Hanya sekadar ingin memastikan, Margareta tanpa ragu untuk menyentuh kalung itu. Melihat dan membandingkan dengan rupa kalung yang dia pungut. Warna dan coraknya sama, pun dengan bentuknya. Begitu tangannya menyentuh liontin itu, langit menggelap. Angin berubah, menimbulkan suara siulan yang cukup membuatnya merinding.
Ingatannya kembali saat di atas tebing, setelah mengambil kalung yang dibuang Mahesa. Margareta menyentuh Segara Biru, meniliknya sedemikian rupa sampai tidak menyadari langit menggelap dan laut mengganas. Valen yang sedang memanjat untuk kembali tampak sedang menantang bahaya, dan gulungan ombak seakan siap memangsa keduanya.
Margareta berdiri di ujung tebing, memandangi kalung itu tanpa berani menyentuh liontinnya. Dia seakan berada di dunia lain yang mengerikan. Tiba-tiba banyak bayangan hitam yang mengelilingi tempat mereka berada hingga akhirnya Dean datang. Membawa pulang dan sepanjang perjalanan Margareta harus berpura pura dan bersikap biasa.
Apakah ini yang membuat Mahesa membuang benda berwarna biru itu?
Dean berdehem, Margareta mengalihkan pandangan dan berkata, “Bagus, ya.”
Sebisa mungkin Margareta menjaga reaksinya, mempertahankan wajahnya dan berpura-pura seakan kalung itu tidak memiliki reaksi apa pun terhadapnya. Dari raut wajah Dean yang kebingungan Margareta menyimpulkan kalau Dean juga merasakan hal yang sama manakala kalungnya disentuh.
“Seriusan bagus?” Lelaki di hadapan Margareta berusaha meyakinkan. Dia hanya membalasnya dengan anggukan lalu pergi dari sana karena mual melihat segala Ilusi yang ditimbulkan oleh kalung itu.
“Kak, mau ke mana?” tanya Valen.
“Jalan lagi aja, lo ikut gue. Temenin.”
“Gue gak diajak?” protes Dean.
“Gue mau terusin curhat sama nih bocah, tadi keburu dia ngebet kepengen mandi di laut.”
Dean berusaha memicingkan matanya, mencari sedikit celah kebohongan dari perempuan itu. Namun, wajahnya meyakinkan. Dean bisa apa, dia ditakdirkan sendiri, dan bukankah selama ini dia mengelilingi seluruh Indonesia sendirian?
“Valen, lo kudu siap dengan apa yang gue katakan sekarang. Pertama, ini rahasia kita berdua. Jangan sampai Dean dan Mahesa tahu. Kedua, lo harus berpura-pura, tetaplah seperti sekarang, pura-pura tidak tahu tujuan kita hanya menunggu tim penyelamat datang atau menyelamatkan diri hingga bisa pulang.”
Valen mengerutkan kening, dia berhenti dan menatap Margareta yang bicara serius. Kening lelaki itu berkerut kebingungan, matanya menyipit karena matahari menyirit tepat di wajahnya.
Margareta berjalan menuju pepohonan, kelabu yang dia lihat di hadapannya perlahan memudar. Efek dari kalung itu tidak lama.
“Len,” panggil Margareta.
“Kak jangan nakutin, ada apa sebenarnya?”
Margareta mengangkat ujung kain dia membuka lilitan karet gelang pada ujung kain. Valen tahu, isi dari ujung kain itu adalah kalungnya Mahesa. Tangan lentik Margareta mengambil ujung rantai, lalu mengangkatnya tanpa menyentuh liontin.
Benda itu bergerak-gerak persis seperti bandul milik hypnotist(orang yang melakukan proses Hipnosis). Bola mata Valen mengikuti gerakan kalung itu, ke kiri lalu ke kanan.
“Sentuh liontinnya, tapi habis itu jangan takut.”
Ragu-ragu, Valen mengangkat tangan untuk meraih benda itu. Dingin, menjalar dari ujung jari terus ke seluruh permukaan tangan. Valen masih belum puas, dia lantas mengambil liontinnya dengan menggunakan dua jari, telunjuk dan ibu jari.
Angin mulai dia rasakan berembus. Margareta tidak sabar melihat reaksi dari Valen ketika melihat semuanya berubah. Lelaki itu mengerjapkan mata berkali-kali. Mungkin mengenyahkan segala sesuatu yang terlihat begitu buruk di hadapannya.
“Ini yang aku lihat tadi pagi, ini juga yang aku lihat saat menyentuh liontinnya Dean. Mereka menyembunyikan ini dari kita, Len.”
Valen melihat pepohonan, angin menggoyangkan dahan hingga daun daun berwarna kehitaman berguguran. Burung hitam, entah itu burung gagak atau burung apa terbang rendah di bawah langit yang berubah kelabu.
Awan-awan seputih kapas dalam hitungan detik berubah jadi buntalan asap pekat yang siap berubah menjadi badai.
Valen merinding, lelaki itu pemberani hanya kepada hal-hal yang bisa diterima oleh logika dan nalar. Hal-hal serupa kejadian sekarang membuat dia merasa bahwa sekarang seharusnya dia sedang berada di balik selimut dan bermimpi.
Sayangnya semua begitu nyata.
“Ini ....” gumam laki-laki itu.
Margareta mengangguk, “Yang gue lihat sekarang adalah yang lo lihat sebelum liontin itu lo sentuh, Len. Sampai lo lihat orang-orang lo bakalan gak percaya dengan apa yang lo lihat.”
Valen berdiri, dengan sekali hentak lelaki itu menarik lengan Margareta dan membawanya turun dari perbukitan. Menyusuri jalanan setapak yang dalam pandangannya penuh dengan duri. Sosok sosok tak kasat mata terlihat mengawasi dirinya dan Margareta yang setengah berlari.
“Ini mungkin jadi alasan Mahesa membuangnya, tetapi Dean tetap bertahan.” Margareta berujar, suaranya teredam angin dan desah napas karena lelah menuruni jalanan licin setengah berlari.
“Kenapa Kakak baru bilang?” protes Valen.
“Tadi keburu ada Dean. Len, jangan dulu ribut masalah ini, kita harus selidiki apa kelebihan dari kalung ini selain membuat pandangan kita berubah.”
Kalung sudah kembali disimpan rapi di gulungan kain, diikat dengan karet gelang dan dipastikan aman. Valen menurunu jalanan, jantungnya berpacu manakala melihat orang-orang yang berwajah seram. Toto yang biasa valen temui pun kini tampak wajah aslinya.
Inilah pulau Marai lautan Ilusi, tempat di mana semua di dalamnya berupa tipuan. Segara biru lah yang bisa membuat ILUSI itu tidak tampak di mata siapa pun yang menyentuhnya.
Valen gigil dalam perasaan takut. Makin mendekat ke arah pemukiman makin dia gemetar. Perempuan perempuan berwajah pucat dan juga lelaki berambut lebat dengan taring yang menyeramkan.
“Len, lo gak apa-apa?” tanya Margareta. Dia khawatir dengan kondisi Valen, kemudian menuntun lelaki itu agar tidak oleng dan kuat menghadapi kenyataan.
Di persimpangan jalan, Lintang berdiri menghadang mereka. Perempuan itu adalah perempuan yang terlihat normal setelah Margareta di mata Valen. Dia lega, dan tidak menolak saat Lintang berusaha membawanya ke sebuah rumah sederhana di tengah pemukiman.
“Valen,” ucap Lintang. “Saya tahu kamu dan Kak Margareta sudah melihat semuanya.”
Margareta merinding, bagaimana bisa perempuan ini mengetahui apa yang sedang terjadi pada dua orang ini.
“Yang kalian lihat setelah berinteraksi dengan Segara Biru sebenarnya adalah nyata. Namun, jika kalian masih ingin hidup dan bisa selamat hingga nanti, bersikaplah seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Persembahan Dewi Laut akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Orang-orang yang pernah menjadi tamu kehormatan di sini adalah tumbal yang akan diberikan oleh kepala desa.”
Lintang melihat sekeliling, berjalan menghampiri jendela, berharap percakapannya barusan tidak ada seorang pun yang mendengar.
“Akan saya ceritakan semuanya. Kalian pulang saja dulu, ini bawalah.”
Botol kecil diberikan kepada Valen, wanginya seperti jasmine, benda itu berisi oil, minyak yang entah fungsi sebenarnya itu apa.
“Oleskan di bawah mata kalian setelah melihat kenyataan dari Segara Biru. Valen, saya Lintang, dan pulau Kabut adalah tempat asal saya. Kapan-kapan nanti kita harus ke sana. Tolong rahasiakan pertemuan ini dan rahasiakan kemampuan meihat setelah memegang segara biru.”
Valen mengangguk, dia mengambil botol pemberian Lintang. Lalu perlahan, hal-hal yang mengerikan itu pun hilang dari pandangan.