Bertahan Hidup

1457 Kata
Polisi muda mengunjungi kami. Dia membawakan buah dan makanan. Reva yang sekarang selalu bolos sekolah menatapku dengan kemarahan. "Kakak menyetujui menikah dengan Emmeric?" Dia sekarang tak memakai embel-embel memanggilnya. "b******n, sudah menikah masih memaksa menikahi wanita lain. Kalau kakak menikah dengannya, aku tak akan menginjakkan kaki di rumah itu. Aku seperti mau muntah. "Kakak takut kalau anak yang kakak kandung tidak punya ayah? Apa kakak berpikir bagaimana kalau dia lahir? Dia akan menanggung derita, menjadi anak yang lahir dari istri kedua. Melihat situasi ini aku tak yakin Emmeric akan melindunginya." Aku berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua yang aku makan. Sampai air mataku keluar. Aku mengelap mulutku dengan tisu basah. Reva masih mengomel. "Kalau dia punya kekuatan, kenapa tidak sejak awal menolak pernikahan? Memang ini yang dia inginkan." Reva menyerocos tanpa henti. Polisi muda menatapku, lalu dia berkata. "Kakakmu akan mempertimbangkan yang terbaik." "Belum tentu, manusia kadang salah memutuskan. Nanti setelah jadi istri kedua, kakak akan disiksa seperti sekarang. Menyesal pun tak bisa bercerai. Lihat saja bagaimana dia tega membiarkan kakak dikurung di tahanan selama dua minggu untuk mendapatkan keinginannya. Ayah pasti tak akan tenang di surga." "Reva, kamu terlalu cerewat. Bisa menelpon kantor kakak?" "Kakak mulai bicara sejak pria itu datang, kakak masih cinta sama b******n p*******a itu? Makan tu cinta!" Sekalipun dia murka, dia mengambilkan ponsel juga. Polisi muda hanya diam, dia memakan snack-snack yang dia bawa. Aku menelpon Bu Marwa. "Selma, a-aku sangat berduka. Aku akan mentransfer gajimu." "Bu, maaf aku sudah izin bekerja selama ini." "Selma- bagaimana ya. Maafkan aku, kamu tidak perlu datang bekerja lagi." Aku sudah cukup sengsara untuk mendengar kabar pahit apapun jadi aku hanya mendengar. "Karena aku ditahan?" "Aku tau ada kesalah pahaman tapi-Emmeric mengatakan agar aku-jangan katakan padanya, kalau aku mengatakan ini padamu. Kamu sudah aku anggap adikku." "Ya bu." "Dia bilang kalian mau menikah, dia mengancam akan membuatku bangkrut kalau masih menerimamu bekerja di sini. Maafkan aku, Selma." Aku menutup sambungan telepon. "Aku pengangguran yang sedang hamil." Aku berkata sambil menyandarkan punggung di sofa. Aku menutup mata. Tak ada lagi yang kurasakan saat ini. "Keluarga Thomas memang berkuasa." Suara polisi muda, menyusup relung-relung hatiku. "Aku harus membunuhnya!" Reva memekik, suaranya sudah habis. Tapi dia masih saja berteriak-teriak. "Kakak lihat? Apa masih mau menikah dengan orang seperti dia? Lebih baik aku pindah ke pedalaman." Polisi muda tertawa, aku rasa itu adalah suara tawa pertama yang muncul di rumahku sejak kejadian itu. Saat mataku kembali membuka, kuamati dalam-dalam wajah polisi muda yang ternyata sangat tampan. Alisnya sepasang bewarna hitam, matanya juga kelam dan indah. Hidung dan dagunya terukir dengan menarik. "Kamu mau pindah ke pedesaan?" Aku mengalihkan wajah, berbicara dengan Reva. "Lebih baik." Adikku menjawab dengan mantap. "Aku pun sudah bosan sekolah." Untuk yang satu itu aku kurang menyetujuinya. Polisi muda berpamitan, aku bertanya pada adikku siapa nama polisi muda. Adikku menjawab, Davio, Davio Maranta. Aku dan Reva mengawasi kepergiannya dari pintu. Sebuah mobil bewarna merah mentereng berhenti di depan rumah kami. Turun seorang perempuan bertubuh sintal, berkulit putih seperti transparan, mengenakan gaun bewarna ungu. Dia mendatangiku dengan cepat, seketika langsung mendorongku. Adikku marah dan menjambak rambutnya, wanita itu berteriak-teriak mengatai aku p*****r jalang perebut suami orang. Adikku mendorongnya hingga berguling. Aku seketika shock dan memahami itu adalah wanita bernama Linda yang dinikahi oleh Emmeric. "Tolong! Tolong!" Adikku berteriak minta tolong. Para tetangga segera mengerumuni kami dan menyeret wanita itu. Dia masih berteriak. Aku tak sadar sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Adikku membawa aku ke rumah sakit. Dokter mengatakan aku sangat stres dan itu berbahaya pada kehamilanku. Dalam tidur, aku berhalusinasi wanita itu menertawaiku, dia memukul seorang anak laki-laki yang kurus dan tersiksa. Anak itu melihat ke arahku dan memanggilku mama. Emmeric melihat tapi dia membiarkannya. Aku mengalami kejang. Setelah aku sadar, dua orang polisi mendatangiku, aku dituduh melakukan penganiayaan dan membuat memar seorang nyonya yang sangat kaya lagi berkuasa. Reva menyumpah-nyumpah. Aku kagum pada adikku, dia memiliki begitu banyak energi untuk disalurkan. Aku tidak merasa sedih menanggapi hal itu. Aku kan mati rasa. Aku menyuruh Reva menelpon Emmeric, dia menolak keras. "Percaya pada kakak." Aku berkata. Dia melihatku dengan tatapan kesal. Syukurlah dokter berkata aku sangat lemas, jadi aku belum bisa dibawa ke kantor polisi. "Halo." "Sayang." Terdengar suara gembira Emmeric. Kurasa dia belum tau istri gilanya menyerangku. "Aku di rumah sakit." "Selma, apa yang terjadi?" "Tanyakan pada istri tercintamu, dia mau membunuhku." Reva menatapku semakin bingung. "Selma. Oh Tuhan, maafkan aku sayang. Aku akan memberi wanita ular itu pelajaran." Aku tak percaya pada kata-katanya, Emmeric belum sepenuhnya mendapat perusahaan. Dia pasti akan bersikap baik dan manis pada istrinya. Setidaknya aku tak ingin pergi ke kantor polisi saat ini. "Bagaimana kalau aku nanti disiksa setelah menikah denganmu?" "I-itu tidak akan terjadi." "Dia mau membuatku keguguran." "..." Emmeric membisu. "B-benarkah? Selma, kamu hamil?" "Hampir saja aku dan anakku mati. Lakukan sesuatu Emmeric." "Baik, sayang. Aku akan melakukan apapun untukmu." Aku mendengar suaranya yang sangat gembira di seberang sana. Aku mematikan sambungan telepon itu. "Apa yang kakak rencanakan?" Adikku langsung mengetahuinya. Aku terlihat berakting tadi. "Reva, bukannya kamu mau pindah ke pedesaan?" Aku menunggu kehadiran Davio. Tapi dia tidak datang-datang. Reva mungkin menyadarinya. "Kak Davio pasti kecewa karena mengira kakak mau menikah dengan Emmeric. Mungkin dia menyukai kakak." "Seorang pria muda juga bujangan, tidak mungkin menikah dengan wanita yang hamil anak orang lain." "Kenapa? Jodoh nggak ada yang tau. Aku menyukai Kak Davio." Dia pria yang datang di saat yang tepat, menjadi kehangatan bagi kami berdua. "Kalian membicarakan aku?" Terdengar suara menyapa telingaku lembut. "Kak Davio? Malam sekali." Reva berkata, nyaris terpekik. "Banyak pekerjaan." Dia tersenyum. Reva dengan bersemangat membuka bungkus sate yang dibawa. "Asyik." Reva menceritakan dengan berapi-api kejadian yang menimpa kami tadi siang. Davio tertawa saat Reva bilang kalau dia menonjok dan menjambak rambut wanita yang katanya anggun itu. Aku mendapat pesan dari Emmeric, "Kekasihku. Aku belum bisa datang ke sana. Aku sedang mengurus masalah ini. Kumohon jangan sedih, aku selalu mencintaimu. Hanya kamu seorang dan calon anak kita." Membaca pesan itu membuatku ingin muntah, siapa yang tau saat menulis pesan itu dia sedang menikmati malam intim dengan istrinya yang montok. Membuatku mual saja. "Aku perlu uang dua puluh juta besok. Aku stres dan ingin berjalan-jalan, juga shopping. Aku tak bekerja lagi karena aku pernah ditahan jadi aku dipecat." "Baik sayang, apa yang tidak untukmu aku akan kirimkan dua kali lipat. Mintalah yang apa saja yang kamu inginkan." Sepanjang berpacaran aku tak pernah menerima uang dari Emmeric. Hanya saat kami makan atau berjalan bersama dia memberiku barang-barang. Ayah. Aku membutuhkanmu. Aku baru saja mau menangis. Tapi aku melihat muka Reva yang makan sate belepotan sambil bercengkrama dengan polisi muda, membuat hatiku hangat. Dokter datang mengecek keadaanku. Kondisiku sudah stabil tapi harus tetap beristirahat sekitar tiga hari. Polisi muda meninggalkan rumah sakit pukul sepuluh malam dan adikku, Reva, tidur di sofa. Esoknya, aku dipindahkan ke ruang VVIP atas perintah Tuan Emmeric. Dia datang pukul sepuluh dengan membawa buket lili putih dan sekotak kue. Aku merasakan ketegangan di hatiku. Mata abu-abunya bercahaya, dia mengoceh tentang persiapan pernikahan. Cuma pernikahan sembunyi pastinya. "Aduh aku memegang perutku." Wajah Emmeric seketika panik. "Semalam waktu istrimu mendorongku, perutku seperti terbentur." Aku tidak berbohong, itu memang faktanya. Wajah Emmeric penuh merah penuh kemarahan, "Wanita licik itu. Dia berkata tidak akan mengganggu kamu. Tapi, tenang saja sayang, aku sudah membereskannya." "Dia tidak salah sih, dia pasti menganggapku murahan karena menggoda suaminya." "Itu tidak benar, sejak awal dia tau pernikahan kami palsu. Aku bilang aku tidak mencintai dia." "..." "Katakan lagi sayang." "Soal apa." "Yang tadi di telepon, aku ingin men dengarkan secara langsung. "Aku hamil." Meluncur kata-kata itu dari mulutku. "Sayang. Kamu lihat? Ini tandanya kita ditakdirkan selalu bersama." Polisi muda datang pada saat makan siang, dia bertatapan dengan Emmeric. "Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Emmeric heran. "Oh." Reva menyeruak masuk, "Kakak ini banyak membantu kami. Biarkan kakak masuk." Reva menarik tangannya dan mereka duduk di sofa. Diam memandangi aku dan Emmeric, wajah Emmeric tampak tidak suka. Reva memuji-muji ketampanan dan kebaikan polisi muda. Emmeric semakin gelisah dan tidak suka. Emmeric menerima telepon, "Apa?  Putra bungsu keluarga Hadikusumo?" Dia keluar dari kamarku. Akhirnya udara kembali higienis. Keluarga Hadikusumo? Bukankah itu keluarga yang kaya juga berkuasa? Sudahlah, untuk apa juga aku memikirkannya. Emmeric pulang sambil menyerahkan cek senilai empat puluh juta. "Aku bukan mata duitan." Aku mengatakan dengan tenang. "Kamu permaisuriku, aku sangat senang kamu menerimanya." Apa Emmeric lupa kalau dia mau menjadikanku sebagai selirnya? Huh, tidak akan sudi. Setelah dia pergi aku menyerahkan cek pada Reva. "Apa yang kakak lakukan?" Dia membulatkan mata dengan bingung. "Mengumpulkan uang." Aku melihat ke arah polisi muda, dia memandangku dengan tatapan biasa. Apa dia dia merasa aneh dengan perilaku aku? Aku memejamkan mata, yang aku inginkan saat ini hanyalah tidur selamanya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN