Pusaran Takdir

1002 Kata

"Papaku cukup licik bukan?" Itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh tuan muda. "Tak peduli itu istrinya, anaknya bahkan cucunya, selagi itu untuk keinginan dia, semua dilakukan." Aku mengusap-usap bahu tuan muda, terasa sekali tubuhnya menegang kaku. Aku mendengarkan dengan seksama, tahu kalau tuan muda hanya ingin didengarkan. "Dia tak akan berhenti sebelum mati, bahkan setengah mati saja dia masih sempat merencanakan ini. Oh ... rasanya tak percaya dia sungguh koma." Aku biarkan suamiku berkeluh kesah, seperti apa kerasnya kehidupan yang dia lalui, dia pasti memiliki kecemasan apalagi menyangkut anak-anaknya. Aku tadinya juga begitu, tuan besar pura-pura tak sadarkan diri. Tetapi ... mengingat bagaimana Tuan Besar telah memanggil pengacara untuk menunjuk pewarisnya, aku merasa dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN