FED-UP

1547 Kata
Ternyata benar, Alexander adalah dalang dari semua hal ini. *** Tak terasa, sebuah mobil yang dikemudikan oleh sang sopir, kini telah tiba pada sebuah restoran ternama. Sungguh, Leonardo tak percaya diri. Malam itu, ia tak hanya berjalan dengan dua orang muda-mudi yang berparas jauh dari dirinya. Melainkan, dua orang adik kakak tersebut adalah keturunan keluarga terkaya nomor dua dunia. Sehingga, siapa yang tak mengenal Gerson dan Grace? Sudah pasti, para pelayan di restoran itu segera mengenali sosok pengunjung yang baru saja tiba. “Selamat malam, Tuan Gerson. Selamat malam, Nona Grace.” Salam hangat baru saja tertuju pada dua orang familiar di sana. Sedangkan, Leonardo? Jangan ditanya. Remaja laki-laki itu sedari tadi tak henti menundukkan kepala. Sesekali, menyentuh pegangan tas sebagai pelampiasan rasa rendah diri yang mendera. “Sudahlah, kau tak perlu minder seperti itu. Aku dan Kak Gerson pasti akan memperlakukanmu dengan baik,” Grace berbisik. Sesaat usai menyentuh bahu sebelah sisi pada tubuh Leonardo. Dan, yah! Aroma dari bebungaan menyeruak, tepat sewaktu Grace mendekat ke arah pemuda buruk rupa tersebut. Pada sebuah meja, “Silahkan, Tuan,” Seorang pelayan baru saja mengantar buku menu. Gerson dan Grace segera menyebutkan menu hidangan yang mereka inginkan. Sedangkan, Leonardo masih tak tahu perihal makanan apa yang hendak ia sebutkan. Kemudian, “Ehm, tolong pesan dua menu hidangan yang sama ya,” Grace memutuskan. Berucap pada seorang pelayan agar menggandakan menu yang baru saja ia pilih. Tentu, untuk ia suguhkan pada seorang teman laki-laki, yang ia ajak untuk makan malam bersama. Di sela menunggu pelayan tiba, keadaan tak terduga terjadi. Bayangan seorang remaja laki-laki lain tertampak di sana. Yakni, di dalam sudut ruang yang sama. Sebuah ruang yang sedang ditempati oleh Gerson, Grace dan Leonardo. Tanpa ragu, “Grace?” Alexander menyapa. Berseru sembari merekahkan senyum di bibir. Menghampiri posisi kakak beradik dari keturunan marga Cropper. Namun, seketika pandangan Alexander berpindah. Sungguh, ia amat tak menyukai sosok lain, yang sedang berada pada sebuah meja di sana. “Kau sedang apa di sini? Apa kau yang bertugas membereskan piring sisa makan Grace dan kakaknya?” Alexander berucap. Merendahkan sosok Leonardo seperti biasa. Haish! Grace mengeram. Kemudian, menarik lengan Alexander. Berjalan menjauh dari posisi Gerson dan Leonardo. “Ada apa, Grace? Apa kau sedang ingin mengajakku untuk makan malam berdua saja? Ehm, tapi malam ini aku tak bisa. Aku terlanjur datang bersama kedua orang tuaku,” Alexander berucap percaya diri. Grace tak membalas ucapan sang lawan bicara sama sekali. Remaja berparas cantik itu hanya menggeleng. Menampakkan sudut bibir ke arah bawah. Pertanda, tak suka dengan kepercayaan diri yang Alexander punya. “Lihatlah,” Tanpa banyak berkata, Grace segera menunjukkan layar ponsel yang menyala. Memperlihatkan profile seorang perempuan muda. “Dia kekasihmu, bukan?” Grace bertanya. Membidik tajam. Spontan, sebuah cengiran tengil muncul dari balik sudut bibir Alexander. “Jadi, kau membawaku ke mari karena kau menemukan postingannya? Dan, kau cemburu padanya? Hhm, aku bisa menjelaskan hal itu padamu, Grace. Aku dan dia hanya—” “Sudahlah, Lex. Kau itu terlalu percaya diri. Aku bertanya perihal sosok perempuan ini, bukan karena aku cemburu padanya. Melainkan, karena kau sengaja memutar balikkan fakta; perihal kronologis kejadian pencurian, yang sempat terjadi di rumah kekasihmu itu, bukan?” Grace menyanggah ucapan Alexander yang belum tuntas. Segera memberi pertanyaan balasan berisi skak mat. Seketika, garis pada dahi sang lawan bicara berkerut tiada henti. Alis pemuda tersebut bahkan bertaut. Pertanda, ia sedang terkejut. Bagaimana bisa, Grace mengetahui hal itu? Bahkan, Nicholas saja tak tahu perihal yang sudah kulakukan pada Leonardo. Lantas, bagaimana bisa Grace tahu dengan cara semudah itu; hanya dengan melihat sebuah postingan di dalam sosial media? Alexander bertanya-tanya. “Mengapa kau diam saja, Lex? Apa kau dan diammu itu sedang menunjukkan pertanda iya?” Grace kembali mengeluarkan suara. Kali itu, perempuan tersebut melakukan gerakan bersindekap. Merasa menang, karena baru saja mengalahkan seorang teman yang berperangai licik seperti Alexander. Alih-alih segera menyahut, Alexander justru menghentak kaki sebagai pelampiasan rasa kesal. Tiba-tiba, “Lex? Sepertinya, Papa dan Mamamu mengenal dekat sosok kakakku? Apa kau benar tak ingin mengaku? Jika iya, aku bisa mengatakan perihal tindakanmu itu pada kedua orang tuamu,” Grace berucap tak terduga. Sesaat usai melirik ke arah Gerson, yang sedang berbincang akrab dengan keluarga Douglas. Issh! Dia ini menyebalkan sekali. Mengapa ia sangat membela Leonardo? Sebenarnya, apa yang Grace lihat dari sosok remaja buruk rupa, dekil dan ringkih seperti dia? “Hhm? Jadi, bagaimana?” Grace menaikkan salah satu garis alis. Menelisik tajam pada sosok Alexander. “Baiklah, baiklah. Aku mengaku. Aku memang menyebarkan berita hoax itu. Aku yang berkata pada pihak polisi, jika Leonardo adalah salah satu dari perampok itu.” Yah! Benar saja, sewaktu pihak kepolisian menjumpai pemilik rumah mewah; yang hampir dijara oleh para bandit, Alexander sedang bersama sang kekasih, dan juga orang tua kekasihnya. Di saat itulah, Alexander turut serta memberi kesaksian. Dan, pikiran licik itu terbesit begitu saja, sesaat usai ia melihat sosok Leonardo, yang ia anggap sok jagoan di hari rencana pencurian tersebut. Mendengar jawaban dan penjelasan singkat Alexander, Grace spontan meregangkan kepala. Berniat merilekskan tengkuk yang menegang. Kemudian, ia berucap tak terduga untuk kesekian kali. “Kau itu tak hanya pandai memanipulasi. Tapi, kau juga pandai berakting.” “Akting?” Alexander menyahut tak mengerti. “Yah! Kau itu berlaga seolah kau adalah seorang jomblo. Tapi, ternyata kau memiliki kekasih. Dan, berani-beraninya kau mendekatiku, di saat kau sedang berkomitmen dengan perempuan lain, hah?” Grace memelototkan mata. Tak lupa dengan gerak tangan yang sedang memelintir lengan Alexander. AW! AW! “Grace? Grace? Tolong lepaskan,” Alexander memekik kesakitan. Cih! Dia berlaga sok keren di sekolah. Tapi, baru kupelitir begitu saja, dia sudah berteriak kesakitan. Grace membatin heran. Kemudian, meninggalkan sosok Alexander tanpa sepatah kata berisi ucapan pamit. Melihat Grace berlalu pergi, Alexander menyugar puncak kepala dengan kasar. Ini memalukan sekali. ****** Acara makan malam berlangsung tak terkira. Bagaimana tidak, malam itu Gerson dan keluarga Douglas memutuskan untuk berada di dalam meja yang sama. Jika, Gerson dan Grace bersikap baik-baik saja. Tak sama halnya dengan Alexander dan Leonardo. Mereka berdua bak pinang dibelah dua, sama saja. Tak ada sepatah kata yang terlontar dari bibir mereka. Gerakan tungkai terus menyertai aktivitas di meja makan. Menggerutu sebal, seakan menjadi menu pelengkap untuk Alexander dan Leonardo. ****** Setengah jam kemudian, “Om ini sangat malu sekali. Seharusnya, putra Om bisa sepandai kalian,” Louis berucap. Menatap Gerson dan Grace bergantian. “Om Louis, Om itu terlalu berlebihan. Alexander di kelas, juga pintar kok, Om,” Grace menyahut. Sedikit melebih-lebihkan ucapan. Tak lupa masih dengan senyum manis yang tersumbul keluar. Mendengar hal tersebut, Alexander spontan merasakan sebuah keanehan. Tiba-tiba, perasaan tak enak menyeruak ke dalam batin. Dan, benar saja. “Pintar? Hhm, jika Alexander sepandai yang kau bilang, tentu ia takkan mendapat peringkat dua di kelas. Asal kau tahu, semenjak pertama kali masuk sekolah, putra Om ini tak pernah mendapat peringkat satu, Grace,” Louis menginformasikan. Glek! Alexander menelan ludah. Bisa runyam, jika Papa tahu kalau Leonardo-lah yang menduduki peringkat satu itu di kelas. Kemudian, “Benarkah, Om?” Grace menyahut antusias. “Tentu, Grace. Wali kelas berkata, jika ada seorang murid laki-laki lain yang lebih pintar dari Alexander,” Louis menelengkan kepala. Berusaha mengingat sebuah nama. Tiba-tiba, Grace menjentikkan jemari. “Sepertinya, Grace tahu Om perihal siapa sosok murid itu. Murid itu adalah Leonardo. Dia ini pandai sekali loh, Om. Dia selalu menjawab soal matematika, fisika dan kimia dengan benar. Dan, mengenai waktu, Leonardo selalu menjawab soal-soal itu hanya dalam beberapa detik saja,” Grace bercerita dengan nada menggebu-gebu. Tak lupa menepuk bahu seorang teman dengan berulang. Bahkan, Leonardo sempat mengisyaratkan agar Grace menghentikan cerita yang ia suguhkan. Sontak, Louis mendecap bibir. Membeku setengah mati. Ia tak percaya, jika murid laki-laki di hadapannya adalah seorang murid yang mampu mengalahkan kepintaran sang putra. Lalu, “Om, tidakkah Om Louis tadi berkata, jika Om sedang banyak pekerjaan yang harus Om lanjutkan di rumah? Sebaiknya, Om dan keluarga segera beranjak pulang. Kebetulan, kami juga ada agenda lain setelah ini,” Gerson berucap. Berusaha mengakhiri suasana, yang mendadak canggung diantara mereka. “Kau benar, Gerson. Kalau begitu, ijinkan kami untuk pamit pulang lebih dulu,” Seorang pria dewasa berucap. Beranjak dari duduk. Diikuti spontan oleh Gerson. Kemudian, acara bersalaman tangan menjadi tanda akhir dari sebuah pertemuan. ****** Acara menikmati menu hidangan sembari bercakap, baru saja selesai. Dua remaja laki-laki yang kerap bersih tegang itu, terlihat menghela napas lega. Sungguh, baik Leonardo mau pun Alexander, keduanya enggan berada di dalam ruang lingkup yang sama; dalam waktu yang lama. Namun, Plak! Sebuah tamparan baru saja mendarat di pipi Alexander. Sesaat usai Louis Douglas, sang istri dan putra semata wayang mereka sampai di halaman parkir restoran. “Papa, apa yang Papa lakukan?” Alexander memekik tajam. Memandang sang ayah dengan gurat tak terima. “Apa yang Papa lakukan, katamu? Kau itu, Lex. Apa saja yang kau lakukan selagi bersekolah? Bagaimana bisa, kau kalah bersaing dengan seorang murid seperti dia. Issh! Siapa tadi namanya?” Louis menjeda ucapan. Berusaha mengingat sebuah nama untuk kali kedua. “Sudahlah, siapa pun nama temanmu tadi, Papa tak mau tahu. Setelah ini, kau harus berhasil menduduki peringkat satu,” Louis memerintah. Tak mau tahu. Menyaksikan bayangan sang ayah dan ibunda menghilang dari balik pintu mobil, Alexander hanya bisa mengeram kesal. Awas saja kau, Leonardo! Dan, untuk Grace? Issh! Rupanya, kau itu cantik-cantik menyebalkan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN