NEW CODE

1820 Kata
Awas saja kau, Leonardo! Dan, untuk Grace? Issh! Rupanya, kau itu cantik-cantik menyebalkan. *** Mobil keluarga Douglas baru saja melintas pergi dari halaman parkir restoran. Mobil mewah itu diikuti oleh mobil berharga mahal lain dari sisi belakang. Yah! Seorang sopir keluarga Cropper, juga melajukan mobil pada beberapa saat setelahnya. Di dalam perjalanan. “Grace, seharusnya kau jangan berkata seperti itu pada Om Louis. Dia pasti merasa tak enak hati usai mendengar kalimatmu yang amat sarkastis tadi,” Gerson menegur. Mewakili teguran yang hendak Leonardo layangkan. Meski, sesungguhnya di dalam hati kecil Leonardo; ia merasa senang. Grace benar-benar seorang teman, yang membela ia tanpa pandang bulu sedikit pun. Benar, Grace itu tipekal sahabat yang setia. Issh! “Habis sih, Grace kesal sekali pada Alexander, Kak. Dia itu selalu berlaga di sekolah. Dan, asal Kakak tahu, Alexander itu kerap merundung Leonardo,” Grace mulai bercerita. “Benarkah?” “Tentu, jika Kakak tak percaya, tanyakan saja pada Leonardo,” Grace menyahut. Mengarahkan dagu pada seorang teman, yang sedari tadi hanya bisa terdiam. Alih-alih bertanya, Gerson justru mendecap bibir. Sungguh, tanpa mendapat jawaban dari Leonardo, kebenaran akan ucapan Grace sudah terlihat jelas. Mengingat, Leonardo memang seorang murid yang terlihat tak sepadan dengan sosok Alexander Raynnor Douglas. Maka, perihal rundungan yang terjadi, sudah pasti tak mungkin terelakkan. “Leonardo, tenanglah. Masa-masa SMA kalian akan berjalan dengan cepat. Jadi, kau tak perlu khawatir, seusai lulus sekolah nanti, kau tak perlu lagi berjumpa dengan murid seperti Alexander itu,” Gerson berkata. Menasehati seorang remaja laki-laki yang sedang duduk di samping Grace. Hhh! Helaan napas terdengar berat. Di dalam hati terkecil Leonardo, ia sudah teramat sering bersabar. Namun, menanti hari kelulusan adalah masa yang terasa lama baginya. Seraya, waktu tak berniat berputar lebih cepat. Seketika, Leonardo teringat pada suatu hal. Yakni, jika waktu tak bisa diputar lebih cepat, setidaknya waktu bisa ia jelajah. Tentu, dengan mesin berteknologi canggih, yang diciptakan oleh seorang pengembang IT ternama. Kemudian, “Kak Gerson, perihal perjalanan waktu yang Kakak tanyakan pada Grace, apakah Kakak sedang berencana akan suatu hal?” Leonardo mengajukan pertanyaan. Sedikit keluar dari alur pembicaraan. “Ah, iya! Aku hampir saja lupa. Aku memang berniat memintamu untuk melakukan perjalanan waktu lagi. Aku telah menuntaskan sistem navigasi yang saat itu sempat tak berfungsi. Dan, aku juga menyiapkan kamera CCTV.” “Apa? Kamera CCTV? Tapi, untuk apa, Kak?” Leonardo memekikkan suara. Bertanya tak mengerti dengan maksud dan tujuan Gerson menitipkan benda tersebut. “Aku berniat memintamu untuk memasang alat pemindai itu, di saat mesin waktu berhenti pada lokasi yang kau tuju. Kau tenang saja. Aku takkan memintamu memasang banyak kamera. Aku hanya memintamu untuk memasang satu buah saja. Yakni, pada sisi depan mesin waktu; saat kau sampai di masa yang kau tuju. Tujuannya, agar aku dapat mengetahui jikalau ada penduduk di masa lalu, yang hendak menerobos masuk ke dalam mesin waktuku.” Mendengar penjelasan Gerson, Grace sontak melongo. Sejatinya, meski telah hidup selama tujuh belas tahun dengan sang kakak. Grace masih tak dapat mengetahui jalan pikiran seorang Gerson Franky Cropper. Namun, beda halnya dengan Leonardo. Meski, dua pria berbeda usia tersebut tak lama saling mengenal, Leonardo seakan dapat segera paham dengan apa yang Gerson pikirkan. “Jadi, Kak Gerson berniat mewaspadai seumpama ada orang lain di masa lalu; yang juga memiliki keuntungan unik seperti kita?” Leonardo mengkonfirmasi. Gerson menyunggingkan senyum. Pertanda, ia membenarkan kesimpulan yang Leonardo utarakan. Benar saja, Gerson menciptakan mesin waktu, agar masyarakat di masa depan dapat menjelajah ke belahan waktu lain. Namun, tidak halnya dengan masyarakat di masa itu. Gerson tak ingin mereka menjelajah waktu ke masa depan. Mengingat hal itu akan lebih membahayakan, jika dibanding penggunaan mesin waktu oleh orang-orang di masa depan. Sehingga, memasang kamera CCTV pada mesin waktu, dapat mengantisipasi seandainya ada hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana tidak, baik Gerson mau pun Leonardo, mereka tak dapat memungkiri. Jika, bisa saja salah satu dari penduduk di sana, juga memiliki kemampuan untuk memecahkan rumus rumit; seperti yang Gerson dan Leonardo lakukan selama ini. “Daebak! Kak Gerson benar-benar hebat. Kakak memikirkan hal sedetail itu. Bahkan, Grace saja tak sempat terpikirkan akan hal tersebut,” Grace mengeluarkan suara. Menggeleng takjub pada alasan logis yang Gerson utarakan baru saja. “Tapi, Kak. Ada satu pertanyaan yang membuatku merasa janggal,” Leonardo kembali bergabung dalam obrolan. “Perihal apa, Leonardo?” Gerson bertanya. “Usai aku memasang kamera CCTV. Lalu, jika saja benar ada penduduk yang hendak memasukkan kode pada pintu pembuka mesin waktu, lantas apa yang hendak Kak Gerson lakukan? Apa Kak Gerson akan mengganti rumus di dalam layar? Atau Kak Gerson akan melakukan sesuatu pada mesin waktu itu. Yakni—” “Kau benar, Leonardo. Jikalau hal tak terduga itu benar-benar terjadi, maka aku akan melenyapkan mesin waktu itu,” Gerson menimpali. Memotong ucapan Leonardo yang lagi-lagi sesuai dengan gagasan pikiran Gerson saat memutuskan hal tersebut. “APA?” Di sela Leonardo mengangguk sepaham, Grace justru memekik tak percaya. “Kak, kau ini yang benar saja. Lantas, jika kau melenyapkan mesin waktu itu. Lalu, bagaimana cara Leonardo kembali ke masa depan?” Grace menambahkan pertanyaan. Issh! “Kau itu, Grace, Grace. Tentu saja, aku akan mengembalikan mesin waktu itu lagi. Lagi pula, aku tak berniat meninggalkan Leonardo di masa lalu. Kau itu, bagaimana?” Gerson menyahut. Menggeleng tak percaya dengan tanggapan sang adik. Hehe! Tawa meringis tersumbul dari bibir manis milik Grace. “Kukira, kau akan meninggalkan Leonardo begitu saja, Kak,” Grace berujar lirih. Malu pada kesimpulan singkat yang ia beri. Gerson mengulang gelengan kepala. Mendecap bibir untuk kesekian. ****** Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi kini telah memasuki sebuah halaman rumah yang mewah. Kediaman Cropper yang didominasi warna putih itu, segera menjadi titik pandang mereka bertiga. “Jadi, bagaimana? Apa kau siap untuk melakukan perjalanan waktu pada malam ini?” Gerson bertanya. Menatap Leonardo, sesaat usai mereka bertiga turun dari dalam sebuah mobil. Leonardo tersenyum. Kemudian, mengangguk mantap dengan tawaran yang Gerson beri. ****** Di dalam ruang kerja Gerson. Yakni, ruang berukuran besar; berisi beberapa teknologi canggih. Jarum pada jam menunjuk pada angka setengah sepuluh malam. Tentu, baik Gerson mau pun Leonardo, harus teliti perihal waktu saat itu. Mengingat, salah satu dari mereka memang hendak berpetualang dengan waktu. Titt! Titt! Titt! Suara berisik dari beberapa monitor kembali terdengar. Suara itu benar-benar menandakan kekhasan bagi siapa saja, yang masuk ke dalam ruang kerja seorang Gerson. Leonardo sedang bersibuk mempersiapkan diri. Sedangkan, Gerson terlihat merapikan beberapa unit yang hendak ia bawakan pada seorang penjelajah waktu. Satu menit Dua menit Kemudian, “Baiklah, Leonardo. Kau bisa membawa sistem navigasi ini bersamamu. Aku sudah memastikan tak ada lagi kesalahan jaringan pada benda berukuran kecil ini. Semoga penyelarasan sinyal satelit benar-benar bekerja di seluruh wilayah yang sedang kau jelajah,” Gerson berujar. Berharap dengan seribu keyakinan. “Baiklah, Kak.” “Oh, iya. Dan, ini adalah kamera CCTV yang harus kau letakkan nanti,” Gerson menyodorkan sebuah benda kecil lain. Benda yang memiliki sebuah manik mata dengan sorotan tajam di dalamnya. Leonardo bergegas meraih alat pemindai tersebut. Membawa serta bersama ia ke dalam mesin waktu. Namun, Titt – titt – titt ! *ACCESS DENIED* “Kak—” Grace memanggil sang kakak. Mengisyaratkan tatapan mata yang sedang terheran. “Mengapa kode akses yang kumasukkan ditolak?” Kali itu, Leonardo menimpali panggilan yang Grace beri pada Gerson. Alih-alih menjawab, Gerson justru merekahkan senyum di wajah. Pria berparas tampan dengan rambut cepak, yang terlihat keren tersebut baru saja menyeringai. Issh! “Kau pasti sedang merencanakan sesuatu di luar dugaan kami kan, Kak?” Grace menebak. Spontan, Gerson terbahak, “Kali ini, kau benar-benar adikku yang tersayang, Grace. Akhirnya, kau bisa menerka jalan pikiranku dengan benar.” Cih! “Apa-apaan kau itu, Kak? Cepat katakan, mengapa Leonardo tak dapat memasukkan kode akses ke dalam layar itu?” Grace bertanya. Mengalihkan pandang pada sebuah layar berukuran lebar di sisi depan mesin waktu. Gerson berjalan mendekat ke arah Leonardo dan Grace. Benar, saat itu Grace sedang bersiap di depan pintu mesin waktu. Ia berniat untuk turut serta bersama Leonardo. Sungguh, Grace merasa penasaran dengan penjelajahan waktu yang berhasil sang teman lakukan. Namun, Gerson tak serta merta membiarkan hal itu terjadi. Gerson tak ingin membahayakan keadaan sang adik semata wayang. Mengingat, hanya orang-orang tertentu saja; yang dapat bertahan di dalam petualangan tak terduga pada kurun masa berbeda itu. Sehingga, sebelum meminta Leonardo melakukan penjelajahan waktu untuk ketiga kali, Gerson sengaja mengubah pengaturan pada penggunaan mesin waktu. Yah! Gerson sengaja membuat rumus-rumus itu terus berputar secara acak. Menjadi bentukan rumus baru, yang harus para penjelajah selesaikan. Dan, perihal Leonardo? Ah, Gerson sengaja. Ia berniat mengetes Leonardo. Akankah, murid SMA itu bisa memecahkan setiap rumus rumit yang ia buat? Ataukah, Leonardo hanya beruntung saja pada saat kali pertama dan kedua; sewaktu menjelajah. “Kak, mengapa kau diam saja?” Grace kembali mengeluarkan suara. Gerson terkikik singkat. Kemudian, ia mulai menunjukkan sebuah pengaturan baru. Yakni, para penjelajah diharuskan memasukkan sidik jari pada layar. Tentu, tak lupa dengan sensor pemindai mata di sana. Alih-alih menjawab pertanyaan sang adik, Gerson justru memberi perintah pada Leonardo. “Leonardo, sekarang coba kau masukkan sidik jarimu,” Gerson mengarahkan jari telunjuk sisi kanan Leonardo pada layar. Klik! *Fingerprint has detected* “Lalu, masukkan pindaian matamu pada layar,” Gerson menambahkan instruksi. Leonardo bergegas menurut. Dan, *Eye sensor has detected* “Baiklah, sekarang kau bisa mulai memasukkan kode baru pada layar itu.” Beragam rumus rumit sedang berputar acak. Beberapa angka menjadi penyerta putaran tak terhingga. Sebelum pada akhirnya, terhenti pada sebuah rumus yang harus Leonardo pecahkan. Limit waktu terdeteksi. Leonardo harus menuntaskan jawaban dalam kurun waktu enam puluh detik. Lima Empat Tiga Dua Sa— Titt! Ceklek! Pintu pada mesin waktu terbuka. Leonardo berhasil menuntaskan rumus dengan waktu yang tepat. Kemudian, remaja laki-laki dan perempuan itu bergegas masuk ke dalam. Namun, jangan salah. Usai masuk ke dalam mesin waktu, para penjelajah harus kembali memasukkan sidik jari dan sensor pindaian mata. Saat Leonardo menekan sidik jari pada layar, beserta pindaian mata, akses segera diterima. Sedangkan, saat Grace yang memasukkan kedua hal tersebut, akses kembali di tolak. “Kak, mengapa saat aku yang memasukkan sidik jari dan pindaian mata, mesin itu tak bekerja. Dia tak mendeteksiku,” Grace bertanya. Menautkan alis sembari bersindekap. Menatap tajam pada sang kakak yang tampan. “Grace, ke marilah,” Gerson meminta. Meraih puncak kepala sang adik perempuan. Membawa ke sisi samping ia berdiri. Yakni, satu langkah di luar mesin berbentuk persegi. “Tentu saja. Aku sengaja melakukan hal itu. Jika tidak, maka sembarang orang akan turut serta bersama orang yang mampu memecahkan rumus tersebut. Maka dari itu, aku sengaja mengganti semua pengaturan ini, agar mesin waktu benar-benar hanya diakses oleh orang tertentu. Yakni, orang yang berhasil memecahkan rumus itu,” Gerson menjelaskan. Mendengar penjelasan yang Gerson beri, Grace spontan mengoceh. Menghantam bahu bidang sang kakak dengan kepalan tangan kanan. “Kau itu jahat sekali padaku, Kak. Aku kan juga ingin melakukan perjalanan waktu itu,” Grace memanyunkan bibir. Mendumel tak terima. Tak lupa dengan sipitan tajam pada mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN