“Kepala Desa akan carikan kita jalan! Tunggu sampai persembahan Dewi Laut selesai!” sentak Mahesa.
Merasa tidak terima dengan jawaban Mahesa, Dean mengerutkan dahinya. Mulutnya sudah terlalu lelah untuk membantah. Jika memang Mahesa tidak mau pulang, Dean tidak akan memaksa. Dia akan pulang sendiri, masih ada Valen dan Margareta yang bisa menemaninya.
“Lo sabar dulu,” lanjut Mahesa, nada bicaranya kini tidak meninggi seperti tadi. “Jangan keseringan gunain itu kalung buat melihat yang gak seharusnya dilihat. Kita gak tahu mana yang benar dan mana yang Ilusi.”
Mendengar yang dikatakan Mahesa, Dean sedikit tersentak. Lelaki itu mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan timbul dari Margareta dan Valen. Sementara yang ditakutkan oleh Dean malah berusaha seolah tidak menghiraukannya.
“Lo gak penasaran sama kalung itu?”
Mahesa bertanya kepada Margareta. Seketika dia seperti kesulitan menelan ludah. Valen sedikit menggeleng memberikan kode, khawatir Margareta akan keceplosan. Bukan apa-apa, jika tahu kalungnya kini ada pada mereka sudah pasti diambil lagi.
“Ckk!” Margareta berdecak. Gundukan di ujung kain tempat dirinya menyimpan kalung itu sedikit disembunyikan. “Kalung seperti itu banyak di pasar.”
Perempuan itu lantas sedikit menjauh dari tempatnya sekarang, agak khawatir kegugupannya ketahuan oleh Mahesa dan Dean. Valen si kecil yang pandai berakting bersikap seolah dia tidak tahu apa-apa, padahal sesungguhnya dia tahu segalanya.
“Gue gak ngerti sama jalan pikiran lo!” Dean yang mengumpulkan tiga temannya untuk rundingan, pria itu pula yang meninggalkan ketiganya terlebih dahulu.
Keesokan harinya, pembahasan yang terdengar selalu seputar persembahan Dewi Laut. Mahesa seakan terhipnotis dan kembali menghampiri Azarine. Gerakan tubuh perempuan itu selalu terbayang saat hendak terpejam. Terlalu indah dan sulit dilupakan.
Katanya saat persembahan Dewi Laut digelar mereka akan menari di pantai. Disaksikan ratusan warga yang membawa persembahan dan satu persembahan utama yang hingga saat ini Mahesa sendiri pun tidak tahu apa.
Mahesa sudah mulai betah menggunakan pakaian-pakaian yang disediakan oleh kepala Desa. Dia juga sudah mulai mempelajari adat dan kebiasaan orang-orang kampung pulau Marai. Tidak seperti Dean dan Valen yang tetap memakai pakaian lama meski harus cuci, kering dan pakai.
Dean dan valen seperti selayaknya tamu. Mereka dijamu, dan berkeliling seperti wisatawan. Tidak ada yang tahu saat ini hari apa, tanggal berapa, dan bulan apa. Baginya perjalanan dan pengalaman di kampung ini sudah berbulan-bulan lamanya.
Justru Margareta di sini yang gencar mendekati Lintang. Ada banyak misteri yang belum Lintang katakan, padahal jelas-jelas perempuan itu menjanjikan sesuatu kepadanya, dan juga valen.
Senja menghiasi langit di pulau Marai, masih setia dengan debur ombak dan kicau burung-burung di sore hari. Namun, dua perempuan yang duduk di beranda rumah itu masih asik dengan pikirannya masing-masing.
Lintang kekeh tidak mau mengatakan karena merasa belum waktunya, sedangkan Margareta muak dengan orang-orang yang terkesan mengulur waktu. Entah itu Lintang dan Juga Mahesa.
“Ada waktu yang tepat selain hari ini. Gerak gerikku benar-benar diawasi,” ungkap Lintang. Ada burung hitam di atas pohon yang Lintang tatap. Margareta mendongak, lalu melihat kode dari Lintang. Dia berusaha memberitahukan.
“Oh,” gumam Margareta.
“Tapi, kamu bisa ajak Valen buat ketemu saya di air terjun besok pagi. Jangan terlambat, atau kalian tidak akan menemukan jalan keluar dari sini.”
Lintang meninggalkan Margareta sendirian, bersamaan dengan itu, burung hitam yang sedari tadi mengawasi pun terbang entah ke mana. Mungkin sekarang Margareta aman dari incaran istrinya Max, orang-orang suruhan Max. Namun, jika harus terjebak selamanya di Pulau Marai ini dia tidak mau.
Keesokan paginya, Margareta bangun lebih awal dari biasanya. Dia antusias bertemu dengan Lintang sampai sampai tidak menyadari kalau Dean sudah meninggalkan rumah sejak subuh.
"Len, ayo. Lintang nungguin kita di air terjun."
Valen mengerjap, semalam sebelum tidur Margareta sudah memberitahukan tentang pertemuan ini. Lelaki itu tak kalah antusias.
Menyusuri jalanan yang masih sepi dan berembun keduanya mengendap karena khawatir kepergian mereka diketahui Mahesa dan juga Dean.
"Kak, coba mana kalungnya," pinta Valen.
"Untuk apa?"
"Mulai sekarang kita harus membiasakan diri melihat segalanya dengan sudut pandang yang ini. Tanpa kalung ini semua tampak begitu indah, namun rasanya hampa. Rasanya di sini kita hanya tinggal berlima saja."
Benar, warga pulau Marai tidak bersahabat, meski paras mereka cukup rupawan, tetapi semua seperti tanpa nyawa.
"Gak bakalan takut?" tanya Margareta. Deretan bunga berkelopak kuning tersebar di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Valen memetik salah satunya sembari menunggu Margareta memberikan kalung itu kepada dirinya.
Lelaki itu lantas melompat ke belakang, melihat wujud asli dari bunga setelah menyentuh sedikit Segara Biru.
Getah yang mengalir di telapak tangannya berubah semerah darah. Dengan bau amis yang membuat lelaki itu mual.
Tidak ada keindahan, bahkan langit biru pun berubah kelabu.
"Kan, gue bilang juga apa." Margareta merebut kembali kalung dari tangan Valen. Dengan hati hati menyimpan kembali agar tidak tersentuh.
Dia masih bimbang dan belum berani sepenuhnya untuk melihat semuanya sekarang.
Perjalanan menuju air terjun luamayan panjang juga, kedua orang itu menyusuri lereng bertanah merah.
Sisi kiri adalah tebing tinggi rawan longsor sedangkan sisi kanan jurang yang begitu dalam.
Ini bukan jalan yang biasa dilewati sepeti biasanya. Sengaja Valen mengajak Margareta menyusuri lereng itu.
Jarak pandang karena kabut membuat Valen membiarkan Margareta berjalan lebih dulu. Dia masih memiliki penglihatan normal, tanpa pengaruh segara biru.
"Lintang bilang, dia akan membawa kita menuju jalan keluar."
"Kenapa hanya kita? Kenapa tidak sama Dean dan Mahesa?"
"Gue lupa nanya, yang pasti Lintang bilang kita gak boleh telat."
Valen mengerti, kemudian dia mengekor di balik punggung Margareta.
Sayup-sayup terdengar suara air, bukan berasal dari debur ombak melainkan air terjun.
Melewati semak berduri keduanya sampai juga di sana.
Tidak ada Lintang, yang ada hanya Dean yang sedang merendam diri di bawah guyuran air terjun yang paling kecil.
Apa perempuan itu lupa? Batin Margareta menjerit, lompatan lompatan emosi dan prasangka terus memenuhi kepalanya.
Mungkinkah Lintang hanya menipu dirinya?
"Woi, turun sini!" sambut Dean ketika melihat kedua temannya terpaku di atas batu.
Tanpa ragu, akhirnya mereka ikut menceburkan diri, seraya melihat sekeliling berharap Lintang ada di salah satu batu, menunggu mereka mandi. Selepas itu pergi untuk mencari pintu keluar.
"Lo gak apa apa, kan?" tanya Dean.
Margareta menggeleng, kemudian membiarkan air terjun tepat di atas kepala yang pusing karena menerima kenyataan kalau Lintang tidak pernah menepati janjinya.