Pesta penyambutan tamu belum usai saat Dean memutuskan untuk kembali ke rumah dengan dalih tidak enak badan.
Dia membulatkan hati menyusuri jalanan sendirian dengan keriuhan pesta yang masih terdengar seperti dengung lebah yang berkoloni.
Sesekali lolongan anjing di kejauhan membuat dirinya merinding. Dean berusaha menyemangati diri. Makin sendirian semakin dirinya aman dari ancaman orang orang di sana.
Entah apa mereka, Jin, Penyihir, atau iblis. Laki laki yang semula Dean lihat sosok gagah seperti manusia pada umumnya kini terlihat menjadi sosok menjulang tinggi besar. Rambut rambut hampir memenuhi seluruh permukaan wajahnya.
Yang bisa Dean lihat hanyalah sebagian pipinya yang berwarna merah, dan juga taring panjang.
Dia memejamkan mata berusaha mengenyahkan bayangan sosok sosok yang kadung terekam dalam ingatannya.
Perempuan berwajah pucat, bertaring, sedikit terlihat lebih manusiawi dari kuntilanak, tetapi tetap saja mereka menyeramkan.
Kulit pucat dan mata yang kosong mengingatkan lelaki itu pada sosok lain dari Hanum.
Dengan begitu, Dean menduga jika Hanum sudah berada di alam uang berbeda.
Tiba-tiba dia sedih, membayangkan Hanum dan Dito harus meregang nyawa bersama. Dirinya merasa jadi sosok jahat karena meninggalkan keduanya di sana.
Berjalan di atas pasir tidak menimbulkan suara, Dean tetap menajamkan pendengarannya, waspada barangkali ada suara selain kemeriahan pesta.
Napas lelaki itu terengah-engah, manakala ada perasaan diikuti oleh seseorang.
Tidak ada waktu untuk panik, Dean terus mempercepat langkahnya hingga sampai di depan pintu rumah.
Dia tidak yakin apakah rumahnya merupakan rumah yang sama dia tinggali sebelumnya.
Atau wujud semula hanyalah sebuah Ilusi, dan ini adalah rupa yang sebenarnya?
Rumah tua, tidak terurus dipenuhi sarang laba-laba. Dean berjalan mengendap, lalu memegang pintunya yang bersuara ketika dibuka.
Pakaian yang digantung di salah satu sudut rumah adalah pertanda jika dirinya tidak salah alamat.
Dean coba pejamkan mata, mencari makna, mencerna rasa. Ingin rasanya membuang Segara Biru ke tengah lautan, tetapi Dean merasa masih punya kewajiban untuk mengembalikan benda itu kepada pemiliknya.
Menjelang tengah malam, Mahesa kembali. Dia memegangi perutnya karena kelaparan.
"Di sana banyak makanan kenapa lo gak makan?"
"Kalung gue hilang, yang gue lihat semuanya keindahan, makanan lezat, cewek cantik, bahkan malam pun rasanya menjadi malam paling indah yang pernah gue lalui sepanjang hidup."
Dean menegakkan posisinya, dia mengambil buah pisang sisa tadi siang.
"Ini pisang beneran. Makan dulu biar Lo gak sakit. Nanti kita sama sama cari kalung Lo, biar apa yang gue lihat malam ini bisa lo lihat juga."
Jemari gempal milik Mahesa mengupasi helai demi helai kulit pisang. Nahan lapar di tengah limpahan makanan adalah hal yang paling menyiksa. Dengan gemetaran lelaki itu memakan pisangnya. Manis, dengan sensasi asam sedikit berpadu di mulutnya.
Sebuah pisang lebih baik daripada setumpuk makanan yang diselimuti Ilusi.
"Tadi pas mandi masih ada, pas ganti baju juga masih ada. Pas mau berangkat pesta penyambutan barulah gue sadar kalau benda itu sudah tidak ada."
"Mungkin di sini, ayo cari."
Lelaki itu beranjak dari dipan usang yang mereka duduki. Mulai mencari dari ujung ke ujung, semua disingkapkan dengan hati hati. Lantai pasir mereka sibak dengan telapak kaki, berharap kalung milik Mahesa jatuh dan terkubur.
Pakaian basah Mahesa tidak luput dari sasaran pencarian.
Penerangan yang minim cukup menyulitkan, Mahesa menyerah. Biarkan saja sisa malam ini dirinya melihat semua keindahan yang disajikan oleh perkampungan itu.
*
Margareta terbangun karena merasakan sakit pada betisnya. Semalam, bersama perempuan perempuan dari pemukiman ini dia menari, mengelilingi api unggun dan mencurahkan seluruh kebahagiaan juga kebebasan.
Tidak ada lagi lembar lembar kertas yang harus dia urus. Tidak ada lagi deretan angka dan jadwal kerja atasan yang harus diperhatikan.
Dia bebas. Bebas berdiri pada kakinya sendiri. Bebas tanpa rasa takut, tarian semalam adalah curahan rasa hati yang selama ini dia pendam.
Tubuhnya menggeliat, beruntung sekali ada orang yang mau meminjamkan rumahnya untuk ditempati Margareta dan ketiga temannya.
Dia melihat sinar matahari mengintip dari sela sela dinding papan di rumah itu. Debur ombak terdengar, serupa dengan debar di dadaanya kala ketahuan oleh istri sah sang atasan. Fakta bahwa dirinya seorang pelakor adalah sesuatu yang tidak bisa dibantah, kendatipun sekarang dirinya sudah berada di jalan yang benar tetap saja rasa bersalah itu tetap ada.
Margareta melirik ke bawah tempat tidur, ada Valen yang tidur seperti bayi. Makin hari rasa sayang perempuan itu kepada Valen semakin besar. Bukan sayang seperti sepasang kekasih, melainkan seperti sayangnya kakak kepada adiknya.
Valen begitu polos dan berani. Segala tindakannya ceroboh tetapi selalu benar untuk itulah Valen dilindungi oleh Margareta, Mahesa dan juga Dean.
Di sudut ruangan, Margareta melihat Dean dan Mahesa sedang ngobrol begitu serius. Sejak awal, dua orang itu selalu bersama. Di pandangan Margareta mereka pasti merencanakan sesuatu.
"Kalian berduaan terus, ada apa sih sebenarnya, rundingan gak ngelibatin gue," keluh Margareta, tertatih perempuan itu turun dari tempat tidur.
"Margareta, Lo lihat kalungnya Mahesa? yang mirip seperti ini," tanya Dean.
"Oh ... kalung yang bikin kalian baku hantam waktu itu?"
Mahesa tersenyum malu.
"Kalung apa sih, kayaknya berharga banget sampai dicariin." Langkah Margareta sangat hati-hati, dia berjalan memutar agar tidak membangunkan Valen.
"Pemberian Kakek gue," jawab Mahesa.
"Lo dikasih kakek juga? kok kayak pasangan, punya kalung couple yak?" Dean sontak tersedak. Dia buru buru mengelak, jelas jelas itu kalung milik salah seorang awak kapal.
Tidak seperti hari hari sebelumnya, pagi itu suasana terasa sangat hangat. Sejenak mereka lupa keinginan untuk pulang, Dean lupa dengan sosok sosok mengerikan yang membuatnya tidak bisa tidur.
Dan Margareta lupa memberi tahukan bahwa kalung segara biru milik Mahesa ditemukan oleh pemilik rumah. Mereka menyimpannya.
Tiga malam mereka lalui tanpa adanya keanehan, hanya saja setiap kali mereka membahas tentang keinginannya untuk pulang, selalu saja ada bantahan.
Orang-orang sana termasuk kepala desa tidak menyukai kata pulang. Selalu saja ada alasan yang diberikan saat salah Margareta minta pulang, dan saat Mahesa menanyakan waktu.
"Lantas apa yang harus kita lakukan di sini?" tanya Valen.
Mereka berpikir, buntu. Jika boleh memilih kembali, Dean ingin tetap di pantai lagi dan menunggu tim penyelamat datang mengevakuasi mereka.
Perlahan Valen bergeser dari tempat duduknya, mengubah posisi dari membelakangi jendela menjadi sebaliknya, menikmati aroma air laut yang dibawa oleh angin.
Andai saja angin bisa membantu mereka menyampaikan kegelisahan dan keinginan terdalam untuk kembali ke pelukan orang terkasih.