"Lo gak apa apa, kan?" tanya Dean, dia agak berteriak.
Margareta menggeleng, kemudian membiarkan air terjun tepat di atas kepala yang pusing karena menerima kenyataan kalau Lintang tidak pernah menepati janjinya.
Matanya tetap awas melihat sekeliling, berharap bisa menemukan sosok lintang di antara semak, di balik pohon, bahkan dia berharap Lintang menunggu di atas batu.
Sayangnya tidak ada, janji perempuan itu sama sekali tidak ditepati.
Kemudian dia menjauh dari air terjun, agak ke tengah kolam.
Dipejamkan mata, Margareta biarkan hidungnya menghirup dengan rakus udara di sana. Dijejalkan sebanyak-banyaknya udara ke dalam paru-paru.
"Kamu nyari apa?"
Dean yang penasaran terus mendekat berusaha mengorek berbagai informasi di sana.
"Enggak. Gue udah, ah, kedinginan." Margareta berenang ke tepian, tetapi Dean mencegah perempuan itu.
"Baru juga masuk, santai dulu di sini."
"Dingin, aku tunggu di atas saja sambil berjemur."
Margareta melepas genggaman tangan Dean. Kemudian sampai di tepian dan mulai lagi naik ke atas batu.
Lintang sendiri hadir di sana, jauh sebelum Dean dan Margareta mencelupkan diri di bawah air terjun.
Rasa percaya perempuan itu terhadap Dean tidak seperti percayanya dia pada Margareta dan Valen.
Untuk itu rahasia Pulu kabut yang akan dia beritahukan kepada mereka urung. Sampai pagi beranjak siang, Lintang tidak menampakkan diri.
Merasa cukup, Dean menyudahi kegiatannya. Dengan tetes air dari pakaiannya lelaki itu menyusul Margareta.
"Balik, yuk! Keburu siang."
"Duluan aja, deh. Gue masih betah liat itu anak mandi," tunjuk Margareta.
Dean mengangguk kemudian dia memakai kembali kaos yang semula dia buka.
Kakinya menapaki jalanan licin dengan semak berduri di sekelilingnya. Namun, bukannya belok ke arah kanan yang mana merupakan jalan menuju Kampung Marai, dia berbelok ke arah kiri. Sedikit menanjak ke atas bukit.
Alangkah kagetnya tatkala menemukan jalan setapak panjang menuju suatu tempat yang sama sekali belum pernah dia tuju.
Lelaki itu menoleh ke belakang, rasanya ada seseorang yang mengikuti dan mengawasi.
Semak berduri yang melukai betisnya tidak dia pedulikan sama sekali. Dean dengan sengaja menyentuh Segara Biru. Dia percaya, melihat semuanya dengan sudut pandang seperti ini akan memberikan sedikit pencerahan dan tidak akan memberikan sebuah harapan yang nantinya tidak dapat dia gapai.
Burung-burung besar bertengger di atas pohon, sekelebat makhluk yang mengerikan terbang dari satu dahan ke dahan lainnya.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin dia merasakan aura mistis yang begitu besar. Kicau burung yang terdengar seperti rintihan kuntilanak dan juga lolongan anjing yang membuat semua orang merinding.
Dean berhenti sejenak dari perjalanannya. Lelaki itu berjongkok di depan buah berry, memetik buah kemerahan itu dan memakannya karena lapar.
Asam dan manis bersatu-padu dalam mulutnya. Lembut meledak membuat dahaga dirinya sedikit demi sedikit sirna.
Dean senang menemukan buah tersebut sementara dirinya sedang dalam pengaruh segara biru.
Yang mana semua pohon di Pulau Marai terlihat menyeramkan dan berbuah menjijikan.
Berbeda dengan hutan yang ini, semakin masuk semakin terlihat manusiawi.
Dean mendengar suara di antara semak, dia tingkatkan lagi kewaspadaan dirinya. Karena walau bagaimanapun lelaki itu berada di suatu tempat yang dia sendiri tidak tahu di mana itu.
Dia ingin mengajak Valen dan Margareta, mencari jalan keluar bersama. Namun, untuk sekarang biarlah dia pergi sendirian agar Valen dan Margareta tidak lelah saat nanti tiba saatnya Dean membawa mereka keluar dari pulau terkutuk ini.
Lelaki itu bertemu dengan bongkahan batu dengan sebuah simbol terlukis di sana. Mirip seperti bentuk Segara Biru, tetapi dengan ukuran yang lebih besar.
Di balik bongkahan besar itu, terdapat jalanan setapak yang lebih landai, terurus dan juga seperti bekas jejak jejak kaki manusia.
Dean kembali melihat ke belakang, di antara dia pohon besar, dengan segenap keyakinan ada orang yang terus mengikuti.
Dean kemudian berbalik dan pergi menuju dua pohon besar itu. Kosong, tidak ada satu pun orang atau makhluk yang bersembunyi di sana.
Bukan tanpa alasan Dean menjelajahi belantara itu. Mencari jalan pulang, agar bisa melanjutkan perjalanan berkeliling Indonesia dengan bebas tanpa terjebak di alam yang sebenarnya dia ragu. Antara nyata dan tidak.
Semakin jauh Dean melangkah, reaksi dari kalungnya semakin pudar. Dia berkali-kali menyentuh Segara Biru agar tidak terlena dengan ilusi.
Tidak ada yang berubah, di antara dedaunan Dean bisa melihat putihnya awan di langit yang biru.
Semak berbunga yang kelihatannya teramat indah. Dean bahkan lupa, kapan terakhir kali melihat dan menyentuh bunga berkelopak cantik.
Jika Kampung Marai menunjukkan segala kekurangan dan juga menyeramkan saat dilihat. Berbeda dengan ini.
Terdengar aliran sungai, dan debur ombak yang samar-samar. Dean berlari mencari sumber suara. Hingga lelaki itu melihat indahnya sungai di bawah sana.
Airnya yang jernih bisa membuat dirinya melihat dengan jelas bebatuan di dasar sungai tersebut.
Tidak ada jembatan sebagai media penghubung, dari tempatnya berada kini Dean melihat manusia yang sesungguhnya padahal dirinya sedang berada di bawah pengaruh Segara Biru.
Hatinya membuncah senang, tidak sabar untuk memberitahukan temuannya kepada ketiga temannya di Pulau Marai.
Sayangnya ketika Dean hendak berbalik menuju rumah, dia melihat satu rombongan kepala Desa dan suruhannya berkeliling selayaknya sedang patroli.
Laki-kali itu mundur dari tempatnya berdiri hingga terperosok. Tuhan masih sayang lelaki itu, Dean dengan sekuat tenaga berpegangan pada akar pohon, bergelantungan dan berusaha tidak menimbulkan kegaduhan kala rombongan kepala desa itu menghampiri tempat di mana dia berada kini.
"Tidak ada apa-apa." Salah satu suruhan kepala desa berteriak.
"Awasi keempat orang itu jangan sampai kabur dan tahu tempat ini. Terutama Mahesa dan Dean."
Lelaki yang tengah merasakan panas pada tangannya itu kini tercekat, tidak menyangka bahwa dirinya sedang diincar.
Rombongan menjauh, dan Dean berusaha melepaskan pegangannya. Dia melayang pasrah hingga tubuhnya membentur permukaan air.
Kulitnya sedikit perih karena berbenturan dengan air. Dia berenang di air yang begitu sejuk.
Badannya yang kurus dan tinggi segera menepi, lalu dia sadari kini sudah berada di dunia yang lain.
Langkahnya berat antara harus melanjutkan perjalanan atau kembali dan mengajak semua temannya.
Tapi Dean merasa, waktunya sudah tidak banyak lagi. Segenap keberanian dia jadikan modal untuk terus menjelajah negeri yang entah bernama apa ini.
Lelaki itu naik ke bukit bukit hijau di hadapannya, keluar dari sungai yang sejuk.
Orang orang yang ditemui di sekitarnya saat ini adalah sesungguhnya orang orang.
Dengan senyuman aja ya sambil tersenyum malu malu 1 yang nyata dan pancaran mata yang juga terlihat nyata. Di manakah dirinya sekarang, Dean hanya berharap dia bisa kembali membawa Margareta dan juga valen agar semua bisa kembali ke tempat asalnya masing-masing.