Tersakiti
Aku dan Emmeric adalah sepasang kekasih, begitu masuk kuliah aku berpacaran dengannya. Kira-kira umurku sembilan belas tahun dan sekarang kami memasuki anniversary jadian yang ke-enam. Aku pikir kisah cinta kami akan bertahan selamanya sampai ke jenjang pernikahan, tidak akan ada perselingkuhan atau badai besar.
Sampai suatu hari, Emmeric mengatakan kalau dia akan menikah dengan wanita pilihan orang tuanya. Aku seperti terkena pecutan kuda, hatiku begitu sesak. Emmeric mengatakan, kalau pernikahan itu dia lakukan agar adik tirinya tidak mendapat saham perusahaan keluarga mereka, perusahaan akan menjadi milik Emmeric, itu syarat dari ayahnya. Emmeric sejak dulu berambisi, seketika aku menamparnya keras, tapi tanganku lembut dan tulang pipinya keras, tanganku malah menjadi sakit.
Emmeric memeluk dan menciumku paksa, aku meronta dalam rangkulan tubuh bidangnya. Dia bilang orang tuanya menyetujui kalau dia menjadikan aku istri kedua. Bahkan Emmeric bersumpah akan mencintai aku seorang, tidak akan menyentuh istri pertama, wanita pilihan orangtuanya.
Emmeric adalah seorang bintang di kampus dulu, dia seniorku lebih tua satu tahun. Di kampus dia menjomblo tapi aku tak percaya, mana mungkin orang seperti dia tidak memiliki kekasih? Dia bilang dia hanya punya pacar saat SMA.
Aku menampar lagi pipinya, saat mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya. Mulut yang sering menyentuh mulutku, kenapa bisa keluar perkataan yang begitu menjijikkan? Hatiku semakin perih melihat wajah Emmeric yang santai, dia yakin aku akan menurut dan mau menjadi istri keduanya. Tak pernah akan terjadi dalam kehidupanku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain.
Memang aku pernah mendengar dari sahabatnya, Angel, jangan salah dia adalah laki-laki sekalipun bernama Angel. Angel bilang ada wanita yang sangat menyukai Emmeric sejak dulu, dari lingkungan pergaulan mereka. Putri seorang pejabat tinggi yang dekat dengan presiden dan sangat berkuasa. Cuma waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya, mana mungkin aku melarang wanita jatuh cinta pada kekasihku.
Aku mendorongnya keras, tapi Emmeric menangkup tubuhku, dibanding dia bisa dibilang aku jadi kecil padahal aku sudah lumayan tinggi untuk ukuran wanita. Mendadak seluruh tubuhku bergetar dan mataku berkunang, sekelilingku menjadi gelap. Tapi aku menahan tubuhku ke dinding.
Emmeric membisikkan kata-kata mesra, bersumpah terus kalau dia akan menghujaniku dengan kasih sayang dan materi yang bahkan melebihi istri pertamanya, bahkan anaknya denganku nanti akan menjadi prioritas.
Mata Emmeric bewarna kelabu, aku menatapnya garang. Dia memeluk pinggangku ketat, seakan dia tak mau melepaskannya.
Selama berpacaran lebih dari enam tahun, tidak pernah sekalipun Emmeric bersikap jahat padaku, dia baik dan penuh kasih sayang. Menghujaniku dengan perhatian. Semua merasa aku sangat beruntung, bahkan diriku pun berpikir demikian. Sayangnya semua itu sia-sia. Untuk apa melanjutkan hubungan tanpa arah yang pasti? Menjadi istri kedua? Dalam mimpi pun aku tak akan sudi.
Dia malah mengajakku berhubungan intim agar segera tumbuh benih di dalam perutku, agar anak itu menjadi anak pertama. Nafasku segera tersedak, ingin rasanya aku mengambil pisau dan membunuhnya detik ini juga. Aku dan Emmeric tidak pernah berhubungan intim sekalipun selama enam tahun, Emmeric selalu mengajakku tapi aku masih menjaga budaya nenek moyang ketimuran. Bahwa aku hanya memberikannya pada suamiku kelak, terutama aku selalu mengingat pesan ayahku agar menjaga martabat.
Seandainya saat ini hati dan jantungku berada di luar, keduanya pasti sudah bergelimpangan bersimbah darah. Pantas saja ada yang berkata kalau lidah lebih tajam dari pisau. Kata-kata Emmeric menyakitiku. Aku menatap dengan mata melotot pada wajahnya yang tersenyum, biadap sekali dia masih bisa tersenyum dalam kondisi begini? Rasanya aku ingin mencekiknya sampai mati saat aku melihat jakunnya yang bergerak di leher, naik turun.
*****
Aku membanting piring di dapur sampai adikku tersentak kaget.
"Kakak, kamu kenapa?" Dia bertanya bingung.
"Kakak putus dengan Emmeric!" Aku bersungut-sungut, adikku tidak begitu mirip aku, namanya Reva. Dia membelalakkan mata dan mulutnya menganga.
"Serius?!" Tentu saja orang tak percaya kalau aku katakan demikian, sekalipun Emmeric dari keluarga kaya toh hidupku tak susah-susah sangat, ayahku seorang pegawai negeri yang berprestasi, walau sederhana kami selalu bahagia.
"Dia mau nikah sama perempuan lain, pilihan orang tuanya. Demi jadi pewaris perusahaan."
"Seperti di drama-drama picisan?"
"Heran, kenapa hidup kakak jadi semacam picisan begini." Aku mengeluh.
"Sudah, tandanya belum jodoh. Kakak sedih?"
Aku terdiam, tanganku penuh busa dari sabun cuci piring, "Dia minta kakak jadi istri kedua."
"Tenang...tenang..." Reva mengurut dadanya dan mengambil nafas dalam-dalam. "Jangan sampai kakak mau ya! Aku nggak sudi jadi adik kakak."
"Kamu ini, mana mungkin bisa terjadi. Mati saja dia sana!"
Sudahlah aku tak memikirkan lagi, masih untung aku tidak menyerahkan diriku padanya. Padahal aku sangat mencintai dia, orang seperti Emmeric, mana mungkin ada yang tak mau mencintai dia.
"Kak, aku mau bilang sama ayah."
Aku menyusun piring-piring di rak, mau tidak mau ayahku pasti akan tau. Kami berpacaran sangat lama, Emmeric juga sering berkunjung ke rumah dan main catur bersama ayahku, bahkan dia sudah dianggap anak oleh ayahku. Aku merengut dengan kesal. Aku sudah menangis dan tersiksa semalaman, saatnya maju dan menjalani hidup.
"Selma." Suara berat ayah memanggilku. Aku beringsut mendatanginya. Ayahku bertubuh seperti bapak-bapak pada umumnya, berisi dan sedikit buncit, tapi wajah dan sikapnya halus. Melihat wajah ayahku, aku menangis seketika dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. Reva ikut-ikut duduk dalam diam. Di dunia ini kami cuma bertiga, membuat hubungan kami sangat dekat.
"Itu berarti dia bukan jodoh kamu, selalu yakin sama apa yang dipilih Tuhan, Nak."
Aku masih menangis tersedu, sekuat apapun aku bertahan tetap saja aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi, apalagi teganya Emmeric menyuruhku menjadi istri kedua. Harga yang dibayar Emmeric untuk jalinan cinta di antara kami memang amat mahal, harta keluarganya yang tidak habis-habis sampai lima belas turunan itu mungkin. Tapi tetap saja, cintaku dihargai begitu murah olehnya. Bukankah cinta sesuatu yang tak ternilai? Salahkan aku memiliki konsep begitu?
Aku tak mau mengatakan pada ayah kalau Emmeric memintaku menikah jadi istri keduanya, aku takut ayahku akan murka. Aku memejamkan mataku yang basah, hati juga pikiranku beterbangan jutaan perasaan yang tak bisa aku jelaskan. Kurasakan tangan besar ayahku membelai pelan rambutku.
*****
Walaupun ada ratusan kematian di belahan bumi lain, manusia di sisi lain ada juta yang menggelar pesta. Begitu pula dengan kondisiku, aku yang terluka karena hati patah berkeping tetap harus melakukan aktivitas secara profesional.
Dengan langkah pasti aku menuju ke kantorku. Aku adalah seorang staf yang bekerja dengan desainer ternama, merk pakaian bernama 'Masa Lalu', desainernya seorang berusia 49 tahun yang masih terlihat awal 30, karena rajin merawat diri dan diet ketat.
Wanita itu bernama Marwa, kulitnya sawo matang dengan rambut pendek lurus dan di cat coklat. Baru- baru ini dia menikahi pria yang jauh lebih muda darinya, mereka berjarak dua belas tahun.
"Selma, selama bekerja denganku kamu tak pernah sekalipun izin karena sakit. Tapi kemarin kamu izin selama dua hari? Ada apa?"
Sebagai bos, dia cukup perhatian.
"Aku kena demam, Bu."
Dia mengangguk, "Kalau belum terlalu sehat, pergilah beristirahat."
"Sudah lebih baik, bosan juga berbaring di tempat tidur."
Aku membantunya menyiapkan pagelaran yang akan diadakan seminggu lagi, memang masa-masa ini kami cukup sibuk. Aku tidak mungkin bersantai, lebih baik aku mengalihkan emosiku untuk pekerjaan daripada memikirkan Emmeric.
Pukul tujuh malam aku berjalan keluar dari kantor, aku melihat mobil sport bewarna putih menungguku, aku sudah tau mobil siapa itu. Dia segera keluar untuk menghampiriku. Aku mempercepat langkah, dia menarik tanganku.
"Ayo bicara." Emmeric berkata dengan cepat. Aku menepis tangannya, seketika aku menjadi marah dan kesal.
Emmeric kekasihku, seorang pria sangat murah senyum bermata ramah. Dia selalu beraroma wangi segar. Dia menarik tanganku lagi dan memelukku.
"Selma, di dunia ini hanya kamu satu-satunya wanita yang akan aku cintai. Tidak akan pernah aku mencintai wanita lain."
Aku diam saja di pelukannya, hanya aku berpikir ingin menusuk dan mengeluarkan ususnya saat ini sampai dia kehabisan darah.
"Selma, wangi kamu sangat enak. Aku tidak konsentrasi bekerja karena beberapa hari tidak berpelukan."
Memang aku diam, aku terhipnotis pada baunya dan terbiasa dengan pelukan hangatnya.
"Apa kamu sudah makan malam?"
Aku menatap matanya yang penuh cinta, dia selalu memandangku begitu selama kami pacaran. Pandangan penuh kasih sayang.
"Aku tak sudi." Aku mendorongnya.
"Selma, aku pikirkan, memang aku sudah menyakiti hatimu. Aku sudah menolak perjodohan." Dia berkata.
Mataku berkedip karena ragu. Aku sangat kecewa akan perkataannya beberapa hari lalu. Hanya saja perkataan Emmeric kali ini menggangguku juga. Akhirnya aku menurut saat dia mengajakku masuk mobilnya.
Emmeric membawaku ke restoran favorit kami. Dia memesankan semua makanan yang aku sukai.
"Apa kamu berbohong?"
"Kita makan dulu ya, aku lapar."
Emmeric makan sangat bersemangat, sesekali dia memandangku, melemparkan senyum hangat.
Aku sudah menghabiskan setengah nasi di piringku dan meminum airku sampai habis, aku bertanya lagi, "Jawab pertanyaanku tadi?"
Emmeric diam dan seketika aku menyadari kalau dia berbohong, dia mungkin menolak perjodohan tapi tak mungkin menolak ambisinya untuk mencapai puncak kesuksesan. Aku tersentak dan seketika berdiri,
"Selma." Emmeric menahan pergelangan tanganku, aku menepisnya keras kemudian aku merasakan pandanganku gelap dan aku jatuh ke lantai yang dingin.
*****
Aku merasakan sekujur tubuhku dibelai dan dicumbu, aku juga mencium aroma Emmeric yang sangat kusukai. Tapi aku tak mampu bergerak, seluruh duniaku berputar.
Aku bahkan tak mampu membuka kelopak mata. Aku mendengar Emmeric mendesahkan namaku berkali-kali dan meminta maaf. Tapi aku tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang dia katakan.
Kulit Emmeric bergesekan dengan tubuhku, dulu beberapa kali selama pacaran kami saling membelai dengan perasaan penuh keiintiman. Tapi aku tak pernah mau Emmeric melakukan lebih jauh, saat itu dia mengikuti keinginanku.
Mataku semakin berat dan aku merasa pandanganku gelap lagi. Ketika aku terbangun lagi aku merasa seperti kepalaku berputar, ukhh...aku melenguh. Akhh! Perih terasa di bagian kewanitaanku, tapi aku masih setengah sadar.
Sekitar beberapa menit kemudian aku mulai memiliki kekuatan untuk bangun, aku merasa tangan yang liat dan berurat halus melilit di perutku yang terbuka. Aku polos. Lelaki yang memelukku juga polos. Kulihat bercak kemerahan di atas seperai. Kulihat wajah Emmeric tertidur pulas dan nyaman. Aku terpekik dan menangis.
*****