Baru saja aku menyelesaikan laporan dan merapikan meja kerjaku, suara derap langkah terdengar mendekat ke arahku.
“Dokter? Kenapa kembali lagi, Dok?” tanyaku melihat ke arah Dokter Arka yang baru saja berhenti tepat di depanku.
Tak lama kemudian sesosok wanita muncul dari arah punggungnya.
Aku tercekat.
Sosok wanita itu membuat perasaanku bergejolak tidak enak. Meskipun begitu, aku tetap berusaha mengontrol ekspresi wajahku agar tidak terang-terangan menunjukkan ketidaksukaanku padanya.
Aku tetap mengukir senyum di wajahku begitu tatapan kami bertemu.
“Kamu masih belum pulang?” tanya Dokter Arka.
“Saya baru saja menyelesaikan laporan hari ini, Dokter. Tadinya saya sudah mau pulang saat Dokter datang.”
“Dokter Wina akan membawa seorang pasien postpartum, ibu dari pasiennya.”
Aku menganggukkan kepalaku, “Baik, Dokter.” Aku meletakkan kembali tas yang tadi sempat aku tenteng.
“Kalau kamu sudah ingin pulang, tidak apa-apa. Biar saya yang akan membantu Dokter Arka nanti,” celetuk Dokter Wina sambil menatapku tajam meskipun sebuah senyum manis terukir di bibirnya.
“Tidak apa kan, Mas? Ini kan diluar jam kerjanya dan ini juga pasienku.” Dokter Wina melihat ke arah Dokter Arka dengan tatapan manja.
Aku langsung menundukkan pandanganku, tidak ingin melihat wajah menyebalkan itu.
“Baiklah. Kamu boleh pulang, Maya,” ucap Dokter Arka kemudian.
Aku langsung menganggukkan kepalaku kemudian mengambil kembali tas yang ada di atas meja kerjaku.
“Saya permisi, Dokter.”
Aku segera melangkahkan kakiku tanpa berminat melihat respon Dokter Arka lagi. Jantung berdegup kencang, seakan aku yang sedang menghadapi hal terburuk itu.
Tentu saja, membayangkan wajah polos Kinan saja hatiku sudah begitu sakit. Apalagi sekarang aku yang harus menutupi hal menyakitkan ini dari sahabatku itu.
Aku menghelakan napasku dengan kuat dan menutup sejenak kedua mataku. Langkahku melambat. Aku tidak ingin melihat ke arah belakang, apapun yang terjadi.
“Aku harus bagaimana, Tuhan?” batinku bergemuruh. Dadaku sesak.
Langkahku terhenti begitu aku tiba di depan lobi rumah sakit. Mataku nanar melihat ke arah langit.
“Apa bedanya aku dengan mereka jika aku ikut menutupi hal ini dari Kinan?”
Aku mendaratkan tubuhku dengan lemas ke sebuah tempat duduk yang ada di lobi itu. Sejak kejadian kemarin, aku seperti kehilangan semangatku. Seandainya ini tidak menyangkut orang terdekatku, aku pasti dengan mudah mengabaikannya.
Aku membuka tasku, ingin mengambil ponselku dari dalamnya untuk memesan angkutan online. Namun barang yang kucari tak kunjung aku temukan.
“Ah sial! Ponselku tertinggal di loker!” umpatku kesal karena terpaksa kembali ke stasiku untuk mengambilnya.
Dengan mengerahkan segala kekuatan, aku memaksa kakiku melangkah kembali ke stasi kerjaku. Aku melihat pintu ruangan Dokter Arka sedang tertutup. Entah memang mereka sedang sibuk memeriksa pasien yang tadi di katakannya atau malah pasien itu tidak pernah ada, aku memilih untuk mengabaikannya.
Aku mengendap pelan agar Dokter Arka ataupun Dokter Wina tidak menyadari keatanganku kembali ke stasi ini. Aku membuka lokerku dan segera mengambil ponselku dari dalam.
Langkahku secara otomatis berhenti begitu mendengar suara dari balik pintu ruangan Dokter Arka.
“Katamu pasiennya sudah datang, kenapa tidak kunjung ke sini?” Aku mendengar suara Dokter Arka.
Ruangan itu hening beberapa saat, membuatku penasaran dengan apa yang sedang terjadi di dalam.
“Pasien itu tidak ada, Mas. Aku hanya mengarangnya untuk membuatmu lepas dari istrimu tadi. Aku tidak suka melihatmu bersama dengan wanita lain.” Kali ini aku mendengar suara Dokter Wina.
“Aku tahu kamu masih mencintaiku, Mas. Dengan melihat wajah istrimu pun aku sudah bisa merasakan kalau cintamu padaku masih begitu menggebu.”
“Percuma kamu terus menyangkalnya, Mas. Kenapa tidak meluapkannya saja. Sekarang aku sudah kembali.”
“Kamu masih perlu bukti untuk meyakinkanmu? Bahkan lumatanmu di bibirku kemarin sudah sangat jelas, hasrat dan cintamu masih milikku. Apa perlu kita membuktikannya kembali dengan lebih dalam dan intim? Aku juga sangat penasaran dengan itu.”
Aku memejamkan kedua mataku. Bulu kudukku meremang membayangkan apa yang akan terjadi di dalam ruangan itu. Dengan cepat aku melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan itu.
Aku mengusap layar ponselku. dengan tangan yang bergetar aku mencari kontak Kinan.
“Persetan dengan ancaman Dokter Wina padaku kemarin. Aku harus segera memberitahukan hal ini pada Kinanti. Aku tidak sanggup membayangkan mereka bersenang-senang di atas ketulusan Kinan,” ucapku tanpa sadar.
Ibu jariku langsung menekan opsi dial pada layar ponselku begitu kontak Kinan sudah aku dapatkan. Deringan demi deringan berlalu, namun Kinan tak kunjung mengangkat panggilan teleponku.
“Kemana dia? Aku sudah tidak sanggup berada di sini.”
Aku kembali mengulang panggilan teleponku pada Kinan. Akhirnya Kinan mengangkat teleponku juga.
“Kinan, dimana kamu?”
“Dirumah, May. Kenapa?” jawab Kinan. Aku masih bisa mendengar suara sendok dan kuali yang beradu. Dia pasti sedang memasak.
“Bisa kita bertemu? Ada yang mau aku sampaikan. Sangat penting.”
“Ya elah, udah kayak agen rahasia aja. Datang aja kerumahku. Kebetulan aku sudah masak eniah nih. Makan siang di rumah yuk,” ucap Kinan sambil tertawa.
Aku terdiam beberapa saat. Seandainya Kinan sudah mendengar apa yang akan aku ceritakan padanya setelah ini, aku pasti akan merindukan tawa lepasnya yang seperti tadi.
“Jangan di sana. Kita ketemu di Lesehan Mang Dadang aja ya. Aku kesana sekarang.”
“Serius banget kayaknya. Bentar, aku mandi dulu. Abis itu aku langsung ke sana,” ucap Kinanti.
“Oke, Kin.”
Aku menutup panggilan teleponku seiring dengan helaan napas kasar dari mulutku.
“Aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain, tapi sahabat seperti Kinan tidak akan bisa aku dapatkan kembali jika aku menyakiti hatinya dengan menutupi semua ini,” ucapku.
Aku segera memesan taksi dari ponselku menuju k etempat pertemuan sudah kami sepakati. Aku tiba lebih dahulu dari Kinan. Aku langsung memesan segelas jus jeruk dingin untuk meredakan panas di hatiku sembari menungu Kinan datang.
Sekitar setengah jam kemudian, Kinan tiba di lesahan tempat aku menunggu.
“Maaf ya kamu menungu lama. Mendadak banget sih ngajak ketemuannya. Aku kan harus siap-siap dulu.” Kinan duduk di depanku.
“Udah pesen makanan? Padahal aku masak enak loh tadi. Lebih santai juga kan kalo di rumahku. Mas Arka pulangnya malam, kadang subuh kalau lagi banyak operasi,” ucap Kinan lagi.
Aku menatap wajah ceria Kinan dengan sendu. Bagaimanapun aku harus mengatakan hal ini padanya.
“May?” panggilnya, melihatku terdiam tanpa merespon apapun yang di katakannya.
“Oh iya, Kin. Pesen makanan atau minuman gih.”
“Kamu kenapa? Ada masalah dengan mama atau dengan Doni?” Kinan menyebut nama pacarku.
Aku menggelengkan kepalaku.
“Ini tentang Dokter Arka, Kin,” ucapku.
“Mas Arka? Kenapa Mas Arka, May?” kedua manik hitam Kinan membulat.
“Dokter Arka dan Dokter Wina sepertinya berselingkuh di belakangmu, Kin.”