Tetap memperjuangkan

1311 Kata
Aku menatap luar melalui jendela kamarku. Langit malam itu begitu pekat menghitam, seakan mendominasi kekuasaannya dari bintang-bintang yang akan mengalihkan perhatian setiap orang. Suhu di ruangan kamarku cukup dingin tapi aku tetap saja merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhku. Masih jelas terngiang semua kalimat yang keluar dari mulut Maya tadi siang. Aku memijat kuat pangkal hidungku, setidaknya hal itu sedikit mengutangi rasa sakit di kepala yang terasa mencengkram. Tiba-tiba netraku menangkap kedatangan satu mobil yang perlahan masuk ke dalam garasi rumah. Aku sangat mengenal mobil itu. Aku menolehkan kepalaku untuk melihat jam yang ada di dinding kamar, sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku bergegas menuju ketempat tidur dan berpura untuk tidur. Persis sekitar lima menit kemudian, suara pintu kamar yang terbuka terdengar. Aku bisa merasakan seseorang berjalan masuk ke dalam kamar. Aku segera menutup kedua mataku dengan tubuh yang membelakangi pintu. Mas Arka bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sekitar lima belas menit kemudian, dia keluar seiring dengan aroma wangi yang menguar. Aku tetap berpura tertidur sampai sebuah tangan memelukku dari belakang. “Sudah tidur, Sayang?” sebuah bisikkan terasa di telingaku. Aku sengaja tidak menjawab pertanyaan itu. Tak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar dari seseorang yang ada di belakangku. Pagi hari, aku bangun seperti biasa dan mempersiapkan sarapan seperti biasa. Aku melihat Mas Arka turun dari lantai dua dan berjalan mendekatiku. “Sarapan yuk, Mas,” ucapku sambil memberikan senyuman yang termanis. Mas Arka membalas senyumku. Sebuah kecupan mendarat kembut di keningku, salah satu perlakuan manis yang rutin di lakukan Mas Arka setiap pagi. “Nasi goreng? Hmm.. Aromanya saja sudah sangat menggoda,” puji Mas Arka. Aku tersenyum mendengar pujian dari Mas Arka. Dengan telaten aku melayani perut laparnya pagi itu. “Mas mandi duluan gih,” ucapku begitu kedua piring sarapan kami telah kosong. Mas Arka langsung menganggukkan kepalanya. Kami berdua naik ke lantai atas menuju ke kamar kami. Aku melakukan rutinitasku seperti biasa sembari menunggu Mas Arka selesai membersihkan tubuhnya. Sebuah kemeja dan celana berbahan dasar sudah aku letakkan di atas tempat tidur lengkap dengan pakaian dalam yang akan dikenakan oleh Mas Arka ke rumah sakit. “Bajunya sudah aku siapkan, Mas,” ucapku begitu Mas Arka keluardari dalam kamar mandi. “Terima kasih, Sayang.” Mas Arka memberikan sebuah senyum tipis di wajahnya sembari menggosokkan handuk kecil ke rambutnya yang basah. Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Begitu aku selesai dan keluar dari dalam kamar mandi, aku sudah tidak mendapati Mas Arka berada di dalam kamar lagi. Mungkin dia sudah turun dan menungguku di bawah. Aku menuruni tangga begitu selesai bersiap. Aku melihat Mas Arka sudah siap dengan sepatunya dan duduk di depan teras menungguku. “Maaf kelamaan nunggunya ya, Mas,” ucapku di bibir pintu. Mas Arka memasukkan ponsel yang tadi di pegannya ke dalam saku kemejanya, “Sudah siap, Sayang?” tanya Mas Arka sambil menoleh ke arahku. Netra kami bertemu tatap. Mas Arka perlahan bangkit dari tempat duduknya tanpa melepaskan tatapannya dariku. “Aku pakai sepatuku dulu,” ucapku sambil mengambil sepatu bertumit runcing pemberian Mas Arka dan memakainya. Manik hitam Mas Arka terus mengikuti pergerakanku. “Ayo berangkat, Mas,” ucapku begitu selesai memakai sepatu. “Mas!” aku kembali memanggil Mas Arka yang terus bengong melihat ke arahkutapa berkedip. “Oh, a-ayo sayang,” jawab Mas Arka tergagap. Kami berjalan menuju ke mobil Mas Arka. Langkahku tercegat begitu Mas Arka mendahului langkahku untuk membukakan pintu mobilnya untukku. Setelah aku masuk ke dalam mobil, barulah Mas Arka masuk dari sisi yang lainnya. “Kamu cantik sekali pagi ini, Sayang,” ucap Mas Arka. Tangan kirinya meraih tanganku dan menciumnya sembari tetap mengemudikan mobilnya. Aku tersenyum menangapi pujiannya. Pagi ini memang ada yang berbeda dengan penampilanku. Aku memoles wajahku dengan riasan yang lebih berani. Hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya namun bukan berarti aku sama sekali tidak tahu mengenai hal itu. “Mas suka dengan riasan dan tatanan rambut kamu yang seperti ini,” puji Mas Arka lagi. Ya, selain riasan wajahku yan lebih bold, pagi ini aku juga menata rambut panjang nan hitamku yang biasa aku cepol biasa menjadi lebih anggun dengan ikal gantung di bagian bawahnya. Mobil kami tiba di area parkiran rumah sakit. Aku melihat mobil Dokter Wina juga baru memasuki area parkir di depan kami. Aku tersenyum tipis, menertawakan keluguanku selama ini. Dokter Wina sepertinya sudah mempelajari jam kedatangan kami setiap pagi di rumah sakit ini. Dokter Wina keluar terlebih dahulu dari mobilnya yang berhasil di parkirakannya dengan baik. “Selamat pagi, Mas,” sapa Dokter Wina begitu melihat Mas Arka keluar dari dalam mobil. Aku segera membuka pintu mobil yang keluar. Aku berjalan mendekati Mas Arka dan menggelayut mesra di lengan suamiku itu. Dokter Wina menatapku lama. Ekspresi sumringahnya berubah. Netra kami bertemu beberapa saat. “Selamat pagi, Dokter Wina,” sapaku terlebih dahulu. Rasanya tidak akan mungkin mendengarkan sapaan dari wanita yang berdiri di depanku itu terlebih dahulu. Aku pikir sampai kapanpun dia tidak akan pernah mau bersikap ramah padaku. Manik hitamnya memindaiku dari atas sampai ke bawah. Kini penampilan kami sudah benar-benar seperti saudara kembar identik yang hanya di bedakan oleh warna baju yang kami kenakan. “Sepertinya Dokter Wina sudah bisa memarkirkan mobilnya sendiri,” ucapku lagi sambil tersenyum. Aku melirik ke arah Mas Arka yang terlihat salah tingkah dan gelisah. “Kami duluan ya, Dokter,” ucapku lagi. Kali ini aku tidak akan menjadi anak bawang yang hanya bisa diam mendengarkan kemudian diabaikan begitu saja seperti kemarin. Akan aku tunjukkan siapa Nyonya Arka Emyr Haddad sebenarnya. Pemilik mahkota Ratu kerajaannya. Hargai suamiku sepaket dengan istri sahnya. Aku masih terus merangkul lengan suamiku yang kekar. Kami berjalan masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan Dokter Wina sendirian di area parkir itu. Mas Arka terlihat melirikku sesekali, seakan ada yang ingin dikatakannya padaku namun tertahan. “Ada apa sih Mas?” tegurku. “Apanya?” “Mas dari tadi melirik ke arahku,” jawabku. Mas Arka menyunggingkan senyum ke arahku, “Kamu sangat berbeda hari ini.” Aku memilih membalas ucapan itu dengan senyuman di wajahku. Entah itu kalimat yang masih dalam konteks pujian atau malah wujud protes, aku tidak mau ambil pusing. Maya sudah membelalakkan matanya saat aku dan Mas Arka masih berada beberapa meter dari stasinya. Wajahnya begitu menegang seakan sedang di dekati oleh hantu. “Selamat pagi, Dokter,” ucap Maya sambil berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya terus beralih padaku dan Mas Arka bergantian. “Pagi.” Mas Arka menganggukkan kepalanya kemudian memutarkan kepalanya menghadapku, “Mas masuk dulu ya,” ucapnya pamit padaku. Aku menganggukan kepalaku dengan cepat, “Ya, Mas.” Mas Arka segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan prakteknya. “Apa yang terjadi padamu, Kinan? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Maya setengah berbisik begitu memastikan Mas Arka telah masuk ke dalam ruangannya. “Apa riasanku berlebihan? Jelek ya? atau terlihat norak?” “Bukan, bukan itu.” Maya menggelengkan kepalanya, “Kamu terlihat sangat cantik, Kinan. Kamu tahu, tadi aku sempat mengira bahwa yang berjalan bersama Dokter Arka adalah Dokter Wina. Kalian sangat mirip.” Aku terkekeh mendengar ucapan Maya, “Semirip itu?” “90%. Jika kalian mengenakan baju yang sama pasti banyak yang mengira kalian merupakan saudara kembar. Kamu tidak berniat bertanya pada tante apakan dulu kamu punya saudara kembar atau tidak?” Kini tawaku terbahak lepas mendengar ucapan Maya dengan ekspresi yang lebih serius dari pembawa berita kriminal. “Apa kamu bermaksud ingin membalas dendam dengan Dokter Wina dan Dokter Arka?” Aku menghentikan tawaku dan tersenyum, “Aku belum berniat ke arah sana. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah mengingatkan mereka siapa pemegang tahta ratu sebenarnya.” Maya menatapku dalam. “Aku tidak rela kerajaanku dihancurkan secepat ini, May. Kamu tidak perlu khawatir. Bersikap seperti biasa saja, seakan aku belum mengetahui apapun mengenai mereka. Aku ingin lihat apakah pesona Dokter Wina masih bisa mengalihkan perhatian Mas Arka dariku?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN