“Sekarang, ikat dia. Dan, mari kita bawa serta dia menuju desa kita saja.”
***
Para pengawal lain segera mengambil sebuah tali tampar berukuran sedang. Mereka mengikat pemuda tersebut bersama-sama. Membekap bibir sang tawanan agar tak mampu berkata-kata. Kemudian, menggiring pemuda yang sedang berjalan pincang tersebut menuju tempat pemberhentian kuda.
Pemuda itu terpaksa menaiki salah satu kuda milik Leonardo. Bersamaan dengan sang tuan yang juga menunggangi punggung Moe Gayo. Tanpa kata pamit pada sang ibu dan kepala desa, Leonardo kembali memimpin perjalanan. Tak lupa membawa salah seorang penduduk yang hendak ia beri hukuman. Tentu, sebuah hukuman yang akan membuat pemuda itu menjadi jera.
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
“Wahai Tuanku, kita hendak membawa pemuda ini ke mana setelah sampai di desa?” Duncan bertanya. Sesaat usai menyampingi posisi tunggangan kuda sang majikan muda.
“Kita? Tidak, aku akan membawa pemuda ini sendiri. Aku akan membawa dia ke suatu tempat,” Leonardo menyahut. Tak menunjukkan niat yang sedari tadi ia tanam di dalam hati. Yakni, membawa pemuda itu untuk menjumpai seorang penyihir nanti.
“Baiklah, Tuan.”
Pembicaraan singkat berakhir.
Kini, baik Leonardo dan para pengawal berfokus untuk membahu jalanan. Menuju ke kediaman megah milik seorang pria tampan.
******
Usai menerjang berbagai liku perjalanan, akhirnya mereka telah sampai pada tujuan.
Hiakh! akh!
Moe Gayo baru saja berseru. Pertanda, ia menghentikan langkah secara mendadak.
“Ada apa, Tuan?”
“Kalian berhenti sampai di sini saja. Jangan sampai kalian menampakkan pemuda itu ke dalam pelataran halaman. Aku tak ingin pria ini menginjakkan kaki di tanah kediamanku bersama Priscilla,” Leonardo berkata.
Kemudian, Leonardo menginstruksikan untuk memindahkan pemuda tersebut ke dudukan sisi belakang ia sedang menunggang. Yah! Setelah meninggalkan para pengawal di depan pintu gerbang, Leonardo kembali melanjutkan perjalanan.
Sedari tadi, pemuda yang sedang menjadi seorang tawanan, tak henti berteriak. Hanya saja, semua lengkingan suara itu percuma. Bagaimana tidak, sebuah kain tebal terikat pada bagian bibir sang pemuda. Sehingga, nihil jika ia berniat meminta tolong pada warga. Sekali pun, para penduduk melihat Leonardo membawa seorang pria; yang sedang terikat turut serta, toh masyarakat di desa tak peduli akan hal itu. Mengingat, pria yang sedang dibawa pergi oleh Leonardo adalah seorang pemuda berperangai tak baik di sana. Selain mengganggu Priscilla, ia juga beberapa kali mengganggu perempuan muda di desa. Jadi, sepenangkap pemuda itu, para penduduk justru berseru lega.
******
Di dalam perjalanan menuju pemandian air panas.
“Apa kau tahu, aku hendak membawamu pergi ke mana?” Leonardo bertanya. Memecah keheningan yang ada. Meski, suara tapakan kaki kuda terus berseru sebagai penyerta.
Ssh! Sh!
Pemuda itu berusaha melepas ikatan pada bibir. Dan, yah! Kali itu, Leonardo berbaik hati. Ia memelankan laju Moe Gayo. Lalu, menarik paksa pengikat kain yang melingkar.
Dan,
“Kau? Kau itu pemuda sialan!”
Mendengar kalimat berisi makian, Leonardo mendecikkan ludah. Bukankah, kau itu yang sialan! Sang pria tampan membatin geram.
“Kau hendak membawaku ke mana?”
“Bukankah, aku yang lebih dahulu bertanya? Mengapa kau kembali melempar pertanyaan itu kepadaku, hah?” Leonardo tak berniat memberi tahu tujuan mereka pergi saat itu.
“Itu karena aku tak tahu, kau akan membawaku ke mana,” Pemuda itu menyahut frustasi.
Berbagai jenis pohon, kini telah mereka lewati. Jalanan yang semula melebar, kini mulai menyempit. Sungguh, pemandangan itu terlihat mencekam di dalam netra sang tawanan. Namun, Leonardo bersih kukuh. Ia terus melajukan Moe Gayo hingga sampai pada sebuah area pemandian.
******
Setibanya di pemandian air panas.
Air jernih berwarna putih bening itu menjadi titik tujuan. Sang tawanan merasa heran. Mengapa dia membawaku ke mari? Bukankah, pemandian air panas ini adalah tempat yang angker?
Benar! Menurut rumor yang tersebar, ada sebuah area pemandian air panas pada salah satu desa; sebuah pemandian yang pernah melenyapkan seseorang.
Saat itu, tepatnya pada beberapa puluh tahun silam.
Kabar tersiar. Jika, salah satu pemudi di desa; berparas cantik nan jelita, tak kunjung pulang ke rumah. Menurut info terakhir, perempuan muda itu baru saja menuju area pemandian air panas seorang diri. Namun, niat hati ingin membersihkan tubuh dengan berendam, justru membawa berita petaka. Yah! Semenjak perempuan muda tersebut berpamitan pergi, tak ada seorang warga pun mendapati kabar perihal lokasi terakhir sang perempuan berada.
Sejak itu, area pemandian air panas terpaksa ditutup oleh Kepala Desa. Oleh karena itu, jalanan untuk menuju ke tempat tersebut tak lagi terawat. Banyak pepohonan dan akar liar menjalar sembarangan. Jalanan yang semula melebar, kian lama menyempit perlahan. Bukan karena lahan yang menciut tiba-tiba. Melainkan, karena pemandangan samar yang tertampak usai jalanan menuju area pemandian; dipenuhi oleh semak belukar.
“Apa yang sedang ingin kau lakukan padaku? Mengapa kau membawaku ke mari? Apa kau ingin membunuhku? Kau tak berniat menenggelamkanku di dalam pemandian air panas itu, bukan?” Sang pemuda bertanya gusar.
Leonardo menyemburkan senyum samar. Pria tampan itu bergegas menarik lengan seorang pria, yang sedang diikat dengan tali tampar. Menyeret pria tersebut menuju sebuah sela terbuka; penghubung antara dunia non magis dan magis.
Blush!
Sela terbuka itu baru saja tertembus. Dua orang pria berusia tak berbeda baru saja melintasi area batas. Pemandangan menyeramkan terlihat di dalam netra seorang pemuda. Saat itu, dunia magis sedang gelap gulita. Tak ada secerca cahaya di sana.
Sebelum pada akhirnya,
“Akhirnya, kau datang juga. Apa pemuda itu yang kau maksud waktu itu?” Kyteler mengeluarkan suara.
Tiba-tiba, sinar berwarna putih terlihat menyala. Seorang penyihir seraya baru saja menyalakan lampu di sana. Lampu? Ah, tidak. Itu hanya gambaran dari sebuah kabut yang menyertai kedatangan sang penyihir.
Di-dia siapa? Pemuda tersebut mengerjap mata. Menatap lekat seorang makhluk yang terlihat berbeda dengan dirinya dan Leonardo.
Spontan,
Pria yang sedang dalam keadaan terikat itu memberontak. Dengan kekuatan penuh, ia berusaha melepaskan diri dari ikatan tali. Usai mencoba dengan susah payah, barulah untaian benda pipih berukuran panjang itu terlepas. Sang pemuda berusaha berlari meski terpincang-pincang. Namun, nihil. Sela terbuka yang semula terlihat; mereka lewati bersama, tiba-tiba melenyap begitu saja. Yah! Kyteler sengaja melakukan hal itu. Mengingat, sebuah hadiah yang Leonardo bawa, sudah berada di depan mata. Maka dari itu, Kyteler takkan membiarkan sang pemuda melintasi garis pembatas. Meski, sejatinya pemuda itu pun tak bisa menembus keluar dengan mudah.
“Sekarang, aku sudah membawakan pemuda yang kau mau. Jadi, setelah ini mau kau apakan dia?” Leonardo bertanya. Menatap Kyteler, sesaat usai melihat sang tawanan gagal melarikan diri.
Kyteler tersenyum seperti biasa. Menampakkan raut seolah tak ada yang terjadi pada sang pemuda.
“Jika, kau tak mengatakan perihal yang hendak kau lakukan pada pemuda ini. Maka, aku takkan mau membawakanmu para penduduk desa lagi,” Leonardo melanjutkan ucapan. Sesaat usai mendapati sang penyihir hanya terdiam.
APA? Jadi, pria bernama Leonardo ini akan menculik para muda mudi sepertiku? Dan, dia akan membawa kami ke mari? Untuk ia jadikan tumbal? Ah, sebenarnya aku hendak diapakan oleh wanita menyeramkan itu? Tak mungkin, aku benar-benar diserahkan sebagai seorang korban, bukan? Sang pemuda sedang bergumam panik.
Hhm!
Kyteler berdehem. Lalu, mengarahkan sebuah cermin berukuran besar miliknya. Membaca sebuah mantra untuk mengetahui perihal latar belakang seorang pria.
Tak menunggu lama,
Gambaran perihal perilaku sang tawanan muncul dari dalam kaca. Cermin itu memperlihatkan betapa tak bermoral sikap sang pemuda setiap bertindak.
“Lihatlah, bukankah kau juga geram mendapati pemuda seperti dia?” Kyteler berujar. Mengarahkan pandang pada sosok pemuda yang sedang membeku terdiam.
Leonardo mengerutkan dahi. Benar saja, gambaran saat pemuda tersebut sedang berniat buas pada Priscilla, membuat Leonardo kembali memutar memori. Mengingat momen mengesalkan yang sempat mereka hadapi.
“Sampai kapan pun, Kepala Desa di duniamu takkan berubah. Mereka takkan menghukum pemuda seperti dia. Dan, bukankah kau ingin pemuda ini menjadi jera?” Kyteler melontarkan tebakan di dalam isi kepala.
“Lantas, apa yang hendak kau lakukan pada pemuda seperti mereka? Hukuman apa yang kau beri agar mereka jera?” Leonardo memastikan. Bertanya. Mengungkap rasa penasaran.
Hhh!
Kyteler menghembus napas panjang.
“Tentu, aku akan mengurung mereka di dalam penjara. Bukankah, di tempat asalmu, hal seperti itu juga ada? Setiap manusia yang berulah; bertindak kejahatan, pasti diberi hukuman setimpal. Dikurung di dalam jeruji besi. Beralaskan ubin yang dingin dan tak berselimut saat tertidur,” Kyteler berujar panjang lebar.
Kini, gambaran di dalam cermin mulai menghilang. Menampilkan sosok seorang penyihir berwajah cantik di sana. Penyihir itu tak henti tersenyum ramah. Menunjukkan ekspresi baik-baik saja. Seolah, tak ada hal buruk yang nanti akan menimpa sang pemuda.
“Maka dari itu, jika kau tak bisa membawa para muda mudi berhati baik, kau masih bisa membawa kaum dari golongan muda seperti mereka. Jadi, mulai dari sekarang bawakan para muda mudi yang menurutmu pantas diberi hukuman. Yah! Aku akan membantumu memberi hukuman yang setimpal. Bukankah, hal itu adalah hal yang kau inginkan juga?” Kyteler mengucap kalimat persuasif. Berharap, Leonardo setuju pada bujukkan yang ia sedang usahakan saat itu.
Leonardo tak henti terdiam. Pria tampan itu terus berpikir dalam-dalam. Tampak menimang-nimang.
Kemudian,
“Baiklah, kau boleh mendapatkan para pemuda sontoloyo itu!” Leonardo memekikkan suara. Menyeringai sangar. Menyetujui ucapan persuasif sang lawan bicara.
Sontak,
Sunggingan senyum merekah dari balik wajah seorang penyihir wanita. Tanpa banyak bicara, Kyteler menengadahkan tangan. Melebarkan jemari tangan sebelah kanan. Mengarahkan alat gerak tubuh itu pada sang tawanan.
Wussh!
Silir semilir angin mulai bertiup kencang. Kyteler berhasil membawa pemuda itu ke dalam genggaman.
“Kau, telah menjadi milikku sekarang.”