TENSE MOMENT

1399 Kata
“Kau itu jahat sekali padaku, Kak. Aku kan juga ingin melakukan perjalanan waktu itu.” *** Mendengar sang adik mengambek, Gerson segera memberi penjelasan perihal keputusan yang ia buat. “Grace, ini semua kulakukan demi kebaikanmu. Demi kebaikan orang lain di luar sana. Sehingga, takkan ada sembarang orang yang bisa menerobos masuk ke dalam mesin waktu ini. Bukankah, kau tahu sendiri jika perjalanan waktu ini sangat beresiko? Dan, aku takkan membahayakan dirimu, termasuk nyawa orang lain.” Meski, telah mendengar penjelasan sang kakak, Grace tetap tak terima. Ia masih bermuram durja. “Sudahlah, kau jangan terus mengambek. Berhentilah merajuk seperti anak kecil begitu, huh,” Gerson meraih kembali puncak kepala sang adik. Mengusap lembut dahi yang sedikit tertutup poni di sana. “Baiklah, baiklah.” Usai mendengar sepatah kata berisi persetujuan, barulah Leonardo melanjutkan langkah. Yakni, memasukkan rumus rumit yang akan membawa ia menuju sebuah masa. Tentu, Leonardo harus memecahkan kode baru, yang nanti akan membawa ia pada masa lalu. Tak lama setelahnya, Titt! Ceklek! Pintu pada mesin berbentuk persegi itu tertutup. Pertanda, jika Leonardo berhasil memecahkan rumus di sana. Kemudian, “Sudahlah, jangan merajuk lagi,” Gerson berusaha merayu sang adik yang cantik jelita. Remaja perempuan itu tak henti memanyunkan bibir berwarna merah delima. “Pokoknya, Kakak harus membelikan Grace tiket untuk berlibur ke Korea. Itu sebagai ganti rugi atas keputusan Kakak tak mengijinkan Grace turut serta bersama Leonardo,” Grace berujar. Mengucap sebuah perjanjian. Yang mau tak mau, harus disepakati oleh sang kakak. Usai menyatakan keinginan ganti rugi, Grace segera berlalu pergi. Beranjak menuju daun pintu ruang kerja Gerson di sana. “Baiklah, Grace. Kakak akan membelikanmu beragam tiket ke mana saja. Asal kau tak naik ke dalam mesin waktu itu,” Gerson berteriak. Berseru lantang sembari terkekeh geli dengan perangai sang adik, yang terkadang masih terlihat seperti seorang anak kecil. Di sela, Grace dan Gerson kembali pada aktivitas masing-masing, kini seorang penjelajah waktu sedang menaruh harap-harap cemas. Ia berharap, kode yang ia masukkan benar-benar membawa ia ke masa lalu. Jika tidak, itu artinya Leonardo takkan bisa bertemu dengan Priscilla. Takkan bisa menikmati masa-masa kejayaan yang baru saja ia dapati di masa itu. Di dalam mesin waktu. Leonardo sedang merasakan guncangan hebat. Lebih hebat dibanding guncangan pertama yang ia rasa. Sekujur tubuh Leonardo seraya melemah. Benar, tulang-tulang di tubuh serasa rontok dengan sendirinya. Dan kali itu, Leonardo juga merasakan hawa dingin. Sebuah hawa yang menyelinap masuk ke dalam diri. Menyebabkan ia jadi menggigil kedinginan. Tak lama kemudian, Lampu-lampu pada mesin waktu menyala terang benderang. Sebuah pintu dengan bobot amat berat, spontan terbuka otomatis. Sebuah kondisi yang menandakan, jika sang penjelajah waktu telah sampai pada tujuan. Leonardo berusaha bangkit dari posisi rebahan. Benar, guncangan hebat itu membuat Leonardo tak mungkin bertahan dalam posisi berdiri. Sehingga, jatuh tergelepar menjadi sebuah sebab akibat dari dampak perjalanan waktu. Usai terbangun dan menyeimbangkan tubuh, Leonardo berusaha berjalan menuju daun pintu mesin waktu. Ia mengedarkan pandangan. Dan, Syukurlah, aku telah menyelesaikan kode dengan benar. Yah! Benar saja, Leonardo berhasil menjelajah menuju masa yang ingin ia tuju. Dengan langkah cepat Leonardo keluar dari dalam mesin waktu. Tak lupa memasang kamera CCTV, sesuai instruksi yang Gerson beri. Klik! Kamera CCTV baru saja terpasang dengan benar. Sinar merah dengan titik kecil di sana baru saja menyala. Leonardo melambai tangan ke kamera. Berusaha memastikan jika Gerson dapat melihat posisi ia berada. Yakni, tepat di depan layar penerima kode. Tak menunggu lama, Leonardo melangkah dengan seribu gurat rasa bahagia. Yah! Bagaimana tidak, setelah ia menginjakkan kaki ke tanah. Beragam perubahan pada tubuh sontak menyertai sosok Leonardo. Sehingga, Leonardo tak lagi tampil buruk rupa, dekil dan ringkih. Tentu, dengan berada di masa lalu, ia juga takkan mendapati hidup nestapa di dalam lembah kemiskinan. Kini, Leonardo berjalan dengan rasa percaya diri. Melebarkan tungkai menuju hunian mewah, yang ia tinggali bersama seorang wanita muda. ****** Sesampainya di kediaman megah yang telah dibeli oleh Leonardo. Pagar tinggi nan menjulang baru saja terbuka. Tentu, bukan karena terbuka otomatis; seperti yang kerap terjadi di masa depan. Melainkan, terbuka karena beberapa pengawal spontan menyambut kedatangan sang majikan muda. “Selamat datang, Tuan,” Para pengawal berucap serentak. Leonardo melempar senyum. Sungguh, suasana itu hanya bisa ia dapati saat menjelajah ke masa lalu. Mengingat, di masa depan ia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang anak muda, yang terlahir dari keluarga miskin nan menderita. Usai menapaki sisi depan rumah, seorang pelayan tiba-tiba keluar dengan terburu-buru. Bahkan, ia hampir saja menabrak sang majikan. “Hei, Pelayan? Ada apa? Mengapa kau berlari ketakutan?” Leonardo bertanya heran. Menyentuh kedua bahu sang pelayan perempuan. “Tuan Muda, Tuan bergegaslah. Nona Muda sedang dalam keadaan bahaya,” Pelayan itu berseru lantang. Mengarahkan pandang ke arah sisi dalam rumah. Sontak, Leonardo berlari dengan langkah cepat. Mengedarkan pandangan mencari sosok seorang wanita, yang sudah berhari-hari ia tinggalkan sendirian. Dan, Suara gaduh mulai terdengar. Yakni, terpusat pada sebuah sudut ruang. Ruang dengan pintu kamar yang sedikit terbuka. Menampakkan dua orang berusia pertengahan dua puluhan di sana. Sayangnya, mereka sedang dalam keadaan berseteru tegang. Bagaimana tidak, saat itu seorang pria muda sedang berniat melakukan hal buas pada sang lawan. Yakni, hendak memasukkan miliknya pada sebuah batas kepemilikan. Yah! Saat itu Priscilla sedang dalam keadaan sedikit menegang. Ia tak lagi berada di dalam balutan busana yang lengkap. Terlebih lagi sedang dalam kondisi terkungkung oleh seorang pria. Spontan, Leonardo berlari cepat. Dan, Wussh! Pria berparas tampan itu baru saja menghempas kasar seorang pria lain di dalam kamar. Pria yang semula sedang ingin menyalurkan keinginan buas terpendam. Kini, pria tak tahu sopan itu telah berpindah dalam keadaan tersungkur di lantai. Wajah pria tersebut bertatap dengan dataran ubin yang dingin. “Apa yang baru saja kau lakukan, hah? Berani-beraninya kau menyentuh wanitaku? Leonardo memekikkan suara. Melirik sekilas ke arah Priscilla. Usai berhasil terbebas dari kungkungan, sang wanita bergegas menggunakan pakaian yang semula terlepas. Berserakan di sisi bawah ranjang. Tanpa banyak bicara, BUG! Sebuah bogem mendarat pada wajah seorang pria. Pria itu baru saja mendapati pukulan tumpul dari kepalan tangan seorang Leonardo. Spontan, darah memercik dari salah satu sudut bibir. Dan, Cih! Pria licik itu berdecik. Membuang ludah ke arah samping sisi Leonardo. Kemudian, berusaha bangkit dari posisi semula. Berniat membalas pukulan yang Leonardo layangkan kepadanya. Tak menunggu lama, baku hantam terjadi. Dua orang pria tersebut sedang beradu otot dengan segenap kemampuan yang mereka punya. Sementara itu, Priscilla hanya bisa terdiam di sebuah sudut. Ia menekuk kedua tungkai sembari meringkuk di bawah meja. Menatap dua pria yang sedang berkelahi dengan tatapan ketakutan. Hanya saja, rasa takut itu tak lebih besar jika dibanding saat ia berada di dalam kungkungan seorang pria, yang mendatangi ia dengan tiba-tiba. Di sela Priscilla sedang menangis, Leonardo sedang berusaha membuat sang lawan menjadi tumbang. Leonardo akan memastikan jika pria tersebut tak dapat menggerakkan kedua tungkai. Yah! Tentu, agar pria itu menjadi jera. Tak lagi bisa menghampiri sang wanita untuk kali kedua. “Aku akan mematahkan tungkaimu,” Leonardo mengancam. Seketika, KREK! Bunyi gemeretak terdengar. Baru saja Leonardo berhasil mematahkan tulang belulang pada tungkai seorang pria. Benar-benar tanpa persetujuan. Spontan, Argh! Teriakan keras terdengar. Melengking tajam. Pria itu sedang meronta kesakitan. Namun, Leonardo tak tinggal diam. Ia sedang menarik tungkai sisi lain, yang masih terlihat sehat. Berniat melakukan hal yang sama. Yakni, mematahkan kedua tungkai secara bergantian. Hanya saja, “Leonardo, hentikan!” Priscilla berseru. Masih dengan suara bergemetar. Leonardo sontak menghentikan pergerakan. Menoleh pada sumber suara. Menatap lekat seorang wanita yang sedang berdiri pada sisi belakang ia berada. “Apa kau tak apa-apa, huh?” Leonardo bertanya. Saat itu, sang pria telah berada di samping Priscilla. Ia baru saja meninggalkan posisi sang lawan. Beralih menghampiri sang pujaan. Bertanya dengan tatapan menelisik tajam. Penuh dengan kekhawatiran. Priscilla terdiam. Tentu, wanita tersebut tak bisa memberi jawaban. Ia masih mengalami syok berat akan kejadian yang baru saja menimpa. Sehingga, sebuah pelukan menjadi alternatif terbaik yang bisa Leonardo lakukan. Yakni, mendekap tubuh seorang wanita untuk memberi ketenangan. “Tenanglah, Prisc. Kini, aku berada di sini. Aku akan menjagamu,” Leonardo berbisik lirih. Meraih dan tak henti mengusap puncak kepala sang wanita. Tak lama kemudian, barulah para pengawal menghampiri posisi sang majikan. Mereka bergerombol bersamaan. “Apa yang sedang kalian lakukan, hah? Apa kalian hanya akan menjadi penonton saja?” Leonardo berteriak. Mengucap kalimat berisi sindiran. Mengisyaratkan agar para pengawal membawa pria, yang sedang tergelepar tersebut keluar dari dalam kamar. “Kalian tunggu apa lagi? Cepat keluar dari sini! Dan, pastikan jika pria itu akan menyesal,” Leonardo melengkingkan suara. Memberi perintah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN