23

1116 Kata
Upacara persembahan Dewi Laut akan dimulai dalam waktu dekat. Mahesa semakin terjerat dengan pesona Azarine. Perempuan berparas cantik itu selalu mengajak Mahesa untuk menyaksikan gadis-gadis menari di alula kemuning. Tarian-tarian dengan musik yang asing di telinga Mahesa mengiringi gerak lentur Azarine, matanya mengerling, tubuhnya seperti mengikuti gerak angin ke kiri dan ke kanan. Senyuman terus tersungging dari bibir. Apalagi ketika matanya bersitatap dengan Mahesa. Azarine yang rupawan membuat Mahesa mabuk, lupa segalanya. Di rumah, Dean merasa sangat kesal. Berhari-hari di Pulau Marai tidak ada sedikit pun tindakan dari kepala desa maupun penduduk untuk memberikan akses keluar dari sana. Tim penyelamat pun tidak ada yang datang. Lagipula, Pulau Marai sudah terlalu jauh dari titik tenggelamnya kapal. Mungkin jika tim penyelamat datang pun mereka hanya menganggap semua korban ikut tenggelam ditelan air laut. Dean merasa kesepian seorang diri. Mahesa selalu pergi bersama gadis bernama Azarine. Dari penglihatan Dean setelah menyentuh segara biru, Azarine berambut panjang, pucat, kedua matanya nyaris hitam seperti mata panda. Bukan karena kurang istirahat, melainkan Dean tahu bahwa dia bukanlah manusia. Sedangkan Valen dan Margareta, dua orang itu pun sering menghilang dengan alasan bermain dan menjelajah. Entah apa yang mereka pikirkan. Dean tidak habis pikir. Pulang seorang diri sangatlah tidak mungkin, Dean berkali-kali mendengar impian Valen untuk melanjutkan kuliah, membanggakan sang ibu. Dean juga mengingat tujuan mulia  Mahesa untuk pulang dan menemani ibunya di sisa usia. Datang bersama dan pulang pun harus bersama. Tidak ada yang boleh keluar jika masih ada yang tertinggal. Langkah pertama yang harus Dean lakukan adalah mengumpulkan semua teman-temannya, menyusun strategi dan mencari jalan. Pulau yang sepertinya kecil ini pun belum sepenuhnya mereka jelajahi. Margareta dan Valen ada di tempat biasanya, tebing dekat pantai. Dengan segara biru dan penawar yang diberikan oleh Lintang. Mereka juga menerka-nerka persembahan dewi laut itu akan seperti apa. Semua orang yang ada di Kampung Pulau Marai begitu antusias menyambutnya. Anak-anak dikumpulkan di Aula kemuning. Para orangtua mengumpulkan banyak hal untuk persembahan yang mereka cari sendiri di hutan. Air-air tawar dari sumber mata air di pulau seberang juga ditampung dalam cawan cawan besar, dibiarkan semalaman kemudian pagi harinya dipindahkan dalam botol labu buah yang sudah mengkilap. Tidak sulit mencari Margareta perempuan itu menatap lautan lautan lepas, sementara Valen, bersandar pada pohon besar. Kedua orang itu, tidak seceria saat berada di rumah. Seperti sedang berputus asa. “Margareta,” sapa Dean. Dia tetap di bawah, enggan naik ke atas tebing itu. “Kenapa?” “Baliklah sebentar, gue mau ngomong sama kalian berdua.” Dengan malas, Margareta akhirnya bangkit dari duduknya. Mengenyahkan semua angan dan lamunan. Menepis sesal dan memendam kegelisahan. “Ayo, Len.” Dilemparkannya  gagang rumput yang jadi mainannya. Valen mengikuti dua orang yang berusia lebih tua dari dirinya. Kakinya menapaki jalanan menurun. Terkantuk-kantuk Valen berjalan, memegangi ujung kain Margareta persis seperti seorang anak yang menjeramah baju sang Ibu karena takut terpisah di keramaian. “Di mana Mahesa?” tanya Dean, sebenarnya pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan, tanpa mendapat jawaban pun mereka tahu, laki-laki berbadan gempal itu kini terdampar di mana. “Susul dulu, atau biarkan saja?” Margareta bertanya. “Susul lebih baik, ayo kita ke kemuning sebelum matahari terbenam.” Dari bukit itu, Margareta harus menapaki jalan setapak yang licin. Kaki yang dibiarkan telanjang tanpa alas kini sudah kebal dan tidak merasakan sakit saat menginjak kerikil atau ranting kering. Tak ada lagi ringkih, terpaan alam pulau Marai membuat mereka menjadi sosok sosok kuat. Tiba di kemuning, dari kejauhan mereka melihat Mahesa terpana pada lekuk tarian indah para permpuan di sana. Valen berjalan ke depan, dia menyenggol bahu Margareta dan meminta segara biru. Dengan hati-hati, Margareta membuka ikatan di ujung kain itu. Dengan harapan tidak terlihat oleh Dean. Margareta terlebih dahulu menyentuh liontin Segara Biru, kemudian diberikan kepada Valen. Tumbuhan setinggi pinggang orang dewasa tidak lagi berwarana hijau. Awan bergerak dan menutupi warna biru yang indah. Dean diam diam juga menyentuh kalungnya. Fokus lelaki itu pada rumah atau aula kemuning yang mana kini Mahesa ada di dalamnya. Bangunan yang semula indah itu kini berubah, bentuknya mengingatkan Dean pada gedung tua terbengkalai yang dijadikan tempat para pencari konten horor untuk beruji nyali. Di tengah bangunan, perempuan perempuan berambut panjang bergerak pelan, dari jaraknya yang sekarang Dean hanya bisa melihat putih wajahnya dan juga warna mata yang merah. Mahesa menikmati itu, Dean yakin, jika Mahesa masih memiliki segara biru, tidak akan lelaki itu mau duduk berlama-lama di tempat yang mengerikan ini. Valen mencengkram lengan Margareta, takut, ya lelaki itu sedikit merinding dengan suasananya. “Ingat kata Lintang, berpura-puralah.” Valen mengangguk, perlahan cengkramannya mengendur. Dia menarik napasnya, kemudian mendahului Dean dan juga Margareta. Menegakkan tubuh dan berjalan dengan riang menghampiri Mahesa. Tidak ada yang tahu perasaannya, tidak ada yang tahu betapa takutnya lelaki itu menjejak tanah dan berjalan menghampiri Mahesa. “Bro!” panggil Dean. Mahesa menoleh, kemudian menghampiri teman-temannya. “Balik dulu bisa?” tanya Dean. Mahesa menoleh ke arah Azarine, perempuan dengan tarian indah itu mengangguk seakan mempersilakan Mahesa untuk pulang. “Ada apa?” tanya Mahesa, dia menelisik raut wajah Dean. Dia menduga Dean telah menyentuh segara Biru. “Jangan terlalu percaya sama kalungnya, itu hanya tipuan.” “Gue gak ada sentuh itu kalung,” dusta Dean. “Lebih baik seperti itu, tidak akan membuatmu berpikir negatif.” Valen menajamkan telinga, sesekali dia memejamkan mata karena  melihat sosok sosok yang sama sekali tidak ingin dia lihat. “Jika tidak sanggup, pakai saja penawarnya, Len.” Benar, Valen tidak sanggup, setidaknya untuk saat ini dirinya tidak sanggup berlama-lama bertahan dengan keadaan ini. Sampai di rumah, Dean memilih untuk duduk dekat pintu. Dia pejamkan mata, bukan karena tidak sanggup melihat kenyataan. Tiga orang lainnya menunggu Dean buka suara. “Ayo cari jalan keluar!” Ajak Dean. Margareta yang sudah lama menunggu ajakan ini menyambutnya dengan antusias, tidak peduli rimba yang mereka lewati akan merenggut nyawanya. Yang terpenting dia tidak terjebak di Pulau Marai dengan ilusi mengerikan. “Tunggu saja, kepala desa akan membawa kita keluar dari pulau ini, gue udah ngobrol kemarin.” “Kapan? Nyokap lo pasti udah nunggu, tenggelamnya kapal juga pasti sudah disiarkan ke seluruh negeri. Kita pasti sudah dianggap meninggal karena tenggelam. Lo juga,” tunjuk Dean kepada Valen, “pasti pihak universitas menunggu konfirmasi, menunggu kejelasan dari lo. Kita tidak bisa menunggu lama-lama di sini, ayo gerak. Kita pulang sama-sama.” “Kepala Desa akan carikan kita jalan! Tunggu sampai persembahan Dewi Laut selesai!” sentak Mahesa. Sejak awal, Dean dan Mahesa memang selalu beda pendapat, bahkan keinginan untuk pulang pun harus dijadikan bahan perdebatan. Entah apa yang terjadi kepada Mahesa sekarang ini. Perubahan besar terjadi pada lelaki itu sejak kehilangan Segara Biru. Dia seakan tidak peduli dengan kata ‘Pulang’. Karenanya, muncul dugaan ada sesuatu yang mengikat laki-laki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN