“Dilihat dari dekat begini indah banget, Len. Kita ambil saja jangan sampai Mahesa tahu.” Mereka sudah ada di atas tebing kembali.
“Kak, jadi ingat sama ‘The Heart of The Ocean’ kalung yang dibuang Rose ke laut di film Titanic,” ujar Valen, sembari mengibas-ngibaskan rambut yang basah karena berusaha menyelam.
Margareta menoleh parasnya yang cantik semakin bersinar kala matahari yang menggantung di atas langit. Kulitnya yang semula putih kini terlihat lebih eksotis, dia menatap kalung itu tanpa menyentuh liontinnya.
Jika dibandingkan dengan The heart of the ocean kalung ini tidak ada apa-apanya. Teramat sederhana dengan liontin biru laut. Segara Biru, artinya lautan biru. Margareta mulai kepincut dengan benda itu.
“Mungkin Mahesa ingin seperti Rose.” Valen terus mengoceh.
Perjalanan dari pondok hingga penjelajahan mencari kalung Segara Biru membuat mereka kelaparan dan memutuskan kembali sebelum Dean dan mahesa menyadari bahwa keduanya pergi sedari pagi. Margareta menyimpan kalungnya di ujung kain yang dikenakan, kemudian dipintal dan diikat dengan karet gelang.
Margareta sengaja melepas ikatan rambutnya demi mengambil karet tersebut. Cara ini biasa dia lihat sewaktu kecil bersama neneknya di ladang. Kadang Margareta merengek minta beli es cincau di tengah terik.
“Ayo pulang, kakak kakak lo nanti nyariin.”
Namun, ketika berbalik untuk pulang, Dean sudah berdiri di sana. Tidak banyak bicara, hanya saja tetap raut wajahnya menyimpan banyak pertanyaan.
“Habis mandi air laut,” ucap Valen tanpa ditanya, dia mengibaskan rambutnya yang basah.
Dean memusatkan atensinya kepada Margareta yang terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Iya, gue temenin dia, takut tenggelam.”
“Masalahnya ngapain susah susah mandi di sini, dekat rumah tinggal jalan ke depan ada pantai yang lebih aman buat dipakai mandi dan main air. Kalian nurunin tebing ini?” Selidik Dean, dia menerobos di antara Valen dan Margareta. Lelaki itu seperti seorang Kakak yang sedang menghakimi adik adiknya yang sedang membuat ulah. Padahal jelas-jelas usia Margareta lebih tua dua tahun dari dirinya.
“Gak ada niat mandi sebenernya, kami jalan-jalan, trus kami taruhan, siapa yang bisa sampai bawah duluan, dia menang. Tenang Dean, kami tidak apa-apa.”
Dean mengangguk, dia seperti ini karena merasa hanya merekalah yang dimiliki saat ini di tempat ini. Datang bersama dan pulang pun harus bersama. Dean memberikan tanda dengan tangannya agar Valen dan Margareta jalan duluan.
“Dean, kalungnya Mahesa dibalikin gak sama kepala desa?” pancing Margareta.
“Dibalikin, trus katanya hilang.” Mengingatnya Dean merasa sakit kepala. Entahlah ada firasat buruk mengenai hal ini dan dia tidak tahu apa itu.
“Kok bisa hilang,” sindir Valen, meski yang disindir tidak bersama mereka.
Dean tidak menjawab laki-laki itu mendorong bahu Margareta agar berjalan lebih cepat lagi. Lintang sudah menyiapkan makanan di rumah, dan Dean tahu Margareta dan juga Valen belum makan. Rasa khawatir terhadap Valen begitu besar. Takut dia sakit lagi seperti waktu di pantai.
Di rumah, Mahesa termenung memikirkan semua yang dikatakan oleh kepala desa saat lelaki itu berkunjung untuk mengambil kalung yang diambil. Cerita tentang persembahan kepada Dewi Laut, dan juga orang-orang terpilih yang akan dijadikan simbol penghormatan untuk Dewi Laut.
Dia melihat ke atas langit, rasanya ada hal yang terlupa. Ingatannya akhir-akhir ini memang tidak begitu baik. Mahesa seperti orang linglung yang kehilangan identitas.
Setelah membuang Segara Biru, Mahesa tidak merasa menyesal, dia justru bisa hidup lebih nyaman dan menerima kenyataan tanpa bayang-bayang rasa takut seperti sebelum membuang kalung itu. Selayaknya manusia normal lelaki itu bisa berjalan dengan tanpa diikuti bayang-bayang rasa takut.
Dari tempatnya berdiri sekarang, Mahesa melihat tiga orang temannya berjalan beriringan, Valen paling depan terlihat bahagia. Tanpa beban ketakutan seperti raut wajah Dean. Itulah keinginan terbesar Mahesa, menunggu tim penyelamat tanpa rasa takut.
“Dari mana?” Mahesa bertanya. Dean hanya ngeluyur pergi dan masuk ke dalam rumah. Margareta duduk di sebelahnya.
“Jalan-jalan, trus mampir ke Aula kemuning. Banyak penari yang sedang latihan di sana.”
“Oh,” jawab Mahesa.
Dia terdiam, tenggorokannya tercekat. Tiba-tiba ingat janji dengan Azarine untuk bertemu di Aula kemuning pagi hari. Dan dia bangun terlambat. Dilihatnya matahari sudah tergelincir dari atas kepala mereka. Menandakan tengah hari pun sudah berlalu.
“Gue pergi dulu,” ucapnya, tanpa menghiraukan panggilan Valen untuk makan bersama.
Mahesa berlari melawan angin, rambut keritingnya melompat-lompat seperti bocah di atas trampolin. Dia tidak peduli dengan apa pun. Janji temu yang seharusnya pagi hari, bergeser beberapa jam hingga lewat tengah hari.
Ini adalah kesan pertama, pertemuan yang akhirnya dia nodai dengan kecerobohan karena terlambat. Menyusuri perkampungan, Mahesa terus menyeret langkahnya menuju aula Kemuning. Bertemu dengan gadis berparas cantik yang memintanya untuk datang ke tempat itu.
Aula kemuning yang dimaksud berada di sebuah lahan kosong berumput hijau dan tebal. Di sekelilingnya ditumbuhi tumbuhan setinggi pinggang orang dewasa sebagai pagar pembatas. Alula tradisional dengan daun pintu ganda dan lantai hitam juga mengkilap karena setiap hari dibersihkan. Tidak ada aktivitas lagi di sana. Itu artinya semua sudah pulang, bahkan Azarine pun tidak ada di sana. Ah ... mengapa dirinya ceroboh sampai tidak ingat dengan janji.
“Kukira kamu tidak akan datang,” sapa seorang perempuan. Wajahnya terlihat lebih natural tanpa make up. Rambutnya yang legam, secantik bola matanya yang serupa obsidian.
Dia muncul dari pintu samping aula, lalu menyeret Mahesa untuk duduk di kursi yang terbuat dari bambu kuning.
“Maaf, saya ....”
“Saya tahu kamu masih tidur, makanya selepas berlatih saya tetap di sini karena yakin kamu akan datang,” potong Azarine Rambut perempuan itu tertiup angin, seketika aroma tumbuh-tumbuhan yang harum tercium oleh Mahesa.
“Kalau saya ternyata tidak datang?” tanya Mahesa.
“Saya yakin kamu datang.”
Diam-diam, Mahesa menikmati gelenyar aneh dalam tubuhnya. Dulu dia tidak merasa seperti ini saat pacaran. Sekarang, entah apa ini namanya, pacaran atau hanya PDKT.
“Kenapa begitu yakin?” tanya Mahesa sekali lagi. Azarine tersenyum begitu manis, lesung pipinya membuat Mahesa mantap untuk bersama dengan perempuan itu.
“Aku bisa merasa kalau kita punya ikatan. Makanya begitu melihatmu, aku memintamu untuk datang menemuiku pagi ini.”
Grogi, itulah yang dirasakan oleh Mahesa. Dia sekali-kali curi pandang dan menggosok pipinya yang berubah kemerahan.
***
“Kan, dia tuh persis kayak cewek, ngambekan. Semalam gue Cuma tegur kenapa kalungnya bisa hilang, dan hilangnya kalung itu—“
“Seberapa penting kalung itu sampai kamu kayak begini, Dean?” tanya Margareta saat Dean ngedumel melihat Mahesa berlari meninggalkan beranda rumah.
Dean mendengar pertanyaan Margareta, tetapi malas untuk merespon.
“Kalung itu pasti akan ada apa-apanya. Sini mana punya lo?” pinta Margareta.
“Gak boleh!” sanggah lelaki itu akhirnya bereaksi.
“Tuh, kan. Beneran gak boleh?”
“Gue takut lo gak kuat mental saat pegang kalung gue.”
Untuk kali ini saja, biarkan Margareta tidak merendah diri. Dia bukanlah sosok perempuan yang mudah menyerah dengan keadaan.
“Mana sini lihat?” Dia mendekat dan berusaha meraihnya meski Dean mundur menghindari Margareta.
Tatapannya begitu mengintimidasi, perempuan di depan Dean ini seperti seorang kakak yang galak. Dean sama sekali tidak berani membantah, mumpung tidak ada Mahesa.
“Sentuh saja dan jangan pernah kaget.”
Valen menelan ludah. Yang akan menyentuh kalung itu adalah Margareta, tetapi dia yang deg degan gak jelas. Selama tangan Margareta mengambang di udara. Napas Dean tertahan.
“Bagus, ya,” ucap Margareta. Tidak ada reaksi apa-apa dari penglihatan Dean. Entahlah, apa perempuan itu berpura-pura atau memang sama sekali tidak ada efek apa pun selain kepada dirinya.