bulir keringat tiba-tiba menetes; menjadi hiasan di atas bentukan alis sang pria. “Aku dengar dari salah satu pengawal, jika—” “Tidak! Tidak mungkin,” Priscilla menyergah. Ia terkejut tiada tara. Jadi, Priscilla tak tahu menahu perihal penyebab kematian orang tuanya? Leonardo bergumam tak percaya. “I-itu hanya sedikit hal yang baru kudengar. Selagi, kita belum mendapatkan bukti maka sebaiknya kita tak boleh segera percaya,” Leonardo berujar. Sedikit menyelimur. Sontak, gurat sedih tersumbul di balik wajah sang wanita. Sungguh, kalimat yang Leonardo ucapkan menjadi kabar berita yang membawa duka. Benar saja, setahu Priscilla; kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, bukan karena unsur kesengajaan. Hiks! Namun, tetap saja. Isak tangis kembali terdengar. Bagaimana tidak, jika membahas perihal sepeninggal kedua orang tuanya, itu pertanda; wanita tersebut harus kembali memutar memori. Yakni, seputar kenangan sedih. Tepatnya, sepuluh tahun silam. Semua hal yang Priscilla miliki sontak berubah drastis. Orang tua, harta, kedudukan dan hal lain spontan merayap pergi. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Priscilla tak lagi menjadi salah satu putri dari keluarga kaya raya. Waktu itu, berita kecelakaan beredar. Ditambah lagi, rumor perihal hutang piutang yang dilakukan oleh kedua orang tuanya; menyebabkan Priscilla harus kehilangan seluruh harta. Tentu, untuk melunasi hutang kedua orang tua yang telah berpulang. Semenjak itulah, Priscilla terpaksa tinggal di sebuah gubuk tua. Reyot. Kumuh. Dan, tak layak. Kehidupan nestapa pun tak dapat terelakkan. “Ma-maafkan aku, Priscilla. Tak seharusnya, aku bertanya,” Leonardo terbata. Ia sungguh menyesal telah membuka kembali kenangan yang telah Priscilla kubur dalam-dalam. “Ti-tidak apa-apa, Leonardo. Lagi pula, aku sudah mengikhlaskan semua hal yang pernah terjadi itu,” Priscilla menyahut. Berusaha untuk menegarkan hati yang sedang tersakiti. Melihat dan mendengar kisah pilu sang wanita, Leonardo berniat takkan tinggal diam. Ia akan menangkap para bandit yang bertahun-tahun sukses berkeliaran. Kali itu, Leonardo takkan membiarkan mereka merasakan hawa sejuk dari pedesaan. Leonardo berjanji akan memberi hukuman yang sepadan. Meski, ia tak bisa mengandalkan para Kepala Desa di sana. Seketika, bayangan Kyteler teringat di dalam benak. Leonardo sontak ingin bergegas menemukan pemuda yang sedang ia incar. Lalu, membawa pemuda itu kepada seorang penyihir di dunia lain. Yakni, dunia magis yang dapat ia tembus dengan mudah. “Baiklah, Leonardo. Sebaiknya, sekarang kau makan saja. Aku akan kembali beristirahat,” Priscilla berpamitan. Menghapus sedikit bulir air mata yang membekas. Leonardo mengiyakan. Berusaha memberi kelonggaran; agar Priscilla dapat menenangkan diri di dalam kamar. Sembari makan, Leonardo menatap bayangan dirinya di depan piring kaca. Piringan berwarna putih itu menampakkan paras yang rupawan di wajah. Kemudian, Sepertinya, Kyteler benar. Usai menjalani kehidupan untuk beberapa waktu di masa ini, aku merasa; jika aku menjadi lebih suka tinggal di sini. Leonardo membatin. Memutar memori perihal perbedaan drastis pada kehidupan yang sedang ia jalani. Lagi pula, aku masih harus membantu Priscilla. Aku akan membantu para penduduk desa. Dan, yang pasti aku akan menjalani hidup lebih bahagia; dengan paras tampan, harta kekayaan, tahta dan wanitaku di sini. Usai bersimpul. Leonardo bergegas melanjutkan aktivitas makan malam. Setelah itu, ia harus merebahkan badan. Sebelum kembali menjalani hari esok yang memadat dan memiliki banyak tujuan. ****** Keesokan harinya. Sayup-sayup kicauan burung kembali terdengar. Leonardo mengerjap mata. Beranjak keluar dari dalam kamar. Beralih mencari sosok Priscilla. “Pelayan, mengapa sedari tadi aku tak menjumpai Priscilla? Ke manakah dia sepagi ini?” Leonardo bertanya. Sesaat usai menapaki batas ruang tengah dan ruang makan. “Pagi-pagi buta tadi, Nona Muda berpamitan keluar. Ia bergegas. Namun, tak berkata hendak pergi ke mana.” Seketika, garis di dahi Leonardo bergerombol. Menggurat dengan penuh rasa heran. Sontak, ia menuju ke halaman depan. “DUNCAN?” Leonardo berseru lantang. Namun, bukan Duncan yang datang. Melainkan, pengawal lain di sana. “Ada apa, Tuan?” “Apa kau melihat Duncan?” “Tadi pagi, saya melihat Duncan berlalu pergi bersama Nona Muda,” Pengawal itu menyahut. Benar saja, kereta kencana yang setiap hari terparkir di sisi samping halaman rumah, tak lagi ada. Tampaknya, Priscilla pergi bersama seorang pengawal. Yah! Pengawal itu adalah Duncan. Issh! Bagaimana ini? Firasatku menandakan jika Priscilla sedang pergi untuk mencari tahu informasi perihal kematian kedua orang tuanya. Leonardo bergumam gusar. Tak menunggu lama, pemuda itu menghampiri Moe Gayo. Bergegas menaiki sang kuda berwarna cokelat. “Moe Gayo, maafkan aku. Pagi ini, kau harus kembali menggunakan tungkaimu dengan cepat. Kita harus segera menemukan Priscilla,” Leonardo berujar. Mulai mengarahkan cemeti kuda yang melingkar. Hiaa! Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! Namun, Cit! Hiakh! akh! Moe Gayo terpaksa menghentikan pergerakan. Bagaimana tidak, sesampai mereka di depan pintu gerbang, jalur menuju keluar rumah sudah terblokir oleh kerumunan warga. “Tuan?” Salah seorang pengawal menyapa. Hanya saja, sapaan itu segera disergah begitu saja oleh salah satu penduduk desa. “Tuan? Tuan Muda hendak pergi ke mana? Kami ingin menyampaikan keluhan kami. Kami ingin Tuan Muda bergegas membantu kami.” Haish! Leonardo mengeram. Sungguh, ia tak pernah membayangkan jika para warga seantusias itu. Bahkan, mereka sudah berkumpul meski hari baru berganti menjadi pagi. Leonardo menyugar puncak kepala. Terpaksa menuruni tunggangan kuda. Hhh! Helaan napas menjadi awal kalimat. Sebelum pada akhirnya, “Baiklah, kalian bisa menyampaikan keluhan kalian.” Dan, “Para pengawal, tolong kalian atur barisan. Buat saja mereka menulis keluhan berdasar titik masalah yang sama,” Leonardo menginstruksi. Pengawal-pengawal tersebut segera mengarahkan para penduduk. Mereka tak lupa membawa beberapa lembar kertas dan pena bertinta hitam. Meminta warga untuk mengantri. Menulis satu per satu masalah yang sedang mereka hadapi. Selagi, Leonardo memperhatikan para pengawal merapikan barisan; mengurus para warga, bayangan seorang pria yang tak asing, mulai menampakkan diri di delam netra. Pemuda itu sedang berkerumun bersama para penduduk desa. Lalu, Dia kan pemuda itu. Leonardo bersimpul. Menatap tajam dengan seribu keyakinan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN