TROVE?

1168 Kata
“Sebuah rahasia yang berkaitan dengan Priscilla dan kakek tua itu.” *** “Apa maksudmu, Kyteler?” Mendengar ucapan sang penyihir, Leonardo spontan tak mengerti. Ia sama sekali tak bisa memahami perihal sangkut paut Priscilla dengan sosok paruh baya, yang baru saja ia ajak berkenalan. Ck! Kyteler berdecik. Sebelum pada akhirnya, ia kembali mengeluarkan kabut putih. Hanya saja, kabut itu tak lagi menandakan kedatangan Kyteler. Melainkan, karena kabut tersebut mulai membentuk sebuah cermin tembus pandang. Yah! Cermin yang berbentuk sama besar; sama halnya cermin yang kerap Kyteler gunakan di dunia magis. Kemudian, “Lihatlah,” Kyteler memerintah. Dan, benar saja. Sebuah gambaran kakek tersebut tertampak di sana. Hanya saja, sang kakek tak berada seorang diri. Melainkan, bersama seorang pemuda. “Siapa lagi pemuda itu, Kyteler?” Leonardo bertanya. Bagaimana tidak, bayangan di dalam cermin kabut itu memperlihatkan dua orang sedang beradegan; tanpa bersuara. Sehingga, Leonardo tak bisa mengetahui perihal yang dibicarakan sosok kakek tersebut dengan sang pemuda. “Pemuda itu adalah putra dari kakek tua yang hendak kau tolong,” Kyteler berucap. Menerangkan. “Lantas, apa hubungannya dengan Priscilla?” Cih! “Kau ini lamban sekali, Leonardo. Bukankah, kau juga melihat beberapa gerombolan pria lain di belakang mereka berdua?” “Benar, lantas?” “Lantas, pemuda itulah pimpinan para perampok yang hendak merampas barang bawaanmu tadi.” “APA?” Leonardo memekikkan suara. Tak menyangka. Bagaimana tidak, ternyata dalang dari terenggutnya nyawa orang tua Priscilla, adalah putra dari si kakek yang hendak ia tolong. “Jadi, setelah ini apa kau masih mau menolong kakek itu? Bukankah, kau ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah menyebabkan kekasihmu menjadi seorang yatim piatu?” Leonardo terdiam. Tak berniat menyahut pertanyaan provokasi yang Kyteler layangkan. “Rupanya, diammu menandakan iya,” Kyteler menyimpulkan. Tak lupa dengan tawa yang merekah. “Jika begitu, maka sebaiknya kau bergegas menangkap pemuda itu. Dan—” “Dan, membawakan pemuda itu untukmu, bukan?” Leonardo menyergah ucapan sang penyihir wanita. Kini, Leonardo dapat memahami perihal alasan sang penyihir mendatangi ia pada sebuah desa. Ternyata, itu semua demi keinginan pribadi Kyteler. Tentu, penyihir itu takkan serta merta mendatangi Leonardo tanpa niat khusus. Haha! “Tentu saja. Sekarang, jika kau sudah paham akan maksud dan tujuanku datang ke mari, maka sebaiknya aku pergi,” Kyteler berpamitan. Tak menunggu lama, sang penyihir hanya menyisahkan hawa dingin yang menusuk kulit. Tak lagi menampakkan wujud seperti sedia kala. Dan, “Tuan Muda? Mengapa Tuan berada di sini?” Salah seorang pengawal bertanya tiba-tiba. “A-aku hanya—” “Hhm, sudahlah. Sebaiknya, kita melanjutkan perjalanan ini saja. Kalian sudah memastikan jika Duncan baik-baik saja, bukan?” Leonardo mengalihkan pembicaraan. Kembali berfokus pada tujuan utama mereka mengunjungi sebuah desa. “Tentu saja, Tuan. Sekarang, Duncan sudah baik-baik saja.” Kini, para pria dari desa seberang itu kembali melanjutkan perjalanan. Tentu, mereka harus menyisir jalan setapak tersebut lebih jauh; sampai mereka menemukan hunian sederhana yang hendak mereka tuju. ****** Satu jam berikutnya telah berlalu. Namun, “Tuan, mengapa masih tak ada pemukiman penduduk di sini? Padahal, kita sudah berjalan sejauh beberapa kilometer ke depan,” Salah seorang pengawal kembali berujar. Leonardo sungguh merasa kebingungan. Sejatinya, di masa depan pun ia belum pernah kesasar. Leonardo adalah seorang insan yang dilahirkan dengan berkah kejeniusan. Sehingga, tak mungkin ia salah melihat arah mata angin. Mengingat, hal tersebut adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Sembari beristirahat sejenak, Leonardo memijat pelipis yang terasa pening. Tiba-tiba, “Wahai anak muda,” Suara parau kembali merasuk gendang telinga. Suara itu terdengar khas bagi seseorang yang pernah menjadi teman berbincang. “Kakek?” Leonardo terperanjat. “Kau sedang apa ke mari?” “Aku sedang mencari rumah kakek. Namun, aku dan para pengawalku terus saja tersesat,” Leonardo menyampaikan keluhan. Lalu, “Lihatlah,” Sang kakek menunjuk pada sebuah arah. Yakni, membidik sebuah gubuk tua. “Itu adalah rumah kakek.” APA? Lantas, mengapa aku tak melihatnya sedari tadi? Leonardo bergumam heran. Tak mengerti. Tanpa basa-basi, “Duncan, cepat kau arahkan pengawal lain untuk membawa perbekalan kita menuju gubuk itu,” Leonardo memerintah. Menunjuk sembari mengarahkan titik pandang. Duncan tak kalah terperangah. Sungguh, mereka tak menjumpai satu pun pemukiman saat tiba di sana. Lantas mengapa tiba-tiba ada sebuah gubuk tua berdiri tegak pada sebuah sudut arah? Apa bayangan kabut dari Kyteler; berhasil menyisahkan pemandangan samar di dalam retina mereka? Entahlah! ****** Setibanya di depan gubuk tua. “Kakek, kami membawakan bahan makanan untuk Kakek dan keluarga. Kami harap bantuan ini dapat meringankan beban Kakek selama pandemi,” Leonardo berujar. Tak ada gurat keberatan. Meski, ia tahu jika putra paruh baya itu adalah seorang pemuda yang sedang ia incar. “Kau baik sekali, wahai anak muda,” Sang kakek memuji. Sejatinya, putranya sendiri tak pernah peduli. Lantas, seorang pria muda yang baru ia jumpai, justru segera memberi bantuan untuk kelengkapan hidup sehari-hari. “Kakek tak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi bagian dari hal yang harus kita lakukan. Bukankah, sebagai sesama sudah seharusnya kita menolong yang membutuhkan?” Leonardo menyahut. Benar-benar dipenuhi gurat ikhlas. Sama sekali tak pandang bulu. Lagi pula, bukankah Leonardo hanya berurusan dengan pemuda tersebut? Bukan dengan seorang paruh baya yang sedang terlantar seperti itu. ****** Beberapa saat setelah barang perbekalan berpindah tempat. Usai memastikan pengawal-pengawal tersebut meletakkan bahan makanan, Leonardo bergegas berpamitan. Ia harus segera pulang, sebelum langit benar-benar berubah warna; menjadi gelap gulita. Mengingat, jalan setapak itu tak memiliki penerangan sama sekali. “Baiklah, kalau begitu kami harus pulang dulu, Kek.” “Tapi—” Sang kakek menyiratkan gurat enggan ditinggal pergi. “Tapi apa, Kek?” “Sebelum kau pergi, tunggulah sebentar wahai anak muda,” Sang kakek menghalangi. Kemudian, beralih masuk ke dalam rumah. Sembari menunggu, Leonardo mengedarkan pandangan. Sungguh, tak ada pemukiman megah di daerah tersebut. Hanya beberapa rumah sederhana; salah satunya rumah si kakek tua. Tapi, mengapa sedari tadi kami terus tersesat? Ini aneh sekali. Leonardo kembali bertanya-tanya di dalam hati. Tak lama kemudian, Seorang pria paruh baya yang Leonardo tunggu, menampakkan diri. Membawa sebuah benda di dalam genggaman tangan kanan. “Wahai anak muda, Kakek tak bisa memberi balasan apa-apa. Jadi, terimalah saja ini,” Sang kakek berkata. Menyodorkan sebuah benda berbentuk khas. Yakni, sebuah kunci dengan ornamen pendukung yang terbentuk unik pada sisi atas. “Kunci untuk apa ini, Kek?” Leonardo bertanya. Menatap sebuah kunci itu lekat-lekat. Alih-alih segera menyahut, sang kakek memilih mengarahkan gerak pandang. Mengisyaratkan agar Leonardo membungkukkan sedikit badan. Lalu, sang kakek mulai membisikkan suatu hal. “Kakek mendapatkan kunci ini sewaktu berjalan mengitari pedesaan. Setahu Kakek, kunci ini adalah kunci untuk membuka peti harta karun yang tersimpan. Hanya saja, hingga sekarang Kakek tak tahu menahu perihal lokasi peti tersebut ditanamkan. Dan, Kakek ingin memberimu kunci ini. Dengan segenap kebaikan hati yang kau miliki, kau pasti dapat menemukan harta karun yang terpendam. Namun, ada satu hal yang harus kau ingat.” Leonardo mengerutkan dahi. Lalu kembali bertanya, “Hal yang harus kuingat? Mengingat perihal apa itu, Kek?” “Kau harus ingat, jangan pernah bercerita tentang harta karun ini pada siapa pun.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN