AVOWAL

1933 Kata
“Kau, telah menjadi milikku sekarang.” *** Kyteler baru saja menyeringai puas. Sementara itu, Leonardo bergegas menembus sela terbuka. Meninggalkan dua makhluk berbeda di dunia sihir tersebut. Kini, Leonardo sedang menghampiri Moe Gayo. Pria berparas tampan itu segera menunggang kuda. Beranjak pergi dari area pemandian air panas. Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak! Suara tapakan kaki kuda terus melangkah cepat. Membahu lajur pedesaan yang masih asri di sana. “Moe Gayo, haruskah kita melanjutkan perjalanan ini berdua saja?” Leonardo bertanya pada sosok seekor kuda. Hiakh! akh! Sejatinya, spesies mamalia itu takkan pernah bisa berbicara. Hanya saja, suara ringikan Moe Gayo seraya menandakan persetujuan. Leonardo menyengir senang. Kembali melajukan kuda dengan gerakan cepat. ****** Tak terasa, Leonardo telah sampai pada sebuah desa. Kali itu, desa tersebut nampak sepi; bak tak berpenghuni. Namun, dengan segenap keberanian yang sekarang ia punya, Leonardo takkan bertindak cupu hanya karena mendapati situasi aneh tersebut. Apa yang sedang terjadi pada desa ini? Leonardo bergumam. Beralih turun dari atas punggung seekor hewan. Tiba-tiba, “Siapa kau, wahai pemuda?” Suara parau terdengar bertanya. Leonardo hampir terlonjak seketika. Mengagetkan saja! Kemudian, “Kakek, apa yang sedang terjadi pada desa ini? Mengapa aku tak melihat satu orang penduduk pun di sini?” Leonardo bertanya. Berniat melunturkan rasa penasaran di dalam kepala. Sang kakek tak segera menyahut. Pria beruban itu mengarahkan seorang pemuda tak dikenal pada sebuah dudukan reyot di sana. Leonardo spontan mengikuti pergerakan si kakek. Tak lama setelahnya, kakek itu terbatuk. Batuk berdahak yang menyebabkan beberapa darah memercik keluar. Leonardo berinisiatif memberi sebuah sapu tangan yang ia bawa. Mengeluarkan kain berukuran persegi itu dari dalam saku celana. Yah! Di masa depan, Akmal sering sekali mengeluarkan dahak. Sang ayah kerap terbatuk secara tiba-tiba. Sehingga, Leonardo selalu membawa sapu tangan karena kebiasaan. “Terima kasih, Nak. Siapa namamu? Sepertinya, aku tak pernah melihatmu di desa ini? Apa kau berasal dari desa seberang?” Kakek tersebut memulai perbincangan. Sesaat usai menerima suluran sapu tangan. “Sama-sama, Kek. Namaku Leonardo. Benar, aku berasal dari desa seberang,” Leonardo mengiyakan. Meski sesungguhnya, ia berasal dari masa depan. Uhuk! Sang kakek kembali terbatuk. Hal tersebut membuat obrolan mereka terus terjeda. Sembari menunggu pria renta itu membuang ludah, Leonardo tak henti mengedarkan pandangan. Membidik seluruh penjuru desa dengan sepasang mata yang indah. Kemudian, “Desa kami sedang mengalami pandemi. Wabah tak henti melanda desa ini. Seakan, hunian kami telah dikutuk oleh para penyihir,” Kakek tersebut memulai cerita. Leonardo terperangah. Dikutuk oleh para penyihir? Apakah salah satu penyihir itu adalah Kyteler? Ah, tapi hal tersebut belum tentu benar. Bisa jadi, hal itu hanya sekedar rumor yang sembarangan beredar. Leonardo menyimpulkan. Mengingat, tak banyak orang mengetahui perihal keberadaan dunia magis pada sebuah pedesaan. Yah, kecuali ia dan Priscilla. Setidaknya, menurut Leonardo hanya mereka berdua saja yang tahu perihal tersebut. “Sudah beberapa bulan pandemi tak kunjung berakhir. Sehingga satu-satunya solusi bagi kami, yakni dengan