DISTINGUISH ONESELF

1380 Kata
“Kau harus ingat, jangan pernah bercerita tentang harta karun ini pada siapa pun.” *** Mendengar petuah yang diberi oleh sang kakek, Leonardo tak banyak menyanggah. Sejatinya, seorang Leonardo Mandela Lombogia adalah pemuda yang amat menghormati orang tua. Sehingga, anggukan kepala menjadi penyerta saat pria paruh baya itu meminta Leonardo merahasiakan perihal harta karun, yang baru saja ia ceritakan. “Baiklah, kalau begitu, Kek. Kali ini aku dan para pengawalku harus benar-benar pergi dari desa ini. Aku tak ingin membuat seorang wanita menungguku terlalu lama,” Leonardo mengakhiri perbincangan rahasia. Beralih berpamitan. Sang kakek mengiyakan. Kini, Leonardo beserta para pengawal sudah beranjak pergi dari hunian sederhana. Mereka berjalan dengan langkah cepat. Bergegas menghampiri beberapa ekor kuda, yang semula mereka tinggalkan. Selagi para pria tersebut menyisir jalanan setapak, hari mulai berganti. Suasana yang semula terang, perlahan mulai meredup. Menampakkan bayangan samar akan perjalanan yang harus mereka tempuh dalam beberapa kilometer ke depan. “Duncan, apa kau dan para pengawal lain sempat mempersiapkan lampu penerangan sebelum berangkat ke mari?” Leonardo bertanya. Duncan melempar senyum. Tak lupa ia mulai mengarahkan para pengawal lain untuk memberhentikan perjalanan. Sementara itu, Leonardo tercengang. Apa yang hendak mereka lakukan? Benar saja, saat langkah kaki tak lagi terdengar, alih-alih menjawab; para pengawal sedang bersibuk mengambil beberapa batang dari pohon bambu yang menjulang. Dengan sebuah kapak yang mereka bawa, para pengawal itu bergegas memotong beberapa bilah bambu. Bambu-bambu yang masih berwarna hijau tersebut segera beralih fungsi, sesaat usai para pengawal memasukkan serabut kelapa; menjadi kepalan rapat pada sisi atas. Dan, tak lupa memberi beberapa liter minyak ke dalam bilah bambu itu. Tak lama kemudian, Ssh! Sumbulan bara api mencuat keluar, sesaat usai Duncan mengarahkan pemantik. Obor sederhana buatan para pengawal, sontak menerangi jalan setapak yang semula hendak mereka lanjutkan. “Ini, Tuan,” Duncan menyodorkan. Leonardo memanggut-manggutkan kepala. Sejatinya, ia takjub. Benar-benar tak menyangka, jika penjelajahan ke masa lalu, membuat ia mengetahui dan merasakan sendiri; berjalan menggunakan obor bambu sebagai pengganti lampu penerangan. “Baiklah, Duncan. Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan ini,” Leonardo berseru lantang. Menggerakkan obor yang ia pegang dengan tangan kanan; mengarah ke atas. Pertanda, jika ia hendak kembali memimpin perjalanan. “BAIK, TUAN,” Para pengawal menyahut serentak. ****** Tak terasa jalan setapak telah berhasil mereka lewati. Bagaimana pun, jarak tempuh mereka tetap sama. Hanya saja, perasaan berjalan lebih cepat, sungguh mereka dapati saat menempuh jarak untuk kembali pulang. Dan, “Moe Gayo?” Leonardo menyapa seekor kuda. Begitu pula dengan para pengawal lain. Mereka bergegas menunggang hewan bertubuh kekar, yang semula mereka ikat pada beberapa batang pohon berukuran besar. Tak menunggu lama, Hiaa! Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! Suara tapak kaki kuda kembali terdengar serempak. ****** Satu jam kemudian. Leonardo telah melihat hunian megah yang ia beli untuk Priscilla. Gerbang tinggi nan menjulang baru saja terbuka. Para pengawal yang tersisa segera menyambut kedatangan sang tuan muda. Di depan sebuah pohon besar. Leonardo menempatkan Moe Gayo di sana. Sementara beberapa ekor kuda lain, kembali merapat pada tempat peristirahatan kuda. “Moe Gayo, terima kasih untuk perjalanan hari ini,” Leonardo berujar. Menepuk sisi samping tubuh seekor hewan. Moe Gayo meringkik. Pertanda, ia juga senang bisa menemani sang tuan untuk melakukan hal baik. Sesampainya di dalam rumah. “Pelayan, di manakah Priscilla?” Lagi-lagi hanya hal itu yang Leonardo tanyakan setiap menapaki lantai di rumah. Pengawal itu berkata, nona muda telah beristirahat sejak beberapa jam yang lalu. Mendengar hal itu, Leonardo mengangguk. Kemudian, kembali menuju halaman depan. “Duncan?” Leonardo berseru. Menatap seorang pengawal yang bersibuk memberi beberapa rerumputan hijau segar untuk si kuda. “Iya, Tuan?” Duncan menyahut. Menuntaskan aktivitas memberi makan Moe Gayo. “Ada yang harus kubicarakan denganmu.” “Baik, Tuan,” Duncan spontan mengikuti gerak langkah sang majikan. Kini, dua pria tersebut berada di salah satu sudut rumah. Duduk bersama, hendak membicarakan beberapa hal serius di sana. “Duncan, bisakah kau mencari tahu perihal sosok putra dari kakek tua tadi? Kau cari info apa pun, yang berkaitan dengan pemuda itu,” Leonardo memulai pembicaraan. Tatapan sang pria menyorot tajam. Seakan, tak ingin kehilangan sosok yang sedang ia incar. “Baik, Tuan.” “Lalu, bisakah kau mencari bukti perihal kematian orang tua Priscilla? Aku ingin melihat sendiri keaslian itu dari sebuah berkas,” Leonardo memberi perintah kedua. “Baik, Tuan.” “Dan, ada satu hal yang membuatku janggal.” “Perihal apa itu, Tuan?” “Mengapa sewaktu kita mengitari pedesaan; mengarah ke arah barat daya tadi, kita tak melihat pemukiman penduduk sama sekali? Namun, sang kakek tiba-tiba datang begitu saja. Dan, sebuah gubuk tua mulai terlihat, usai si kakek menunjuk pada salah satu arah. Apa menurutmu tak ada yang salah dengan desa itu?” Leonardo bertanya. Menyampaikan rasa penasaran di dalam benak kepala. Spontan, Duncan menggeleng. Gelengan itu sungguh berarti jika sang pengawal tak mengerti akan hal aneh, yang juga ia jumpai. Baru kali itu, Duncan merasakan keanehan saat menjelajah pedesaan. Lalu, “Apa maksud dari gelengan kepalamu itu, Duncan?” “Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud membuat Tuan Muda semakin bingung. Jujur, perihal tersebut saya juga baru menjumpai hal seperti itu. Tapi, Tuan Muda tenang saja. Saya akan berusaha mencari tahu mengenai seluk beluk di desa sang kakek tersebut. Ehm, lebih tepatnya seluk beluk pemukiman aneh itu.” Leonardo mengangguk. Selain, mengiyakan sikap cekatan Duncan. Ia juga merasa setuju, jika pemukiman sang kakeklah yang tampak aneh di dalam netra. Tapi, sebaiknya lain kali aku juga menanyakan hal itu pada Kyteler. Sudah pasti, penyihir seperti dia dapat melihat perihal yang terjadi di pemukiman kakek; hanya dengan mengarahkan cermin besar miliknya saja. Leonardo bergumam. Berniat di dalam hati. “Jikalau begitu, mari kita sudahi pembicaraan ini. Aku akan kembali masuk ke dalam rumah,” Leonardo mengakhiri perbincangan. Beranjak dari posisi semula. Di sela Leonardo hendak melangkah; melewati daun pintu utama, beberapa pengawal yang sedang berjaga di depan pintu gerbang, terlihat menghalau keramaian. Apa yang sedang terjadi? Leonardo menelisik tajam. “Tuan, biar saya saja yang memastikan perihal yang terjadi di luar gerbang,” Duncan berujar. Sesaat usai mendengar suara sorak sorai. Lalu, bergegas menghampiri pintu gerbang yang menjulang. “Tuan Muda, bantu saya.” “Tuan Muda, bantu kami. Kami dengar, kau berhati baik dan suka menolong.” “Tuan Muda?” Beberapa teriakan menggema. Merasuk ke dalam gendang telinga siapa saja. Dan, benar. Teriakan itu ditujukan pada seorang pemuda, yang baru saja berpindah ke hunian termegah di desa. “Ada apa ini?” Duncan bertanya. Melirik beberapa pengawal lain di sana. “Mereka terus saja berseru ingin dibantu oleh Tuan Muda,” Salah seorang pengawal menyahut. Duncan segera peka. Sungguh, sudah bertahun-tahun seluruh penjuru desa dilanda beragam masalah. Dan, Pak Kepala Desa tak pernah benar-benar membantu untuk menuntaskan masalah yang ada. Sehingga, kabar yang tersiar perihal seorang pemuda yang suka menolong tersebut, segera terdengar hingga ke seantero wilayah. “Tenang, tenang para Ibu-ibu dan Bapak-bapak,” Duncan mengarahkan tengadah tangan. Mengisyaratkan agar para warga tak lagi berteriak kencang. Sontak, suara menjadi senyap. “Kami akan menyampaikan keinginan Ibu-ibu dan Bapak-bapak kepada Tuan Muda. Jadi, malam ini sebaiknya kalian kembali ke rumah, karena Tuan Muda sedang beristirahat di dalam,” Duncan berujar. Berusaha membuyarkan kerumunan. “Tapi, kami ingin bertemu dengan Tuan Muda kalian,” Salah seorang penduduk mengeluarkan suara. “Benar, kami ingin bertemu.” Suara sorak kembali membahana. Duncan dan para pengawal yang berjaga merasa kewalahan. Kemudian, “Tenanglah para Ibu-ibu dan Bapak-bapak,” Kali itu, suara teduh terdengar. Benar saja, sang tuan menampakkan diri di balik tubuh kekar para pengawal. Barisan yang semula tersusun rapi, sontak melebar. Memperlihatkan betapa tampan seorang pemuda pada sebuah sudut terpusat. “Tuan, bantu kami. Para rentenir terus saja mengancam keluarga kami,” Salah seorang kembali berseru. Menyampaikan keluhan. “Benar, Tuan. Dan, di desa kami sawah dan ladang selalu kekeringan. Kami membutuhkan bantuan.” Beberapa keluhan tersampaikan. Banyak masalah yang harus diselesaikan. Mendengar hal itu, Leonardo menghembus napas panjang. Sejatinya, ia tak pernah tahu jika tiba-tiba ia akan menjadi terkenal. Sehingga, para penduduk berbondong-bondong; untuk meminta bantuan, meski hari sudah larut malam. Leonardo terdiam. Ia tampak menimang-nimang. Kemudian, “Bagaimana ini, Tuan?” Duncan berujar lirih. Menatap sang majikan. Tak lama, usai berpikir singkat, Leonardo memutuskan untuk memberi jawaban dengan penuh kemantapan. “Baiklah para Ibu-ibu dan Bapak-bapak, aku akan mengerahkan segenap kemampuan untuk membantu kalian.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN