Mahesa keluar dari rumah kepala desa, seakan merasa ada yang mengikuti dia menoleh ke belakang, kemudian melihat sekeliling. Margareta dan Valen yang bersembunyi di balik pohon besar merapatkan tubuh mereka karena khawatir ketahuan.
Merasa aman, lelaki itu lantas pergi ke arah berlawanan dari rumah yang ditempati. Menyusuri malam di perkampungan pulai Marai. Di perjalanan bertemu dengan banyak orang yang mulai ramah dan mulai mengenali dirinya.
Segara biru sudah ada di tangannya, tetapi kali ini lelaki itu tidak tergoda untuk melihat semua yang ada di sekitarnya setelah menyentuh kalung. Dia bahkan merasa memiliki Segara Biru tidak ada gunanya sama sekali.
Jalanan lebar dengan orang-orang yang menjajakan berbagai makanan persis seperti pasar, alat tukar koin emas dan perak. Atau jika tidak memiliki koin emas dan perak, mereka menggunakan sistem barter. Sempat tergerak untuk menukarkan segara biru dengan makanan makanan menggiurkan tersebut. Namun, Mahesa tidak ingin semua orang mengalami penglihatan menyeramkan seperti dirinya.
Dia kemudian berhenti di tengah kerumunan orang-orang. Seorang penari dengan pengiring musik sedang menggelar pertunjukkan. Penonton bersorak melihat lincah dan lenturnya sang penari membawakan tarian dengan kostum berwarna cerah. Wajahnya dihiasi berbagai ornamen yang berkilauan. Matanya bulat besar dan ketika manik sehitam obsidian itu bertemu dengan Mahesa, senyum indah dengan deretan gigi rapi membuat lelaki itu terpaku.
Selama hidupnya tidak pernah melihat perempuan secantik itu. Mahesa telah menjatuhkan hatinya malam itu juga kepada perempuan itu. Tangan Mahesa mengambang di udara, nyaris menyentuh Segara Biru, tetapi rasa takut kepada kekecewaan mengurungkan niatnya.
Penonton riuh dan memberikan koin emas serta perak kepada pertunjukkan itu. Mahesa hanya bisa terpaku dengan senyuman si manik arang. Perempuan di hadapannya itu tercatat dalam benaknya. Terekam dengan jelas. Inilah namanya jatuh, perasaan yang nyaris tidak pernah Mahesa rasakan selama dua puluh tujuh tahun hidupnya.
Dia tersadar dalam dirinya ada Segara Biru yang bisa menghancurkan segalanya, segara biru yang bisa menghadirkan kekecewaan terbesar dalam hidupnya. Sebelum beranjak dan meninggalkan kerumunan pertunjukkan, sekali lagi Mahesa melihat sosok berparas ayu yang kini mendekat dan memberikan tanda seakan perempuan itu pun enggan ditinggalkan Mahesa.
“Kamu, yang tinggal di pondok milik kepala desa, bukan?” sapaan sederhana yang membuat Mahesa mendadak gugup dan tercekat. Seakan suaranya tertahan di tenggorokan Mahesa hanya mengangguk dan tersenyum kikuk.
“Azarine,” ungkapnya, diulurkan tangan perempuan itu. Halus dan dingin Mahesa rasanyan, getaran dan jutaan kupu-kupu hadir dalam perutnya. Menggelitik dan mengantarkan noda merah di pipi gempalnya.
“Mahesa.” Gugup, Mahesa tidak dapat melanjutkan perkataannya.
Azarine kembali memamerkan giginya, diantara riasan berwarna mencolok. Swarovski berkilauan tertimpa cahaya kemerahan yang berasal dari api-api yang menjadi sumber utama penerangan di sekitarnya.
“Besok pagi, di aula Kemuning. Saya tunggu kamu di sana.” Tautan tangannya terlepas, seketika Mahesa merasa kosong dan kehilangan.
Anggukan sebagai tanda persetujuan, lalu Mahesa kembali melanjutkan perjalanan dengan buncahan perasaan yang benar-benar membuat hatinya bahagia. Dengan adanya kejadian ini, semakin mantap dirinya untuk melepaskan sesuatu yang semula dianggap berharga oleh dirinya dan juga Dean. Segara Biru.
***
Setelah Mahesa menjauh dari rumah kepala desa, Margareta dan Valen tidak lagi mengendap. Mereka memilih berjalan di tengah kerumunan. Berusaha sebisa mereka untuk tidak kelihatan oleh Mahesa. Berjalan di antara banyaknya orang yang lalu lalang di tempat itu.
Valen melihat Lintang, gadis berambut sebahu itu melambaikan tangan dan memanggil Valen juga Margareta.
“Ini kakak saya,” ucap Valen seolah Lintang meminta penjelasan kepada dirinya dengan siapa dia berjalan. Margareta tersenyum melihat tingkah Valen yang menggemaskan dan bisa dijadikan bahan olokan jika nanti di kamar.
“Ah ... Senang berjumpa. Ayo coba,” pintanya menunjukkan tumpukan kue yang masih mengepul dan menguarkan aroma lezat.
Valen dan Margareta saling pandang, mereka tidak memiliki alat tukar yang digunakan di kampung ini. Meski perasaan ingin menikmati makanan itu teramat besar.
Lintang yang mengerti itu segera membungkus makanannya. “Ambil saja, anggap ini hadiah perkenalan dariku.”
“Ah ... terima kasih.” Valen tersenyum.
Margareta tidak pernah lupa dengan tujuannya untuk mengikuti Mahesa. Setelah menerima pemberian Lintang, dengan sopan perempuan itu pamitan. Dan menyeret Valen yang rakus menikmati kue pemberian lintang.
Tetap berjalan di antara kerumunan orang, keduanya berusaha agar tidak kelihatan oleh Mahesa. Manakala lelaki yang dia ikuti melihat ke belakang, keduanya bersembunyi di balik punggung orang lain atau berpura-pura melihat barang dagangan yang di jajakan di pasar itu.
Dari tempat mereka berdiri, terlihat jika Mahesa sedang menyaksikan sebuah pertunjukkan, matanya terpaku pada sosok penari yang memiliki kecantikan luar biasa. Dari kacamata seorang perempuan seperti Margareta, perempuan itu berparas rupawan, pantas jika Mahesa kepincut.
Valen tidak fokus dengan misinya, dia hanya menikmati kue pemberian lintang sampai perutnya terisi penuh.
Bisa Margareta tebak, jika Mahesa suka kepada gadis itu. Setelah sekian lama menunggu di persembunyian, Margareta akhirnya menarik Valen yang duduk kekenyangan. Kembali mengikuti dengan jarak yang mereka atur agar tidak ketahuan Mahesa kalau mereka menguntitnya.
Semakin lama berjalan, semakin jauh meninggalkan kerumunan. Mereka berjalan di bawah cahaya bulan, dengan debur ombak yang semakin terasa dekat. Aroma asin tercium mengingatkan Margareta pada lautan yang telah melemparkan dirinya hingga terdampar jauh di pulau marai ini.
Bersembunyi di antara semak, dia melihat Mahesa berdiri di ujung tebing. Valen dan Margareta saling tatap. Jutaan pertanyaan tersimpan di benak masing-masing.
Rasa penasaran yang sudah mereka simpan dari lama mungkin akan terjawab malam ini, atau jika tidak hanya kepingan puzzle yang bisa membawa mereka pada jawaban utuh yang selama ini dikumpulkan satu per satu.
Valen memejamkan mata ketakutan kala Mahesa melihat ke arah mereka bersembunyi. Napasnya yang semula tersengal kini ditahan. Mungkin Mahesa tergerak untuk melihat karena semak tempat mereka sembunyi bergerak tidak wajar.
Napas kembali dihembuskan kala Mahesa kembali menatap lautan lepas di atas tebing itu. Kemudian di tengah kegelapan itu, Margareta melihat dengan kepalanya sendiri Mahesa mengeluarkan kalung itu menatapnya lama.
Valen dan Margareta tetap fokus, kemudian napas mereka seakan berhenti kala melihat Mahesa melepaskan kalung itu. Kalung yang selama ini dianggap berharga kini dibuang seperti onggokan sampah ke bawah tebing.
***
Dean kesal karena tinggal di rumah sendirian. Dia keluar dari kamar dan menunggu teman-temannya di beranda. Segara biru yang kini dia bungkus dengan sehelai sapu tangan ada di genggaman. Lelaki itu berharap Mahesa bisa mendapatkan kembali kalung itu dan mereka bisa melihat kenyataan bersama.
Jika dilihat-lihat, segara biru itu memiliki motif seperti ombak dan buih di lautan. Bentuknya seperti tetesan air ingin rasanya Dean mengelus permukaan liontin yang mengkilap itu, tetapi dia sadar penglihatannya akan berubah. Bukan tidak ingin, dia rasa belum perlu melakukan itu semua.
Semakin malam, dua orang yang sedang mereka tunggu akhirnya tiba. Napasnya terengah, seperti habis dikejar oleh sesuatu.
“Habis ngapain sih?” tanya Dean. Tangannya dengan cekatan menyimpan kembali Segara Biru dengan cara membungkusnya lalu dia genggam dengan hati-hati.
“Keliling pasar, kami tadi dibagi kue oleh Lintang lalu –“ Margareta menyenggol Valen seolah perempuan itu melarang lelaki kecil itu untuk melanjutkan bicara.
“Kami lomba lari, siapa yang paling cepat sampai sini menang.”
Dean mendecih, seperti bocah saja, tetapi dia sedikit maklum mengingat usia Valen memang masih terbilang cukup muda dan wajar jika lelaki itu masih suka main-main. Margareta lantas mengambil labu buah kering yang digantungkan dekat pintu. Perempuan itu meneguk isinya hingga tumpah-tumpah di bagian depan tubuhnya.
Yang Dean tunggu akhirnya tina juga. Mahesa berjalan dengan gontai, dia tersenyum hambar kala Dean menyambut kedatangannya dengan raut penuh harapan.
“Kalungnya udah dikembalikan Kepala desa,” ucap Mahesa.
Valen dan Margareta saling melempar kode dengan gerakan mata dan itu tidak disadari oleh Mahesa juga Dean.
“Terus lo udah liat semuanya?” tanya Dean yang melihat kusutnya wajah Mahesa.
Mahesa dengan dagunya menunjuk bahwa di sini ada Valen dan Margareta. Dean menutup mulutnya semakin memperjelas kecurigaan dari dua orang yang sedari tadi berusaha mencuri dengar.
“Maksudnya terus sekarang udah gak hilang lagi, dong. Nanti ketemu kakek lo gak bakalan ada kata gak enak karena kalungnya udah ketemu.”
Mahesa tersenyum, dia seret langkahnya lalu duduk di sebelah Dean hingga lelaki itu ikut duduk bersebelahan.
“Tapi kalung itu sepertinya memang bukan ditakdirkan untuk gue, kalung itu seolah tahu kalau gue bukan pemilik aslinya.”
“Hei, jangan bercanda. Jelas jelas itu milik lo dan yang ada di gue justru milik orang lain.”
“Gue gak bercanda, kalungnya sekarang hilang.”
Berbohong. Margareta dan Valen semakin curiga. Dua orang itu semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya mereka sembunyikan. Melihat betapa marah dan kecewanya Dean ketika mendengar kenyataan yang diungkapkan oleh Mahesa. Kenyataan yang sebenarnya sebuah kebohongan di mata Margareta dan Valen.
Hal ini membuat Valen penasaran dan bertekad, untuk menyelidiki lebih lanjut apa yang sebenarnya tersimpan dari kalung yang terlihat biasa biasa saja itu.