18

1099 Kata
Berhari-hari pencarian Segara Biru milik Mahesa terus dilakukan. Valen adalah orang yang paling semangat sementara Mahesa sendiri kian hari kian malas. Bukan enggan, tetapi Mahesa sudah lerlalu nyaman dengan segala kenyamanan yang diberikan oleh pulau Marai. Cuaca di perkampungan pulau Marai tidak menentu, terkadang badai petir menyeramkan. Terkadang panas terik seperti membakar matahari dan terkadang sejuk seperti sekarang ini. Mahesa, Maegareta dan Dean menyusuri jalanan pedesaan ke arah hutan. Lintang, salah satu gadis keturunan pulau Marai mengatakan kalau di paling selatan dari kampung ada air terjun. Valen memutuskan untuk tinggal di rumah. Lelaki itu terlalu lelah dengan keadaan. Terlalu lelah dengan penjelajahan, dalam rumah berdinding papan tersebut Valen memikirkan berjuta upaya agar mereka bisa pergi dari tempat itu dengan selamat. Bayangan kuliah di universitas yang dia dambakan selalu menari di kepalanya. Lokasi air terjun itu sekitar 3 kilometer dari pemukiman, mereka harus sedikit menjelajahi hutan dan memanjat bebatuan, beberapa ratus meter sebelum sampai di air terjun gemuruh air yang jatuh dari ketinggian sudah terdengar begitu riuh. Mahesa dan Margareta mempercepat langkah, begitu melihat air segar yang indah itu tidak ragu lagi mereka melompat dan mandi di sana. Segarnya air membasahi seluruh tubuh Margareta, perempuan yang biasa berenang di kolam renang pribadi itu kini menikmati sensasi berbeda. Gelak tawa ketiga orang itu tidak disadari tak luput dari pengawasan seseorang. Segara gerak gerik dan tingkah laku mereka terus diawasi. “Dean, ayo turun,” ajak Mahesa. Dean hanya bertengger di atas batu. Dia menggelengkan kepalanya. Dalam benak, puluhan ribu kata meluncur untuk menggambarkan keindahan yang saat ini dia lihat. Pemandangan yang sesungguhnya seperti dua sisi mata uang. “Di sini aja,” jawab lelaki itu, tangannya memutar-mutar rerumputan yang dia petik. Tawa margareta dan Mahesa teredam oleh gemuruh air. Lebih dari satu jam mereka bermain-main di air terjun. Kemudian kembali ke perkampungan karena kegelapan mulai menggantikan terangnya sore. Gigi Margareta gemerutuk, dia kedinginan. Mahesa berinisiatif untuk memberikan pakaiannya kepada Margareta. “Ih, lo juga kan kedinginan,” tolak perempuan itu. Air menetes netes dari rambutnya. Tangan gempal Mahesa menyeka lelehan air di bahu Margareta. “Setidaknya buat ngeringin rambut lo. Nanti masuk angin gak ada yang ngerokin. Gak lucu kalau gue ngerokin lo.” “Itu mah maunya lo,” sindir Dean diikuti tawa kecil Margareta. Langkah mereka terhenti karena tidak sengaja mendengar langkah terburu-buru. Semak belukar yang dilalui bergoyang bukan lantaran angin. Mahesa berusaha mengejar sosok itu tetapi sudah hilang ditelan rimbunnya tumbuhan liar itu. “Lo lihat, kan? Ada yang ngintip kita tadi,” Mahesa gusar, lelaki itu terengah-engah karena berusaha berlari mengejar meski tidak berhasil. “Udahlah biarin, keburu gelap. Kita nanti nyasar, gue udah bosen tinggal di hutan terus.” Dean terus berjalan, Margareta merasa punya utang budi kepada Mahesa. Dia memilih menunggu lelaki itu hingga turun kembali ke jalan setapak yang mereka lalui. Rasa penasaran membuat Mahesa melihat kembali ke belakang. Sayangnya memang kosong, tidak ada siapa pun di sana. “Buruan, kasian Valen sendirian.” Margareta mempercepat langkahnya. Kaki kaki tanpa alas menapaki jalanan terjal. Berkejaran dengan cahaya yang meninggalkan langit sementara mereka meninggalkan hutan. Matahari terbenam di Pulau Marai itu sama saja dengan matahari terbit di negeri yang sesungguhnya, di mana geliat aktivitas baru saja dimulai. Lintang, gadis yang selalu membantu Mahesa dan kawan-kawan membawa bakul besar berisi makanan untuk para tamu kehormatan. Manakala tiga orang itu tiba di rumah, Valen yang menyesal karena tidak ikut ke air terjun menyambut dengan wajah semringah. Meluncurlah berbagai keluhan dan cerita dari bibirnya, bagaimana dia beberapa jam saat ditinggalkan. Valen ditemani Lintang dan dua remaja pulau Marai, mendengarkan kisah-kisah lama tentang Dewi Laut yang senantiasa memberikan banyak kesejahteraan untuk pulau Marai. “Dewi Laut?” tanya Dean. “Iya, katanya nanti kita bakalan tahu, ada waktu di mana penduduk pulau Marai mengadakan persembahan laut. Memberikan sesajen mungkin, tapi mereka bilangnya bukan sesajen.” “Oh, kayak di daerah mana, tuh yang makanan dalam nampan dilarungkan ke laut?” sambar Dean. Dia melepas penat dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding papan. “Betul, semula gue juga ngiranya begitu, tapi kata Lintang beda. Kita bakalan tahu nanti, pertengahan bulan keenam kalender mereka.” “Loh memangnya punya penanggalan berbeda?” selidik Margareta. “Kayaknya sih.” “Eh ngomong-ngomong ayo cari lagi kalung, lo,” Dean merasa buang buang waktu saja jika terlalu lama duduk. Dia ingin memiliki teman yang bisa sharing tentang hal-hal yang dia lihat, seperti pertama saat kalung itu ada pada Mahesa. “Loh, gue belum bilang, ya?” tanya Margareta. “Apa?” “Kalung lo ditemukan pak kepala waktu ambil ambil pakaian ganti.” Dean tersenyum bahagia, dua lelaki itu saling pandang mengundang kecurigaan dari Valen dan Margareta. Sejak awal Margareta memang curiga ada hal yang disembunyikan oleh Mahesa dan Dean. Hanya saja perempuan itu tidak banyak bicara dan lebih memilih mengungkapkan kecurigaannya kepada Valen. “Ya udah gue ambil sekarang,” ucap Mahesa. “Gue ikut!” “No! Gue sendiri aja,” tolak Mahesa. Terlihat gurat kecewa pada wajah Dean. Namun, dia menghargai keputusan Mahesa untuk mengambil sendiri kalung miliknya. Margareta dan Valen saling memberikan kode, ada hal yang keduanya rencanakan tanpa diketahi oleh Dean dan Mahesa. “Kak,” panggil Valen. Dean menoleh mengalihkan pandangan dari sosok mahesa yang hilang ditelan kegelapan malam. “Hmm ....” “Gue mau keluar dulu, sumpek dari tadi di rumah terus.” “Udah malam loh.” Dean. “Lo lupa kalau malam di sini malah aman karena banyak orang?” celetuk Margareta. Perempuan itu mengambil kain lain yang akan digunakan untuk membalut tubuhnya. “Lo gak usah khawatir, biar gue yang temenin dia.” Tanpa mencurigai apa-apa, Dean mengiyakan saja. Lelaki itu memilih di rumah sedirian, menunggu kedatangan Mahesa dari rumah kepala desa. Suasana kampung pulau Marai seperti biasa ramai, cahaya jingga yang berasal daro obor yang digunakan sebagai penerangan membawa Valen menjelajah ke masa silam. Masa di mana hanya bisa bayangkan melalui kisah-kisah yang sering diceritakan oleh neneknya. Margareta menggandeng tangan Valen, selayaknya seorang kakak yang melindungi adiknya di keramaian. Agar tidak terlepas dan tidak hilang tersesat. Keduanya melihat dari kejauhan rumah kepala desa. Rumah di mana Mahesa kini sedang berada di sana. Misi ini sudah mereka rencanakan sejak berada di pantai. Sejak Mahesa dan dan Dean mulai sering berduaan. “Kok gak keluar-keluar?” tanya Valen. Kakinya sudah gatal karena digigit nyamuk. “Ngobrol dulu kayaknya, pokoknya kita harus cari sampai dapat mengapa kalung itu begitu berharga untuk mereka.” Tekad membuat kedua orang itu rela berlama-lama mengintip dekat rumah kepala desa. Kalung yang memang begitu indah, apakah memang bernilai tinggi atau hanya bernilai Magis. Mereka belum tahu jika tidak melihat sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN