Kini, petualangan telah dimulai.
***
Ktoplak! Ktoplak! Ktoplak!
Suara hentakan dari kaki kuda yang kekar terus terdengar. Leonardo benar-benar bak seorang pangeran, yang sedang memimpin perjalanan.
Beberapa area pedesaan baru saja terlewati. Di sela menunggang kuda, Leonardo tak henti mengedarkan pandangan. Sungguh, suasana pedesaan pada beberapa ratus tahun lalu, benar-benar menjadi pemandangan nyata di dalam netra.
Pepohonan masih menjulang tinggi bersamaan. Burung-burung terus berkicau. Beterbangan. Hilir mudik penduduk ke sana ke mari. Bersibuk pada aktivitas sehari-hari. Berkebun. Bertani. Berdagang. Yah! Semua rutinitas itu tak henti, kecuali pada malam hari.
******
Beberapa saat kemudian,
Para pemuda sedang beraktivitas tanpa didasari oleh moral. Benar saja, saat itu Leonardo sedang menapakkan kaki kuda pada sebuah desa di seberang. Entah mengapa, kali itu pemandangan sangat berbeda jauh dari desa-desa sebelumnya.
Di sini, para pemuda terlihat mengganggu beberapa ibu-ibu. Tak hanya kaum wanita dewasa saja, melainkan perempuan muda dan juga anak-anak. Sesekali, mereka menggoda para perempuan muda tanpa rasa sopan sedikit pun.
Seketika, Leonardo teringat akan suatu hal. Yakni, pada pemuda yang hendak menyalurkan niat buas pada Priscilla.
Spontan.
Hiakh! akh!
Suara Moe Gayo terdengar memekak. Baru saja, sang tuan menghentikan pijakan dari tapak kuda.
“Wahai Tuanku, ada apa?” Duncan bertanya.
“Duncan, apa kau melihat para pemuda itu? Mengapa di desa ini banyak sekali para pemuda berperangai buruk seperti mereka? Apakah ini adalah desa, yang juga dihuni oleh seorang pemuda waktu itu; pria tak bermoral yang berani menyentuh wanitaku?” Leonardo bertanya. Mengkonfirmasi perihal pertanyaan di dalam benak kepala.
“Benar, Tuan Muda. Pemuda itu memang berasal dari desa ini. Dan, perihal perilaku para penduduk di desa ini, memang jauh dari kata baik jika dibanding dengan penduduk di desa lain,” Duncan membenarkan.
Meski, pengawal itu baru bekerja menjadi seorang pengawal di hunian milik Leonardo. Namun, setidaknya ia sudah lama menjadi warga di desa. Sehingga, sedikit banyak Duncan mengetahui perihal seluk beluk berbagai penjuru pedesaan.
Mendengar kalimat pembenaran dari Duncan, Leonardo memerintahkan agar para pengawal menunjukkan kediaman si pemuda tak berakhlak itu.
Suara Moe Gayo kembali terdengar. Kuda berharga mahal tersebut baru saja melangkahkan tapakan kaki dengan langkah lebar.
******
Tak lama kemudian,
Mereka telah sampai pada sebuah rumah. Tepatnya, sebuah rumah sederhana. Tak jauh lebih buruk dengan yang dahulu dihuni oleh Priscilla.
Mendapati rumah tersebut, Leonardo berniat turun dari punggung Moe Gayo. Pria tampan itu melangkah menuju daun pintu rumah.
Tok-tok!
Dengan percaya diri, Leonardo mengetuk pintu. Namun, ketukan itu tak kunjung disambut oleh si pemilik rumah. Usai berpikir singkat, Leonardo beralih mendorong daun pintu tersebut. Pintu yang sedari tadi tampak sedikit terbuka.
Dan,
Astaga! Leonardo berseru. Terkejut. Sesaat usai mendapati seorang wanita bersimbah darah.
“HEI! Kalian. Tolong angkat Ibu itu,” Leonardo memerintahkan.
Salah seorang pengawal bergerak cepat. Membopong tubuh seorang ibu-ibu, yang sekujur tubuhnya melebam.
“Ibu, apa yang sedang terjadi padamu? Mengapa kau mengalami lebam dan beberapa luka berdarah?” Leonardo bertanya.
Sementara itu, beberapa pengawal bersibuk menyiapkan alat pembersih luka dari dedaunan. Menumbuk daun-daun tertentu untuk dijadikan obat penawar luka.
“Ini, Tuan.”
Setelahnya, Leonardo meraih sebuah mangkuk berbahan dasar tanah liat. Pria itu membubuhkan pembersih luka alami pada beberapa titik yang sempat berdarah. Menyeka luka sang wanita paruh baya dengan penuh hati-hati.
AW!
Sesekali, ibu tersebut memekik. Menahan rasa perih di wajah.
Sebelum pada akhirnya, ia mulai bercerita. Yakni, sebuah cerita perihal perilaku sang putra; tidak lain adalah seorang pemuda, yang Leonardo cari saat itu.
“Jadi, ini semua perbuatan putra Ibu?”
Wanita itu mengangguk. Ragu. Sedikit menampakkan gurat pilu.
“Semenjak salah satu tungkainya patah, ia tak lagi bisa berjalan dengan normal. Sehingga, ia kerap melampiaskan rasa kesal terhadap Ibu,” Ibu tersebut menjelaskan. Memandang seorang pria tampan dengan tatapan nanar.
Sialan! Pria itu rupanya juga berperilaku buruk pada ibundanya sendiri. Bagaimana ia bisa melukai seorang wanita hingga berdarah seperti ini? Tega sekali dia.
Lalu,
“Ke manakah putra Ibu, sekarang? Aku tak melihatnya di dalam rumah,” Leonardo bercelingukan.
Para pengawal sontak mencari keberadaan seorang pria, yang sempat mereka kembalikan dengan paksa ke desa asal. Benar saja, usai Leonardo memerintahkan untuk membawa pemuda itu pergi dari hunian megah, para pengawal memilih mengembalikan pemuda itu ke desa asal. Bagaimana pun, para kepala desa takkan berani mengambil tindakan; berisi hukuman untuk para penduduk. Hhm! Lebih tepatnya, para kepala desa kerap pilih kasih saat memberi hukuman.
Bagaimana tidak, di dalam kesepakatan mereka, jika ada warga yang menerobos ke desa lain; selagi warga itu membawa harta benda, baik uang atau emas, maka para kepala desa akan membiarkan warga tersebut bertindak semaunya. Yah! Benar-benar sebuah pikiran yang picik. Kesepakatan yang juga didasari dengan taktik licik. Hanya demi harta, mereka jadi tak menegakkan keadilan yang seharusnya dipegang teguh oleh para pemimpin di sana.
Ternyata, kehidupan di masa lalu dan masa depan tak jauh berbeda. Beberapa orang yang dirasa dapat menguntungkan pribadi orang lain, akan dapat bertindak seenaknya; tanpa diberi hukuman setimpal. Dan, orang-orang lemah selalu menjadi sasaran mereka. Jika terus begini, tak ada jaminan jika Priscilla dapat hidup dengan aman dan nyaman selagi aku kembali ke masa depan. Leonardo bergumam. Menimang-nimang isi di dalam benak kepala.
“Tuan, sebaiknya kita kembali melanjutkan perjalanan. Bukankah, masih banyak desa yang hendak Tuan tuju?” Duncan berujar.
Namun, sang majikan mengurungkan niat. Ia berdalih ingin menemukan keberadaan seorang pemuda yang sedang ia incar. Seketika, ia ingin membawa pemuda itu dengan segera. Menujukan pemuda tersebut untuk ia serahkan pada Kyteler.
“Tidak! Aku bisa melanjutkan perjalanan ini pada esok hari. Sekarang, kalian pergilah. Cari pemuda itu. Dapatkan dan bawalah dia kepadaku,” Leonardo memerintah. Mengarahkan para pengawal yang ia bawa serta.
Duncan bergegas mengajak pengawal lain untuk berpencar. Menyapu setiap sudut desa untuk menemukan pemuda yang diinginkan oleh sang majikan.
Di sela Duncan dan para pengawal menyisir area pedesaan, Leonardo masih berada di hunian sederhana yang ia kunjungi baru saja. Dengan telaten, Leonardo memperlakukan wanita paruh baya itu; seperti ia memperlakukan Dewi. Seketika, Leonardo teringat pada sosok kedua orang tua di rumah. Namun, pemuda itu kembali tenang. Setidaknya, ia tak meninggalkan Akmal dan Dewi dalam kurun berbulan-bulan. Melainkan, hanya untuk beberapa jam; sebelum ia memutuskan kembali pulang ke masa depan.
Namun, tiba-tiba suara gaduh terdengar. Seraya, para penduduk di desa tak pernah berhenti berulah.
“Ibu, tunggulah di sini. Aku akan mengecek keadaan di luar,” Leonardo berpamitan.
Dan, benar saja. Saat itu, Duncan dan beberapa pengawal sedang bertengkar dengan para pemuda di sana. Mereka bahkan melakukan baku hantam. Leonardo berniat masuk ke dalam adegan pertarungan.
Hanya saja,
“Tuan, biar kami yang menuntaskan masalah ini. Lagi pula, aku sudah berjanji akan mengabdi penuh pada Tuan Muda,” Duncan berkata.
Leonardo memundurkan langkah. Mengurungkan niat saat hendak memasuki area pertikaian. Bukankah, ini juga bagus untuk Duncan dan para pengawal baru tersebut? Setidaknya, mereka dapat menjalankan perintah, bekerja, sekaligus meningkatkan ilmu bela diri mereka. Yah! Itulah yang Leonardo pikirkan usai mendapati penolakan dari Duncan. Lagi pula, ilmu bela diri harus terus dilatih agar dapat berkembang. Sama halnya yang sempat ia lakukan. Yakni, tetap berlatih meski ia telah diberkahi dengan ilmu tersebut secara cuma-cuma.
Dan,
BUG!
BUG!
Berbagai bogem melayang. Terhempas. Mendarat pada beragam bagian di tubuh para pria yang sedang bertikai.
Namun,
Beberapa pengawal Leonardo mulai terhuyung. Mereka tak mampu menghalau pukulan dari pemuda di pedesaan. Melihat hal tersebut, Leonardo tak tinggal diam. Ia menjadi geram, sesaat usai mengetahui sosok dalang yang menyebabkan pertarungan itu terjadi.
“Jadi, kau yang mengerahkan teman-temanmu ini, hah?” Leonardo berseru lantang. Menatap tajam seorang pria muda yang sedari tadi ia cari.
“Jika, iya. Lantas, kau hendak berbuat apa? Lagi pula, kau bukan penduduk di desa ini. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam desa kami? Apa yang kau bawa untuk Pak Kepala Desa? Hingga, kau berani melakukan hal-hal di luar kesepakatan ini?” Pemuda itu menyahut.
Haish!
Leonardo mengeram. Ia tak lagi dapat menahan rasa sabar. Tak menunggu lama, Leonardo beralih membantu para pengawal baru, yang sedang kewalahan.
Wussh!
BUG!
BUG!
Beragam pukulan Leonardo layangkan. Beberapa pemuda yang semula berbaris rapi; seraya siap dihujam bergantian, perlahan tergelepar pelan. Satu per satu dari mereka mulai menyatu dengan dataran tanah berwarna kecokelatan.
Leonardo benar-benar lihai. Ia melayangkan pukulan lurus, tegak kemudian melingkar. Tak lupa berbalik arah pada sosok penyerang dari sisi belakang. Beralih menendang sang lawan dengan tendangan sabit. Mengarahkan tungkai jenjang miliknya untuk menyasar tulang rusuk sang musuh.
Dalam hitungan detik, para pemuda itu tersungkur. Benar-benar dipenuhi dengan beragam luka pada sekujur tubuh.
Sedangkan, pemuda itu? Ah, ia berusaha kabur. Sembari berjalan pincang dengan menggunakan satu tongkat; terbuat dari bahan dasar kayu, ia terus melangkah melarikan diri. Hanya saja, sejauh dan sekuat apa pun ia pergi, Leonardo akan dengan mudah menangkap pemuda itu. Bagaimana tidak, Leonardo tak hanya mahir dalam ilmu bela diri. Melainkan, ia diberkahi kemampuan berlari dengan seribu kecepatan tak tertandingi.
“HEI! Hei. Pemuda yang berperangai buas, licik, sombong nan tak tahu diri, kau hendak pergi ke mana? Bukankah, kau tahu jika kau takkan bisa kabur dariku? Ataukah, kau lupa jika saat kedua tungkaimu masih sehat saja, kau tak bisa berkutik? Lantas, dengan satu tungkaimu itu, maka kau bisa apa, hah?” Leonardo berucap. Sedikit bernada sarkastis.
Namun, pemuda itu terus berusaha berlari. Meski, langkah yang ia tapaki terus terseok-seok.
“Jika kau takut padaku, lantas mengapa kau masih berlaga seperti tadi? Ah, sudahlah. Kau hanya tetap diam. Aku tak ingin dianggap seperti orang tak waras karena berbicara sendirian,” Leonardo melanjutkan aktivitas menyindir pelan. Sembari tak henti memperhatikan seorang pemuda yang bersibuk melanjutkan jalan.
Pada saat bersamaan, Duncan menghampiri posisi sang majikan. Yah! Masih dengan beberapa luka lebam pada beberapa bagian.
Saat itu, Leonardo spontan memberi amanah. Yakni, memerintahkan agar Duncan menangkap pemuda tak tahu diri tersebut. Melalui isyarat mata yang Leonardo berikan, Duncan bergegas menurut pada perintah. Pengawal itu mencekal pergerakan sang pemuda.
“Sekarang, ikat dia. Dan, mari kita bawa serta dia menuju desa kita saja,” Leonardo berujar. Penuh dengan kemantapan.