berdiam diri di rumah. Sesekali, para ibu-ibu pergi keluar hanya untuk berbelanja. Itu pun jarang sekali. Mengingat, para penduduk di sini banyak yang memiliki lahan tani dan kebun sendiri. Jadi, seperti yang kau lihat, desa ini setiap hari selalu sepi. Entahlah, kapan wabah ini akan berakhir?” Sang paruh baya berujar. Menyampaikan curhat colongan. Leonardo mengangguk pelan. Melihat hal tersebut, ia merasa kasihan. Namun, bagaimana pun ia hanya seorang anak manusia biasa. Bukan seorang tabib yang mampu menyembuhkan para pasien; yang mendapati dampak dari wabah. “Jika, benar begitu. Lantas, mengapa Kakek masih berkeliaran di luar? Bukankah, pandemi yang sedang terjadi cukup meresahkan? Dan, kulihat kondisi Kakek sedang dalam keadaan kurang sehat,” Leonardo menyahut. Penuh dengan gurat perhatian. Hhh! Hembusan panjang tersumbul dari sebuah indera. Sang kakek baru saja menghela napas dengan cukup berat. “Kakek tak mungkin berdiam diri di rumah. Kakek harus terus mencari nafkah. Rumah Kakek tak seperti rumah penduduk lain. Kami hanya tinggal di sebuah gubuk tua yang reyot. Sehingga, untuk memiliki lahan dan ladang; merupakan kondisi yang cukup mustahil bagi kami. Jadi, beginilah Kakek; harus terus berkeliling dengan membawa sol sepatu. Barangkali, masih ada yang membutuhkan jasa Kakek,” Sang paruh baya bercerita. Cukup menahan rasa sedih di dalam pelupuk mata. Sungguh, siapa yang hendak menggunakan jasa seorang sol sepatu; saat pandemi sedang mewabah? Bahkan, seujung hidung saja tak tertampak di sana. Mendengar cerita menyedihkan itu, Leonardo bergegas pamit. Tak serta merta meninggalkan seseorang yang sedang dalam keadaan susah. Benar saja, ucapan pamit dari Leonardo; menandakan jika ia akan kembali bersinggah. Tak lain untuk membawa beberapa pasok bahan makanan dari hunian megah miliknya. “Baiklah, Kek. Kalau begitu, aku pamit dulu. Oh ya, jika boleh tahu, di manakah letak rumah Kakek?” Leonardo bertanya. Memastikan. Seandainya, saat ia memberi bala bantuan; ia tak lagi berjumpa dengan si kakek, maka Leonardo dapat menghampiri hunian sederhana milik sang paruh baya. “Jika kau berjalan dari sini, kau hanya perlu menyisir setapak kaki ke arah barat daya. Usai satu kilometer, kau akan menjumpai sebuah gubuk tua. Di sanalah Kakek tinggal. Kau tak mungkin salah rumah, karena hanya rumah kami saja yang terlihat begitu sederhana.” Leonardo mengangguk paham. Kemudian, benar-benar berpamitan. “HEI! Moe Gayo, sepertinya kali ini kita harus memberi bantuan pada warga di sini. Yah! Setidaknya, jika tak bertemu para pemuda tengil seperti pria sontoloyo waktu itu, kita bertemu dengan penduduk yang membutuhkan suluran tangan,” Lagi-lagi Leonardo berbicara seorang diri. Lalu, segera menapakkan kaki pada pijakan sisi samping tubuh kekar Moe Gayo. Hiaa! Leonardo mulai mengarahkan cemeti kuda. Memecut tubuh kekar berwarna kecokelatan yang sedang ia tunggang. ****** Beberapa saat kemudian, Pintu gerbang yang tinggi nan menjulang, baru saja terbuka. Kini, sang majikan muda menampakkan diri di dalam pelataran rumah yang megah. Memberhentikan laju seekor kuda tepat pada sebuah pohon besar di sana. Meninggalkan hewan pilihan yang sedari pagi menemani ia berpergian. Ceklek! Daun pintu utama terbuka. Seorang pelayan segera mengetahui kedatangan sang tuan. “Di mana, Priscilla?” Leonardo bertanya. Sang pelayan bergegas menunjukkan keberadaan nona muda tersebut berada. “Rupanya, kau sedang sibuk memintal benang,” Leonardo berujar. Menghentikan pergerakan pada sebuah ambang pintu ruang. “Kau sudah pulang?” Priscilla bertanya. Mengalihkan pandang. Menatap seorang pria yang sedari pagi terus saja berpetualang. “Apa perjalananmu sudah usai?” Leonardo menggeleng, “Belum.” “Belum?” “Yah, karena masih ada hal yang harus kulakukan.” “Memang perihal apa?” Priscilla bertanya penasaran. “Aku sedang berniat memberi bantuan makanan pada seorang penduduk di desa seberang. Kakek itu sedang membutuhkan pertolongan. Dia berkata, jika desa letak ia berada sedang dilanda wabah. Sehingga, banyak warga yang berdiam diri di rumah. Namun, ia terus bekerja. Demi mencukupi keluarga. Padahal, siapa yang hend—” Belum usai Leonardo bercerita, Priscilla spontan memotong ucapan sang pria. “Jika begitu, kau tunggu apa lagi? Alangkah lebih baik, jika kita bergegas menyiapkan bahan makanan untuk mereka,” Priscilla menyarankan. Gurat sumringah tersumbul keluar. Kini, Leonardo benar-benar menaruh hati pada seorang perempuan. Wanita muda yang ia jumpai secara tak sengaja; dengan cara tak terduga, sungguh berhati baik. Bahkan, tanpa Leonardo meminta persetujuan, Priscilla sudah lebih dahulu mengarahkan untuk bergegas menyiapkan bahan makanan. Sembari menyiapkan bahan makanan bersama beberapa pelayan di rumah, Priscilla tak henti melempar senyum pada seorang pria tampan. Sontak, balasan senyum ia dapati dengan ramah. Ternyata, aku salah. Tak ada gunanya aku menjadi serakah usai mendapati berkah ini. Karena pada kenyataannya, berbagi tetap menjadi hal terbaik yang harus terus kulakukan. Meski, setiap pertolongan yang kuberi; pada insan di masa depan, tak pernah dianggap dan selalu diacuhkan. Bahkan, aku dianggap sebagai komplotan mereka. Benar saja! Itulah yang Leonardo gumamkan. Sesaat usai mengingat kebaikan hati yang dibalas dengan tak setimpal. Yakni, justru dijadikan seorang tersangka pencurian. Melihat ketulusan dan keceriaan Priscilla saat menyiapkan bahan makanan, Leonardo menjadi tersadar. Dan, berniat untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan tersebut. “Jadi bagaimana, huh? Apa semua sudah siap, sekarang?” Leonardo bertanya. Sesaat usai menghampiri sang wanita pujaan. “Tentu saja. Kita hanya perlu meminta para pelayan untuk membawa perbekalan itu ke halaman depan. Apa aku juga harus turut bersamamu kali ini?” Priscilla menawarkan. Memandang lekat seorang pemuda, yang sedang mendekap ia dengan jarak sejengkal. Hhm! Leonardo berdehem. “Sebaiknya, kau di rumah. Aku akan pergi bersama para pengawal saja. Aku tak ingin membuatmu lelah,” Leonardo berujar. Meraih puncak kepala Priscilla. Merapikan sisi rambut bagian atas yang sempat menghalangi paras cantik sang wanita. “Baiklah, kalau begitu kau berangkatlah. Dan, jangan lupa bergegas kembalilah,” Priscilla mengingatkan. Melempar senyum ramah seperti biasa. Leonardo mengiyakan. Melepas dekapan. Berpindah posisi untuk menghampiri halaman depan. Diikuti serentak oleh beberapa pelayan, yang sedang membawa banyak bahan makanan. ****** Setibanya di depan halaman rumah. Duncan bergegas menghampiri sang majikan. Bahkan, sebelum Leonardo berseru memanggil nama pengawal itu dengan lantang. “Bagus sekali, Duncan. Aku suka pada sikap sigapmu itu. Jadi, aku tak perlu mengeluarkan segenap lengkingan suaraku,” Leonardo memuji, tepat sebelum ia meminta Duncan menyiapkan kereta pembawa bekal di sana. “Sekarang, pergilah. Kita harus bergegas memasukkan bahan makanan ini ke dalam kereta,” Leonardo berujar. Duncan berlari cepat. Menuju halaman belakang. Mengajak beberapa pengawal baru di sana. Tak lama kemudian, sebuah kereta pembawa bekal makanan telah tiba. Tak lupa dengan seekor kuda yang terikat pada bagian depan kendaraan beroda. Usai memasukkan perbekalan pada kereta, Leonardo beralih berpamitan pada Priscilla. “Sekarang, aku harus berangkat. Dan, kau jangan lupa beristirahat. Jangan terlalu lelah berada di depan mesin pemintal benang. Jika, kau ingin memiliki pakaian bagus dan mahal, kau hanya perlu memintanya kepadaku. Jadi—” Sstt! Priscilla berdesis. Menghentikan ocehan seorang pria yang sedang berlaga posesif. “Ah, baiklah. Jika kau sudah paham pada maksud dan tujuan ucapanku tadi, maka sebaiknya aku pergi,” Leonardo menyergah desisan dari Priscilla. Beralih menuruni beberapa anak tangga pada sisi depan rumah. Kembali menghampiri posisi Moe Gayo. Menuntaskan aktivitas si kuda, yang semula sibuk menghabiskan rerumputan hijau di sana. “Moe Gayo, ini sudah saatnya kau kembali melangkahkan tungkaimu itu. Apa kau paham, huh?” Leonardo berujar. Menepuk sisi samping kepala seekor kuda. Bergegas menunggang untuk kesekian kali. Hiakh! akh! Cemeti kuda baru saja berhasil membuat hewan mamalia itu mengeluarkan suara. Lagi-lagi tapakan kuda terdengar bersahut-sahutan. Benar saja, Leonardo kembali mengerahkan para pengawal baru untuk turut serta dalam perjalanan. Di depan halaman gerbang, “Kalian ingat pada yang kuperintahkan, bukan?” Leonardo memperingatkan. Mengingatkan pengawal yang tersisa untuk terus berjaga ketat. Melindungi seorang majikan perempuan yang cantik jelita di dalam hunian megah. “Tentu saja, Tuan,” Suara berat serempak menyahut sepakat. Leonardo mengangguk singkat. Berlanjut memimpin perjalanan menuju sebuah desa yang sedang terkena wabah. ****** Di dalam perjalanan, Ternyata, tuan muda yang sedang mempekerjakan kami ini benar-benar pria unggulan. Selain tampan, kaya raya dan pandai dalam ilmu bela diri, ia juga seorang pemuda yang baik hati. Duncan memuji sang tuan. “HEI! Duncan? Mengapa sedari tadi kau memandangku? Bukankah, seharusnya kau menunggang kuda dengan menatap jalanan di depan sana?” Leonardo mengeluarkan suara. Tak dapat ia pungkiri, jika sedari tadi sepasang mata tak henti memperhatikan ia dari kejauhan. “Ma-maafkan saya, Tuan. Saya hanya sedang merasa kagum pada sosok Tuan Muda,” Duncan berujar jujur. Menyampaikan rasa takjub yang sedang berkeliling di dalam isi kepala. Kau itu ada-ada saja, Duncan. Leonardo bergumam. Tak berniat menyahut ucapan sang pengawal. Sembari melajukan Moe Gayo, Leonardo kembali menenggelamkan pikiran untuk kesekian. Ternyata, begini rasanya menjadi sosok pria ideal? Selain memiliki wajah tampan, harta berlimpah, tahta dan wanita, aku juga dikagumi oleh orang sekitar. Kini, aku benar-benar mendapat pengakuan. Oh, Tuhan. Terima kasih atas berkah yang kau beri padaku. Meski, ini hanya terjadi pada kehidupan yang sedang kujalani di masa lalu. Leonardo membatin. Bersyukur. Kemudian, kembali melajukan Moe Gayo dengan penuh perasaan suka cita. Hiaa! Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN