bc

PENGANTIN PENGGANTI SAUDARA TIRIKU

book_age18+
8
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Menjadi pengantin pengganti sesuatu hal yang mengejutkan baginya. Bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika ia akan menggantikan posisi saudara tirinya di Hari Pernikahan. Penolakan yang dilakukan tidak ada artinya karena pihak keluarga terus memaksa dirinya. Hari Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan tapi justru sebaliknya. Kepedihan datang di hidupnya dalam waktu begitu cepat. Perubahan hidup yang cukup singkat merubah segalanya. Ia harus memulai hidup baru dengan orang yang tidak dikenal, bahkan tidak dicintainya. Dan kebesaran hatinya yang akan mengubah nasibnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 01
Terlihat seorang perempuan cantik memakai kebaya putih. Ia sudah ditunggu oleh calon mempelai laki-laki di bawah. Hari ini dirinya akan menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Tapi di satu sisi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia dipaksa karena menggantikan saudara tirinya yang kabur di Hari Pernikahannya. Karena kepergian saudara tirinya ia yang menjadi korban pernikahan ini. “Ya Allah, bahkan saya tidak tahu bagaimana wajah laki-laki itu.” batinnya berucap “Apapun dan bagaimanapun dia tolong beri keikhlasan di hati saya untuk menerim segala kekurangan dan kelebihannya.” Perempuan itu adalah Kamila As-Syifa Mumtazah. Putri tunggal di Keluarga Mumtazah. Orang Tuanya bernama Fadlan Mumtazah dan Ibu kandung Fida Mumtazah. Syifa memiliki wajah yang cantik, kepribadian yang baik, tutur katanya lembut dan sopan. Syifa harus mengorbankan dirinya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak ia kenali. Ia takut laki-laki yang menikah dengannya adalah laki-laki tua seperti apa yang ada di bayangannya saat ini. Jika hal itu benar terjadi apakah ia bisa menerimanya dengan sepenuh hati? “Ya Allah, Syifa serahkan semuanya kepada-Mu.” ucapnya dalam hati Ceklek Syifa menatap dari pantulan kaca saat mendengar suara pintu terbuka. Terlihatlah Ibu tirinya masuk ke dalam kamar. “Kalian boleh keluar!” ucapnya pada perias pengantin Mereka mengangguk lalu keluar dari kamar meninggalkan Syifa dan Ibu tirinya. Beliau mendekat ke arah Syifa dengan tatapan dingin. Beliau tersenyum puas karena bukan putrinya yang akan menikah dengan laki-laki itu. “Sudah siap?” tanya Zulfa Wanita itu adalah Ibu tiri Syifa yang bernama Zulfa Maisarah. Beliau menikah dengan Ayah Syifa sejak dua tahun lalu setelah Ibu’nya meninggal. Zulfa mempunyai satu orang anak yang bernama Zakia Maisarah. “Ma, Syifa nggak siap menikah dengannya.” lirihnya dengan suara bergetar “Siap nggak siap kamu harus menikah dengannya, Syifa.” “Tapi…” “Sudahlah, jangan banyak membantah! Kamu tidak punya banyak waktu untuk melakukan drama. Semuanya sudah siap di bawah.” Syifa menunduk dan seketika air matanya menetes di kedua pipinya. Jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam ia takut, bahkan sangat takut menikah dengannya. Syifa tidak tahu bagaimana wajah dan sifat laki-laki itu. “Ayo kita keluar sekarang!” ujar Zulfa Zulfa mengajak Syifa keluar untuk menuju meja Akad. Itu semua dilakukan agar pengantin perempuan tidak kabur lagi. Mereka takut hal serupa terjadi. Karena itu mereka harus waspada sebelum hal-hal tidak diinginkan terjadi. Zulfa dan Syifa menuruni anak tangga satu per satu. Seketika semua mata tertuju ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah pengantin perempuan. Mereka tidak tahu jika Syifa adalah pengantin pengganti. Yang tahu hanya keluarga inti saja. Syifa berjalan dengan menunduk. Ia tidak siap menatap mereka semua.Dan sampailah di anak tangga terakhir. Syifa dan Zulfa berhenti sejenak. Zulfa tersenyum menatap para tamu undangan, seolah dirinya Ibu yang paling bahagia menyaksikan putrinya menikah. “Ayo jalan, Syifa!” desis Zulfa dengan tajam Dan akhirnya mereka kembali berjalan menuju meja Akad. Di sana sudah ada Fadlan didampingi dengan pihak KUA. Namun, Syifa dan Zulfa tidak melihat mempelai laki-laki. “Di mana calon mempelai laki-laki?” batin Zulfa bertanya-tanya Padahal Zulfa merasa sangat penasaran dengan calon mempelai laki-laki. Beliau yakin laki-laki itu sudah Tua dan memiliki perut buncit seperti yang ada di bayangannya. “Syifa pasti merasa sangat tersiksa setelah menikah dengannya.” Dan tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dengan langkah terburu-buru menuju meja Akad. Tatapan mereka semua menatap ke arah laki-laki tersebut, termasuk Syifa dan Zulfa. Jantung Syifa berdebar kencang melihat laki-laki itu. Dia memakai baju yang sama dengannya. Memakai baju pengantin putih. Hal itu membuat Syifa dan Zulfa bertanya-tanya. Syifa merasa antara yakin dan tidak jika laki-laki itu yang akan menikah dengannya. “Ya Allah, apa laki-laki itu yang akan menikah dengan Syifa?” batinnya berucap “Maaf, saya sedikit terlambat.” ujar laki-laki itu “Nggak papa, nak.” “Silahkan duduk!” ujar Fadlan Laki-laki itu mengangguk sembari tersenyum tipis. Setelahnya ia duduk berhadapan dengan Fadlan, Ayah dari Syifa. Mereka masih diam menunggu calon mempelai perempuan ikut duduk bergabung dengan mereka. Syifa dan Zulfa terlihat bengong. Bahkan Zulfa menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak percaya sekaligus menyesal. “Apa-apaan ini?” batinnya berucap Fadlan menatap ke arah istri dan putrinya karena mereka terlihat bengong. “Mama!” panggilnya “Ha?” seketika Zulfa tersadar dari lamunannya “Ajak Syifa duduk sini!” Zulfa mengangguk kaku. Beliau menyuruh Syifa untuk duduk tepat di samping calon mempelai laki-laki. Zulfa tidak terima dengan pernikahan ini. Ternyata laki-laki yang akan dijodohkan dengan putrinya adalah sosok laki-laki tampan, bahkan hampir sempurna. “Sialan! Jika tahu sejak awal aku tidak meminta Zakia untuk kabur.” batin Zulfa berucap “Tenang, Zulfa! Kalau hanya modal tampan di luar sana masih banyak laki-laki seperti dia. Pasti laki-laki itu hanya modal tampan tapi dari keluarga miskin.” “Syifa pasti akan hidup sengsara setelah ini.” Zulfa tersenyum smirk. Beliau menganggap laki-laki itu terlahir dari keluarga miskin. Beliau juga yang membantu kepergian Zakia tepat di hari pernikahannya. Beliau tidak mau putrinya menikah dengan laki-laki yang tidak sesuai harapannya. Syifa memainkan jemarinya karena gugup. Bahkan ia terus menunduk tidak berani menatap wajah Ayahnya. Entahlah, perasaannya saat ini campur aduk. Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Kali ini bukan karena rasa takut, melainkan karena hal lain. Laki-laki tersebut sempat melirik sekilas ke arah Syifa. Ia tahu Syifa adalah pengantin pengganti. Sempat kecewa, tapi setelahnya ia melapangkan d**a untuk ikhlas. Ia menganggap kepergian perempuan itu karena bukan jodohnya. Ia tetap menikah, namun dengan perempuan yang berbeda. Bahkan ia tidak tahu siapa perempuan yang ada di sampingnya saat ini. "Baiklah. Apa kamu sudah siap, nak?" tanya Bapak Penghulu Laki-laki tersebut mengangguk yakin. "InsyaAllah." "Kalau gitu mari kita mulai acaranya." Ia mengangguk sebagai jawaban. Next>>

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.6K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.5K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
3.7K
bc

After We Met

read
187.3K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook