MUDA-MUDA GIGOLO 1 (Lost In The Youth)
Bau asap dapur mengalun, menembus masuk hingga ke dalam bilik. Tempat di mana saat ini aku masih tergolek di atas hamparan besar kasur yang empuk dan hangat. Perlahan kupicingkan mata begitu tepukan-tepukan kecil itu hinggap di bahu.
"Bangun, Geo," ucap sebuah suara dengan lembu. Hampir menyerupai bisikan ke dekat telinga ini. "Sudah hampir jam enam pagi, Sayang."
Aku membuka mata lebar-lebar. Mencari-cari sosok barusan dan tampaklah seraut wajah cantik memesona tersenyum indah menyambutku.
"Tante."
"Selamat pagi, Sayang," sapa perempuan itu lantas mendaratkan kecup hangat di pipiku. "Sarapan dulu, yuk. Tante sudah masakin buat kamu."
Aku menggeliat. Meluruskan urat-urat kaku yang mengilukan di sekujur badan. Kemudian menarik lepas pelukan selimut hangat yang menutupi tubuh polos ini. Bekas semalam menghabiskan sisa akhir pekan bersama Tante Alma. Terakhir duduk di tepian ranjang menghadapnya.
Kulihat perempuan itu menatap takjub ke satu arah di tubuh ini. Bagian khas kelelakianku yang tergantung lemas dan bebas tanpa terhalang sehelai benang pun.
"Kenapa, Tante?" tanyaku menggoda. "Masih menginginkanku?"
Tante Alma tersenyum genit. Menghampiriku dengan tangan terjulur hendak menggapai apa yang selama ini dia sukai. "Luar biasa sekali, Geo," ujarnya takjub usai jongkok persis di depanku. "Semuda ini kamu memiliki kelebihan yang lain dari lelaki lainnya. Ganteng, putih mirip orang-orang bule Eropa, tubuh atletis, dan tentu saja selalu sanggup bikin Tante puas dan gak berdaya. Hihihi. Geovani sayang …."
"Tante masih menginginkannya?" Aku semakin ingin menggodanya. Perempuan itu tersenyum. "Emang yang semalem belum puas ya, Tan?"
PLAK!
Dia menepuk manja pahaku.
"Kamu bisa aja, Geo," ujarnya lantas mendekatkan wajah hendak menciumi benda yang tengah dia genggam. "Tante jatuh cinta banget sama kamu, Geo."
"Cinta atau nafsu, Tan?" Aku tergelak di antara desir darah yang mulai bergerak cepat menuju suatu tempat. Di sana. Bagian dimana mulut Tante Alma tengah memperlakukan benda favoritnya dengan saksama. "Aaahhh, Tante. Pagi ini aku, 'kan, harus segera pergi sekolah. Uuhh!"
Tante Alma melepas pagutannya, lalu menatapku dengan tajam. "Sekali saja ya, Geo. Hitung-hitung buat stok kerinduan Tante sama kamu selama seminggu ke depan. Tante benar-benar gak bisa lama-lama jauh dari kamu, Sayang."
Aku jadi merasa kasihan melihat perempuan ini. "Tapi aku harus sekolah, Tan."
Perempuan itu mendengkus. Mungkin kecewa. Padahal aku sendiri sejujurnya ingin sekali melakukannya pagi ini sebelum pergi. Perlakuan Tante Alma tadi sempat bagian kelelakianku berubah bentuk dan ukuran.
"Ya, sudahlah, Sayang," katanya mengalah. "Tapi kamu harus sarapan dulu ya, Geo. Sekalian, hari ini Tante anterin kamu ke sekolah. Bagaimana?"
"Terserah Tante sajalah," jawabku ingin segera percakapan ini usai. Lantas mandi, sarapan, dan berangkat ke sekolah.
Aku hanya punya waktu setengah jam sebelum pintu gerbang sekolah dikunci pihak keamanan. Makanya tidaklah heran, aktivitas pagi ini kulakukan secepat mungkin.
"Kamu masih punya bekal, 'kan, Sayang?" tanya Tante Alma di tengah perjalanan. Aku mengangguk. "Jangan sungkan-sungkan kalau kamu butuh bantuan, ngomong saja sama Tante."
"Makasih, Tante."
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, kami tiba di depan sekolah. Sengaja kupinta Tante Alma untuk berhenti agak jauh dari gerbang utama, karena khawatir kebersamaan kami akan terlihat pihak lain.
"Ini buat tambahan uang jajanmu,Geo," kata Tante Alma kembali sebelum aku turun dari kendaraan. Dia menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah padaku.
"Gak usah, Tante. Yang kemaren-kemaren juga masih ada, kok."
"Terima saja, Geo. Buat kamu." Dia memaksaku menerima pemberiannya. Lantas menyerahkan uang tadi ke dalam genggamanku. "Sabtu depan kamu ada waktu, 'kan, buat Tante?"
Aku berpikir sejenak. Mengingat-ingat apakah ada janji lain dengan seseorang.
"Gimana nanti saja, deh, Tante. Soalnya, minggu ini kalo gak salah ada jadwal kegiatan ekstrakulikuler sekolahan," kataku sekadar alasan biar tidak begitu saja memberinya janji. "Pokoknya nanti akan aku kabari kalo kebeneran ada waktu luang, ya, Tan?"
Perempuan mendengkus.
"Tante tunggu kabarmu, Geo," balasnya lantas memintaku memberinya sebuah ciuman sebelum berpisah.
Dia menarik wajahku agar mendekat, disusul sebuah pagutan penuh gelora melahap habis bibir ini. Hangat dan begitu menggoda. Hingga tidak sadar, aku pun larut dan turut menyelipkan jemari ini untuk mengurai belahan dadanya yang besar dan kenyal.
"Ah, Geo," desah Tante Mira di antara belitan lidah kami yang bermain tarik-ulur keluar-masuk bergantian memenuhi ruang mulut masing-masing.
Nyaman sekali aku bermain-main di bagian d**a perempuan tersebut. Rasanya enggan banget untuk segera menyudahi aksi itu begitu saja. Ingin berlanjut, berlanjut, dan berlanjut sebagaimana yang sudah biasa kami lakukan.
"Cukup, Tan. Aku harus segera masuk kelas," bisikku dengan napas tersengal di dekat telinganya.
"Ah, Geo. Tante sangat mencintai kamu, Sayang."
Mau tidak mau kami memang harus berpisah untuk sementara pagi itu. Tante Alma menatapku sedih. Sementara sebelum keluar kendaraan, aku merapikan rekatan celana seragam ini yang sedikit terbuka.
"Geo …."
"Sampai jumpa lagi nanti ya, Tan."
Ah, sedih sekali melihat raut wajah perempuan berusia tiga puluhan itu. Di antara teman lawan jenis yang sering kubersamai selama ini, Tante Alma memang satu-satunya tipe perempuan yang paling lembut. Kesepian yang kerap melanda usai ditinggalkan suaminya dulu, kini banyak terobati semenjak kami bertemu. Belum lama. Baru beberapa bulan lalu. Itu pun atas bantuan seseorang yang kukenal baik. Sandra ….
♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡
"Geo, mau kukenalin gak sama seseorang?" tanya Sandra, perempuan karir berusia 28 tahun dan pemilik beberapa butik terkenal di Jakarta.
"Siapa?"
"Perempuan," jawab Sandra singkat.
"Iya, siapa? Temen Mbak Sandra?"
Perempuan muda itu tersenyum genit. Sebelum kembali menjawab, dia naik ke atas tubuhku yang tengah telentang. Lantas membaringkan diri sejajar denganku sambil memeluk dan membenamkan wajah di samping pipi ini.
"Namanya Alma," jawab Sandra mulai bercerita. "Dia baru saja ditinggal mati suaminya. Orangnya masih terbilang muda dan tajir."
"Tajir?" Aku langsung tertarik dengan kata yang satu itu.
"Iya, pasti tajir, dong, Geo," jawab Sandra diiringi cekikiknya. "Kalo enggak, ngapain aku kenalin sama kamu, hhmmm?"
"Iya juga, sih. Terus?"
"Aku kasihan banget sama dia," ucap Sandra melanjutkan ceritanya. "Selama ini sering ngeluh kesepian. Dia pengen ada temen buat nemenin. Ya, kamu pasti pahamlah apa maksudnya, Geo."
"Lanjutin saja, Mbak. Aku dengerin, kok," kataku sembari mengusap-usap punggungnya yang polos hingga mencapai belahan b****g.
"Kalo kamu mau, nanti aku kabari dia," ucap Sandra kembali. "Orangnya baik banget, lho, Geo. Lemah lembut, penyayang, tapi …."
"Kenapa? Punya kelainan, ya?"
Sandra tertawa kecil.
"Libidonya tinggi."
Aku hampir saja tergelak keras.
"Sama saja kayak kamu, Mbak. Hehehe," kataku seraya membalik tubuh dan kini gantian menindihnya. "Kamu yang paling cerewet kalo ada maunya. Gak kenal waktu pula. Dasar!"
"Ih, Geo …."
Dia menggelinjang kegelian begitu bibir ini mendarat tepat di titik merah buah dadanya. Melumat habis sambil mempermainkan tonjolan kecil itu dengan ujung lidahku.
"Geo," jerit Sandra sambil menggerak-gerakkan kepala ke kiri dan kanan disertai desis mulut yang tidak berkesudahan. Permainan mulutku pada bagian dadanya sungguh membuat perempuan tersebut tidak sanggup untuk menolak. Kemudian dia menarikan bagian panggul, menggesek-gesekkan dua organ utama kami, dan itu lekas mengundang hasrat ini agar segera berpindah mengeksplorasi semakin ke bawah dan ke bawah lagi. Terus mencucup sedikit demi sedikit kulit mulus tersebut hingga melewati area perut.
"Geo …." Lengkingan Sandra kembali terdengar begitu bibir ini tiba di ujung pangkal pertemuan kedua pahanya. Rimbun dengan rumput segar dan hitam, tapi begitu wangi menebar sensasi aroma lain dari yang lain. "Ya, Tuhan … Geo, Sayang." Berbau amis dan sedikit asin begitu ujung lidah ini meruncing mempermainkan bagian kecil di antara rekahan sana. Titik ternikmat bagi seorang perempuan jika disentuh melalui kecup-kecup kecil dan lembut.
Di saat itulah, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Sandra. Tergeletak tidak jauh dari pemiliknya.
"Hentikan dulu, Geo," pinta Sandra dengan napas tersengal-sengal. "Ada yang menghubungiku."
"Siapa?" tanyaku seraya mengelap bibir yang basah dan licin.
Sandra menatap layar ponselnya, lalu berucap, "Alma, Geo."
Sialan! Baru saja permainan kami tadi akan diulangi. Ada saja gangguan yang menghalangi. Selalu begitu dan kerap terjadi. Bukan hanya ketika bersama Sandra. Kali ini malah dari Alma. Perempuan baru yang sebentar lagi akan segera kutemui. Penasaran, seperti apa orangnya?
Hhmmm!
"Dia pengen segera ketemu kamu, Geo," ujar Sandra usai beberapa saat bercakap-cakap melalui ponselnya.
"Sekarang?"
"Kapan lagi, Geo."
"Terus … urusan kita ini?"
"Pergilah, Geo, dan lanjutin sama Alma di sana, ya."
"Gila kamu, Mbak."
Perempuan itu tertawa-tawa.
"Sudahlah, urusanku bisa kita lanjut kapan-kapan, Geo," kata Sandra. "Sekarang temui Alma dan berilah apapun yang dia inginkan ya, Sayang. Oke?"
Aku tidak menjawab. Buru-buru mengenakan pakaian yang teronggok di lantai kamar. Seragam sekolah berwarna putih dan abu-abu. Lengkap dengan tas yang berisikan buku-buku dan peralatan menulis.
Sengaja datang menemui Sandra siang tadi ke kamar apartemennya. Karena sejak pagi terus-terusan menelepon dan meminta bertemu. Dasar, perempuan cerewet.
Sebelum pergi, Sandra menyelipkan beberapa lembar uang ke dalam saku baju. "Buat ongkosmu, Geo," ujarnya pelan. Lantas mengantarku hingga basemen dan keadaan alam sudah mulai merangkak petang.
BERSAMBUNG