A SECRET

1222 Kata
Jadi, Priscilla menjadi seorang yatim piatu karena ulah begundal-begundal itu? *** Beragam perasaan bercampur aduk di dalam hati Leonardo. Selain rasa kesal dan amarah yang mendalam, Leonardo juga merasa sedih atas hal yang menimpa sang kekasih. Bagaimana tidak, wanita muda seperti Priscilla, terpaksa menjadi yatim piatu serta bual-bualan para warga di desa; semenjak hidup seorang diri nan sengsara. Tentu, semua itu adalah hal di luar keinginan sang wanita. Hal tersebut membuat Leonardo kembali teringat pada sosok dirinya di masa depan. Yaitu, sesosok remaja laki-laki yang malang. Usai menenggelamkan pikiran, kini Leonardo harus kembali pada realita. Yakni, untuk membantu sesama. Hiakh! akh! Beberapa kuda berseru bersamaan. Pertanda, jika sebuah desa yang mereka tuju telah terjangkau oleh pasang mata. Leonardo segera memimpin perjalanan menuju sebuah pemukiman. Tak lain, adalah jalur yang mengarah ke rumah si kakek tua. Namun, “Duncan, sepertinya kita harus meninggalkan kuda-kuda ini di sini,” Leonardo menginstruksi. “Memang mengapa, Tuan?” “Lihatlah,” Leonardo menunjuk pada sebuah arah. Yakni, arah barat daya. “Di sanalah rumah penduduk yang hendak kuberi bantuan ini. Dan, jalanan menuju pemukiman tersebut, tampaknya harus kita sisir dengan berjalan kaki,” Leonardo mengira-ngira. Bagaimana tidak, saat itu mereka baru saja tiba di depan sebuah sudut. Sudut yang menampakkan banyak pohon bambu. Pohon-pohon itu menjulang tinggi, tak lupa saling berdempetan. Tak memungkinkan, jika mereka menempuh perjalanan menggunakan tumpangan kuda. Sehingga, “Baiklah, Tuan. Kalau begitu kami akan segera turun dan mengikat kuda-kuda ini pada pohon besar di sana. Setelah itu, kami akan membawa perbekalan yang ada di dalam kereta,” Duncan menyanggupi. Tak lupa membawa serta Moe Gayo. Mengarahkan kuda kekar sang tuan, untuk diikat bersama kuda-kuda tunggangan lain. “Kalau begitu, bergegaslah. Kita harus kembali ke desa sebelum matahari tenggelam. Aku tak ingin membuat Priscilla terlalu lama menungguku,” Leonardo berujar. Memberi mandat pada sang pengawal. Kini, bayangan Duncan telah berlalu. Pengawal-pengawal baru itu, serentak menjalankan perintah sang tuan muda. Tak lama kemudian, “Mari, Tuan,” Duncan berucap. Sesaat usai menuntaskan semua kebutuhan yang harus ia bawa. Beberapa karung berisi makanan, telah terbagi rata. Para pengawal baru itu harus membopong masing-masing sekarung berisi perbekalan yang hendak disumbangkan. Lalu, Para pria dari desa seberang itu terus berjalan. Menyisir jalanan setapak yang becek di sana. ****** Tak terasa, jarak satu kilometer baru saja mereka tempuh. Kini, sudah seharusnya Leonardo menjumpai sebuah gubuk tua yang kakek tersebut bicarakan. Hanya saja, “Duncan, bukankah kita sudah berjalan sejauh satu kilometer?” Leonardo bertanya. Memastikan ia tak salah memperhitungkan jarak. “Benar, Tuan. Ada apa?” “Seharusnya, rumah kakek itu ada di sekitar sini,” Leonardo berujar. Mengusap dagu sebagai pelampiasan rasa heran. Tiba-tiba, Angin menerpa dahsyat. Membuat pepohonan bambu tersebut bergoyang hebat. Beberapa pasang mata yang melihat, sudah pasti merasa ketakutan. Selain semilir angin yang menusuk ke dalam kulit, bayangan putih tak henti merasuk ke dalam netra. Seketika, cuaca menjadi tak bersahabat pada detik itu juga. “Tuan? Bagaimana ini?” Duncan bertanya. Suara pengawal itu bergetar. Mengikuti pergerakan alami dari rasa dingin yang merasuk ke dalam badan. Gigi-gigi berwarna putih bergemertak. Duncan benar-benar dalam keadaan tak stabil saat berujar. Tak menunggu lama, BRUK! Suara benda berbobot berat baru saja terjatuh. Benar saja, saat itu Duncan tergelepar lemah. Menumpahkan isi perbekalan yang semula ia bopong pada punggung belakang. “Duncan? Apa kau tidak apa-apa?” Salah seorang pengawal bertanya. Memastikan keadaan sang teman sejawat. Sementara pengawal lain memeriksa kondisi Duncan, Leonardo justru tak henti mengedarkan pandangan. Ia terus mengikuti bayangan putih yang merasuk ke dalam netra. Bayangan berkabut itu seakan tak asing di dalam kedua retina. Tanpa banyak bicara, Leonardo bergegas mengikuti bayangan putih yang melesat. Dengan gerakan tungkai yang lebar dan cepat, Leonardo berhasil menyampingi bayangan yang ia lihat. Dan, “Kyteler?” Leonardo memekikkan suara. Wussh! Angin berhembus. Menghempas tubuh seorang pemuda. Beruntung, Leonardo telah berubah menjadi sosok pria yang kuat dan tangguh. Sehingga, hempasan dahsyat itu tak membuat ia oleng dan terjatuh. “Apa yang sedang kau lakukan di desa ini?” Leonardo bertanya. Sesaat usai suasana berkabut tersebut tak lagi ada. “Aku sengaja datang ke mari untuk menjumpaimu,” Kyteler berujar. Tak berkilah. Hanya saja, “Kau pasti berbohong. Kau pasti melakukan suatu hal pada desa ini, bukan? Jangan bilang, kaulah yang mengutuk desa ini? Kau yang membuat desa ini dilanda kemiskinan karena pandemi yang terus mewabah,” Leonardo mencerca seorang penyihir wanita dengan beragam kalimat tanya. Haha! Alih-alih menyahut. Kyteler justru tertawa terbahak. “Mengapa kau justru tertawa, Kyteler?” Leonardo bertanya heran. “Kau itu benar-benar anak manusia, Leonardo. Kau mudah sekali terpengaruh pada ucapan palsu. Kau tak ada bedanya dengan para warga yang lain. Kau segera percaya pada rumor yang beredar. Kau kira perkara yang sedang terjadi di desa ini, sungguh disebabkan oleh kutukan seorang penyihir? Ck! Kau sangat berpikiran pendek, Leonardo,” Kyteler menyahut tak percaya pada sosok Leonardo, yang baru saja melontarkan tuduhan tanpa bukti. “Lantas, jika bukan karena kutukan, mengapa desa ini terus dilanda oleh wabah?” Leonardo bertanya polos. Seakan, ia benar-benar telah kehilangan logika di dalam kepala. “HEI! Leonardo. Bukankah, di tempat asalmu, kau mempercayai adanya Tuhan? Maka, bukankah seharusnya di masa ini, kau juga mempercayai hal itu? Jika, wabah yang sedang melanda desa ini merupakan takdir dari Tuhan. Bukan ulah penyihir yang memberi kutukan,” Kyteler memperjelas duduk perkara yang sedang mereka perdebatkan. DEG! Seketika, jantung Leonardo dihujam sebuah benda tumpul yang berat. Benar saja, perjalanan waktu yang ia lakukan, sungguh menghilangkan semua logika dan kepercayaan yang ia punya. Usai menyadari ucapan Kyteler, barulah Leonardo terdiam. Ia tak lagi berani menuduh hal sembarangan pada sosok penyihir wanita di hadapannya. “Baiklah. Jika memang begitu, lantas apa tujuanmu mendatangi desa ini? Mengapa kau melesat dengan kabut putihmu itu dengan cepat? Kau bahkan bergerak hingga mengubah suasana di desa ini menjadi mencekam dari suasana semula?” Leonardo kembali mengajukan pertanyaan. “Dan, lihatlah. Berkat ulahmu yang datang dengan tiba-tiba, salah seorang pengawalku jadi terjatuh pingsan,” Kali itu, Leonardo berujar sembari mengalihkan pandang pada gerombolan pengawal. Yah! Para pengawal itu baru saja berhasil membuat Duncan terbangun dari keadaan tak sadar. Hhh! Kyteler menghembus napas dalam. Sejatinya, berbicara dengan seorang anak manusia adalah hal yang Kyteler enggankan. Bagaimana tidak, bagi para penyihir; manusia itu terlalu banyak ingin tahu, terlalu banyak bertanya. Meski begitu, “Sudahlah, aku takkan basa-basi. Aku sengaja ke mari untuk menjumpaimu. Bukankah, tadi aku sudah mengatakan hal itu padamu? Dan, perihal mengapa aku muncul dengan kabutku ini, aku sengaja melakukannya. Agar kau menghampiriku ke mari. Jika tidak, apa kau mau jika para pengawalmu menyaksikan; kau sedang berbincang dengan seorang penyihir sepertiku?” Kyteler menyahut. Menyampaikan maksud dan tujuan ia mendatangi sebuah desa. Jika benar demikian, lantas untuk apa lagi dia menjumpaiku? Bukankah, aku baru saja mengirim seorang pemuda untuknya? Leonardo bertanya-tanya. Tak paham akan jalan pikiran sang lawan bicara. Lalu, “Memang, apa yang ingin kau katakan padaku? Hingga, kau harus menjumpaiku lagi seperti ini?” Leonardo mengajukan pertanyaan. Kyteler menyunggingkan senyum samar. Kemudian berkata, “Aku ingin menyampaikan sebuah rahasia. Dan, kau pasti akan terkejut akan hal itu.” Dahi Leonardo berkerut. Lagi-lagi, perasaan tak enak segera meresap ke dalam diri. “Jika begitu, cepat katakan, Kyteler! Rahasia apa itu?” Leonardo bertanya. Tak lagi bisa bersabar. Kyteler menyipitkan mata. Menarik sedikit sudut bibir ke arah atas. “Sebuah rahasia yang berkaitan dengan Priscilla dan kakek tua itu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN