“Valen, bangun!” Margareta menyenggol pelan lengan Valen. Sudah siang, tetapi semua masih tertidur karena mereka terlelap menjelang pagi.
Rasa penasaran memaksa perempuan itu untuk bangun lebih awal. Dilihatnya sekeliling, ruangan yang tidak memiliki bilik kamar itu terlihat berantakan pada saat jam tidur. Dirinya tidur di dipan kayu. Hanya dialasi sehelai kain tradisional ditambah helai lainnya untuk selimut. Dia merindukan tempat tidur yang empuk dan selimut yang begitu lembut. Dengan dinginnya udara dari AC dan segarnya pengharum ruangan aroma lavender.
Seraya terus membangunkan lelaki kecil yang meringkuk bagai udang, Margareta merenggangkan badannya, menggeliat seraya menguap.
Dilihatnya Valen semakin merapatkan tubuhnya. Margareta sekali lagi mengguncang lelaki kecil itu.
“Len, bangun!”
Valen menggeliat, dia mengelap pipinya yang basah karena iler. Iuuh, Margareta mengernyit jijik. Dia mengguncang lengan Valen sedikit agak kasar. Tersentaklah lelaki itu, bola matanya nyaris keluar menatap Margareta yang memberikan kode untuk tetap diam dan tidak berisik.
“Masih pagi,” keluh Valen.
“Memang, tapi kalau kita keluar siang, mereka pasti ikut. Bisa gagal misi kita, Len. Lo gak ingat rencana kita semalam?”
Flashback
Valen dan Margareta tetap fokus, kemudian napas mereka seakan berhenti kala melihat Mahesa melepaskan kalung itu. Kalung yang selama ini dianggap berharga kini dibuang seperti onggokan sampah ke bawah tebing.
“Kita harus sampai rumah sebelum Mahesa.”Valen hendak berlari dari persembunyian, tetapi Margareta mencegah. Rasa penasaran terus mendorong perempuan itu untuk mengorek lebih jauh tentang Segara biru.
“Len, gimana kalau kita ambil kalungnya.”
“Gila aja!” pekik Valen dalam bisikan.
“Kan kita penasaran. Kok itu kalung diperebutkan trus sekarang malah dibuang.”
“Kita? Lo aja kali!”
Valen gusar dia ingin segera pergi dari tempat itu, ingin sampai di rumah sebelum Mahesa sampai. Lelaki itu jadinya kesal karena Margareta teguh dengan pendiriannya.
“Gini aja, nanti besok kalau udah terang kita balik lagi ke sini, sekarang mending buruan balik, daripada ketahuan nguntit, kan barabe.”
Benar juga, Margareta akhirnya setuju, lalu keduanya mengambil jalan pintas untuk kembali ke rumah sebelum keduluan sama Mahesa.
“Udah buruan, berangkat sekarang?” ajakan Margareta mengagetkan Valen dari lamunan, dia menatap kakak perempuannya dan menatap diri sendiri. Berantakan dan mengerikan, bau iler dan bau keringat.
“Gak mandi dulu?”
“Mana sempet,” bisik Margareta. Dia menempelkan telunjuknya di atas bibir ketika melihat Dean bergerak dalam tidurnya.
“Oh iya, takut mereka bangun, kan?” tanya Valen.
“Astaga, pake nanya. Ayo, gue tunggu di luar.”
Mengendap, seakan langkahnya takut menimbulkan suara, Margareta meninggalkan rumah. Ketika membuka pintu, hal pertama yang menyapa dirinya adalah angin yang segar. Dihirupnya dengan rakus udara yang bercampur dengan aroma air laut itu.
“Ayo ... ayo ....” Valen mendahului Margareta, lelaki itu memakai ikat kepala yang selalu dikenakan oleh warga Kampung Pulau Marai.
Ada beberapa warga yang beraktivitas, sisanya kampung itu sepi. Di ujung jalan dua orang itu kebingungan karena lupa, jalan mana yang akan dipilih.
“Kanan kayaknya, Kak.”
Margareta menggeleng, dia ingat tumbuhan berduri dengan rupa seperti daun pandan. Tadi malam mereka melewati itu bahkan tangan Margareta sempat tergores.
“Kiri, deh. Gue ingat banget sama pohon berduri itu.”
Valen berdiri memicingkan mata, lelaki itu pun mengingat-ngingat. Dia rasa pohon seperti itu tumbuh di berbagai tempat. Bahkan di arah kanan di mana yang dia yakini bahwa di sanalah jalan yang benar.
Daripada penasaran, pada akhirnya Valen berjalan ke arah kanan, benar saja tumbuhan yang sama ada di sana.
“Nih.”
Benar juga. Margareta mencoba mengingat. Penerangan semalam dengan bantuan cahaya bulan tidak cukup membuatnya ingat dengan jalanan di sana. Hingga kebingungan mereka akhirnya bertemu dengan titik terang, yaitu mengikuti suara ombak yang riuh di kejauhan.
“Benar, ke sini.” Percik semangat berpendar dari wajahnya. Perempuan itu melompat lompat seperti anak kecil menemukan kembang gula di pintu masuk pasar malam.
“Ini posisi kita di atas, loh, Kak. Bagaimana caranya turun? Kak Mahesa kan melempar benda itu ke bawah.”
Margareta diam sejenak. Tidak akan tahu jika mereka tidak mencoba. Jika selama ini, mereka berhasil menjelajah hutan, selamat dari kelaparan dan kedinginan mengapa menuruni tebing yang tidak begitu tinggi itu tidak bisa?
Pasti ada cara. Valen duduk di ujung tebing manatap air laut yang masih belum surut karena semalam bulan purnama.
Sama seperti Bumi, bulan juga memiliki gaya gravitasi yang bisa menarik benda-benda terdekatnya.
Gaya gravitasi bulan nantinya akan menghasilkan gaya pasang surut. Ketika salah satu sisi Bumi berjarak dekat dengan bulan, yang tampak jelas terlihat pada fenomena bulan purnama, maka gravitasi bulan akan menarik Bumi ke arahnya.
Efek bulan purnama menghasilkan gravitasi bulan yang juga akan menarik daratan. Tetapi gaya tarik Bulan ini tidak bisa dilihat secara kasat mata dan hanya bisa dilihat menggunakan instrumen atau alat khusus.
Selain daratan, saat bulan purnama terjadi, gravitasi bulan juga menarik air laut. Karena sifatnya yang mudah bergerak, gerakan air ke arah bulan, atau yang ditandai dengan air pasang, menjadi mudah terlihat.
“Kalau menuruni tebing, ngeri jatuh gak sih?”
“Di sana ada karang, kalau kita turun berarti kita pijak karang itu. Masalahnya gue gak tahu caranya turun.”
Valen menggigit bibir bawahnya, logikanya benda yang semalam itu dibuang ke laut. Kemungkinan kini sudah terbawa ombak jauh entah ke mana. Dia hanya ikut ikutan margareta yang terlanjur kepo dengan kalung dan rahasia yang tersimpan.
“Ya udah, turun aja, lah. Kita coba lewat sana.” Valen menuju sisi lain tebing yang sepertinya memang sering dipanjat. Dia memberikan kode kepada Margareta dan mengatakan kalau tempat itu aman. Lantas keduanya menuruni tebing itu tanpa pengaman.
Lautan Ilusi sebenarnya seperti apa yang terlintas dalam benak siapa pun. Sama seperti saat ini Valen dan Margareta selalu mengucap dalam hatinya bahwa tebing yang mereka lalui adalah tebing yang paling mudah untuk dipanjat.
Keduanya berada di atas karang, membiarkan air laut menyambar-nyambar menjilati kaki kaki mereka. Di sana, keduanya terpaku, tampak lucu dengan kelakuan sendiri mencari sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin mereka temukan.
Margareta lalu mencari di atas karang-karang, di dinding tebing. Sementara Valen berusaha turun ke laut, di antara dua karang yang berdiri tegar. Sekadar memeriksa seberapa dalam.
Air hanya sampai setengah pahaa Valen. Itu artinya dia bisa menyelam memeriksa apakah benda yang dibuang oleh Mahesa tadi malam itu ada di dasar lautan atau tidak.
Benar dugaannya, Segara Biru yang indah ada di sana, tenggelam di antara pasir, bergoyang dihantam ombak. Beruntung, rantainya tersangkut pada batu karang. Sehingga tidak terbawa arus.
***
Rasa haus memaksa Dean untuk bangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan mata dan mengambil tempat minum yang disimpan di atas meja kayu. Air dingin membasahi tenggorokannya. Segar, sesegar air yang mengalir dari sumber mata air melalui sungai dan bermuara di lautan.
Mengingat kata laut, Dean sedikit meradang, pasalnya, lautan yang telah membawanya hingga ke Pulau Marai. Seharusnya saat ini lelaki itu sudah ada Jawa Timur. Menjelajah kota Malang, lalu melanjutkan kembali perjalanan dengan kereta api ke Jawa Tengah dan Jawa barat.
Menuliskan semua pengalamannya di laptop yang kini sudah karam bersama kapal besar itu. Itulah hidup yang sebenarnya bagi Dean. Bukan terdampar di pulau asing bersama orang-orang yang masih belum dia percaya.
Dean melihat dipan tempat tidur Margareta yang kosong. Tempat tidur Valen juga. Ah ... anak itu, meski kadang bekas tidur pun tidak dibereskan seperti sekarang ini, tetapi Dean sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Dengan sukarela Dean mengambil alih pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Valen.
Mahesa terusik karena Dean membuka jendela, mengibaskan selimut dan merapikan bantal-bantal. Dean sedang tidak ingin bicara dengan lelaki itu, hilangnya Segara Biru milik Mahesa menimbulkan kecurigaan di mata Dean.
Mahesa juga enggan bicara. Sama sama memiliki ego yang tinggi, sama-sama merasa dirinya benar.
Mahesa memiliki alasan yang kuat mengapa dia harus melepaskan kepemilikan dirinya terhadap kalung itu. Semalam, ketika bertemu dengan kepala desa, lelaki itu tertampar kenyataan bahwa kalung itu hanyalah sebuah tipuan.
Lagipula, Mahesa sudah sangat lelah kala melihat hal-hal di luar nalar yang terjadi setelah dia menyentuh kalungnya.
Ketika semua tempat tidur sudah rapi. Dean keluar tanpa kata, mencari Margareta dan Valen yang kini tidak dia ketahui keberadaannya.