“Kalian tunggu apa lagi? Cepat keluar dari sini! Dan, pastikan jika pria itu akan menyesal.”
***
Para pengawal menunduk patuh. Bersigap membawa seorang pria, yang telah membuat gaduh.
“Prisc, sekarang lebih baik kau beristirahat saja,” Leonardo menyarankan. Sesaat usai mereka berada berdua saja di dalam kamar.
Namun, gelengan kepala menjadi tanggapan seorang wanita. Yah! Priscilla enggan beristirahat di dalam kamar tersebut. Wanita itu masih merasa trauma akan kejadian pedih, yang hampir saja menimpa dirinya.
Melihat respon dari gerak kepala yang menandakan penolakan, Leonardo spontan mengarahkan Priscilla keluar dari dalam kamar. Kali itu, ia menujukan Priscilla ke sebuah kamar lain. Yakni, pada kamar tamu.
“Jika kau masih keberatan untuk beristirahat di sana, maka beristirahatlah di sini saja,” Leonardo mengarahkan. Sesaat usai membuka daun pintu kamar, yang berukuran sedikit lebih sempit di banding kamar utama.
Kali itu, anggukan kepala menjadi pertanda iya.
Usai memastikan Priscilla dalam keadaan tenang, barulah Leonardo melangkah keluar. Ia bergegas menuju halaman depan. Berseru lantang. Memanggil para pengawal.
Langkah kaki terdengar berjalan dengan gerakan lebar. Para pengawal bertubuh kekar itu tak mungkin berani mengindahkan panggilan sang tuan. Mereka bergegas menghampiri sang majikan. Membentuk barisan.
“Apa yang kalian lakukan di rumahku, hah? Sebenarnya, aku menggaji kalian untuk apa? Apa hanya untuk berjaga di depan pintu gerbang? Ataukah, menjaga majikan kalian? Lagi pula, bukankah aku sudah berpesan, jika kalian harus menjaga Priscilla?” Leonardo mengeluarkan suara. Sang pria berdiri tegap. Tak lupa dengan gerakan tangan berkacak pinggang. Menampakkan gurat menyeramkan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan penampilan saat Leonardo berada di masa depan.
“Ma-maafkan kami, Tuan. Pria itu berkata hendak mengantar bahan makanan. Kami tak tahu, jika ia berniat melakukan hal buruk kepada Nona Muda,” Salah seorang pengawal memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan.
Namun, sebuah penolakan segera mereka dapati. Yah! Saat itu, Leonardo tak terima alasan apa pun. Bagi Leonardo, para pekerja itu sudah lengah dalam kewajiban yang mereka emban.
Dan,
BUG!
Sebuah bogem melayang. Leonardo menghujam tubuh kekar salah seorang pengawal.
Lalu,
“Kalian lihat ini, hah?” Leonardo memekik. Masih berada di dekat seorang pengawal, yang baru saja ia hujam dengan pukulan.
“Sekali lagi aku melihat kalian lengah, aku akan menghabisi kalian semua,” Leonardo berseru lantang. Penuh percaya diri saat memberi ancaman.
“Sekarang, kalian tunggu apa lagi? Cepat pergi dari sini,” Kali itu, sang majikan memerintahkan para pengawal untuk pergi. Seraya, ia muak melihat para pekerja yang tak becus seperti mereka.
Di sela Leonardo membalikkan badan, suara berat seorang pria terdengar. Memanggil nama sang majikan dengan penuh kemantapan.
“Tuan Leonardo?” Pengawal itu mengeluarkan suara.
Leonardo menghentikan langkah. Menoleh pada sumber suara.
“Ada apa?”
“Ada suatu hal yang ingin saya bicarakan dengan Tuan,” Pengawal itu berujar yakin. Tak ada gurat keraguan.
Melihat hal tersebut, Leonardo mengisyaratkan agar pengawal tersebut mengikuti langkah kaki yang hendak menuju area taman.
Kini, dua orang pemuda tak berbeda usia itu sedang duduk bersama.
“Apa yang hendak kau bicarakan denganku?” Leonardo memulai obrolan.
“Ijinkan saya mengabdi pada Tuan. Saya melihat Tuan Muda benar-benar sosok pemuda yang penuh dengan ketangguhan. Jujur, saya adalah pengawal baru di rumah ini. Saya belum memiliki ilmu bela diri seperti yang Tuan Muda punyai. Namun, saya ingin belajar dengan giat. Setelah itu, ijinkan saya untuk mendapati amanah dan perintah langsung dari Tuan.”
Ck!
Sepertinya, pengawal yang satu ini terlalu percaya diri. Namun, aku suka dengan kegigihan yang ia punya. Setidaknya, meski ia lemah, ia mau berusaha. Dan, hal itu mengingatkanku pada sosok Leonardo di masa depan. Leonardo bergumam. Tampak menimang-nimang.
“Baiklah, aku akan mempertimbangkan hal itu. Sebagai gantinya, kau harus menunjukkan keseriusanmu dalam mengabdi kepadaku,” Leonardo memutuskan.
Pengawal itu beranjak dari duduk. Segera membungkukkan bahu. Menundukkan kepala. Memberi tanda hormat akan keputusan yang sang majikan buat. Lalu, ia berpamitan undur diri dari sana.
Namun,
“Tunggu, tunggu dulu!” Leonardo berseru.
Pengawal itu menoleh, “Iya, Tuan?”
“Kau belum menyebutkan siapa namamu?”
Pengawal tersebut menggaruk tengkuk yang tak gatal. Ia baru tersadar, jika sifat keberanian yang ia punya, membuat ia lupa menyebutkan nama.
“Maafkan saya, Tuan. Nama saya Duncan,” Pengawal itu menyebut sebuah nama.
Leonardo mengangguk.
Kemudian, sang pengawal benar-benar pergi meninggalkan Leonardo seorang.
Sembari memandang hamparan luas taman di samping halaman depan rumah, Leonardo mencoba menenggelamkan pikiran. Sungguh, kehidupan yang ia jalani di masa lalu, tak dapat dicerna oleh logika. Dan, Leonardo benar-benar pusing memikirkan perihal perubahan drastis yang ia alami. Meski begitu, di dalam hati kecil Leonardo, terbesit rasa senang. Semua bayangan perihal kehidupan yang ia impikan, benar-benar menjadi kenyataan. Salah satunya, mengenai harta dan tahta yang ia punya. Ah, iya! Tak lupa dengan seorang wanita cantik, yang juga ia dapati dengan mudah.
Benar saja, semenjak menjadi seorang Leonardo Mandela Lombogia di masa lalu, Leonardo seolah tak lagi menjadi seorang remaja laki-laki. Melainkan, seorang pemuda yang tangguh nan pemberani. Sehingga, tak dapat ia pungkiri, jika perjumpaan dengan Priscilla, juga membuat Leonardo mulai berani memainkan perihal rasa di dalam lubuk hati yang terdalam. Yakni, sebuah rasa bertemakan cinta.
Tiba-tiba,
Di sela, Leonardo memikirkan banyak hal, mendadak suara rakyat bersorak memecah lamunan sang pria berparas tampan.
Sore itu, langit tiba-tiba menggelap. Pertanda, akan turun hujan. Namun, di pertengahan perubahan cuaca, para masyarakat justru sibuk berteriak gempar. Leonardo spontan beranjak dari tempat duduk. Menghampiri pintu gerbang yang tinggi nan menjulang.
“Wahai para pengawal, apa yang sedang terjadi di desa?” Leonardo bertanya.
Salah seorang pengawal menjelaskan duduk perkara perihal yang mereka saksikan. Yakni, mengenai berita jika salah satu rumah warga baru saja didatangi oleh Priscilla.
“APA? Tidak mungkin. Aku jelas-jelas mengantar Priscilla ke dalam kamar. Sehingga, tak mungkin dia justru berkeliaran di rumah warga,” Leonardo menyanggah.
Namun, para pengawal bersih keras terhadap berita yang mereka dengar. Mendapati kabar burung yang tersiar, Leonardo sontak menuju ke sisi dalam bagian rumah. Ia ingin memastikan kebenaran yang ada.
“Prisc? Priscilla?” Leonardo berseru lantang. Suara pemuda itu bahkan hingga menggema di dalam seluruh penjuru ruang.
Ceklek!
Daun pintu kamar terbuka. Dan, yah! Sosok Priscilla sedang tertidur pulas di atas ranjang. Lantas, apa yang sedang para rakyat hebohkan? Mengapa mereka berani sekali menyebar berita berisi kebohongan?
Seketika, Leonardo teringat pada suatu hal. Yakni, mengenai cerita yang sempat Priscilla lontarkan. Sebuah cerita saat seorang penyihir menjelma menjadi dirinya. Lalu, mengganggu para pria beristri di berbagai penjuru desa.
Sialan! Apa semua ini benar-benar ulah Kyteler? Tapi—
Leonardo menghembus napas panjang. Ia tak ingin mengambil kesimpulan sebelum mendapati kebenaran. Sehingga, pada hari yang mulai beranjak petang, Leonardo memutuskan untuk pergi ke tempat pemandian air panas. Untuk apa lagi? Tentu, untuk bertemu dengan seorang penyihir bernama Kyteler di dunia magis.
Tak menunggu lama, Leonardo bergegas pergi keluar dari hunian megah. Ia berlari dengan gerakan cepat. Melesat bak sebuah anak panah, yang harus segera menyasar tepat pada sasaran.
******
Sesampainya di pemandian air panas.
Leonardo berjalan dengan langkah lebar. Menembus sela terbuka; pembatas antara dunia non magis dan magis.
Dan,
“Kyteler?” Leonardo menyapa dengan nada berat.
Seorang penyihir baru saja membalikkan badan. Lalu, menyambut kedatangan pria yang sudah lama ia tunggu-tunggu.
“Akhirnya kau datang juga. Kukira, kau akan kabur begitu saja usai mendapati hal yang kau mau,” Kyteler berucap menyindir.
Leonardo spontan mengerti pada arah pembicaraan sang penyihir.
“Tentu saja aku takkan kabur.”
“Lantas, jika kau memang tak kabur, mengapa kau belum juga membawa para muda-mudi di desa untuk berkunjung ke mari. Apakah aku harus menjemput mereka sendiri?”
“Apa yang sedang kau katakan, Kyteler? Apa kau benar-benar sengaja melakukan hal ini hanya untuk memancingku ke mari?” Leonardo bertanya peka. Sesaat usai Kyteler membahas perihal perjanjian yang sempat mereka buat. Yakni, sebuah kesepakatan agar Leonardo membujuk para penduduk desa; berusia muda, untuk berkunjung ke dunia magis.
“Tentu saja. Jika tidak, mungkin kau akan benar-benar lupa pada perjanjian yang kita sepakati,” Kyteler menyahut tanpa basa-basi.
Cih!
Rupanya, Kyteler benar-benar memanfaatkanku. Ia tak serta merta mengubah paras dan memberiku harta kekayaan. Itu semua ia lakukan hanya untuk kesepakatan yang ia inginkan. Leonardo bersimpul kemudian.
“Sebenarnya, apa tujuanmu memintaku membawa mereka ke mari?” Leonardo bertanya penasaran.
Kyteler terdiam. Penyihir wanita itu seraya sedang berpikir dalam waktu sepersekian detik.
“Tentu aku memiliki banyak tujuan. Dan, menurutku kau tak perlu tahu akan hal itu.”
Hhh!
Helaan napas terdengar. Malam itu, Leonardo benar-benar enggan berdebat. Dari pada berdebat, lebih baik ia menggunakan akal sehat dan kemampuan yang ia punya; untuk mencari tahu perihal maksud terselubung sang lawan bicara.
Sehingga,
“Baiklah, aku akan segera membawakan seorang pemuda untukmu,” Leonardo menyanggupi. Sesaat usai teringat pada seorang pemuda, yang sempat memiliki niat buas pada Priscilla.
Di dalam pemikiran Leonardo, setidaknya pemuda tersebut dapat ia jadikan bahan uji coba pertama. Yakni, untuk mengetahui perihal maksud dan tujuan Kyteler yang sebenarnya. Jikalau, maksud dan tujuan itu berwujud baik, itu berarti seorang pemuda tersebut sedang mendapati keberuntungan yang sama sepertinya. Namun, jika tidak. Itu pertanda, jika Leonardo baru saja menyelam sambil minum air. Yah! Ia telah membawakan hal yang Kyteler mau, sekaligus memberi pelajaran pada pemuda tersebut.
“Pemuda? Hhm, kau tahu saja perihal yang kuinginkan,” Kyteler menyahut. Menyeringai dengan tatapan sangar.
“Tapi, dengan satu syarat,” Leonardo berucap tegas.
Kyteler sontak menyipitkan mata.
“Kau tak boleh menjelma menjadi Priscilla lagi. Dan, kau jangan sekali-kali melakukan hal itu untuk mendapati keinginan pribadimu itu,” Leonardo melanjutkan ucapan.
Cih!
Jadi, pemuda ini sudah tahu perihal yang kulakukan di desa selama ini? Ah, baiklah. Aku tak apa. Setidaknya, setelah ini Leonardo dan aku benar-benar terikat dalam hubungan kerja. Hhm, maksudku hubungan saling menguntungkan. Kyteler membatin di dalam hati. Tak lupa dengan cengiran alamiah yang tak dapat ia hindari.
“Baiklah, itu adalah hal yang mudah. Yang terpenting, kau rutin membawakanku para muda-mudi di desa. Setidaknya, kau harus mengirim salah satu dari mereka setiap satu minggu sekali,” Kyteler memperjelas isi perjanjian.
Leonardo mengerutkan dahi. Sejatinya, ia merasa heran dan tak mengerti akan alasan Kyteler meminta hal tersebut secara rutin; satu minggu sekali? Dan, kini Leonardo telah terjebak. Sebuah jebakan yang membuat ia tak mengerti. Sehingga, untuk saat ini Leonardo hanya bisa menuruti perintah Kyteler. Sembari terus berusaha mencari tahu perihal maksud dan tujuan tersembunyi sang penyihir.
Pada akhirnya,
“Baiklah, aku akan melakukan hal itu," Leonardo kembali setuju.