“Baiklah, aku akan melakukan hal itu.”
***
Mendengar kalimat kesanggupan dari Leonardo, Kyteler spontan terbahak. Kini, penyihir yang semula berlaga baik itu, seakan menampakkan sosok sejatinya secara alamiah. Ia bahkan hingga lupa. Jika, ia masih harus bersikap baik di depan Leonardo. Tentu, agar Leonardo tak berpikiran macam-macam; perihal rencana terselubung yang ia punya.
Meski begitu, kali ini seorang Leonardo Mandela Lombogia takkan serta merta menurut begitu saja. Bagaimana pun, ia hanya seorang anak manusia yang masih memiliki hati nurani dan perasaan. Sehingga, Leonardo takkan membahayakan nyawa para muda mudi di desa.
“Jika, kau sudah selesai mendengar keinginanku. Sebaiknya, sekarang kau pergi dari sini,” Kyteler memerintah.
Leonardo membalikkan badan. Yah! Masih dengan segenap rasa penasaran.
Di sela Leonardo hendak melangkah; menuju sela terbuka, Kyteler kembali mengeluarkan suara.
“Leonardo, tunggulah dulu.”
Spontan, Leonardo menghentikan langkah.
“Ada apa lagi?”
“Aku sempat melihatmu berkelahi dengan beberapa pemuda pada beberapa waktu lalu. Apa kau memiliki kemampuan khusus seperti ilmu bela diri?” Kyteler bertanya penasaran.
Leonardo menjeda jawaban. Apa lagi yang sedang penyihir ini inginkan? Tak mungkin, ia ingin belajar ilmu bela diri dariku, bukan? Leonardo menerka.
“Jika, memang iya. Lantas, mengapa?”
Kyteler menggeleng pelan, “Tidak, aku hanya bertanya. Aku hanya memastikan saja, jika aku tak salah melihat sosok pemuda itu,” Sang penyihir berkilah.
Sejatinya, Kyteler sempat takut. Mengingat, ia benar-benar sedang berinteraksi dengan seorang pemuda yang unik. Yah! Sungguh, Leonardo diberkahi oleh banyak kemampuan tak terduga. Dan, Kyteler harus waspada. Tak boleh melengah. Bagaimana pun, Leonardo bisa kapan saja menjadi boomerang untuk dirinya.
“Sudahlah, jika tak ada lagi yang hendak kau katakan, aku akan pergi dari sini. Dan, ingatlah pada janjimu itu. Jika tidak, maka aku akan menghampirimu. Aku akan berusaha menghab—”
“Menghabisiku? Haha! Mana bisa? Aku dan kau ini adalah dua makhluk yang berbeda. Apa kau lupa, jika aku penyihir dan kau hanya seorang anak manusia biasa?” Kyteler berucap. Sesaat usai memotong kalimat yang hendak Leonardo utarakan. Yakni, kalimat berisi sebuah ancaman.
Mendengar sahutan Kyteler, Leonardo hanya terdiam. Ia memilih menelengkan kepala. Kemudian, berpamitan.
“Terserah kau saja berkata apa. Aku akan pergi dahulu dari dunia magismu ini,” Leonardo berucap. Seraya tak ingin berpikir panjang perihal kalimat provokasi, yang Kyteler ucapkan.
******
Tak lama kemudian, bayangan Leonardo telah menghilang. Pria buruk rupa yang kini berubah menjadi tampan nan rupawan itu, baru saja menembus sela terbuka. Kembali menapaki tungkai pada jalur pedesaan; seusai meninggalkan area pemandian air panas.
Sembari berjalan, Leonardo sempat menenggelamkan pikiran. Mengapa, pemandian air panas itu selalu sepi pengunjung? Sejak awal aku ke sana, tak ada seorang pun penduduk desa yang memanfaatkan air jernih itu.
Issh!
Lagi-lagi hanya ada desisan panjang yang Leonardo keluarkan. Kehidupan di masa lalu, benar-benar membuat ia terus bertanya-tanya.
Seandainya, di masa ini aku juga dapat menggunakan logika. Maka, aku tak perlu terus kebingungan seperti ini. Leonardo menyudahi lamunan dengan batinan lirih.
******
Malam kian melarut. Kini, Leonardo telah berada di dalam rumah megah yang ia huni bersama Priscilla.
Hari itu, Leonardo tak berniat kembali ke masa depan. Toh, seharian berada di masa lalu, sama halnya lima menit saja di masa depan. Sehingga, sebelum hari beranjak pagi; saat sekolah tiba, Leonardo masih mempunyai banyak waktu untuk ia habiskan di masa lalu. Sehingga, menginap menjadi pilihan terbaik saat itu.
Ceklek!
Daun pintu kamar terbuka. Sosok Priscilla tak lagi berada di atas ranjang. Wanita berparas cantik nan jelita itu, baru saja berpindah ke sebuah dudukan di depan meja rias. Bersibuk dengan sebuah sisir pada tangan kanan. Tak henti menyisir rambut panjang yang berwarna hitam melegam.
“Kau dari mana saja, Leonardo? Apa kau berniat meninggalkanku lagi?” Priscilla bertanya. Tak mengalihkan pandang. Masih menatap lekat paras di cermin.
Tak dapat Priscilla pungkiri. Jika, di dalam lubuk hati kecilnya terbesit keinginan, agar Leonardo tak pergi meninggalkan ia seorang. Sungguh, meski telah berpindah pada hunian megah; lengkap dengan para pelayan dan pengawal, Priscilla masih kerap merasa kesepian dan juga ketakutan.
“Tidak, Prisc. Kali ini, aku akan bermalam dengan lebih lama. Mungkin beberapa hari, beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan,” Leonardo berujar. Tak lupa dengan isi kepala yang sedang memperhitungkan perbedaan waktu; antara masa lalu dan masa depan dengan perhitungan yang matang.
“Benarkah?” Priscilla menyahut antusias. Meletakkan sisir yang semula ia genggam. Beralih beranjak dari duduk. Memandang lekat sosok seorang pemuda, yang sedang berdiri dengan posisi berhadapan.
“Benar,” Leonardo menyahut singkat. Kemudian, melempar sedikit senyum. Sebelum pada akhirnya, beralih merebahkan tubuh di atas ranjang.
“Apa kau sedang lelah?” Priscilla bertanya. Berinisiatif menyampingi posisi Leonardo; dengan menjejalkan p****t di tepi ranjang.
Alih-alih segera menyahut, Leonardo justru menarik lengan Priscilla. Membawa tangan dan jemari lentik itu ke dalam genggaman. Lalu, “Kau benar. Aku sedang lelah. Malam ini, biarkan aku beristirahat sebentar saja,” Sang pria meminta.
Priscilla mengangguk mengiyakan.
******
Tak terasa hari berganti menjadi pagi.
Seperti biasa, suasana sejuk di pedesaan segera menyapa. Menerpakan embun pagi dengan berbagai kicauan burung, yang saling bersahut-sahutan. Membuat seorang pria tampan, spontan mengerjap mata. Membuka kelopak. Memperhatikan sela jendela yang terbuka.
Aku harus bergegas. Pria itu memutuskan. Segera bangkit dari posisi rebahan. Berjalan menuju keluar kamar.
Selagi berjalan, aroma masakan merasuk ke dalam indera. Benar saja, pagi itu Priscilla dan seorang pelayan sedang bersibuk di dalam dapur. Leonardo bersegera menghampiri ruang makan. Jika diingat, setiap menjelajah ke masa lalu, Leonardo selalu lupa mengisi perut. Padahal, di masa depan bahkan cacing-cacing di dalam perut itu, tak henti berdemo. Bersuara keras, tak ingin diindahkan oleh Leonardo.
Beruntung, sepeninggal ia di masa lalu, Leonardo mendapati nasib baik. Sehingga, perihal makanan ia tak lagi perlu memusingkan hal tersebut.
“Kau sedang memasak apa?” Leonardo bertanya. Menarik sebuah kursi di sana.
Saat ini, Priscilla sedang memindahkan beberapa makan ke atas meja berukuran panjang. Sungguh, rumah yang dibeli oleh Leonardo amatlah besar. Bahkan, ruang makan di dalam rumah tersebut, setara dengan ukuran dua kelas di sekolahan.
“Aku baru saja memasakkan sup untukmu. Semalam, kau bilang lelah sekali. Jadi, aku memutuskan untuk memasak sup agar kau merasa bersemangat lagi,” Priscilla menyahut. Melempar senyum.
Entah mengapa, Leonardo tak berniat untuk sarapan. Baginya, menatap wajah Priscilla yang sedang tersenyum ramah, sudah membuat ia merasa kenyang.
Namun, bagaimana pun ia harus mengisi perut agar tak keroncongan. Mengingat, agenda perjalanan Leonardo hari itu akan begitu padat. Yah! Benar saja, semalam Leonardo sengaja beristirahat, sebelum melakukan banyak hal; untuk mengetahui seluk beluk pedesaan dengan lebih mantap. Termasuk, perihal kehidupan para rakyat di dunia non magis mau pun magis.
******
Beberapa saat usai menuntaskan aktivitas makan pagi bersama.
Leonardo berpamitan pada Priscilla untuk pergi bersama beberapa orang pengawal. Salah satunya, Duncan. Seorang pengawal yang berniat mengabdi penuh pada sang majikan.
“Memang, kau hendak pergi ke mana?”
“Aku hanya ingin berjalan-jalan. Bukankah, tak sopan jika aku memutuskan tinggal di sini selama berbulan-bulan, namun aku tak menyapa para penduduk di desa,” Leonardo berkilah. Berusaha menyembunyikan maksud akan kebenaran dari kepergian yang hendak ia lakukan.
“Tapi, para penduduk di sini sangatlah tidak ramah,” Priscilla menyahut sedih. Teringat akan beberapa momen saat ia dijadikan bual-bualan para warga.
“Kau tenang saja. Bukankah, kau sudah melihat sendiri jika aku mampu menjaga diriku?” Leonardo berkata. Berusaha meyakinkan Priscilla.
Pada akhirnya, kalimat persetujuan atas perijinan pamit itu didapati oleh Leonardo. Namun, dengan satu syarat. Yakni, Leonardo harus kembali ke rumah; menghampiri Priscilla. Takkan meninggalkan ia seorang diri begitu saja. Dan, Leonardo? Yah! Pemuda itu menyanggupi hal tersebut.
“Baiklah, aku akan segera berangkat. Dan, untukmu. Ingatlah! Kau jangan pernah mudah percaya pada siapa pun. Kau harus terus waspada. Sementara aku akan mengingatkan para pengawal yang tersisa, untuk berjaga ketat. Agar tak ada lagi pria licik yang mengganggumu,” Leonardo berpesan.
Kemudian, sang pria bergegas keluar dari dalam rumah. Berseru lantang. Mengumpulkan seluruh para pengawal.
Hentakan kaki terus berpijak serentak. Kini, mereka telah berbaris rapi saat menghadap sang tuan.
“Duncan, sekarang pilihlah beberapa pengawal baru di rumah ini,” Leonardo menginstruksi.
Duncan masih gelagapan. Tak mengerti pada perintah yang sang majikan berikan.
“Kau dan para pengawal baru itu akan turut serta bersamaku untuk melakukan perjalanan. Sedangkan, pengawal lain yang telah berpengalaman, aku memerintahkan kalian untuk berjaga ketat di rumah. Jangan sampai ada seorang pun yang berani mendekati Priscilla. Jika, seujung hidung saja kalian lengah, aku takkan segan menghabisi kalian. Apa kalian mengerti?” Leonardo mengakhiri amanah. Menambahkan sedikit kalimat berisi ultimatum di sana.
“Kami mengerti, Tuan,” Suara keras terdengar. Para pengawal mengiyakan amanah yang baru saja diberikan.
Lalu, Leonardo bergegas menuju area kandang kuda. Ia berniat menaiki sebuah kuda terkuat di sana. Benar saja, Leonardo sungguh membeli rumah mewah beserta isinya. Termasuk, kuda-kuda di dalamnya. Beberapa jenis kuda, yang akan setia menemani setiap perjalanan ia dalam berpetualang.
Hiakh! akh!
Seekor kuda baru saja memekikkan suara. Seraya, ia menyambut seorang tuan muda yang hendak menunggangi tubuh kekar miliknya. Kuda bernama Moe Gayo itu baru saja dinaiki oleh sang tuan.
Kemudian,
“Mari kita berangkat!” Leonardo berseru. Menginstruksi keberangkatan bersama beberapa orang pengawal.
Kini, petualangan telah dimulai.