THE MUGGERS

1238 Kata
Hiaa! Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! *** Suara langkah tapak kuda terus terdengar. Sebelum pada akhirnya, suara itu berdecit tak karuan. Bagaimana tidak, selagi Leonardo dan para pengawal sedang berada di perjalanan, tiba-tiba beberapa perampok menghadang. Membuat barisan rapi dengan tak lupa bergerombol bersamaan. Hiakh! akh! Moe Gayo menghentikan pijakan, sesaat usai Leonardo memerintah melalui gerak tunggangan. Kemudian, sang tuan yang sedang memimpin perjalanan, bergegas turun dari punggung si hewan bertubuh kekar. “Kalian siapa? Berani-beraninya menghadang perjalanan kami?” Leonardo berseru lantang. Berkacak pinggang. Cih! Beberapa pria berbadan kekar. Berwajah sangar. Baru saja berdecik pada seorang pemuda yang mereka hadang. “Apa kau tidak tahu? Kau baru saja melintasi perbatasan. Di sini adalah wilayah kami. Jadi, jika kau ingin melintasi perbatasan ini, kau harus menyerahkan harta benda yang kau miliki. Dan, kulihat kau sedang membawa sebuah kereta perbekalan,” Seorang pria menyahut. Sementara itu, pria lain telah berpencar. Mereka berdiri di samping kereta pembawa bekal. Bersiap merampas bahan makanan, yang saat dijual nanti bisa berharga cukup mahal. Di sela Leonardo sedang meladeni ucapan salah seorang dari mereka, pria lain terlihat melancarkan aksi tanpa permisi. “HEI! Kau? Siapa namamu, hah? Mengapa kau menjadi seorang pengawal? Jika, badanmu saja ringkih seperti ini?” Seorang begundal berucap. Ia mencengkram kerah pada leher salah satu pengawal. Pengawal baru itu, tak berkutik. Jelas saja, dari segi tubuh; ia memang kalah besar. Sang lawan sungguh berbadan kekar dan berotot. Tak lupa, pria itu juga memiliki tinggi jakung yang tak tertandingi. Melihat hal tersebut, Duncan menjadi geram. Sejatinya, pengawal yang sedang berada di dalam cengkraman adalah salah satu sanak saudara Duncan. “Hentikan omong kosongmu itu! Kau jangan mentang-ment—” “MENTANG-MENTANG APA, HAH?” Pria berotot itu berganti mencengkram kerah milik Duncan. Kini, dua orang pengawal; baru saja berada di dalam genggaman seorang pria di sana. Hhh! Sementara itu, sang tuan sedang menghela napas panjang. Bukan karena perasaan kesal; usai mendapati dua orang pengawal itu tak berkutik. Melainkan, karena rasa geram; setelah melihat pria berotot itu berucap meremehkan. Yah! Benar saja, mendapati hal yang sedang terjadi pada Duncan dan pengawal lain, Leonardo kembali teringat pada sosok dirinya di masa depan. Yakni, seorang Leonardo Mandela Lombogia, yang buruk rupa, dekil dan ringkih. Sungguh, sesosok anak manusia yang tak berdaya. Kemudian, “HEI! Pria bertubuh besar?” Leonardo berseru. Menujukan panggilan pada seorang pria yang sedang membuat gaduh. Cih! “Siapa lagi kau? Hhm, tapi tampaknya kau adalah pemimpin di sini. Jadi, kau adalah Tuan dari mereka?” Pria itu menyahut. Sontak, Haha! Gelak tawa terdengar renyah. Pria berotot itu segera melepas cengkraman tangan. Kini, Duncan dan salah seorang pengawal, tergelepar di atas pelataran jalan. “KAU?” Pria berotot itu beralih mendekat ke arah Leonardo. Tak lupa dengan gerak tangan yang sedang menunjuk sang lawan. “Kau itu bodoh sekali. Mengapa kau memilih para pengawal seperti mereka? Lihatlah, para pengawalmu ini bahkan tak memiliki tubuh seperti kami. Mereka ringkih. Lemah. Dan—” BUG! Tanpa banyak suara, sebuah bogem mendarat. Baru saja menyasar bagian sisi bawah tulang rusuk sang begundal. “Jika, kau ingin merampok barang bawaan kami. Maka rampok saja. Kau tak perlu merendahkan orang lain seperti itu,” Leonardo berujar. Memberi tahu. Sontak, pria yang baru saja mendapat sebuah bogem mentah tersebut menyengir kecil. Berani-beraninya dia belagu seperti itu! Tak menunggu lama, Leonardo turut serta dalam sebuah baku hantam. Yah! Benar saja, sang pria tampan sedang diserang dari berbagai arah. Sisi depan, samping dan tak lupa pada bagian belakang. Namun, jangan khawatir. Kini, Leonardo benar-benar seorang pemuda tangguh. Dengan mengerahkan seluruh keberanian, ia terus bergerak lihai. Membalas pukulan bertubi yang sang lawan hujamkan. BUG! BUG! Wussh! Sesekali, Leonardo melempar salah satu dari mereka. Menghempas tubuh seorang pria hingga menubruk badan pria lain pada sisi belakang. Beragam pukulan terus mengudara. Leonardo tak henti bersigap dengan sikap kuda-kuda. ****** Tak lama setelahnya, Para bandit itu tergeletak. Beberapa dari mereka berhasil dibuat tak berdaya oleh seorang pria berwajah tampan. Usai menyaksikan perampok-perampok itu terkalahkan, Leonardo menepuk kedua tangan. Seraya, berniat menyapu debu di dalam telapak tangan. “Jadi, bagaimana? Apa kalian masih berniat merampas barang bawaan kami ini?” Leonardo bertanya. Berlaga menepuk sebuah kereta pembawa bekal miliknya. “Ti-tidak, Tuan. Ka-kami—” Salah seorang menyahut. Bergemetaran. Sungguh, pukulan yang Leonardo daratkan mampu merontokkan beragam tulang sang lawan. Sehingga, tak hanya ada luka lebam dan berdarah saja. Melainkan, juga rasa nyeri yang teramat dalam. “Kalau begitu, kalian tunggu apa lagi? Apa kalian ingin mendapat bonus tambahan?” Leonardo berseru lantang. Beralih menampakkan gurat menyeramkan. Sontak, para perampok itu lari terbirit-b***t. Mereka berusaha melangkah lebar karena ketakutan. Namun, Lihatlah! Aku akan membalas perbuatanmu ini, wahai pemuda. Salah seorang dari bandit itu membatin tak jera. ****** Sepeninggal bandit-bandit itu, para pengawal Leonardo berbaris rapi. Mereka bersimpuh meminta maaf atas kelalaian dalam bertugas. Yakni, tak dapat melindungi sang tuan. Melainkan, justru membuat majikan mereka kerepotan. “Ma-maafkan kami, Tuan Muda. Seharusnya kami—” Duncan berucap. Mewakili para pengawal baru di sana. “Sudahlah, Duncan. Ini bukan saatnya kalian menunduk dan memohon maaf seperti itu. Lihatlah, langit sebentar lagi akan berubah warna. Sebaiknya, kita kembali melanjutkan perjalanan saja,” Leonardo menyanggah. Tak ingin memperbesar masalah yang baru saja menimpa mereka. Meski, sejatinya para pengawal baru itu sungguh memalukan. Mereka tak dapat bekerja dengan benar. Lantas, untuk apa mereka terus dipekerjakan? Yah! Itulah yang sedang Duncan dan pengawal lain khawatirkan. Mengingat, sang tuan bisa saja mengganti para pengawal; sesuai yang ia mau dan butuhkan. Hanya saja, Leonardo takkan bertindak semena-mena. Selagi memikirkan nasib para pengawal baru tersebut, Leonardo berniat memberi kesempatan. Meski, tak semua hal memiliki kesempatan kedua. Namun, bagi Leonardo tak ada salahnya untuk memberi jangka waktu; agar mereka memperbaiki kesalahan dan kekurangan. “Baiklah, mari kita lanjutkan saja perjalanan ini,” Leonardo berujar lantang. Kembali mengarahkan cemeti kuda pada seekor hewan, yang saat itu sudah ia tunggang. “BAIK, TUAN,” Para pengawal menyahut serentak. Dipenuhi dengan gurat penyesalan dan juga rasa terima kasih yang mendalam. Bagaimana tidak, jika para pengawal baru itu bekerja pada tuan lain di pedesaan, sudah pasti mereka takkan mendapat ampunan. Namun, menjadi seorang pekerja dari majikan muda bernama Leonardo Mandela Lombogia, mereka seakan mendapati anugerah. Leonardo benar-benar bersabar dalam menghadapi kelemahan mereka. ****** Di dalam perjalanan. “Duncan, apa hal seperti tadi memang kerap terjadi di perbatasan desa ini?” Leonardo bertanya. Mengkonfirmasi. Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! “Benar, Tuan. Bahkan, mereka tak hanya merampas barang bawaan para penduduk yang melintas saja. Melainkan—” Duncan menghentikan ucapan. Merasa tak enak saat hendak menyebut tindakan buruk, yang kerap dilakukan para perampok tersebut. “Melainkan, apa?” Leonardo mengerutkan dahi. Seketika, ia berfirasat buruk detik itu juga. “Melainkan, mereka juga berani membunuh para warga yang bersih kukuh melewati perbatasan; karena enggan menyerahkan barang bawaan secara sukarela,” Duncan melanjutkan ucapan. APA? Leonardo melebarkan bola mata. Sejatinya, para perampok di masa lalu jauh lebih bengis. Jika, dibanding perampok di masa depan. Paling tidak, bandit-bandit di masa depan; hanya bergerak untuk menggertak. Tak sampai menyebabkan nyawa korban menjadi melayang. “Dan—” “Dan, apa lagi, Duncan? Kau jangan kebiasaan menjeda kalimat,” Leonardo menghentak. Tak bisa menahan rasa penasaran di dalam benak kepala. “Dan, sependengar saya; orang tua Nona Muda merupakan salah satu dari korban mereka,” Duncan melanjutkan ucapan. “APA?” Sang pria tampan melengkingkan suara. Sungguh, tak menyangka pada ucapan sang pengawal, yang juga sedang menunggang kuda. Jadi, Priscilla menjadi seorang yatim piatu karena ulah begundal-begundal itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN