DEFAMATION

1156 Kata
“Tapi, Pak? Mengapa Bapak menangkap saya? Memang, apa kesalahan yang sudah saya perbuat?” *** Sesampainya di sebuah kantor kepolisian. Leonardo dibawa menuju sebuah meja. Diperlakukan selayaknya seorang tersangka. Remaja laki-laki itu bingung. Ia merasa tak berbuat kesalahan sama sekali. Lagi pula, selama tujuh belas tahun kehidupan, ia tak memiliki riwayat tindak kejahatan. Salah seorang polisi menanyai perihal hasil rekaman CCTV yang ia tunjukkan pada Leonardo. Bahkan, polisi tersebut memutar video rekaman CCTV untuk mereka lihat bersama. “Apa kau bersekongkol dengan para perampok itu?” Leonardo melebarkan bola mata. Bukankah, sudah jelas jika di dalam rekaman video tersebut, aku justru membantu mengagalkan rencana pencurian itu? “Jika kau tidak mengaku, maka kami—” “Pak Polisi, bukankah Bapak bisa melihat sendiri? Jika, saya menghajar mereka agar mereka kapok? Dan, membatalkan rencana pencurian di rumah mewah itu. Lantas, mengapa Bapak justru menuduh saya bersekongkol dengan mereka?” Leonardo menyahut percaya diri. Polisi tersebut mengusap dagu. Lalu berkata, “Seorang saksi menyatakan jika kau tak mungkin memiliki kemampuan bela diri. Sehingga, kau takkan mampu menghajar para bandit itu. Dan, dia juga bersaksi jika kau sedang membutuhkan uang. Jadi, saat ini kau sedang dalam tahap interogasi. Jika, sebenarnya kau tak melawan mereka, kan? Melainkan, kau hanya sedang bersandiwara saat bersekongkol dengan perampok-perampok itu.” Hah? Leonardo melongo. Sekiranya, siapa saksi tersebut? Seingat Leonardo, seorang pelapor yang ia jumpai, justru berteriak jika seorang remaja berhasil menghalau rencana pencurian pada malam itu. Lantas, siapa saksi yang sengaja memutar balikkan fakta tersebut? “Sudahlah, saat ini sebaiknya kau menghubungi walimu saja,” Pihak polisi memutuskan. Menyodorkan sebuah ganggang telepon. Namun, Leonardo tergagap. Ia tak mungkin menghubungi kedua orang tuanya di rumah. Bagaimana bisa? Kedua orang tua Leonardo bahkan tak memiliki telepon genggam. “Hei, anak muda. Kau tunggu apa lagi? Apa kau mau menginap di sini selama satu kali dua puluh empat jam?” Polisi tersebut mengeluarkan suara. Mencoba membuyarkan lamunan seorang remaja laki-laki di hadapannya. Kemudian, Leonardo membuka tas ransel yang sedang ia gunakan. Mencari lembar buku yang mencantumkan nomor telepon Grace di sana. Dengan sedikti ragu, Leonardo memutuskan menghubungi satu-satunya nomor yang ia kenal. Tut.. tut.. Panggilang terhubung. Tak lama kemudian, suara merdu seorang murid perempuan terdengar. “Halo?” “Halo, Grace?” “Hhm? Leonardo?” Sang penerima telepon tampaknya mengenali sosok pemilik suara di seberang. “Be-benar, Grace. I-ini aku, Leonardo.” “Oh, ya. Ada apa? Tumben sekali kau meneleponku?” “A-aku sedang membutuhkan bantuanmu.” “Bantuan apa?” “Bisakah, kau meminta Kak Gerson untuk datang ke kantor polisi?” “HAH? Apa kau bilang? Kantor polisi? Memang, apa yang sedang terjadi?” Grace memekik tak percaya. Leonardo memberi penjelasan perihal sebuah kesalah pahaman yang terjadi. Meski, hal tersebut hanya sebuah kesilapan. Namun, seorang tersangka takkan bisa terbebas begitu saja, tanpa jaminan. Dan, Grace merupakan seorang murid SMA; sama halnya Leonardo. Sehingga, Leonardo rasa, alih-alih membutuhkan bantuan Grace. Ia lebih membutuhkan bantuan dari Gerson. Satu detik Dua detik Beberapa detik kemudian, Sesaat usai mendengar cerita singkat dari Leonardo. “Bagaimana bisa mereka memberi tuduhan palsu seperti itu padamu?” Grace bertanya heran. Kemudian, remaja perempuan itu mengiyakan permintaan untuk menghubungi sang kakak; yang sedang berada di perusahaan. “Aku tak berjanji. Tapi, aku akan mengusahakan agar Kak Gerson dapat membantumu,” Grace memutuskan. Berusaha menenangkan seorang teman yang sedang dijadikan kambing hitam. “Baiklah, Grace. Terima kasih banyak.” Panggilan telepon berakhir. Selama Grace atau pun Gerson belum tiba di kantor polisi. Maka, Leonardo terpaksa merasakan hawa dingin saat berada di balik jeruji besi. Bagaimana bisa mereka menangkap seorang murid, yang bahkan masih menggunakan pakaian seragam? Leonardo melirik ke arah balutan busana yang ia kenakan. Sembari tak henti membatin geram. Meremas ruji-ruji yang terpasang pada sebuah ruang. ****** Pukul tujuh malam. Sepertinya, Gerson membatalkan niat untuk menghadiri makan malam bersama para pemegang saham. Alih-alih berada di dalam jamuan, Gerson justru menuju sebuah kantor kepolisian. Tentu, bersama sang adik perempuan. Setibanya di kantor polisi, Mereka berdua berjalan berdampingan. Sontak, beberapa polisi yang mengenali sosok Gerson Franky Cropper segera menyambut kedatangan dua muda-mudi tersebut. “Ada yang bisa kami bantu?” Salah seorang polisi bertanya. Gerson mengedarkan pandangan. Mencari sosok remaja laki-laki, yang sudah jelas berada di balik jeruji besi. “Saya adalah wali dari anak itu,” Gerson berucap. Menunjuk sebuah sudut ruang. Sang lawan bicara spontan tercengang. Bagaimana bisa, seorang murid laki-laki yang buruk rupa, dekil dan ringkih, memiliki seorang wali dari garis keturunan Cropper? Petugas kepolisian itu bertanya-tanya. Lalu, “Sebenarnya, apa yang terjadi pada anak itu?” Gerson bertanya. Mengeluarkan suara berat khas miliknya. Sesaat usai menjejalkan p****t pada sebuah kursi di sana. Pihak polisi menjelaskan perihal kronologis kejadian. Baik Gerson dan Grace, tak percaya akan tuduhan palsu yang diberikan. Mereka berdua menyangkal. Dan, Gerson berani menjamin jika Leonardo tak ada sangkut pautnya dengan rencana pencurian tersebut. Tak lama kemudian, Seorang polisi membawa serta Leonardo; keluar dari dalam jeruji besi. Mereka bertiga segera berpamitan. Melangkah keluar dari dalam sebuah lembaga kemasyarakatan. “Masuklah, Leonardo,” Grace mengarahkan. Sesaat usai mereka menjumpai sebuah mobil mewah. “Ti-tidak, Grace. Aku tak ingin merepotkan kalian. Aku sangat bersyukur, kalian sudah berbaik hati untuk menjemputku ke mari,” Leonardo menyahut sungkan. Menatap sosok kakak beradik berparas rupawan itu secara bergantian. “Sudahlah, kau masuk saja. Pasti perutmu sedang lapar, bukan?” Kali itu Gerson yang menyarankan. “Benar, kami akan mengajakmu pergi makan malam. Sudahlah, kau ikut saja,” Grace menarik lengan sang teman. Kini, mereka bertiga berada di dalam satu mobil mewah yang sama. Seorang sopir segera melajukan mobil berjenis sedan mahal tersebut. Membahu jalanan menuju sebuah restoran, yang kerap dikunjungi oleh sang majikan. ****** Di dalam perjalanan. Grace tak henti menatap layar ponsel yang menyala. Sebuah kolom pesan; berisi chat dari komunitas online di sekolah, sedang membahas perihal suatu hal. Yakni, perihal kejadian penangkapan salah seorang teman, yang tak terduga pada saat sepulang sekolah. Remaja cantik itu terus menggulir layar. Hingga, sebuah pesan ketikan terasa janggal di dalam tangkapan retina. Sialan! Apa dia yang menyebarkan berita bohong itu? Grace menerka. Sesaat usai mendapati chat dari Alexander di dalam grup percakapan. “Kau mengapa, Grace? Sepertinya, kau sedang kesal?” Leonardo bertanya. Grace mengedikkan bahu. Kembali menatap layar telepon genggam. Berusaha mencari tahu kebenaran yang ada. Sebuah laman sosial media menjadi titik tujuan Grace. Remaja perempuan itu menggulir satu per satu unggahan foto di sana. Kemudian, mendapati sosok Alexander sedang berfoto bersama seorang teman. Tanpa banyak berpikir, Grace mengunjungi profile remaja perempuan tersebut. Setibanya, di dalam profile itu, Grace menunjukkan sebuah potret pada Leonardo. “Leonardo, apakah rumah mewah ini yang sempat dikunjungi oleh para perampok itu?” Grace bertanya. Sang lawan bicara menatap layar ponsel yang menyala. Memperbesar gambaran di dalam sana. Kemudian, ia mengangguk mengiyakan. Issh! Ternyata benar, Alexander adalah dalang dari semua hal ini. Pasti dia, yang berkata pada pihak polisi, jika Leonardo tak berniat menolong. Namun, justru bersekongkol dengan para bandit itu. Grace menarik kesimpulan. Membatin geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN